
Arya dan Marni sesuai yang direncanakan sebelumnya, kalau mereka berdua sepulang kerja akan ke rumah Elin dan akan mengantarkan Elin memeriksakan diri ke dokter kandungan. Takdir seolah menggariska gadis itu tidak pernah bisa tertawa bahagia dalam waktu yang lama, semenjak ia mengenal Lucas dan juga Lexi, hidupnya di penuhi dengan awan kegelapan.
Siang ini Elin sedikit melupakan masalahnya, karena harinya di sibukan dengan membantu papahnya membuat pesanan ayam ungkap. Untung pelangkan Eric mau mengerti keadaan mereka, sehingga meskipun Eric sempat berhenti berjualan karena kesibukanya mengurus Elin. Kini mereka tetap ramai pesan ayam kembali ke Eric, bahkan reseller yang dulu pernah membantu untuk menjualkan dagangan Eric kini mereka pun kembali aktif membantu promosi jualan Eric.
Hanya kesibukan seperti ini yang bisa sedikit melupakan masalah yang menimpa pada diri Elin. Mungkin apabila Elin tidak memiliki orang tua yang sangat mengerti kondisi Elin, ia juga akan rapuh dan bahkan menyerah dalam kehidupan yang kejam ini. Dukungan dari papahnya sangat berarti untuk Elin.
"Wah, kayaknya lagi sibuk nih?" Suara Marni mengagetkan Elin yang sedang membantu papahnya peking ayam-ayam yang sudah siap diambil oleh pembeli. Mereka pun mengerti ketika Elin dan Eric tidak bisa mengantarkan satu per satu pesanan, karena kondisi Elin yang belum sembuh sehingga mereka datang sendiri ke rumah Eric untuk mengambil pesanan itu.
Bahkan ada beberapa pembeli yang bemberikan uang lebih dengan tujuan membantu pengobatan Elin. Kabar kalau Elin di culik dan d lecehkan pun sudah tersebar hingga ke kampung tetangga. Efeknya banyak yang simpati dengan kondisi mereka. Tentang kondisi wajah Elin pun sudah banyak yang tahu, dan mereka pun bersyukur ketika ada donatur yang berbaik hati mau membantu biaya untuk Elin oprasi platstik, sehingga wajah Elin pun kini sudah kembali cantik.
Andai Eric mau di wawancara pun kasus Elin akan mencuat ke publik sehingga pasti akan lebih heboh lagi, tetapi demi menjaga prifasi putrinya, dan juga tidak membesar-besarkan masalah seperti yang Elin minta. Eric beberapa kali menolak untuk diwawancara.
Elin langsung mengangkat wajahnya dan memberikan senyum sapaan pada Marni dan Arya yang terlihat sangat serasi.
"Hehe... iya Dok, gara-gara tadi pagi ada drama sedih dan melow jadi jam segini pesanan baru di paking," jawab Elin tangannya dengan lihat menyiapkan pesanan satu persatu dan di pisahkan sesuai dengan pesanan yang masuk.
Hanya ini mata pencaharian mereka, dan juga oderan masakan dari dokter Arya yang sedikit meringankan beban hidup mereka yang semakin melangit. Sebenarnya Arya sudah memberikan penawaran untuk Eric membuka warung makan dan sebagainya, tetapi Eric masih belum bisa menerimanya. Bukan karena apa, hanya Eric masih memikirkan Elin yang masih membutuhkan perannya untuk membantu semua kebutuhanya. Elin belum sembuh total baik dari fisik maupun dari mentalnya.nSehingga Eric takut kalau nanti ia sibuk dengan usahanya justru menelantarkan Elin. Mungkin apabila Elin sudah jauh membaik Eric akan mempertimbangkan kembali tawaran dari Arya.
Tanpa Elin minta, Marni dan Arya pun membantu pekerjaan Elin semuanya agar segera selesai. Tangan Arya memang bekerja, tetapi pandangan matanya sejak tadi memperhatikan Eric di dapur yang sibuk dengan persiapan bumbu untuk pesanan di besok hari dan agar besok ia tidak keteter itu yang selalu ia lakukan akan bisa mengatur waktunya dengan baik dan tidak banyak waktu yang terbuang.
Sesuai rencana Arya dan Marni, di mana Marni yang akan mengantarkan Elin untuk mengunjungi dokter kandungan. Sedangkan Arya yang sudah yakin dengan segala resiko Eric marah dan lain sebagainya, karena mungkin saja Eric akan mengira dan menuduh Arya bekerja sama dengan Lexi dan Lucas. Arya sudah memutuskan dengan yakin dan juga dengan masukan dari Marni, bahwa orang yang pertama kali mengetahui hubungan persaudaraan antara Lucas, Darya dan mereka adalah Eric.
Karena mereka menilai Eric adalah orang yang paling bijaksana, dan bisa menilai setiap kejadian dari dua sisi. Sedangkan Lucas kalau tahu ini belum tentu ia akan mengambil keputusan yang bijak. Mungkin dalam hatinya hanya ada penyesalan dan penyesalan, tanpa mau tahu cari bagaimana solusi atas masalah yang sudah ia perbuat. Mengingat Lucas lebih dominan bekerja dengan emosi.
__ADS_1
"Papah Elin akan ikut Dokter Marni dulu yah," pamit Elin pada Eric, setelah kerjaanya selesai dan sebentar lagi akan ada pembeli yang mengambil pesanan mereka masing-masing.
