
Hari hari berlalu, tak terasa Nesha sudah satu bulan tinggal di rumahnya. Sebulan yang lalu Ia menolak ajakan Nathan untuk pulang. Bahkan Ia selalu menghindari Farhan dan Nathan yang setiap hari kerumahnya. Entah kenapa hatinya begitu keras, Ia tetap kukuh pada tekadnya untuk menjauhi Farhan. Maklum lah masih labil.
Seminggu yang lalu, Nathan kembali masuk ke rumah sakit karna demam tinggi, mungkin kangen dengan Maminya, sebenarnya Nesha tidak tega dengannya, Ingin sekali Ia menjengu Nathan tapi Nesha mengurungkan niatnya. Ia tidak mau menjenguk Nathan karna Ia takut hatinya akan goyah.
Hari ini setelah Nathan keluar dari rumah sakit, Ia meminta di antar ke rumah Nesha. Farhan pun menurutinya. Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Nesha.
Dua puluh menit Farhan sampai di kediaman Nesha. Keduanya turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Saat Nathan melihat Nesha yang sedang duduk di sofa, Nathan langsung memeluk erat tubuh, Ia tidak mau melepaskannya.
" Mami...hiks..hiks...hiks.... Athan angen... Mami kemana caja, kenapa Mami nindalin Athan hiks..hiks. Athan catit Mi, kenapa Mami tidak mau jenuk Athan.... Apa Mami benci cama Athan." Isak Nathan.
Nesha tidak kuat menahan tangisnya, Ia menangis sambil memeluk Nathan. Sebenarnya Ia juga menderita jauh dari putra tercintanya. Saat ini Ia hanya ingin mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya hatinya inginkan, sebelum Ia mengambil keputusan.
" Mami... kita puyang ya..." Ucap Nathan.
" Nathan ingin Mami pulang?" Tanya Nesha menatap wajah pucat Nathan.
" Iya Mi." Sahut Nathan mengangguk.
Nesha terlihat sedang berpikir, Ia sudah menjadi ibu yang jahat sebulan ini karna membiarkan putra kesayangannya merindukannya, bahkan sampai di rawat di rumah sakit.
"Mami.... gimana mau ya puyang cama Athan, Athan mau cama Mami." Rengek Nathan.
Nesha menatap Farhan, Mama Rena dan Sifa yang sedang duduk di sofa sebrang, Ia bingung untuk mengambil keputusan. Ia tidak mau berpisah dengan Nathan, tapi Ia ragu dengan janji dan cinta yang Farhan ungkapkan. Nesha merasa takut Farhan akan membohonginya lagi. Bukankah setiap wanita jika hatinya sudah terluka akan susah untuk melupakannya?
" Tunggu satu malam lagi ya sayang, Mami masih mau main di sini sama tante Sifa." Ujar Nesha hati hati.
" Athan ikut inep cini cama Mami." Ujar Nathan.
" Tanyakan dulu pada Papi, apa Nathan boleh menginap di sini atau tidak." Ujar Nesha.
" Papi Athan boyeh inap cini cama Mami kan? Athan penin tidul di kelonin cama Mami." Ucap Nathan menatap Farhan.
" Boleh sayang." Sahut Farhan.
" Athan boyeh inap cini Mami." Ujar Nathan menatap Nesha.
__ADS_1
" Baiklah..." Sahut Nesha menciumi pipi Nathan. Farhan merasa sedikit lega, setidaknya Nesha tidak menolak ajakan Nathan untuk pulang, Nesha hanya meminta waktu saja maka Ia akan memberikan seberapa maunya Nesha.
Tak terasa hari sudah malam Farhan dan Mama Rena pamit untuk pulang, mereka membiarkan Nathan bersama Nesha untuk melepas rindu.
" Kami pulang dulu sayang." Ucap Mama Rena.
" Hati hati Tante." Sahut Nesha.
Setelah kepergian Farhan dan Mamanya. Nesha membawa Nathan ke kamarnya.
" Nathan, sebelum tidur gosok gigi dulu yuk." Ajak Nesha.
" Ndak ada cikat giginya Mi." Jawab Nathan.
" Ada... Tadi tante Sifa beli sama pasta giginya juga kok buat Nathan, baju ganti Nathan juga ada kok." Jelas Nesha.
" Baik Mi." Sahut Nathan.
Nesha segera menggendong Nathan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukam ritual sebelum tidur. Setelah selesai, Nesha menggendong Nathan menuju ranjangnya. Ia membimbing Nathan berdoa sebelum tidur. Nesha mengelus kepala Nathan, tak berapa lama akhirnya Nathan terlelap.
" Apa Nathan sudah tidur?" Tanya Sifa yang baru saja masuk ke kamar Nesha.
" Apa keputusanmu setelah ini?" Tanya Sifa duduk di tepi ranjang. Nesha duduk bersandar pada headboard menatap ke arah Sifa.
