
Hari hari terus berlalu keluarga Ardiansyah nampak hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Seperti keluarga Nathan yang saat ini sedang sibuk mengurus Erald dan Babby Alvin. Nathan dan Valen nampak kompak menjaga kedua putranya. Keduanya daling membagi tugas agar Vaken tidak merasa kecapekan.
Seperti hari ini, Valen sibuk mengurus Babby Alvin dari mulai memandikan dan memakaikan baju. Sedangkan Nathan mengurus Erakd yang hendak bersiap berangkat ke sekolah.
" Mami Erald sudah siap." Teriak Erald dari luar lalu Ia masuk ke kamar Valen menghampiri Valen yang sedang memakaikan baju kepada Babby Alvin.
" Duh Abang udah wangi aja nih, dedek malah masih pakai baju." Ujar Valen.
" Morning Mi." Ucap Erald mencium pipi kanan Valen
" Morning sayang." Sahut Valen gantian mencium pipi Erald.
" Pagi sayang." Ucap Nathan mencium pipi kiri Valen.
" Pagi Mas." Sahut Valen.
" Kok nggak di balas seperti ciuman Erald?" Tanya Nathan iri.
" Hah kamu ini Mas, udah tua juga masa' ngiri sama anaknya." Ucap Valen.
" Ya iyalah Yank, walaupun kita sudah mempunyai dua orang anak, tapi kasih sayang kamu sama aku nggak boleh berkurang donk." Ucap Nathan.
" Iya nggak akan Mas." Sahut Valen.
" Lalu." Ujar Nathan mendekatkan pipinya ke wajah Valen.
Cup...
Valen mengecup pipi Nathan membuat Nathan melebarkan senyum di bibirnya.
" Makasih sayang." Ucap Nathan.
" Sama sama Mas." Sahut Valen melanjutkan kegiatannya.
" Duh anak Papi makin gembul aja, bikin Papi gemes deh." Ucap Nathan menoe pipi Banny Alvin.
" Iya donk Pi, kan dedeknya minumnya banyak." Sahut Erald.
" Mas sangat bahagia sayang bisa memiliki keluarga kecil seperti kalian, Istri yang begitu mencintaiku, anak anak yang pintar dan imut, terima kasih sayang sudah menjadi pelengkap hidupku, sudah menjadi penerang dalam kegelapanku dan menjadi penuntun dalam kekhilafanku." Ucap Nathan menatap Valen.
" Aku juga berterima kasih padamu Mas, karena kamu sudah membuat hidupku berwarna dan memberikanku keluarga yang hangat seperti keluargamu." Ujar Valen.
" Sama sama sayang." Sahut Nathan memeluk Valen dan Erald.
...----------------...
Tidak jauh berbeda dengan kehidupan Abangnya. Kehidupan Gama pun sama bahagianya, Ia di anugerahi istri yang penyabar seperti Luci dan anak yang sedikit tidak bisa diam seperti Arsen.
Saat ini Luci sedang mendandani Arsen yang hendak berangkat ke sekolah taman kanak kanak.
" Mama aku ingin punya dedek bayi seperti Al, Fara aja mau mempunyai dedek bayi, Tante Ria saat ini sedang mengandung dedek bayinya lalu Mama kapan? Bilang donk sama Papa suruh bikinin dedek bayi buat Arsen donk Ma, biar Arsen nggak kesepian, biar Arsen ada teman main di rumah." Ujar Arsen mengajukan protes.
" Iya sayang, doakan saja ya biar Allah memberikan Arsen dedek bayi, doakan biar di perut Mama akan segera hadir dedek bayi." Ucap Luci sambil memakaikan kaos kaki Arsen.
" Ada apa sayang? Arsen merengek meminta dedek bayi lagi?" Tanya Gama yang baru keluar dari kamar mandi.
Ya sejak Arsen tahu jika Ria hamil Ia terus merengek meminta Luci untuk memberikannya seorang adik dan itu membuat Luci sedikit tidak nyaman.
" Iya Mas." Sahut Luci.
__ADS_1
" Sayang dengarkan Papa." Ucap Gama menyentuh pundak Arsen.
" Yang namanya dedek bayi itu pemberian dari Allah sayang, Mama sama Papa juga mau memberikan Arsen adik, tapi mau gimana lagi orang belum di kasih." Ucap Gama.
" Arsen yang sabar aja ya, kalau nanti sudah waktunya Allah memberikan dedek bayi kepada Arsen pasti Mama akan hamil, tapi Arsen nggak boleh terus terussan merengek sama Mama, kan kasihan Mamanya jadi sedih, kalau Mama stress Mama nggak bisa mengandung dedek bayi." Terang Gama.
" Begitu ya Pa? Berarti kalau Mama nggak stres Mama bisa cepat mengandung dedek bayi donk Pa." Sahut Arsen.
" Iya sayang, doakan saja ya." Ujar Gama.
" Iya Pa." Sahut Arsen.
" Janji nggak akan merengek lagi?" Tanya Gama mengacungkan jari kelingkingnya.
" Janji Pa." Sahut Arsen menautkan jari kelingnya ke jari Gama.
" Anak pintar." Ucap Gama mengelus pucuk kepala Arsen.
" Terima kasih Mas sudah memberikan pengertian kepada Arsen." Ucap Luci.
" Sama sama sayang, kamu yang sabar ya." Ujar Gama.
" Iya Mas." Sahut Luci.