"Oh iya Sayang, hati-hati yah, Dokter Marni nitip Elin yah," lirih Eric dengan menundukan pandangan, dan Marni pun membalas dengan senyum yang ramah.
Setelah Arya memastikan Elin dan Marni sudah pergi. Arya pun mulai melancarkan aksinya.
"Ehem... Om, apa ada waktu sebentar, Arya ingin mengatakan sesuatu," lirih Arya, dengan suara yang cukup kecil, tetapi pasti masih bisa terdengar jelas oleh Eric. Laki-laki paruh baya itu pun tanpa pikir berlama-lama langsung menyanggupi permintaan Arya setelah merapihkan bahan-bahan untuk persiapan dagangan ia diesok hari, dan setelah mencuci tangan Eric pun menghampiri Arya yang saat ini duduk di gasebo. Tempat favorite mereka semua ketika berada di rumah Eric.
Eric menghampiri Arya, dengan membawa dua cangkir kopi untuk Arya dan tentunya untuk dirinya sendiri.
"Terima kasih Om, jadi merepotkan," ucap Arya ketika Arya melihat Eric membawakan suguhan kopi untuk dirinya.
"Cuma ada kopi gimana merepotkan," jawab Eric tanganya meletakan cangkir kopi dengan rasa capucino untuk Arya sedangkan dirinya kopi hitam.
Yah, laki-laki paruh baya itu bahkan sudah sangat yakin kalau Marni sudah pasti telah memberi tahu juga tentang kabar terbaru dari Elin yaitu Elinyang saat ini sedang hamil.
"Semuanya ada hubunganya Om, dari sakit, kehamilan Elin dan juga mungkin Arya akan membahas masa lalu Om Eric juga." Arya yang sudah mempersiapkanya dengan matang sehingga ketika berbicara dengan Eric pun terlihat lebih santai dan lebih bisa mengguasai emosinya. Ini adalah keputusan final. Karena Arya juga tidak mungkin hanya mendiamkan fakta yang ia tahu sedangkan tujuan Eric datang ketempat ini juga dari yang Elin katakan adalah ingin mencari ibu kandung Elin di mana wanita itu sudah pasti, dia adalah tantenya Ely.
"Aduh kok perasaan Om tidak tenang yah Dok. Masa lalu Om itu sulit dan sulit di jabarkan, karena ada perjanjian yang membuat Om harus merahasiakan semuanya," lirih Eric, laki-laki baya itu juga menganggap Arya itu sudah lebih dari anak sehingga ia juga seolah tidak masalah ketika sedikit menyinggung tentang masa lalunya yang tidak boleh sembarangan di beritahukan pada siapa pun termasuk Elin.
"Apa perjanjian itu berhubungan dengan keluarga mantan istri Om Eric?" tanya Arya nada bicara yang mulai serius membuat jantung Eric juga semakin memburu, terlebih sepertinya Arya sudah banyak tahu tentang dirinya.
Eric hanya berdiam, tidak bisa berkata lebih banyak lagi. Ada nyawa yang sedang ia lindungi.
__ADS_1
"Baiklah Arya yang akan tebak. Kalau memang perjanjian itu menyangkut dengan keluarga mantan istri Om, alias ibu kandung dari Elin. Om bisa pegang ucapan Arya. Arya akan melindungi kalian dari ancaman itu. Om Eric bisa pegang ucapan Arya," tandas Arya dengan yakin bahkan seratus persen yakin. Philip tidak akan bisa berani menyentuh keluarga Arya, di samping saham keluarga Arya yang lebih besar di perusahaan yang Philip pegang, laki-laki itu juga dulunya hanya laki-laki biasa yang beruntung menikah dengan kelurga adik dari ibunya Arya jadi yang kaya adalah mantan istrinya yang sudah meninggal. Lalu apabila Philip berani macam-macam bisa saja keluarga besar Arya akan menendangnya kembali ke jalanan dan dia akan kembali menjadi gembel.
Lagi, laki-laki paruh baya yang ada di samping Arya hanya bisa berdiam. Mungkin Eric masih ragu dengan ucapan Arya.
"Apa ini juga alasan Om Eric dan mantan istri Om merahasiakan kalau Elin memiliki sodara laki-laki?"
Kali ini pertanyaan Arya langsung membuat wajah Eric terangkat dengan sempurna.
"Da... dari mana Dokter Arya tahu hal itu?" tanya Eric dengan suara terbata.
Tanpa menjawab. Arya memberikan amplop tes DnA antara empat orang keluarga Eric.
Tangan Eric bergetar ketika mengambil amplop itu di mana di luar ada cap rumah sakit. Jantung Eric memompa darah lebih cepat tidak hanya itu Eric juga merasakan bahwa tubuhnya seolah tidak bertulang. Pikiranya sudah menerka-nerka dengan jawaban yang belum tentu benar adanya.
Meskipun ada harapan kalau ia nantinya setidaknya akan tahu di mana saat ini keberadaan Darya, mantan istrinya. Mungkin kalau Eric boleh meminta lebih ia akan meminta untuk di pertemukan untuk mantan istrinya dan kembali berumah tangga dan merawat anak-anak mereka, tetapi Eric sadar betul bahwa doa dan impianya terlalu tinggi.
...****************...
Teman-teman sembari menunggu Om Eric beraksi yukk mampir ke karya teman othor...
jangan lupa ramaikan yah...
__ADS_1