Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
130. Dari Keluarga Permana


__ADS_3

" Siapa?" Tanya Dika.


" Dia Anli Permana Kak, putri dari salah satu pewaris keluarga Permana, pamannya adalah Indra Permana Ceo Zip Group yang sekarang di gantikan oleh putranya Bryan Permana." Sahut Naren.


" Keluarga Permana.... Zip group yang di pimpin oleh Bryan Dika Permana, berarti kamu menikahi putrinya Tuan Andre Permana?" Tanya Dika memastikan.


" Iya Kak, Om Andre dan Tante Liona dulu ke Negara S untuk pengobatan, namun mereka merasa betah di sana, lalu Om Andre mendirikan perusahaan sendiri di sana, ya walau tidak sebesar perusahaan Zip Group sih." Terang Naren.


Naren dan Anli memang bertemu di Negara S karena mereka sama sama tinggal di sana.


" Tidak masalah yang jelas Kakak ikut senang Ren, tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati Kakak dan ingin Kakak tanyakan sama kamu." Ucap Dika.


" Apa itu Kak?" Tanya Naren menatap Dika.


" Apa kamu benar benar mencintai calon istrimu? Apa kamu benar benar sudah move on dari Valen?" Tanya Dika.


" Kenapa Kakak menanyakan hal itu?" Bukannya menjawab Naren malah kembali bertanya.


" Karena Kakak tidak yakin kamu bisa berhasil move on darinya dan berpaling dengan wanita lain." Sahut Dika.


" Jujur kalau nama Valen masih ada di sudut hatiku Kak, entah sampai kapan aku sendiri juga tidak tahu... Sangat berat menghapus nama Valen dari dalam hatiku karena aku mencintai Valen sejak masa masa sekolah dulu dan mungkin rasa itu masih ada sampai saat ini, tapi nama Anli berhasil menembus hatiku di sisi yang lainnya Kak, dan aku yakin aku pasti bisa menghapus nama Valen dengan perlahan dan menggantikannya dengan nama istriku sepenuhnya suatu saat nanti, aku tidak bisa terus terusan mengharapkan Valen kan? Dia sudah bahagia bersama keluarganya sekarang, aku tidak setega itu untuk merusak kebahagiaannya, dan aku juga ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilku nanti." Sahut Naren.


" Kamu benar Ren, Kakak doakan semoga kau akan mendapatkan kebahagiaan sama seperti Kakak saat ini, setelah Kakak mengikhlaskan Cia ternyata Tuhan menyiapkan Azza untuk Kakak, yang menurut Kakak Azza adalah wanita yang jauh lebih baik daripada Cia." Ucap Dika.


" Mas... Nggak boleh gitu ah." Ujar Azza.


" Astaghfirullohal'adzim... Maaf sayang." Ucap Dika menatap Azza.


" Aku maafkan kok Mas." Sahut Azza.


" Terima kasih sayang." Ucap Dika.


" Sama sama Mas." Sahut Azza tersenyum manis.


" Aku jadi iri sama kalian deh." Ujar Naren membuat Azza dan Dika menoleh ke arahnya.


" Kenapa iri?" Tanya Dika mengerutkan keningnya.


" Ya iri aja, kira kira nanti Anli bisa seperti Azza nggak ya? Yang selalu sabar menghadapi dan selalu memaafkan sikap dan kesalahan kamu Kak." Ujar Naren.


" Kalau itu kamu nggak akan bisa menemukan duanya Ren." Sahut Dika.


" Lhah kenapa?" Tanya Naren.


" Karena yang seperti itu cuma satu yaitu istriku, tidak ada yang lain." Sahut Dika merangkul pundak Azza.

__ADS_1


" Hah kau benar juga Kak, tapi semoga Anli sebelas dua belas lah sama Azza." Ujar Naren.


" Semoga." Sahut Dika.


" Naren.... Kamu jangan begitu donk, kamu jangan menyamakan seseorang dengan seseorang lainnya sayang, sifat manusia berbeda beda Nak, terima saja apa adanya calon istrimu dan jangan menuntut dia untuk menjadi apa yang kamu mau, itu tidak baik sayang dan jika di lakukan tidak akan berakhir dengan baik juga." Ucap Mama Esti.


" Iya Ma, Naren tahu kok, Naren juga menerima Anli apa adanya." Ucap Naren.


" Dan ada apa apanya tentunya." Sahut Dika.


" Ha ha ha Kakak bisa aja." Sahut Naren.


Naren menatap Aira yang sepertinya sedang asyik sendiri memainkan ludahnya membuat Naren merasa gemas.


