
"Lin... kamu kenapa?" tanya Lexi yang sejak tadi melihat Elin seperti gelisah sekali. Memang di antara mereka lebih banyak berdiam saja dan Elin pun tidak banyak berinteraksi dengan Lexi, setiap Lexi mengajaknya berkomunikasi Elin selalu menjawab seperlunya saja.
Elin menatap Lexi seperti ada yang ingin dibicarakan, tetapi setelahnya hanya berdiam lagi. Lexi pun berjalan menghampiri Elin di mana sebelumnya laki-laki itu hanya duduk di sofa dengan mengecek pekerjaanya, dan tidak banyak berinteraksi karena tahu kalau Elin kurang nyaman.
"Apa kamu lapar, haus, aku supin lagi yah, tadi kamu makan hanya sedikit. Jangan sampai giliran aku yang jaga kamu, malah kamu jadi kurus, nanti aku bisa-bisa digantung sama papah kamu." Lexi akan mengambil makanan yang diberikan rumah sakit sebagai jatah makan malam Elin.
Namun, buru-buru Elin menolaknya. "Aku tidak ingin makan-makanan itu," balas Elin dengan pandangan menunduk, dan jari-jari yang saling bertautan, seperti orang yang tengah ketakutan.
"Katakan kamu pengin apa, aku malah suka kalau kamu pengin makan sesuatu, katakanlah aku akan membelikanya untuk kamu, dan anakku." Lexi sendiri nampak tersenyum bahagia ketika Elin mengidam. Ini yang sebenarnya ia inginkan dan akhirnya kesampaian juga. Anaknya memang paling bisa diandalkan.
"Ayolah Elin katakan kamu pengin apa, jujur aku ingin merasakan momen ini." Lexi kembali mengusap tangan Elin dengan lembut agar Elin mau mengatakanya.
"Aku pengin makan sate padang, tapi yang jualanya ada di depan rumah sakit jiwa tempat Mamah dulu dirawat. Nama yang jualanya sate Pak Muh," ucap Elin dengan suara yang setengah berbisik.
Lexi tertawa terkekeh. "Ya Tuhan Elin, kenapa kamu seperti ketakutan, aku tidak akan marah kalau kamu ingin sesuatu. Malah aku senang itu tandanya aku benar-benar diberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana pasangan kita ngidam. Aku akan membelikanya untuk kamu, dan calon anak kita, tapi masalahnya aku tidak tahu alamat rumah sakit tempat Tante Ely dirawat dulu. Kamu bisa beritahukan padaku di mana lokasi rumah sakit itu."
Elin pun mengetik nama rumah sakit tempat dulu mamahnya dirawat. "Lokasi satenya pas di sebrang rumah sakit. Dan biasanya ngantri kalau beli, apa kamu tidak apa-apa kalau ngantri?" tanya Elin memastikan lagi.
"Kamu jangan khawatir, aku ikhlas dan senang, tapi apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sendirian di sini, nanti kalau pengin ke kamar mandi atau kamu pengin sesuatu, apa kamu tidak repot?" Lexi pun justru jadi kefikiran Elin di rumah sakit sendirian.
"Elin tidak apa-apa lagian kan ada suster. Nanti Elin akan minta bantuan suster kalau butuh sesuatu," balas Elin, dan setelah memastikan kalau Elin baik-baik saja kini Lexi pun pergi meninggalkan Elin. Tentu Lexi sudah lebih dulu menitipkan Elin pada perawat khusus.
Meskipun perjalanan padat, dan ternyata rumah sakit yang cukup jauh. Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir satu jam Lexi sampai juga di rumah sakit tempat mamihnya Elin dirawat, dan Lexi baru ingat kalau rumah sakit itu dulu tempatnya Elin bekerja.
Benar yang dikatakan Elin kalau tukang satenya sangat ramai, tetapi Lexi tidak masalah demi anak, Lexi pun mau berdesak-desakan, dan mengantri untuk mendapatkan makanan yang Elin inginkan.
'Terima kasih ya Tuhan akhirnya aku bisa merasakan seperti suami yang istrinya sedang hamil. Meskipun mereka belum menikah tetapi Lexi cukup senang diberikan kepercayaan ini. Mungkin kalau orang lain tidak akan ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Lexi pantas bersyukur karena yang jadi korban kejahatanya adalah orang baik seperti Eric dan Elin, mungkin kalau orang lain dia tidak akan di berikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Setelah menunggu hampir satu jam kini Lexi sudah membawa lima porsi sate padang. Memang saking senangnya Elin meminta sesuatu hingga beli tidak kira-kira banyak, biar kalau Elin masih lapar bisa nambah.
#Tapi tidak lima porsi juga bambang, itu kebanyakan...