" Aku merasa dilema Sif, aku udah terlanjur pura pura amnesia untuk menjauh dari Mas Farhan dan Nathan, tapi nyatanya Nathan masih saja bergantung padaku, aku jadi tidak tega meninggalkannya, aku tidak tahu harus berbuat apa Sif, aku benar benar bingung." Ucap Nesha mengusap air matanya.
" Kembalilah pada keluargamu, lupakan masa masa yang menyakitkan itu, aku yakin sekarang pak Farhan benar benar mencintaimu." Ujar Sifa.
" Aku masih takut Sif, aku takut dia membohongiku lagi rasanya begitu sakit Sif, hati dan pikiranku tidak sinkron, aku ingin pergi jauh darinya, aku ingin melupakan rasa cinta ini kepadanya tapi hatiku berat untuk melakukannya, jika aku kembali padanya aku takut akan terluka suatu saat nanti." Jelas Nesha.
" Kamu harus menghilangkan perasaan takut itu Nes, sampai kapan kamu akan begini." Ujar Sifa.
" Aku juga tidak tahu bagaimana reaksi Mas Farhan saat mengetahui jika selama ini aku hanya pura pura saja." Ujar Nesha.
" Jadi selama ini kamu hanya pura pura? Kamu sengaja pura pura Amnesia untuk melupakan aku dan Nathan?" Tanya seseorang dari depan pintu membuat keduanya menoleh ke arahnya.
__ADS_1
" Mas Farhan." Gumam Nesha.
" Pak Farhan." Ucap Sifa.
Nesha dan Sifa saling pandang seolah bertanya sejak kapan Farhan berdiri di sana? Lalu sedang apa dia di sini?
" Aku keluar dulu Nes, selesaikan dulu masalahmu, mungkinini saatnya kamu memberitahu semuanya." Ujar Sifa.
Sifa berjalan keluar kamar Nesha meninggalkan ereka berdua. Ia ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan masalahnya.
" Jelaskan kenapa kamu begitu tega pada kami Nesha! Kamu menghindari kami dengan pura pura amnesia? Aku nggak menyangka kamu sejahat itu Sha... Kamu membohongi kami semua dengan trik murahan seperti ini, kamu tega Sha, bahkan Nathan hampir kehilangan nyawanya karna saking kangennya sama kamu, tapi ternyata kamu hanya pura pura saja." Ujar Farhan menyugar kasar rambutnya.
" Ya Mas kau benar, aku jahat, aku egois.. Sangat egois tapi apakah pernah kamu memahami perasaanku mas? kamu membohongiku tentang perasaanmu padaku, setelah itu kamu merendahkan aku serendah rendahnya Mas, bahkan kamu sampai mengingatkan statusku yang hanya ibu sambung Nathan Hiks.. Apa kamu tahu betapa sakitnya hatiku saat ini Mas, aku ingin terbebas darimu, aku ingin melupakanmu, itulah sebabnya aku pura pura amnesia." Isak Nesha.
" Sayang...maafkan aku, aku khilaf, aku menyesali semuanya, kau tidak bersalah melakukan ini, akulah yang harus di salahlan, kau sudah banyak menderita karena aku, maafkan aku sayang." Ujar Farhan memeluk Nesha.
" Hiks..hiks..hiks... aku takut kamu menyakitiku lagi Mas, aku takut yang kau ucapkan hanya sandiwara saja." Ucap Nesha.
" Nesha... aku benar benar mencintaimu, sudahi pertikaian kita sampai di sini ya, kembalilah ke rumah, kita bangun keluarga bahagia dari awal lagi, hmm." Ucap Farhan lembut menatap Nesha.
" Sayang... demi Nathan dan demi cinta kita, kembalilah pada kami, satu hal yang harus kamu tahu sayang aku benar benar mencintaimu... I love U." Ucap Farhan menangkup wajah Nesha.
"Mau ya kembali ke rumah bersama kami?" Tanya Farhan.
Nesha menganggukkan kepalanya. Farhan segera memeluk Nesha menyalurkan rasa bahagia yang menyeruak di dalam dadanya. Ia ciumi kening Nesha hingga beberapa kali.
" Sayang, makasih.... Terima kasih kamu sudah mau memaafkan dan menerima Mas kembali, Makasih sayang." Ucap Farhan.
" Hmm aku juga minta maaf sama kamu Mas atas apa yang telah aku lakukan selama ini." Ucap Nesha.
" Aku memaafkanmu sayang." Sahut Farhan.
" Aku ngantuk mas mau tidur." Ujar Nesha membaringkan tubuhnya di sebelah Nathan.
" Aku juga." Sahut Farhan berbaring di belakang Nesha. Ia memeluk tubuh Nesha dari belakang dengan perasaan bahagia. Ketiganya kini tidur saling berpelukan.
__ADS_1
**TBC....
Hai readers tercinta, menurut kalian cerita ini gimana sih, menarik, lebay, atau sama sekali tidak menarik, aku pengin tahu tanggapan kalian untuk mengambil keputusan apakah cerita ini mau berlanjut atau tidak**....