Luci merasa beruntung memiliki suami seperti Gama. Ia benar benar bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya. Luci memeluk Gama meluapkan perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya.
...----------------...
Di dalam kamar Ria, saat ini Ria sedang duduk bersandar pada headboard di atas ranjang. Kepalanya masih terasa pusing dan perutnya terasa begitu mual, mungkin ini efek masa ngidam yang sedang Ria rasakan.
Davian dengan sabar dan telaten merawat Ria. Ia juga mengurus Fara dengan baik. Ia baru saja mengantar Fara ke sekolah. Setelah itu Ia mengantar sarapan ke kamar Ria.
" Maaf ya Mas karena aku begini kamu jadi capek ngurusin aku sama Fara, belum lagi kamu masih harus mengurus pekerjaan." Ucap Ria menatap Davian.
" Jangan berkata seperti itu sayang, ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu, aku tidak mau jika sampai terjadi hal buruk kepadamu seperti saat kamu mengandung Fara dulu." Ujar Davian.
" Jangan ungkit masa lalu Mas! Apalagi masa lalu itu kejadian buruk yang sengaja ingin kita lupakan, jangan merasa bersalah lagi, aku sudah memaafkanmu kan." Ujar Ria.
" Iya sayang, maafkan aku." Ucap Davian.
" Aku juga Mas." Sahut Ria.
" Aku sangat bahagia memiliki istri seperti dirimu, aku merasa kagum dengan sikap, sifat dan kepribadianmu yang lemah lembut dan begitu penyayang, membuat aku semakin jatuh cinta padamu." Ucap Davian mengecup kening Ria.
" Aku juga sangat bahagia Mas memiliki suami sepertimu." Sahut Ria memeluk Davian dengan erat.
" Sekarang makanlah, dedek bayinya pasti sudah merasa kelaparan, aku suapi ya." Ucap Davian.
" Iya Mas." Sahut Ria.
Dengan telaten Davian menyuapkan makanan ke dalam mulut Ria. Ria nampak antusias menerima suapam demi suapan dari Davian. Apalagi Ia tidak akan mual jika makan dari tangan Davian.
...----------------...
Jika di dalam rumah ketiga saudaranya nampak damai. Berbeda lagi di rumah Cia yang nampak begitu ramai dengan perdebatan Verdy dan Vebby. Semua itu membuat Cia mati matian menahan emosinya.
" Mama aku mau dedek bayi seperti Al." Ucap Vebby.
" Aku nggak mau, kamu aja udah berisik minta ampun apalagi di tambah satu atau bahkan dua adik lagi." Sahut Verdy.
" Pokoknya aku mau adik... Aku nggak punya temen buat main bareng karena kamu pasti sibuk dengan ponselmu Ver." Ujar Vebby.
__ADS_1
" Kalau aku bilang nggak mau ya nggak mau, kamu itu harus nurut sama yang lebih tua Veb." Sahut Verdy.
" Harusnya kamu yang menuruti apa kemauan yang lebih muda." Ucap Vebby tidak mau kalah.
" Rugi kalau aku menuruti kamu, karena apa? Karena kamu banyak maunya." Sahut Verdy.
" Tidak cuma banyak maunya, tapi kamu juga banyak bicara, cerewet membuat situasi menjadi bising." Ucap Verdy.
" Mama Ver nakal." Ucap Vebby.
" Kamu yang nakal." Ujar Verdy.
" Kamu lah kamu bilang aku cewek cerewet...
" Memang kamu cerewet." Ucap Verdy.
" Aku tidak cerewet." Sahut Vebby.
" Kamu cerewet." Sahut Verdy.
" Kamu."
" Kamu."
" Kamu."
" Kamu."
" Diaaaammmmmm." Teriak Cia membuat kedua anaknya berjingkrak kaget.
" Astaga sayang ada apa sih teriak teriak?" Tanya Irvan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya menghampiri Cia.
" Suruh kedua anakmu diam, kalau perlu bawa mereka berdua ke kamarnya, aku lagi sibuk memasak tambah pusing mendengar ocehan mereka." Ujar Cia menatap tajam kepada kedua bocah yang sedang menundukkan kepalanya.
" Memangnya apa yang mereka lakukan?" Tanya Irvan.
" Aku bilang bawa mereka dan jangan banyak bertanya, atau kalau tidak aku tidak akan menyelesaikan masakanku biar kalian semua kelaparan." Ancam Cia.
" Ah baiklah... Sayang ayo kita ke kamar kalian." Ajak Irvan kepada kedua anaknya.
" Iya Pa." Sahut twins bersamaan.
Itulah kebahagiaan yang mereka rasakan walau dengan versi yang berbeda tapi mereka sama sama merasakan satu hal yaitu KEBAHAGIAAN.
...THE END...
Terima kasih untuk para readers yang sudah setia menemani author selama ini.... Menemani author dari awal hingga akhir...
Author tidak bisa memberikan apa apa selain ucapan terima kasih dan doa untuk kalian semua....
Semoga para reader semua selalu di beri kesehatan, rezeki yang lancar dan di lancarkan segala urusannya.
Bila ada kata yang menyinggung perasaan kalian semua author meminta maaf yang sebesar besarnya....
Miss U All......
Jangan lupa pindah ke novel sebelah ya....
Ikuti kisah Erald, Alvin dan seorang wanita yang akan menjadi jodoh keduanya....
__ADS_1