
Ria duduk bersandar pada headboard di samping Davian. Hingga hari menjelang malam Davian belum juga sadar. Ia masih setia menutup matanya. Ria sudah mengoleskan salep pada luka Davian. Ia menatap ngeri luka luka Davian yang masih di hiasi dengan darah kering.
" Engh..." Lenguh Davian membuka matanya.
" Shhh." Desis Davian saat merasakan perih di sekujur tubuhnya.
" Sakit ya Mas?" Tanya Ria turun dari ranjang. Ia lalu duduk di tepi ranjang dekat Davian.
" Vale...." Lirih Davian menatap Ria.
" Iya Mas ini aku." Ucap Ria.
" Kenapa kamu di sini? Harusnya kamu di rumah saja sayang." Ucap Davian.
" Emangnya kenapa kalau aku di sini? Suamiku ada di sini dan membutuhkan aku sekarang untuk mengobati luka lukamu." Sahut Ria.
" Ini sudah malam, ada Luci yang akan mengurusku, sekarang kamu pulanglah!" Ucap Davian.
Ria membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga. Ia terkejut dengan ucapan Davian.
" Kamu mengusirku?" Tanya Ria menatap Davian.
" Baiklah kalau memang kamu tidak mau aku ada di sini, aku akan pergi dan tidak akan kembali ke sini lagi." Ucap Ria membalikkan badan.
" Bukan begitu maksudku sayang." Ucap Davian mencoba bersandar pada headboard.
" Ah." Pekik Davian saat merasakan sakit pada tubuhnya. Tubuhnya terasa remuk tak karuan.
" Mas." Ucap Ria mendekati Davian.
" Aku tumpuk dulu bantalnya, kau bisa menyandarkan punggungmu di tumpukan bantal ini." Ucap Ria menumpuk bantal.
" Sini Mas." Ria membantu Davian bersandar pada tumpukan bantal yang di tata Ria.
" Makasih sayang." Ucap Davian.
" Sayang jangan salah paham, aku hanya tidak mau kamu melihat sisi lemahku." Ujar Davian. Ria tersenyum manis ke arahnya.
" Aku justru senang bisa melihat sisi lemah darimu, jadi aku bisa tahu apa kelemahanmu." Sahut Ria.
" Apa kamu sudah memaafkan aku?" Tanya Davian.
" Aku memaafkanmu Mas, dan aku juga ingin minta maaf padamu jika selama ini aku telah menyakiti hatimu." Ucap Ria menundukkan kepalanya.
" Kau tidak perlu minta maaf sayang, kau tidak salah akulah yang bersalah di sini." Ujar Davian menyentuh wajah Ria. Ria menatap Davian dengan penuh cinta begitupun sebaliknya.
" Kak ini kopernya, barusan Kak Gama yang mengantarnya." Ucap Luci masuk ke dalam kamar davian sambil menyeret kopernya.
Davian melongo menatap Ria seolah meminta penjelasan kepadanya. Ria tersenyum manis ke arahnya.
" Sayang." Ucap Davian.
" Iya Mas, aku memutuskan untuk kembali ke rumah ini, sepertinya calon anakmu tidak menginginkan aku jauh darimu." Ucap Ria.
Davian meneteskan air mata kebahagiaannya. Ia memeluk perut Ria lalu menciuminya.
__ADS_1
" Makasih sayang, aku... Aku sangat bahagia Yank, kalau aku tahu keadaanku yang begini mampu membawamu kembali ke rumah ini sudah aku lakukan sejak dulu." Ucap Davian.
Ria melepas pelukan Davian. Ia menangkup wajah Davian dengan kedua tangannya.
" Jangan sakiti dirimu lagi Mas karna aku tidak sanggup untuk melihatnya." Ucap Ria.
" Aku berjanji padamu tidak akan menyakiti diriku sendiri apalagi menyakitimu tapi kau juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan aku lagi." Ujar Davian.
" Aku berjanji untuk itu Mas." Sahut Ria.
Davian menangkup wajah Ria membuat Ria membungkukkan tubuhnya.
Cup...
Davian mengecup bibir Ria, Ria memejamkan matanya, saat Davian hendak mengecup kembali tiba tiba...
" Ehm ehm." Dehem Luci membuat keduanya sadar jika masih ada orang lain di sana. Ria membenarkan posisinya, Ia menoleh ke arah Luci dengan canggung.
" Maaf Luci, tidak seharusnya kamu melihat semua ini." Ucap Ria.
" Its ok Kak, ya udah aku keluar dulu kalau mau saling melepas rindu jangan lupa kunci pintunya." Sahut Luci keluar dari kamar Davian. Ia menutup pintunya dengan senyum bahagia terpancar di wajahnya.