" Aira ikut Om yuk." Ucap Naren mengambil alih Aira dari pangkuan Mama Esti.


" Eh pelan pelan sayang, nanti kalau jatuh gimana." Ujar Mama Esti.


" Ya enggak lah Ma, Mama ini ada ada aja." Sahut Naren menggendong Aira.


" Hai Aira cantik, kamu gemesin banget sih, bikin Om jadi pengin gigit nih." Ujar Naren menciumi pipi Aira.


" Kita jalan jalan yuk ke taman belakang." Ucap Naren membawa Aira ke taman belakang meninggalkan ruang keluarga.


" Video call dari Anli." Gumam Naren.


Naren segera mengangkatnya.


" Assalamu'a.........." Ucapan Anli menggantung saat melihat Naren menggendong Aira. Ia menjadi berpikir yang tidak tidak.


" Wa'alaikumsallam sayang, kenapa nggak di lanjutin salamnya?" Tanya Naren duduk di gazebo sambil memangku Aira.


" Mas.... Itu yang kamu gendong bayi siapa Mas? Jangan bilang kalau itu bayi kamu dari istri pertamamu? Oh my good tidak tidak.... Aku berbicara apa sih... Oh Tuhan jangan sampai ini terjadi, aku sudah benar benar menyerahkan hatiku pada Mas Naren jangan sampai ternyata dia membohongiku ya Tuhan.... Jangan sampai ternyata Mas Naren sudah memiliki istri di sini dan bayi itu adalah anaknya." Cerocos Anli membuat Naren tersenyum lebar.


" Mas kok malah tersenyum sih? Bayi siapa itu? Awas ya kalau ternyata kamu bohongi aku soal statusmu, aku akan mengulitimu hidup hidup." Ancam Anli geregetan.


" Eh tapi kok imut banget sih..... Apalagi pakai kerudung gitu, apa nggak sumpek tuh Mas anak kecil di pakein kerudung gitu?" Tanya Anli.


" Ya enggak lah sayang, buktinya Aira nyaman nyaman aja tuh." Sahut Naren.


" Oh namanya Aira." Gumam Anli.


" Anak siapa Mas?" Tanya Anli lagi.


" Anak Kak Dika sayang, lucu kan." Ujar Naren.

__ADS_1


" Iya Mas, eh tapi babby twins juga nggak kalah imut lhoh Mas." Ujar Anli.


" Babby twins siapa?" Tanya Naren.


" Ah iya aku belum cerita sama kamu ya Mas, ternyata anaknya Kak Bryan yang ke dua itu kembar Mas, namanya Dicky sama Dicka mirip nama Kakak kamu." Ujar Anli.


" Oh ya? Rame donk rumah Oma kamu." Tebak Naren.


" Iya lah.... Babby twins imut banget lhoh Mas, besok kalau kita punya anak kira kira seimut bebby twins nggak ya Mas?" Tanya Anli.


" Ya pasti lah sayang, orang Mama sama Papanya imut ya anaknya pasti imutlah." Sahut Naren.


" Ya semoga aja lah... Mas gimana perasaan kamu mau menikah sama aku? Gugup nggak?" Tanya Anli.


" Kalau gugup pasti ada lah sayang, tapi yang jelas aku merasa bahagia banget karena bisa memiliki kamu, wanita berisik, cerewet, tapi baik hati." Sahut Naren membuat Anli cemberut.


Ya... Kesan pertama yang Naren berikan saat pertemuannya dengan Anli adalah gadis berisik dan cerewet. Tapi Anli baik hati karena dengan kecerewetannya Ia mampu menghibur Naren saat Naren merasa kesepian dan patah hati karena di tinggal Valen. Kedekatan itulah yang membuat Naren melabuhkan pilihannya kepada Anli.


" Kamu masih aja menyebutku gadis berisik Mas." Cebik Anli berwajah muram.


" Ah sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung ataupun melukaimu, maafkan aku ya." Ucap Naren.


" Nggak mau." Sahut Anli cemberut.


" Sayang jangan gitu donk... Aku nggak tahan kalau kamu cemberutin gitu, senyum ya... Maafin aku." Ujar Naren.


" Tapi ada syaratnya." Sahut Anli membuat Naren tersenyum. Ia sangat hafal dengan sikap Anli yang seperti ini. Selalu pakai syarat.


" Apa syaratnya?" Tanya Naren.


Kira kira apa ya syaratnya????


Tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semakin semangat....


Terima kasih untuk readers yang sudah mensupport author, semoga sehat selalu....


Miss U All....


TBC....


Buat yang belum baca keluarga Permana baca ya....


__ADS_1


__ADS_2