Tidak seperti ketika ia berangkat kini Lexi hanya membutuhkan waktu empat puluh menit sudah kembali di rumah sakit. Ternyata dia juga tidak hanya membeli sate padang sesuai permintaan Elin. Entah apa saja yang ada di barisan penjual sate tadi, Lexi belin, dari martabak, dongkal dan ada beberapa jajanan lainya, pokoknya yang aneh-aneh Lexi pasti beli.
Dengan hati-hati Lexi membuka pintu kamar Elin, mengingat tadi perawat mengatakan kalau Elin sudah istirahat, sedikit kecewa pastinya, tetapi Lexi juga maklum, dia yang terlalu lama berburu makanan yang Elin minta. Hampir tiga jam dirinya mencari jajanan itu. Buat Elin pasti itu cukup melelahkan.
Rasanya senang sekali ketika melihat Elin istirahat hingga untuk membangunkanya tidak tega. Ini adalah momen yang tidak pernah Lexi rasakan, tetapi sering ia membayangkanya. Yah, Lexi sering membayangkan momen seperti ini hingga dirinya yang diam-diam membayangkan membina rumah tangga bersama Elin, memang terkesan sangat tidak tahu diri mengingat apa yang pernah ia lakukan pada wanita itu, tetapi hati kadang memang tidak tahu diri. Sehingga Lexi membayangkan membina rumah tangga bersama Elin, dan bahagia dengan anak-anak mereka.
"Elin... Lin... bangun ini pesanan kamu sudah aku bawakan." Setelah cukup puas Lexi memperhatikan Elin tidur, laki-laki itu pun akhirnya membangunkan Elin. Ini sudah pukul sepuluh malam, dan justru Lexi membangunkan orang tidur.
__ADS_1
Elin pun setelah beberapa kali dibangunkan dengan menepuk pundaknya pelan, sudah mulai mengerjakan matanya berkali-kali. Lalu menyipitkan kedua matanya. Sedikit terkejut ketika melihat ada Lexi di hadapanya.
"Kamu jangan takut, aku tidak akan jahat pada kamu," lirih Lexi ketika melihat Elin seperti ketakutan ketika melihat dirinya.
'Ya Tuhan apa seperti ini selama ini Elin dalam tidurnya, tidak merasakan tenang?' Lexi pun kembali diliputi perasaan bersalah.
"Lin, tenang kamu tidak apa-apa, aku tidak jahat." Lexi mencoba mengusap punggungnya dan di saat itu lah Elin mulai tenang dan mungkin ia sudah sadar bahwa ia saat ini sedang ada di rumah sakit, bersama Lexi.
"Ini makanan yang kamu minta." Lexi meletakan banyak kantong makanan di hadapan Elin, hingga Elin sendiri kaget.
"Kok banyak banget," cecar Elin, dengan bingung. Sementara Lexi menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Abisan takut kamu pengin yang lain, itu ada beberapa makanan yang mungkin bisa kamu makan kalau lapar," balas Lexi sembari menyengir kuda.
"Astaga Lex, aku makan satu bungkus saja belum tentu abis, ini... ya Tuhan, kamu mau bikin acara selametan?" Elin tersenyum samar. Hati Lexi langsung menghangat padahal itu senyum samar dan cenderung mentertawakan kebodohan Lexi, tetapi Lexi senang, karena sudan membuat Elin tertawa. Ini adalah pertama kalinya Lexi melihat senyum Elin yang sangat manis.
'Ya Tuhan terima kasih sudah berikan kesempatan ini, meskipun mungkin Elin melakukanya tanpa sadar tetapi aku sangat bersyukur.' batin Lexi tidak di pungkiri ia sangat bahagia dengan malam ini diberikan bonus berkali-kali lipat oleh Tuhan dengan memberikan kesempatanya yang tadinya Lexi membayangkanya sangat mustahil.
#Teman-teman mampir yah ke karya baru Othor judulnya (Dinikahi Anak Konglomerat)
Namun, tiba-tiba di seperti mendapatkan keberuntungan itu. Elin perlahan bisa dekat dengan dirinya meskipun tidak semudah bayanganya.
Elin nampak berpikir sejenak. "Aku ingin cobain ini." Elin menujuk dongkal, kudapan tradisional yang dibikin dari tepung beras dan gula merah lalu dikukus dan dimakan dengan taburan kelapa, rasa manis dan guris, ternyata membuat Elin tersihir, ingin mencicipinya lebih dulu. Sementara sate padang yang dia inginkan tadi masih menunggu antrian untuk dicobanya.
Lexi mengambilkan satu sendok dan Elin memakanya terlihat enak "Gimana rasanya?" tanya Lexi dengan was-was melihat reaksi Elin.
