
" Kami semua berada di sini dalam rangka ingin melamarmu menjadi istri anak Mami, yaitu Gama."
Gubrak.....
" Awh.... Sakit sayang." Pekik Gama saat Luci melemparkan tasnya tepat mengenai kepala Gama membuatnya memekik kesakitan. Gama mengusap usap kepalanya.
Semua orang melongo menatap keberanian Luci, baru kali ini ada orang yang berani berbuat kasar pada Gama. Valen menahan tawanya dengan tersenyum simpul.
" Kalau mau ketawa, ketawa aja Yank." Bisik Nathan ke telinga Valen.
" Enggak ah Mas, nggak sopan." Sahut Valen dengan berbisik juga.
Keduanya kembali menatap Gama dan Luci di depan sana. Seolah mereka sedang menonton drama live.
" Sayang sayang kepala lo peyang, aku kan sudah bilang aku tidak mau menikah denganmu, kenapa kamu memaksa hah? Kenapa kamu membawa semua keluargamu kemari untuk melamarku Kak Gama...." Ucap Luci dengan suara meninggi.
" Aku mencintaimu Luci...
" Tapi aku tidak mencintaimu Kak." Sahut Luci.
" Kamu bohong... Kamu bohong luci, aku tahu kau juga punya perasaan yang sama denganku, aku bisa melihat cinta di matamu untukku Luci, aku tahu kamu tidak mau mengakuinya karna kamu takut akan bernasib sama dengan Ria kan." Ujar Gama menatap tajam mata Luci membuat Luci merasa ketakutan.
" Jangan samakan aku dengan Kakakmu yang brengsek itu, aku benar benar mencintaimu itu tulus dari dalam hatiku, tidak ada satupun niat buruk untuk melukaimu Luci, percayalah." Sambung Gama menggenggam tangan Luci.
" Iya Luci, Gama benar... Dia mencintaimu dan ingin melamarmu menjadi istrinya, dia akan menjadi suami yang baik, suami yang mencintai dan menyayangimu sepenuh hatinya." Ujar Mami Nesha.
" Terimalah lamaran Gama sayang, dia tidak seperti Kakak yang tega menyakiti istrinya hanya demi balas dendam, Kakak menyesali semuanya sayang dan Kakak juga sudah berubah kan? Apa yang kamu takutkan di saat orang orang yang menyayangimu ada di sekelilingmu." Ucap Davian.
Luci mengedarkan pandangannya menatap mereka yang ada di sana satu per satu. Hatinya bimbang dan sedikit ragu untuk memulai hubungan baru. Bayang bayang Davian menyiksa Ria masih melekat jelas di ingatannya. Dulu sebelum menikah Davian juga melakukan hal yang sama dengan Gama. Davian menunjukkan cinta dan perhatiannya pada Ria, tapi apa yang terjadi setelah pernikahan? Davian berubah drastis menjadi seekor singa yang kelaparan yang kapan saja bisa menerkam mangsanya.
" Luci." Gama menyenggol lengan Luci membuat Luci tersadar dari lamunannya.
" Maukah kamu menerima lamaranku?" Tanya Gama menatap Luci.
" Aku mohon Kak jangan paksa aku untuk semua ini, aku tidak siap bahkan aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun, ingatan tentang Kak Davi dan Kak Ria masih terekam jelas di dalam pikiranku, entah sampai kapan aku bisa melupakannya atau mungkin tidak sama sekali, biarkan aku menjalani hari hariku dengan ketenangan, yakinlah jika memang kita berjodoh suatu saat kita pasti akan bersatu, biarkan rasa takut dalam hatiku hilang dengan sendirinya, aku tidak menyuruhmu untuk menjauhiku, kau boleh setiap hari datang ke sini untuk menemuiku, kita akan berteman seperti teman pada umumnya, tapi aku mohon.... Jangan ikat aku dengan hubungan ini, mengertilah akan perasaanku dan keputusanku ini." Ucap Luci menatap Gama.
" Baiklah Luci aku hargai keputusanmu, aku akan menunggumu siap untuk aku nikahi, aku akan membantumu menghilangkan rasa ketakutanmu itu, tapi berjanjilah satu hal padaku." Ujar Gama.
" Apa itu Kak?" Tanya Luci.
