Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
82. MP Kedua Pasangan


__ADS_3

Setelah drama yang menjengkelkan bagi Gama dan Irvan kini keduanya masuk ke kamar masing masing. Kamar yang benar tentunya. Irvan dan Cia masuk ke dalam kamar mereka. Sesekali Cia masih tersenyum senyum sendiri mengingat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.


" Kenapa senyum senyum sendiri?" Tanya Irvan menatap Cia yang sedang duduk di tepi ranjang.


" Aku cuma lagi membayangin apa yang kamu lakukan sama Kak Luci ha ha ha." Sahut Cia sambil tertawa.


Irvan duduk di samping Cia menghadap ke arahnya.


" Pikiran kamu kotor Cia, kamu tahu pasti apa yang aku lakukan di sana." Sahut Irvan menatap Cia membuat jantung Cia berdegup kencang.


Irvan memajukan wajahnya membuat Cia menutup matanya. Tiba tiba...


Fiuh....


Irvan meniup wajah Cia membuat Cia membuka matanya.


" Lagi mikirin apa hmm?" Tanya Irvan menaik turunkan alisnya.


" E.... e.. Tidak memikirkan apapun, aku cuma takut aja jika Kak Irvan menyakiti wajahku." Kilah Cia.


" Bukan karna kamu mengira aku mau menciummu?" Tanya Irvan menggoda Cia.


" Eh enggak ya, lagian mana mau kamu nyium aku." Sahut Cia asal.


" Kalau aku mau gimana?" Tanya Irvan menatap Cia.


" Eugh.." Gumam Cia menatap Irvan.


Keduanya saling tatap. Ada sesuatu yang berdesir dalam hati keduanya. Jantung keduanya pun berdegup dengan kencang.


Deg... Deg.... Deg....


"Ada apa dengan jantungku? Kenapa deg degan seperti ini? Apa aku mulai terkena penyakit jantung ya." Gumam Cia dalam hatinya.


" Ya Tuhan kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apakah hatiku sudah berpaling dari Valen? Apakah hatiku sudah mulai condong kepada gadis yang saat ini menjadi istriku? Jika benar semoga Cia memiliki perasaan yang sama denganku." Ujar Irvan dalam hati.


" Ehm." Deheman Cia membuat Irvan tersadar dari lamunannya.


" Sekarang aku mau tanya sama kamu." Ucap Irvan.


" Apa?" Tanya Cia.


" Apa yang kamu lakukan sama Gama,? Lebih tepatnya apa yang Gama lakukan padamu? Secara kan dia cinta mati sama Luci." Ujar Irvan.


" Dia hanya mencium keningku saja, wajarkan kan Kak Gama menciumku, aku kan adiknya, adik yang selalu di sayanginya." Ujar Cia.


" Iya." Sahut Irvan menganggukkan kepalanya.


" Eh tapi kamu tahu nggak? Saat kak Gama hendak menindihku, aku langsung mendorong keras tubuhnya hingga terjengkang ke lantai ha ha ha lucu deh pokoknya." Ucap Cia.


" Masa' sih sampai segitunya, kasihan tahu." Ujar Irvan.


" Salah sendiri mau main sosor aja, nggak bisa bedain mana istrinya mana adiknya." Sahut Cia.

__ADS_1


" Nakal kamu ya." Ucap Irvan mencubit pelan hidung Cia tanpa Ia sadari.


" Ya sudah sekarang aku mau tidur udah ngantuk juga, selamat malam Kak." Ujar Cia naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di atas sana.


" Tidurlah selamat malam." Sahut Irvan beranjak mengambil bantal lalu Ia berjalan menuju sofa.


" Mau kemana Kak?" Tanya Cia membuat Irvan menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya menatap Cia.


" Mau tidur." Sahut Irvan.


" Tidur dimana?" Cia kembali bertanya.


" Sofa." Sahut Irvan.


" Kenapa di sofa? Kenapa tidak di ranjang?" Tanya Cia.


" Aku takut kamu tidak nyaman kalau tidur seranjang denganku." Ujar Irvan.


" Aku yang nggak nyaman, atau sebenarnya kamu yang nggak nyaman tidur seranjang denganku?" Ucap Cia.


" Kamu berusaha menjauhiku Kak." Sambung Cia.


" Bukan begitu Cia, aku berpikirnya gitu, tapi kalau kamu nyaman nyaman saja maka aku akan tidur di ranjang." Uap Irvan menuju ranjang.


