Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
49. Kabar Bahagia dan Duka


__ADS_3

Malam ini Davian membawa seorang wanita yang Ia kenalkan sebagai kekasihnya kepada Ria dan Luci.


" Sayang kenalin ini Vale." Ucap Davian memperkenalkan Vale.


" Hai Vale aku Rara pacarnya Davian, kami akan segera menikah di bulan ini." Ucap Rara.


Deg....


Dada Ria sesak bagai di hantam bebatuan besar.


" Hai, aku ucapkan selamat ya." Ujar Ria.


Luci menatap tidak suka ke arah Rara.


" Bangga banget jadi pelakor." Ucap Luci.


Rara membulatkan matanya dengan mulut menganga mendengar ucapan Luci.


" Kau menganggapku sebagai pelakor?" Tanya Rara.


" Apa julukan untuk wanita yang menjadi orang ke tiga dalam hubungan orang lain?" Tanya Luci.


" Hei Kakakmu mencintaiku, bukan wanita yang berdiri di sampingmu." Ujar Rara.


" Luci sudahlah, biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau aku tidak masalah kok, jangan berdebat lagi karna semua itu tidaklah penting bagiku." Ucap Ria malas berdebat.


" Tapi Kak....


" Aku sadar akan posisiku di sini." Potong Ria membuat hati Davian tertohok.


" Sekarang kalian makan malamlah, aku akan mengganti perbanku dulu." Sambung Ria berjalan menuju kamarnya.


Davian menatap kepergiannya dengan perasaan yang entah. Ria masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang merenungi apa yang terjadi dalam hidupnya.


" Jika memang ini sudah menjadi takdirku aku akan menerimanya dengan ikhlas, tapi aku mohon padamu Ya Robb.... Segera bawa Cia kemari agar aku bisa mengakhiri semua ini sebelum Mas Davian lebih jauh berbuat dosa." Ujar Ria.


Setelah makan malam Rara ijin pulang karna ada acara lain, sedangkan Davian memilih duduk di ruang keluarga sambil merenungkan perasaannya.


" Kak." Ucap Luci duduk di samping Davian.


" Ya." Sahut Davian menata Luci.


" Akhiri kekejamanmu sampai di sini Kak, Kakak menyiksa Kak Ria tapi aku yang merasakan sakitnya Kak." Ucap Luci.


" Bagaimana kalau aku mendapatkan suami sekejam Kakak? Apa Kakak rela aku di siksa dan di sakiti oleh suamiku?" Tanya Luci.


" Itu akan beda cerita Luci, Vale yang menyebabkan ibu kita meninggal." Sahut Davian.


" Kak hidup dan mati seseorang itu di tangan Tuhan, kita sebagai manusia tidak bisa menolak atau memintanya, Sudah menjadi takdir ibu kita menghembuskan nafas terakhirnya saat itu Kak, jangan sampai kau berbuat kesalahan yang menyebabkan ibu kita tidak tenang di alam sana, karna Kakak masih terus mengungkit kepergiannya." Ujar Luci meninggalkan Davian.


Davian menarik kasar rambutnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya. Ia ingin sekali menyakiti Ria tapi justru Ia merasa sakit saat Ria terluka. Davian berjalan menuju kamarnya.


Di dalam kamar Ria sedang telepinan dengan Cia.


" Ria gimana kabarmu? Maaf ya aku nggak bisa pulang saat pernikahanmu, aku benar benar sibuk." Celoteh Cia di sebrang sana.


" Aku baik baik saja, tidak masalah kau tidak datang aku tahu kamu sibuk, kapan kamu pulang?" Tanya Ria.


" Yah jadwalnya sih lima bulan lagi, tapi kata Om Alex aku bisa selesai separuh waktu kalau aku rajin belajarnya." Ujar Cia.


" Ya udah rajin belajar gih biar bisa cepat pulang." Ucap Ria.

__ADS_1


Grep....


Ria berjingkrak kaget saat Davian memeluknya dari belakang.


" Udah dulu ya besok aku telepon lagi." Ucap Ria menutup panggilan teleponnya.


" Siapa yang kamu telepon?" Tanya Davian mencium tengkuk Ria.


" Temenku." Sahut Ria. Jantungnya deg deggan, Ia takut Davian akan membuka ponselnya dan melihat riwayat panggilan.


" Aku menginginkanmu, layani aku dengan baik dan kali ini aku tidak menginginkan ada air mata yang mengiringinya." Ucap Davian tangannya mulai bergerilya kemana mana.


Ria memejamkan matanya menahan sedih. Ia seperti wanita jal*** yang hanya bisa pasrah saat di butuhkan Davian.


Davian mendorong tubuh Ria hingga terlentang di atas ranjang. Entah kenapa tubuh Ria menjadi candu untuknya. Walaupun Ia berbuat kasar pada Ria dan ingin menyiksanya tapi Davian tidak pernah melakukan hal ini pada wanita lain. Itulah sebabnya Davian ingin melakukannya lagi dan lagi.


Ria hanya pasrah di bawah kukungan suaminya. Kali ini Davian tidak sekasar biasanya tapi tetap saja Ria tidak akan menikmati setiap sentuhannya. Ria menahan air mata dengan kuat agar tidak menetes. Sungguh harga diri Ria hancur sehancur hancurnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Selamat Tuan saat ini istri anda sedang hamil, usia kandungannya memasuki lima minggu." Ucap Dokter setelah melakukan pemeriksaan.