" Kenapa senyum senyum sendiri?" Tanya Gama yang berdiri di belakang Luci. Luci membalikkan badannya menatap Gama.
" Kau membuatku kaget saja, kok belum pulang? Apa ada yang ketinggalan? Atau mau menemui Kakakku?" Tanya Luci sedikit gugup.
" Aku ingin mengajakmu kencan malam ini? Ayo bersiap dulu aku tunggu di ruang tamu." Ucap Gama.
" Berkencan? Emang ada hubungan apa aku denganmu?" Tanya Luci menatap Gama.
" Eh aku kan belum mengiyakan ajakanmu." Ujar Luci.
" Aku tidak menerima penolakan, asal kamu tahu." Ucap Gama. Gama melihat jam mewah yang melingkar di tangannya.
" Lima menit kalau belum siap aku culik kamu." Ucap Gama berlalu dari sana.
" Pemaksaan." Gerutu Luci kembali ke kamarnya untuk bersiap.
Gama duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
" Ayo." Ucap Luci.
Gama mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia menatap Luci yang memakai dress di bawah lutut berwarna peach dengan higheels lima centi membuatnya terlihat sangat cantik.
" Kak." Ucap Luci menyenggol pundak Gama membuat Gama tersadar dari lamunannya.
" Ah iya, kamu cantik sekali malam ini." Ucap Gama.
" Ya kan mau jalan, siapa tahu nanti di jalan nemu calon jodoh." Ujar Luci.
" Kenapa harus nyari? Orang jodohmu ada di depan mata kok." Sahut Gama.
" Nggak usah ngegombal! Nggak akan mempan." Sahut Luci berjalan keluar rumah di ikuti Gama dari belakang.
" Hei aku nggak lagi ngegombal ya, aku tulus dari dalam hatiku." Ujar Gama.
__ADS_1
Gama membukakan pintu mobil untuk Luci.
" Makasih." Ucap Luci duduk di samping kemudi.
" Sama sama." Sahut Gama menutup pintunya.
Gama memutari mobil, Ia duduk di belakang kemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Apa kau bahagia melihat Ria kembali pada Kakakmu?" Tanya Gama menoleh ke arah Luci.
" Sangat bahagia Kak, apalagi aku melihat kebahagiaan di mata mereka berdua." Sahut Luci.
" Aku harap Kakakmu tidak melakukan kesalahan lagi, karna jika sampai itu terjadi aku sendiri yang akan membawa Ria pergi jauh darinya, dan aku jamin Kakakmu tidak akan bisa menemukannya." Ucap Gama.
" Iya Kak, aku juga berdoa seperti itu, aku ingin melihat kebahagiaan Kak Davi dan Kak Ria serta anak anak mereka nanti." Ujar Luci.
" Apa kau belum berkeinginan untuk menikah?" Tanya Gama.
" Belum Kak, aku akan menikah jika sudah memastikan Kak Davi hidup bahagia bersama keluarga kecilnya." Sahut Luci.
" Apa kau sudah punya calon?" Gama kembali bertanya.
" Sejujurnya belum sih Kak, tapi aku yakin Allah akan mengirimkan jodoh untukku jika waktunya tiba." Ucap Luci.
" Yah kau benar, mungkin Tuhan mengirimkan aku sebagai jodohmu." Ujar Gama.
" Kau terlalu percaya diri Kak." Ucap Luci.
" Kalau benar begitu gimana?" Tanya Gama.
" Ya mau gimana lagi?" Luci balik bertanya.
" Ya udah lah kita jalani aja kedekatan kita, kalau jodoh nggak akan kemana." Sahut Gama.
" Benar sekali." Sahut Luci.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Nathan. Nathan sedang memac* tubuhnya di atas tubuh istrinya dengan pelan tapi pasti. Ia takut menyakiti anak dalam kandungan Valen. Keduanya saling menikmati indahnya syurga dunia yang mereka ciptakan sendiri. Suara erangan dan de***** memenuhi ruangan kamar mereka. Ruangan yang menjadi saksi cinta mereka berdua. Setelah mencapai pelepas*n Nathan membaringkan tubuhnya di samping Valen.
" Makasih sayang." Ucap Nathan memeluk Valen. Ia mencium pipi Valen dengan lembut.
" Mas aku mau bersih bersih dulu." Ucap Valen.
" Nanti aja, aku masih pengin lagi." Sahut Nathan.
" Mas kamu ini nggak ada capek capeknya, aku capek Mas." Ujar Valen.
" Kamu diam aja biar Mas yang bekerja." Sahut Nathan.
Kalau sudah begini Valen tidak bisa apa apa. Mau menolak pun percuma jika Nathan sudah berkehendak. Nathan dan Valen saling menikmati kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.
TBC.....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...