" Tidurlah di ranjang, aku tidak setega itu membiarkan suamiku tersiksa tidur di sofa sempit." Ujar Cia.


" Terima kasih sudah pengertian." Ucap Irvan naik ke atas ranjang.


" Hmm." Gumam Cia.


" Untukmu juga." Sahut Cia.


Keduanya tidur bersebelahan di atas ranjang. Yang seharusnya mata mereka terpejam malah mereka tetap membuka mata masing masing.


" Kak."


" Cia." Ucap keduanya bersamaan saling menoleh menatap satu sama lain.


" Kamu dulu." Ujar Irvan.


" Aku mau meminta kepastian dari hubungan ini, kira kira mau di bawa kemana hubungan kita ini Kak." Ucap Cia.


" Kamu maunya gimana?" Tanya Irvan menatap Cia.


" Aku maunya menikah sekali seumur hidup, tapi aku juga tidak tahu apa yang hatiku inginkan Kak, aku bingung menilainya." Sahut Cia.


" Kita jalani saja dengan saling terbuka, perlahan kita hapus nama orang lain di dalam hati kita, biarkan cinta menguasai hati kita, aku yakin suatu saat nanti kita akan mengerti apa yang kita dan hati kita inginkan." Ujar Irvan.


" Ya kau benar Kak." Sahut Cia.


" Mulai hubungan dengan pertemanan gimana?" Tawar Irvan.


" Baiklah berteman." Sahut Cia.

__ADS_1


" Ok kita sekarang menjadi teman." Sahut Iran.


" Jangan kaget ya kalau jadi temanku." Ujar Cia.


" Kenapa?" Tanya Irvan.


" Karna aku banyak maunya." Sahut Cia.


" Kamu bisa aja." Sahut Irvan.


Akhirnya malam pertama Irvan dan Cia mereka habiskan dengan bercengkrama. Keduanya menceritakan tentang pengalaman pengalaman lucu yang pernah keduanya alami.


Di kamar sebelah tepatnya di kamar Gama. Gama menghampiri Luci yang sedang tidur di atas ranjang. Kali ini lampu menyala jadi Gama bisa melihat dengan jelas kalau itu istrinya. Ia rapikan anak rambut di wajah Luci.


" Kamu cantik sekali sayang." Lirih Gama.


" Pules banget tidurnya kaya' bayi, kecapekan kali ya." Ujar Gama.


Gama mengelus pipi Luci dengan pelan membuat tidur Luci terganggu.


" Engh." Lenguh Luci membuka matanya.


" Kak Ga... Eh Mas." Ralat Luci.


" Ngantuk banget ya?" Tanya Gama.


" Sekarang udah enggak kok, Mas Gama butuh sesuatu?" Tanya Luci beranjak dari tidurnya. Ia duduk bersandar pada headboard.


" Aku butuh kamu, ini malam pertama kita sayang, maukah kamu memberikannya padaku?" Tanya Gama menatap Luci.


" Aku membasuh mukaku dulu Mas." Ujar Luci.


Luci turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia segera membasuh wajahnya lalu kembali ke ranjang menghampiri Gama.


" Sudah Mas." Ucap Luci.


Gama menangkup wajah Luci dengan kedua tangannya. Ia memajukan wajahnya mengecup bibir Luci. Luci memejamkan matanya sambil sedikit membuka mulutnya. Gama menyusupkan lidahnya dan bermain main di dalam sana. Gama menahan tengkuk Luci untuk memperdalam ciumannya. suara decapan terdengar memenuhi ruangan kamar mereka. Gama melum** lembut bibir Luci membuat Luci terlena dengan sentuhan sentuhan yang Gama berikan.


Tanpa mereka sadari kini keduanya sudah sama sama polos. Gama menuntun senjatanya menuju goa yang selama ingin Ia masuki.


" Awh." Pekik Luci langsung menutup mulutnya sendiri.


Gama menghentikan usahanya. Ia kembali melum** bibir Luci membuat Luci melupakan rasa sakit pada tubuh bagian bawahnya. Perlahan Gama melanjutkan usahanya hingga..


Golllllll......


Akhirnya Gama berhasil membobol gawang lawan. Gama kembali memulai permainannya dengan penuh kelembutan. Suara erangan dan desah** memenuhi ruangan mereka. Kamar nomer seratus satu menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka. Gama berharap dengan kemenangan permainannya, akan hadir Gama junior secepatnya.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author nggak nglroko nih....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Miss U All....

__ADS_1


TBC......


__ADS_2