" Alhamdulillah." Ucap Valen dan Nathan serempak.


Nathan memeluk Valen karna saking bahagianya, Ia juga menciumi kening Valen berkali kali.


" Terima kasih sayang, aku sangat bahagia hari ini." Ucap Nathan.


" Sama sama Mas, aku juga sangat bahagia sama sepertimu." Sahut Valen.


" Di jaga kandungannya Nona Valen, di usia ini janin rentan terhadap keguguran, kurangi aktifitas berat dan menguras energi." Ucap Dokter.


" Apa ada keluhan Nona?" Tanya Dokter.


" Mual aja setiap pagi Dok." Sahut Valen.


" Itu namanya morning sickness, dan wajar terjadi saat hamil muda seperti anda, makan makanan yang bergizi dan minum vitaminnya secara teratur." Terang Dokter.


" Iya Dok terima kasih." Ucap Valen.


Setelah menebus obat, Nathan dan Valen berjalan menuju mobilnya.


" Mas aku ingin ke rumah Ria, kita ke sana ya." Ujar Valen.


" Baiklah tapi sebentar saja ya, kamu harus banyak istirahat." Sahut Nathan.


" Iya Mas." Sahut Valen.


Setengah jam kemudian, Nathan sampai di kediaman Davian. Keduanya turun dari mobil menuju pintu rumah Davian.


Ting Tong


Nathan memencet bel rumah Davian, tak lama pintu terbuka dari dalam.


" Abang." Pekik Ria menubruk tubuh Nathan.


" Apa kabar adik Abang yang cantik? Pasti baik kan?" Tanya Nathan menangkup wajah Ria.


" Aku baik Bang." Sahut Ria menundukkan kepalanya. Ia tidak mau menatap Nathan karna Nathan akan tahu apa yang terjadi padanya hanya lewat sorot matanya.


" Kak Valen." Ria beralih memeluk Valen.

__ADS_1


" Uluh sudah bersuami masih aja manja." Ujar Valen.


" Kali kali Kak, mari silahkan masuk." Ucap Ria.


Ketiganya menuju ruang tamu. Ria duduk di samping Valen sedangkan Nathan di sofa sebrang. Valen menatap tangan Ria yang saat ini masih di perban.


" Ria, tanganmu kenapa?" Tanya Valen.


" Ah tidak pa pa Kak." Jawab Ria.


" Jangan berbohong Ria, kau tahu bukan kalau Kakak tidak suka kebohongan." Ucap Valen.


" Kemarin aku memecahkan piring Kak, saat aku membersihkannya tanpa sengaja telapak tanganku tergores belingnya." Terang Ria.


" Kalau pecahan gelas Kakak bisa percaya, tapi ini pecahan piring Ria, pecahan piring tidak setajam pecahan gelas." Ujar Valen.


" Kakak ku mohon percayalah." Ujar Ria.


Valen menatap Ria dengan tatapan menyelidik. Ia tahu jika Ria sedang tidak baik baik saja. Ia akan mencari tahunya nanti.


Davian mendengar ucapan Ria yang tidak mau mengadukan perbuatannya kepada Kakaknya membuat hatinya merasa sedikit bersalah.


" Ada tamu rupanya." Ucap Davian menghampiri mereka.


" Davian apa kabar?" Tanya Nathan menjabat tangan Davian.


" Aku baik baik saja Bang." Sahut Davian.


" Kau mungkin baik baik saja, tapi adikku yang tidak baik baik saja." Sahut Valen membuat Nathan dan Davian menatap ke arahnya.


" Apa maksudmu Kakak ipar?" Tanya Davian.


" Kau paham betul apa maksudku Davian, kali ini aku menerima luka di tangan Ria, tapi jika lain kali ada luka yang lainnya maka kau akan menanggung akibatnya." Tegas Valen menatap tajam ke arah Davian.


Davian merasa gugup dan sedikit takut karna Ia tahu siapa yang menjadi Kakak iparnya. Valen terkenal tegas dan sedikit kejam kepada seseorang yang berani mengusiknya


" Sayang..." Ucap Nathan.


" Ayo Mas kita pulang." Ajak Valen beranjak dari duduknya.


" Ria jika kamu masih kuat untuk bertahan maka bertahanlah Kakak akan mendukungmu, tapi jika tidak maka segera tinggalkan dan akhiri penderitaan ini." Ucap Valen melirik Davian. Valen berjalan meninggalkan Ria dan Davian yang mematung karna ucapannya.


" Abang pulang dulu, kamu jaga diri baik baik." Ucap Nathan mencium kening adik tersayangnya seolah memberikan kekuatan.


Setelah kepergian kedua kakaknya Ria menangis sesegukan.


" Hiks.... Hiks..... Kenapa aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari Kakak iparku? Hiks..." Isak Ria.


" Kau tahu Mas? Kak Valen baru beberapa bulan menjadi Kakakku tapi dia bisa tahu apa yang aku rasakan hanya menatap mataku saja Hiks...." Ujar Ria.


" Ria...


Ria berlari menuju kamarnya, Ia bisa menahan kekejaman Davian tapi tidak dengan tatapan mata Kakak iparnya.


TBC.....


*Jangan lupa like dan komentnya ya....


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author... Semoga sehat selalu....


Miss U All*...

__ADS_1


__ADS_2