Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
122. Berkumpulnya Keluarga Ardiansyah


__ADS_3

Setelah acara selesai tamu undangan berpamitan pulang, namun tidak dengan keluarga Ardiansyah begitu pun dengan Dika dan Azza. Mereka masih berkumpul di ruang keluarga yang di jadikan tempat pengajian dengan duduk lesehan beralaskan karpet. Cia juga ikut duduk di bawah. Duduk bersandar pada dinding sambil menselonjorkan kakinya.


" Kamu belum ngantuk sayang?" Tanya Irvan menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan jam sembilan malam.


" Belum Mas, sebentar lagi." Sahut Cia.


" Emang kamu tidak penasaran dengan kamar kita?" Tanya Irvan lagi.


" Enggak lah Mas, karena aku tahu pasti sesuai keinginanku kan." Ujar Cia.


" Bener juga kamu." Sahut Irvan mengelus perut Cia.


" Valen, Ria." Panggil Irvan.


" Ya." Sahut keduanya bersamaan.


" Erald sama Fara di tidurin aja di kamar tamu, kasihan kan kalau di pangku gitu, entar yang ada badan mereka sakit semua." Ujar Irvan menatap Valen dan Ria yang memang sedang memangku putra dan putrinya.


" Iya Yank kasihan, sana di tidurin dulu di kamar, kalau kamu capek istirahat sekalian, nanti kalau udah mau pulang aku bangunin." Ucap Nathan.


" Iya Mas." Sahut Valen beranjak.


" Kamu sekalian sayang." Ucap Davian.


" Iya Mas, nanti bangunin aku ya kalau udah mau pulang." Ucap Ria.


" Iya." Sahut Davian.


" Azza, Kakak tinggal bentar ya nidurin Erald dulu." Ucap Valen menatap Azza.


" Silahkan Kak." Sahut Azza.


Valen dan Ria beranjak menuju ruang tamu yang tak jauh dari ruang keluarga. Sedangkan yang lainnya nampak sedang terlibat perbincangan.


" Azza kehamilanmu sekarang sudah berapa bulan? Kok belum terlihat ya?" Tanya Mami Nesha.


" Baru masuk bulan ke empat Tante, memang belum terlihat jelas apalagi kan Azza pakai gamis longgar jadi tambah nggak kelihatan." Sahut Azza.


" Owh pantesan, semoga lancar sampai persalinan ya." Ucap Mami Nesha.


" Amin makasih Tan." Sahut Azza.


" Oh ya Dik, aku sampai lupa kalau besok aku tidak bisa menemui Nona Regi karena aku mau menemani Valen untuk imunisasi Erald." Ucap Nathan menatap Dika.


" Kenapa dadakan Bro? Gue juga mau mengantar Azza periksa kehamilannya gimana donk? Apa kita undur saja jadwalnya?" Tanya Dika.


" Nona Regi tidak bisa kalau jadwalnya di undur, kalau dia sampai membatalkan kerja samanya kan kita rugi bro." Ujar Nathan.


Dika menatap ke arah Azza, bagaimanapun ini memang pekerjaannya. Sebagai asistent pribadi Ia harus siap kapan saja menggantikan Nathan kemanapun.


Seolah tahu kegelisahan suaminya, Azza angkat bicara.

__ADS_1


" Kalau Mas Dika mau menemui client Mas, aku nggak pa pa kok Mas pergi sendiri, Mas fokus kerja aja." Ucap Azza.


" Gimana ya sayang? Soalnya jadwalnya pas banget bareng sih, maafin Mas ya." Ujar Dika menggenggam tangan Azza.


" Iya Mas aku maafin kok, lagian ini menyangkut pekerjaanmu kan? Jadi Mas tidak perlu merasa bersalah sama Azza gitu." Ujar Azza lembut.


" Duh aku salut sama kamu Za, kamu memang istri yang pengertian, coba kalau aku, pasti aku udah marahin Mas Gama sampai ke akar akarnya karena lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarganya." Ucap Luci yang sedang menggendong Arsen.


" Ada perbedaan antara pekerjaanku dan pekerjaan suamimu Kak, kalau suamiku hanya bawahan tapi kalau Kak Gama kan atasan." Sahut Azza.


" Ah iya maaf ya kau lupa." Ucap Luci.


" Tidak masalah Kak." Sahut Azza.