Wanita itu pun mengangguk anggukan kepalanya, sebagai tanda kalau rasanya enak.
"Emang ini namanya makanan apa?" tanya Lexi lagi. Sontak saja Elin terkejut dengan pertanyaan Lexi yang sangat aneh itu.
"Loh, kok tanya namanya sama aku, bahkan aku saja baru mencicipinya," balas Elin setengah terheran.
"Orang aku iseng, dari pada nunggu pesan sate lama dan ngantri, jadi jalan-jalan saja sembarian beli yang aneh-aneh," jawab Lexi dengan santai. "Meskipun tidak tahu namanya aku beli saja, kalau enak di makan, dan kalau tidak ya... tetap di makan."
Elin pun tertawa dengan renyah. Kembali, hati Lexi sangat senang seolah ditumbuhi dengan banyaknya bunga-bunga bermekaran yang wangi. "Oh ya Tuhan apakan aku pantas membahagiakan Elin hingga akhir hayatku?" Tidak ada kebahagiaan yang sangat membuat damai selain melihat Elin tertawa dengan lepas.
Lexi baru tahu ternyata Elin cukup ceria, tetapi keceriaanya dirampas paksa oleh dirinya dan Lucas.
"Kenapa kamu tidak cobai, ini enak loh." Suara Elin berhasil mengagetkan Lexi yang sedang melamun membayangkan kalau ia bisa hidup dengan Elin yang ceria ini.
__ADS_1
"Ah... iya aku pun penasaran rasanya lihat kamu makan enak sepertinya, aku jadi pengin coba." Lexi menyuapkan satu potongan kudapan Tradisional itu ke dalam mulutnya.
"Memang rasanya enak manis dan gurih, aku yang baru bangun tidur langsung ketagihan." Namun hal berbeda dilihatkan oleh Lexi, reaksinya kurang menikmati makanan itu.
"Kenapa, apa makanan itu tidak enak?" tanya Elin, dengan wajah yang tegang menunggu jawaban dari Lexi.
"Rasanya cukup aneh, seperti memakan tepung dan aku kurang menyukainya." Lexi pun berlari ke kamar mandi untuk membuang makanan itu. Dan Elin kembali tertawa dengan renyah.
"Mungkin karena kamu yang terbiasa dengan makanan mewah jadi tidak menyukai makanan seperti ini. Ini menurut aku enak." Puji Elin pada makanan tradisional itu.
"Tidak juga aku pun ada beberapa makanan yang aku sukai, tetapi untuk makanan yang ini aku kurang menyukainya." Lexi pun lebih memilih potongan martabak yang sudah pasti dia suka, dan rasa aneh dari makanan yang bernama dongkal bisa hilang terkalahkan dengan rasa martabak yang manis.
Elin pun setelah menghabiskan beberapa suap kue dongkal kini berganti dengan sate yang tadi dia inginkan. Namun dia justru kurang menikmatinya.
"Kenapa rasa satenya berbeda?" lirih Elin dia hanya makan satu tusuk sate dan satu potong lontong. Ia tidak melanjutkanya lagi. Kali ini Lexi yang heran.
"Kenapa bisa berbeda aku membelinya di tempat yang kamu bilang, dan memang pembelinya banyak terus, namanya sate Pak Muh." Lexi pun menjabarkan warung sate yang dia maksud, dan Elin pun tahu kalau Lexi membelinya di temapt yang benar.
"Entahlah aku sepertinya tidak jadi pengin makan sate padang ini, tapi aku pengin makan itu aja." Elin menunjuk makanan yang yang sedang dimakan oleh Lexi yaitu corn dog mozarela, dengan keju mozarela yang masih meleleh.
"Tapi ini sudah aku gigit." Lexi menunjukan yang masih untuh dan yang sudah dia gigit.
"Aku mau yang kamu makan," ucap Elin dengan nada yang malu, dan Lexi pun menyuapinya.
"Terima kasih."
Lexi membalas dengan senyuman teduh, dan rasanya tidak ingin buru-buru berganti hari ingin terus menerus seperti ini. Menghabiskan malam dengn menikmati kuliner.
"Udah, aku sudah tidak kuat, ini sudah kenyang banget." Elin mengusap perutnya yang terasa begah.
"Terus makanan ini dikemanakan? Masih banyak." Lexi menunjuk makanaya yang masih utuh dan itu masih banyak.
"Kamu bagikan saja sama petugas yang berjaga di depan. "
"Astaga, kenapa aku bodoh sekali." Lexi menepuk kepalanya sendiri. Dan lagi-lagi Elin tertawa dengan renyah. Entah mengapa rasanya Elin bahagia dengan hal yang sepele seperti itu.
"Ternyata bahagia itu sederhana."
...****************...
__ADS_1