" Berjanjilah kalau kamu tidak akan mengisi hatimu dengan nama pria lain selain aku." Ucap Gama menangkup wajah Luci dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Luci menatap dalam manik hitam Gama. Ia meresapi apa yang hatinya rasakan saat ini. Jujur... Jantung Luci selalu berdebar bila di dekat Gama, Ia selalu merasa rindu bila tidak berjumpa dengan Gama. Luci bisa mengartikan jika yang Ia rasakan kepada Gama adalah Cinta. Tapi rasa takut yang mendera dalam hatinya membuatnya tidak bisa mengekspresikan rasa cintanya.
" Baik Kak aku berjanji padamu tidak akan ada pria lain dalam hatiku, terima kasih sudah memahami perasaanku." Sahut Luci.
" Satu lagi." Ucap Gama.
" Satu lagi? Apanya?" Tanya Luci mengerutkan keningnya.
" Kamu harus berusaha menghilangkan rasa takut itu, dan setelah kamu siap, kamu harus bilang sama aku." Ujar Gama.
" Bilang apa?" Tanya Luci lagi.
" Mas Gama sayang, lamar aku donk.... Maka saat itu juga aku akan melamarmu, ah tidak... Aku akan langsung menikahimu." Ucap Gama.
Blush...
Pipi Luci langsung memerah karena malu. Semua orang menatapnya sambil tersenyum.
" Kamu membuatku malu Kak." Ucap Luci.
" Nggak perlu malu, kan kita semua keluarga." Ujar Gama.
" Iya Kak." Sahut Luci.
" Mami, maafkan Luci telah membuat Mami kecewa, semuanya maafkan Luci ya." Ucap Luci menatap semua orang.
" Tidak apa sayang, kami menghargai keputusanmu, jika memang Gama benar benar mencintaimu dia tidak akan bosan menunggumu." Ucap Mami Nesha merangkul pundak Luci.
Luci menatap Gama mencari tahu reaksi apa yang akan Gama tunjukkan. Gama justru menatapnya sambil tersenyum.
" Aku akan menunggumu sampai kau siap menjadi istriku sayang." Ucap Gama.
" Apa sih Kak sayang sayangan." Cebik Luci.
" Iya donk sebagai simbol kepemilikan." Sahut Gama.
" Terserah kamu aja lah Kak." Ujar Luci.
" Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu karna kami harus mengantar keluarga Nathan." Ucap Papi Farhan.
" Iya Pi, hati hati di jalan da maaf Ria tidak bisa ikut mengantar kalian." Sahut Ria.
__ADS_1
" Tidak masalah, ayo semuanya." Ucap Papi Fahan.
Sebelum benar benar pulang, Mami Nesha mengenalkan keluarga Papa Jordan kepada Luci. Setelah itu mereka semua berpamitan pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari Ria sudah bersiap untuk tidur. Ia menghampiri Davian di atas ranjang yang masih sibuk dengan ponselnya.
" Mas tidur udah malam." Ucap Ria memeluk perut Davian.
" Bentar lagi sayang, nanggung nih masih ngecek laporan." Sahut Davian.
" Kau selalu bekerja keras siang dan malam." Ucap Ria.
Davian mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia menatap rambut hitam Ria lalu mengelusnya.
" Iya aku sampai lupa kalau aku belum kerja malam." Ucap Davian.
Ria mendongak menatap Davian.
" Kerja malam? Kamu mau ke kantor sekarang?" Tanya Ria mengerutkan keningnya.
" Bukan di kantor sayang, tapi di atas ranjang." Sahut Davian. Pipi Ria merona mendengar ucapan Davian. Davian meletakkan ponselnya di atas nakas.
" Sayang Papa jenguk ya malam ini." Ucap Davian menempelkan telinganya ke perut Ria.
" Bolehkan sayang?" Tanya Davian menatap Ria. Ria menganggukkan kepala.
Davian mengukung tubuh Ria. Ia pandangi wajah cantik istrinya. Davian memajukan wajahnya lalu mencium bibir Ria dengan lembut. Setelah puas bermain di bibir, ciuman Davian turun ke leher Ria. Ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana membuat Ria mendesis. Tangan Davian bergerilya kemana mana hingga entah siapa yang mulai kini tubuh keduanya sama sama pol*s.
Davian memulai permainannya, Ia memanjakan Ria dengan kelembutan. Suara erang*n dan desa*** memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya saling melepas rindu lewat sentuhan sentuhan cinta yang di ciptakan oleh Davian membuat keduanya terasa terbang di atas nirwana.
Udah ah jangan panas panas ya... Nanti kebakar hhhh
Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya ya biar author semangat dan lancar ngehalunya.
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, apalah author tanpa kalian semua, semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1