Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
27. Jalan Jalan


__ADS_3

Gama, Valen dan si kembar menuju pantai utara di ibukota dengan mobil yang di kendarai oleh Gama. Si kembar terus tertawa mentertawakan lucunya wajah Nathan saat Valen pamitan dengannya tadi.


Flashback on


" Yank nggak usah pergi, di rumah aja sama Mas ya." Rengek Nathan menggenggam tangan Valen.


" Nggak bisa! Kalau siang Kak Valen Kakak kami tapi kalau malam Kak Valen istrimu Bang." Sahut Cia.


" Ya udah kalian boleh pergi tapi Abang ikut ya." Ujar Nathan.


" Nggak bisa Abang, kalau Abang ikut entar Kak Valen nggak bisa bebas ngapa ngapain karna Abang pasti akan nempel terus kaya' cicak di dinding." Sahut Ria.


" Yankkkk." Panggil Nathan manja dengan wajah super imutnya.


" Mas kali ini aja deh ijinin aku pergi sama mereka sebagai ucapan terima kasihku kepada Gama, jangan gini donk aku jadi nggak tenang perginya." Ujar Valen memberi pengertian.


" Udah ayo Kak keburu makin sore." Ajak Gama.


" Mas." Ucap Valen menatap Nathan. Ada perasaan tidak tega dalam hatinya tapi Ia tidak punya pilihan lain.


" Ya udah deh sana pergi, hati hati." Ucap Nathan masuk ke dalam rumah.


Flashback off


" Ha ha ha.... Baru kali ini aku melihat wajah manja Abang Kak." Ucap Cia tertawa lepas.


" Masa' sih?" Tanya Valen memastikan.


" Selama ini Abang itu selalu berwibawa di depan semua orang, Abang selalu bersikap dewasa sejak kecil Kak, walau Abang sangat memanjakan kami tapi Abang akan bersikap tegas dengan kami Kak, bener bener punya pawang sekarang Bang Nathan mah.... Wajahnya imut banget." Ujar Ria.


" Kak setelah menjadi istri Abang, apa yang Kak Valen temukan dalam diri Abang?" Tanya Cia.


" Apa ya???" Ujar Valen sedikit berpikir.


" Ya apa gitu? Semisal apa Abang orang yang perhatian, sayang sama Kak Valen atau gimana gitu." Ujar Ria.


" Abang kalian orang yang perhatian, penyabar dan penuh kasih sayang, Kakak berharap semoga sikap Abang kalian tidak berubah seiring berjalannya waktu." Ujar Valen.


" Insya Allah tidak Kak karna dari kecil Abang sudah memiliki sifat itu, apalagi kalau sama Kak Gama beh... Apapun yang Kak Gama minta Abang pasti akan selalu memberikannya Kak, Bahkan kalau Kak Gama meminta nyawanya pasti akan Abang berikan." Ucap Cia.


" Sekarang udah nggak lagi, buktinya aku minta Valen, Abang nggak kasih." Sahut Gama fokus pada stirnya.


" Kakak." Cebik Cia dan Ria bersamaan.


" Iya deh maaf." Sahut Gama.


" Oh ya Kak, boleh aku menanyakan soal Kak Kavia?" Tanya Cia kepada Gama.


" Menanyakan soal apa?" Gama balik bertanya.


" Apa benar yang Kak Gama katakan kalau Kakak tidak punya perasaan apa apa padanya?" Tanya Cia.

__ADS_1


" Tidak, dari awal Kakak hanya ingin menjauhkan Kavia dari Abang." Sahut Gama.


" Aku tidak menyangka Kavia bisa berbuat serendah itu." Ujar Ria.


" Kak Valen, apa Kakak akan membiarkan Kavia bebas dari hukumannya?" Tanya Ria.


" Tidak akan sayang, Kavia akan tetap mendapatkan hukuman sesuai perbuatannya." Sahut Valen.


" Iya biar dia kapok." Sahut Cia.


Tak terasa kini mereka sudah sampai di kawasan pantai A di kota J. Mereka turun dari mobil lalu berjalan mendekati bibir pantai.


" Banyak pengunjung anak anak ya Kak." Ucap Ria menggandeng Valen.


" Iya, lucu lucu ya mereka." Sahut Valen.


" Kalau besok Kakak punya anak pasti lebih lucu dari mereka, soalnya kan Kakak cantik Abang ganteng kebangetan, jadi perpaduan yang hakiki." Ujar Ria.


" Semoga ya." Sahut Valen.


Mereka mencari tempat yang sepi lalu mereka mulai bermain main pasir dan air layaknya anak kecil di sana. Gama memandang Valen dengan perasaan sedihnya. Ya Ia merasa sedih karna menyukai Kakak iparnya sendiri. Semakin Ia sering melihat Valen maka semakin dalam perasaan cinta yang Ia rasakan.


" Kak." Panggil Cia menepuk pundak Gama membuat Gama tersadar dalam lamunannya.


" Ah iya kenapa?" Tanya Gama.


" Kenapa melamun sih? Ayo main sama kita kita." Ajak Ria menarik tangan Gama untuk bergabung dengan yang lainnya.