" Azza maafin aku ya, karena Mas Nathan harus menemaniku jadi merepotkan Mas Dika deh." Ucap Valen yang baru kembali bergabung.


" Tidak pa pa Kak, jangan terlalu di pikirkan." Sahut Azza.


" Udah malam Mas, ayo kita pulang." Ucap Azza menatap Dika.


" Kamu udah mengantuk?" Tanya Dika.


" Iya Mas." Sahut Azza.


" Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang, kamu nggak boleh capek apalagi sampai kelelahan nahan ngantuk, Fan aku pamit pulang dulu ya, istriku sudah mengantuk." Ucap Dika menatap Irfan.


" Ok hati hati Bro, makasih ya udah datang." Sahut Irfan.


" Sama sama." Sahut Dika.


" Ya." Sahut Cia.


" Sekali lagi selamat ya, semoga di beri keberkahan, kesehatan dan kelancaran saat persalinan." Ucap Azza memeluk Cia.


" Terima kasih Za." Sahut Cia.


" Aku pamit ya, Assalamu'alaikum." Ucap Azza.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Cia.


Setelah berpamitan dengan semua orang, Dika menggandeng tangan Azza berjalan keluar dari rumah Irfan. Keduanya masuk ke dalam mobil Dika.


" Aku pasang sealbeltnya dulu." Ucap Dika memasang sealbelt Azza.


" Makasih Mas." Ucap Azza.


" Sama sama sayang, mau makan sesuatu?" Tanya Dika menatap Azza.


" Kaya'nya enggak deh Mas, aku mau tidur aja kalau udah nyampek rumah, apa Mas Dika ingin makan sesuatu? Aku ngikut aja." Ujar Azza.


" Enggak sayang, Mas cuma nawarin kamu aja." Sahut Dika.

__ADS_1


" Kita pulang sekarang apa mau berduaan dulu di dalam mobil?" Tanya Dika.


" Pulang lah Mas, kan udah ngantuk." Sahut Azza.


" Baiklah." Ucap Dika melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Di dalam kamar tamu, Ria sedang tidur memeluk Fara. Davian menghampirinya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menyibak rambut Ria menyelipkannya di telinga Ria.


Cup...


Davian mengecup pipi Ria dengan lembut. Merasa terusik, Ria membuka matanya.


" Mas Davi." Lirih Ria.


" Maaf Mas aku ketiduran." Sambung Ria duduk bersandar pada headboard.


" Mau pulang ya Mas?" Tanya Ria menatap Davian.


" Kalau kamu masih mengantuk, kita menginap di sini saja, lagian juga sudah malam." Ucap Davian menatap jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam.


" Lagian Fara juga udah pules banget boboknya." Sambung Davian.


" Yang lain gimana? Apa udah pada pulang Mas?" Tanya Ria.


" Udah, tinggal kita berdua yang menginap di sini, lagian Irfan dan Cia juga nggak keberatan kok." Ucap Davian.


" Baiklah kita bermalam di sini saja, aku tidur lagi ya Mas." Ujar Ria.


" Eh jangan donk sayang." Ucap Davian.


" Kok jangan sih? Emang mau apa?" Tanya Ria.


" Mau kamu lah sayang, Mas kangen kan udah lama kita nggak begitu." Ucap Davian ambigu.


" Baiklah, aku cuci muka dulu ya Mas." Ucap Ria turun dari ranjang.


Setelah selesai Ria kembali ke ranjang menghampiri Davian.


Davian menatap Ria. Ia menyusupkan tangannya ke belakang leher Ria. Davian memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Ria dengan pelan. Ria memejamkan matanya dan sedikit membuka mulutnya membiarkan Davian menyusupkan lidahnya. Davian mengekspos setiap inchinya. Davian terus ******* bibir Ria dengan lembut.


Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Ciuman Davian turun ke leher membuat tubuh Ria menggelinjang. Davian mengukir lukisan merah pada leher putih Ria.


" Shh Masss." Desis Ria menggigit bibir bawahnya.


Akhirnya apa yang seharusnya terjadi maka terjadilah. Keduanya saling menikmati sensasi luar biasa dari kegiatan yang lumayan menguras tenaga dan keringat. Keduanya sama sama terhanyut untuk terbang ke nirwana.


*Udah ya jangan panas panas, takut nggak lolos review...


Jangan lupa like koment hadiah dan votenya biar author semangat melanjutkan ceritanya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All*...


TBC....


__ADS_2