
Setelah hampir dua jam lamanya, akhirnya Dokter keluar dari ruangan operasi. Valen, Itvan, Nathan dan Davian segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan istri dan bayi saya Dok?" Tanya Davian.
" Selamat Pak, istri dan putri anda selamat." Sahut Dokter.
" Putri? Anak saya perempuan Dok?" Tanya Davian.
" Iya Pak, putri anda lahir dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun, suster sedang membawanya ke ruang bayi jika bapak mau melihatnya dan saat ini Nona Valeria sedang berada di ruang pemulihan." Ujar Dokter.
" Terima kasih Dok." Sahut Davian.
" Selamat Davi, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah." Ucap Nathan memeluk Davian.
" Terima kasih Bang, terima kasih karna telah membantu kami." Sahut Davian melepas pelukannya.
" Selamat adik ipar, semoga kelak putrimu akan menjadi wanita sholehah." Ucap Valen.
" Terima kasih Kakak Ipar." Sahut davian.
" Selamat untuk kalian Dav." Ucap Irvan.
" Terima kasih Van, terima kasih untuk kalian semua karena telah membantu kami." Ucap Davian.
" Sama sama, sekarang ayo kita lihat Babbymu." Ajak Valen.
" Ah iya." Sahut Davian.
Mereka berempat berjalan menuju ruangan bayi. Terlihat dari kaca jendela seorang bayi mungil sedang tertidur di dalam inkubator. Davian meneteskan air matanya melihat putri kecilnya yang dulu pernah Ia sia siakan kehadirannya. Rasa bersalah kembali menjalar dalam hatinya.
" Putrimu cantik seperti ibunya." Ucap Valen.
" Iya." Sahut Davian.
" Aku yakin Erald pasti akan senang mempunyai adik perempuan secantik itu." Ujar Valen.
" Mereka akan terlihat seperti saudara kembar saat jalan bersama." Ujar Nathan.
" Iya Mas kamu benar, empat bulan lagi giliran Luci yang akan melahirkan cucu untuk Mami." Ucap Valen.
" Mereka begitu bahagia melihat anak anak mereka lahir ke dunia, kapan giliran Cia mendapat semua ini Ya Tuhan, aku tidak sanggup melihat kesedihan Cia yang menantikan kehadiran seorang bayi dalam pernikahan kami, dia akan semakin sedih jika dia kemari." Ujar Irvan dalam hatinya.
Valen menatap ke arah Irvan yang nampak murung. Ia mendekati Irvan lalu menyentuh pundak Irvan.
" Bersabarlah Van, aku yakin suatu saat nanti Cia juga akan merasakan dan mendapatkan seperti yang kami rasakan saat ini, aku doakan jika nanti Cia hamil, Ia akan mendapat dua sekaligus." Ucap Valen di sertai gerakan tangannya.
" Terima kasih Len." sahut Irvan. Valen menganggukkan kepalanya.
" Kita duduk sana, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ujar Valen berjalan menuju kirsi tunggu yang ada di sana di ikuti Irvan dari belakang.
" Ada apa?" Tanya Irvan.
" Bagaimana dengan kasus Davian, apa kau yakin Tian bisa memenangkan kasusnya?" Tanya Valen menatap Irvan.
Kalau dulu di tatap seperti itu jantung Irvan serasa mau lompat dari tempatnya, tapi kalau sekarang sudah tidak berpengaruh.
" Aku yakin Tian bisa menyelesaikan semua ini dengan mudah, kamu jangan khawatir pasti semuanya akan beres." Sahut Irvan.
" Syukurlah kalau begitu." Ujar Valen.
" Oh ya Len, soal tujuh puluh lima persen itu apa kamu beneran?" Tanya Irvan menatap Valen.
__ADS_1
" Menurutmu? Apa aku pernah bermain main dengan ucapanku?" Valen balik bertanya.
" Tidak." Sahut Irvan menggelengkan kepalanya.
" Kamu sudah tahu jawabannya." Ucap Valen meninggalkan Irvan.
" Davi kami pulang dulu ya, besok pagi kami ke sini lagi, jam jam sembilanan lah kami ke sini." Ucap Valen.
" Silahkan Kakak ipar, hati hati di jalan dan sekali lagi terima kasih." Sahut Davian.
" Baiklah Abang pulang dulu." Ucap Nathan.
" Iya Bang hati hati." Sahut Davian.
Valen, Nathan dan Irvan berjalan keluar untuk pulang ke rumah masing masing. Hari sudah hampir pagi, Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari seluruh anggota keluarga Ardiansyah berkumpul di ruang rawat Ria tanpa Erald tentunya. Mami Nesha menggendong cucu perempuan pertamanya sambil menimangnya.
" Cantiknya cucu Oma, siapa namanya Ri?" Tanya Mami Nesha menatap Ria yang sedang terbaring di atas ranjang.
" Dia kami beri nama Faradea Sasmita Mi." Sahut Ria.
" Nama yang bagus." Sahut Mami Nesha.
" Kami harus panggil siapa Ri?" Tanya Cia sambil menoel noel pipi Babbynya Ria.