" Kak Valen tangkap." Ucap Cia melempar bola ke arah Valen dengan kencang.


Valen mundur ke belakang untuk menangkap bolanya, Kakinya tidak sengaja menginjak kaleng bekas minuman hingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan sampai...


" Kakak." Teriak Cia melihat Valen yang terjungkal ke belakang.


Brugh....


Tubuh Valen terpental ke belakang menindih tubuh seseorang yang saat ini sedang memeluk perutnya. Jantung Valen berdetak dengan kencang karna kaget. Ia menatap tangan yang melingkar di atas perutnya dengan penuh pertanyaan dalam benaknya. Tangan siapa ini? Siapa yang aku tindih saat ini? Pikir Valen.


" Kak Valen, Kak Gama kalian tidak pa pa?" Tanya Cia menghampiri keduanya.


Valen bangkit dari tubuh Gama. Ia duduk di atas pasir sambil menatap Gama. Mata mereka bertemu membuat sesuatu berdesir di hati Gama.


" Terima kasih Gam, dan maaf aku membuatmu sakit." Ucap Valen.


" Tidak masalah, lain kali hati hati jangan sampai kamu terluka." Ujar Gama.


Cia dan Ria saling melempar pandangan. Mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kakak mereka Gama. Ria menggelengkan kepala.


" Iya maafkan aku." Ucap Valen.


" Kali ini aku maafkan tapi lain kali jika kamu ceroboh lagi aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Gama.

__ADS_1


" Gama apa maksud ucapanmu? Sebenarnya ada apa dengan dirimu? Kenapa aku merasa kamu memberikan perhatian lebih padaku? Ada apa sebenarnya Gama?" Tanya Valen menatap Gama.


Gama gelagapan, Ia tidak tahu harus menjawab apa. Gama tidak mungkin memberitahu perasaannya kepada Valen yang notabennya sebagai Kakak Iparnya sendiri.


" Karna... Karna kau Kakak iparku dan saat ini kau sedang pergi bersamaku, kalau terjadi sesuatu kepadamu maka aku akan di hukum sama Abang." Kilah Gama.


" Benarkah hanya itu?" Selidik Valen.


" Ya tentu saja, emang karna apalagi?" Tanya Gama.


" Aku percaya padamu semoga kau tidak menipuku." Sahut Valen berjalan meninggalkan Gama dan si kembar.


" Kak Valen tunggu." Panggil Cia mengejar Valen.


" Jangan sampai perasaan Kak Gama membuat keluarga kita hancur Kak." Ucap Ria menepuk pundak Gama.


" Kau tahu?" Tanya Gama.


" Aku sudah tahu sejak pertama kali kita datang ke rumah Kak Valen untuk melamarnya, sorot mata Kakak mengatakan semuanya, kalau bisa jangan terlalu menampakkan perasaan Kakak kepada Kak Valen di depan Abang, karna itu akan menjadi pilihan yang sulit untuk Abang Kak." Saran Ria.


" Kamu benar Ria, tapi asal kamu tahu kalau sebenarnya Kakak tersiksa dengan perasaan ini, Kakak tidak tahu harus berbuat apa supaya perasaan ini mati." Ucap Gama.


" Hapuslah Kak! Aku yakin Kak Gama pasti bisa, segera temukan pasangan hidup untuk Kakak sendiri, dengan begitu Kakak bisa melupakan perasaanmu Kak, andai saja Mami mengijinkan Abang tinggal di rumahnya sendiri pasti akan lebih mudah untukmu melupakan perasaanmu Kak." Ujar Ria.


" Akan Kakak coba, bagaimana kalau kamu saja yang menjadi pacar Kakak?" Goda Gama.


" Kalau kamu bukan Kakakku pasti aku mau." Kekeh Ria.


" Adikku tersayang." Ucap Gama memeluk Ria.


" Jangan bilang pada Papi dan Mami ya, biarkan Kakak menyimpan semuanya sendiri, karna rasa sakit ini Kakak sendiri yang membuatnya jadi biarkan Kakak yang menanggungnya." Ujar Gama.


" Beres Kak." Sahut Ria.


Tanpa mereka sadari sedari tadi Nathan melihat semua yang terjadi pada mereka.


" Maafkan Abang Dek Gam, kali ini Abang tidak bisa memberikan apa yang kamu mau, Valen adalah kebahagiaan Abang, kau boleh meminta apapun dari Abang selain diri dan cintanya, Abang tidak akan sanggup hidup tanpanya." Batin Nathan mengusap air matanya.


Nathan hendak pergi dari sana sebelum kehadirannya di sadari oleh adik adiknya dan istrinya. Saat Nathan membalikkan tubuhnya tiba tiba...


Hap....


TBC.....


Jangan lupa like dan komentnya.....


Besok acara resepsi Nathan dan Valen....


Yang mau datang jangan lupa senggol author ya ha ha ha.... Author tunggu sumbangan hadiah dan votenya buat Babang Nathan dan Valen tersayang...


Author ucapkan terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All.....


__ADS_2