" Panggil saja Fara." Sahut Davian.
" Ok sekarang aku punya dua babby, babby Er sama Babby Fa." Ujar Cia.
" Kak Gama besok anakmu mau di beri nama siapa?" Sambung Luci menatap Gama.
" Oh namanya Rahasia, baiklah nanti aku akan memanggilnya babby Si." Sahut Cia asal.
" Hei maksudnya namanya masih menjadi rahasia Cia." Ucap Gama.
" Owh... Kirain mau di beri nama rahasia." Gumam Cia.
" Mas besok kalau kita punya anak kita beri nama Carseo kalau laki laki, kalau perempuan kita beri nama Carselia gimana?" Ujar Cia menatap Irvan.
" Iya terserah kamu saja." Sahut Irvan.
" Tapi kapan kita bisa memberi nama itu kepada anak kita? Sampai sekarang aja aku nggak hamil hamil, padahal Kak Luci sudah hamil besar." Ucap Cia sedih.
" Sayang." Ucap Irvan merangkul pundak Cia.
" Jangan bersedih, sedikasih Tuhan aja sayang, kita juga sedang berusaha kan, mungkin Tuhan sedang memberi kita waktu untuk berdua, kita nikmati saja ya waktu kebersamaan kita, jangan bersedih lagi ya." Sambung Irvan.
" Iya Mas, maafkan aku." Sahut Cia.
" Cia mau gendong Babby Fara nggak? siapa tahu nanti di ompolin." Ujar Nathan menggoda Cia biar tidak sedih lagi.
" Nggak ah Bang, lain kali aja! Aku mau pulang istirahat, badanku tiba tiba nggak enak Bang." Ujar Cia.
" Baiklah tidak masalah, istirahatlah! Jangan sampai kecapekan ya." Ujar Nathan.
" Iya Bang, semuanya aku pulang dulu ya." Ucap Cia.
" Hati hati Cia." Sahut Valen.
__ADS_1
" Iya Kak." Sahut Cia.
" Ayo sayang." Ajak Irvan menggandeng tangan Cia.
Saat hendak membuka pintu tiba tiba Cia kembali menghampiri Nathan yang sedang duduk di sofa. Ia berdiri di samping Nathan, Valen menyenggol lengan Nathan dan memberi kode lewat matanya membuat Nathan menoleh ke arah Cia.
" Kenapa Cia?" Tanya Nathan menatap Cia.
" Aku pengin mampir di kedai es krim rujak buah Bang." Sahut Cia.
" Ya mampir aja, Irvan pasti mau di ajak mampir ke sana." Ucap Nathan.
" Bukan itu masalahnya Bang." Ujar Cia.
" Lalu?" Tanya Nathan.
" Bagi cuan." Ucap Cia menodongkan tangannya.
" Astaga sayang, aku punya uang banyak jika untuk membelikanmu es krim sampai kamu kenyang sayang." Ucap Irvan menarik tangan Cia. Cia menepisnya.
" Aku maunya beli pakai uang Abang bukan uang kamu Mas." Sahut Cia.
" Sama aja sayang, udah ah ayo jangan minta uang terus sama Abangmu, kamu bikin aku malu tahu nggak sih." Kesal Irvan.
Ya akhir akhir ini Cia selalu minta uang kepada Nathan untuk membeli ini dan itu. Bahkan Cia menolak uang pemberian Irvan membuat Irvan malu kepada keluarga Cia. Entar di kira Irvan tidak memberinya uang jajan.
" Kenapa kamu malu? Aku minta sama Abangku sendiri kok bukan sama orang lain, kalau kamu malu ya udah pergi aja, aku mau beli es krimnya sama Abang aja nggak mau sama kamu." Ucap Cia.
Irvan benar benar kehilangan muka di depan keluarga istrinya. Ia meninggalkan Cia keluar ruangan Ria.
" Bang ayo beli es krim rujak buah, aku pengin makan itu sekarang." Ajak Cia menarik tangan Nathan.
Nathan menatap Valen yang di jawab anggukan kepala oleh Valen.
" Baiklah tapi sama Kakakmu juga ya, sekalian kami mau pulang juga." Ucap Nathan.
" Iya Bang." Sahut Cia.
" Ria, Davian kami pamit pulang ya." Ucap Valen.
" Iya Kak terima kasih." Sahut Davian.
" Mi, Pi, Gama, Luci, Gama, Abang pulang duluan ya." Ujar Nathan.
" Hati hati." Sahut Mami Nesha.
" Kak Valen hari ini Abang milikku, jangan cemburu ya." Ujar Cia mengapit lengan Nathan.
" Baiklah mumpung Kakak lagi baik hati silahkan miliki Abangmu, tapi hanya untuk hari ini kalau besok besok tidak boleh." Ucap Valen.
" Nggak janji ya." Sahut Cia berjalan keluar.
Semua orang geleng geleng saja melihat tingkah Cia.
TBC.....
Hayooo kira kira ada apa ya dengan Cia???
Temukan jawabannya di bab bab selanjutnya ya...
Jangan lupa untuk selalu like dan koment di setiap babnya....
__ADS_1
Miss U All....