Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PWT #Episode 92


__ADS_3

Eric masuk kembali kedalam rumahnya begitu Arya  sudah pergi dengan membawa lima rantang pesananya, sebenarnya pesanan untuk ayam ungkep Eric juga belum menyiapkanya, tetapi Eric justru pikiranya sangat tidak tenang dengan keadaan putrinya.


"Apakah Elin hamil, atau justru ini adalah efek yang dia terima dari serangkaian pengobatanya di luar negri, atau memang masuk angin berhubung Elin baru tiba dari luar negeri dan tidak hanya itu Elin yang tidak biasa naik pesawat mungkin membuat ia mabok, dan efeknya masih terasa hingga saat ini." Eric terus menebak nebak, kemungkinan Elin yang tiba-tiba sakit.


"Tapi bukanya semalam Elin tidak apa-apa tapi kenapa sekarang justru muntah-muntah," batin Eric, laki-laki itu tadi sempat mengintip keadaan Elin dari celah pintu yang di buka sedikit, tetapi putrinya lagi pulas tertidur. Eric meletakan bokongnya di atas sova, dan pikiranya kembali mengingat ucapan Arya.


"Apa mungkin Elin hamil Om? Terus kalau Elin hamil gimana? Apa Elin akan hamil dan melahirkan tanpa adanya suami? Nanti Marni akan datang kesini dan memeriksa Elin,  untuk memastikan kondisi Elin," seperti itu kira-kira serentetan ucapan Arya yang masih Eric ingat.


Eric dengan pikiran yang masih bingung kembali beranjak dari tempat duduknya dan kembali membuka kamar Elin, tubuhnya masuk ke dalam kamar putrinya dan duduk di tepi ranjang sang putri. Punggung tanganya menyentuh kening putrinya yang terlihat memerah.


"Ya Allah Elin kenapa badan kamu panas sekali," ucap Eric, badanya mulai gemetar, kakinya melangkah ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang  berada di atas meja kecil samping ranjangnya. Dokter Marni adalah orang yang pertama Eric hubungi. Memang dokter Marni adalah dokter sepesialis kulit tapi mungkin saja dokter Marni bisa membantu  untuk mengecek tubuh Elin,


Sembari menunggu dokter Marni datang ke rumahnya, Eric mengompres tubuh Elin, hanya itu yang Eric bisa lakukan untuk mengurangi panas pada tubuh putrinya. Tidak lupa tadi Eric juga memberitahu keanehan Elin tadi pagi, dan juga mengungkapkan kecurigaan Eric dan Arya kalau Elin hamil.


"Nduk, mana yang sakit?" lirih Eric sembari memegang tangan Elin yang seolah gemetaran entah ketakutan atau bahkan lapar.


"Awas!! Jangan... sakit... jangan..." ringis Elin sembari tanganya seolah tengah memukul sesuaatu.

__ADS_1


Eric terkejut dengan kelakuan Elin yang bagi dia sangat aneh. "Apa selama ini Elin mengalami trauma atas kejadian malam itu?" batin Eric sembari terus memberhatikan sikap anaknya. Hatinya kembali sakit ketika melihat tingkah Elin yang entah bermimpi atau entah  ia justru sedang teringat kejadian malam itu.


"Siapa laki-laki yang dengan keji melakukan ini semua pada anak hamba ya Allah, tolong hukum laki-laki itu dengan perasaan bersalah tiada henti, karena telah membuat Elin jadi seperti ini ya Allah." Kedua bola mata Eric pun kembali memanas terlebih melihat Elin ketakutan seperti ini, hingga takut untuk di sentuh oleh papahnya.


Dokter Marni langsung masuk ke dalam rumah Eric dan menemui Elin di kamarnya.


"Gimana keadaanya Om?" tanya Marni tidak kalah cemas dengan kondisi Elin, Apabila Eric takut dan cemas kalau Elin akan hamil justru Marni takut kalau yang terjadi pada Elin adalah efek dari Elin yang menjalani operasi memang setiap orang berbeda untuk mengalami efeknya, tetapi yang membuat Marni kaget kemarin ketika di negara K Elin tidak menunjukan ada masalah dengan semuanya.


"Apa ada yang membuat Om Eric ketakutan seperti itu?" tanya Marni di mana Eric memang terlihat sangat ketakutan.


"Elin seperti mengalami trauma Dok, tadi ketika saya memegang tubuhnya untuk mengecek suhu tubuhnya dan juga mengompresnya, Elin menjerit histeris, dan meracau jangan dan juga mengatakan sakit, hingga air mata keluar dari ujung matanya, padahal saat itu Elin seperti tertidur.


Eric hanya diam dan memahami apa yang Marni katakan, dan membiarkan Marni untuk memeriksa Elin sedangan dirinya membuatkan minum untuk Elin dan Marni.


"Elin bangun Lin!" Dokter Marni menepuk pundak Elin pelan dan membangunkan Elin untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Hal itu karena Marni sudah melihat dan mengecek sepertinya yang dialami Elin bukan efek samping dari oprasi wajahnya, tetapi memang sepertinya dugaan Eric dan Arya ada benarnya.


"Sepertinya Elin memang benaran hamil, dia harus tahu bagaimana kondisi dia saat ini apakan dalam kondisi bersih atau justru Elin dalam kondisi mengandung. Elin menggeliatkan tubuhnya pelan, hal itu karena tubuhnya terasa sakit. Elin mengingat apakah ia baik-baik saja dan mengingat juga kira-kira apa yang membuat Elin seperti ini.

__ADS_1


"Dokter Marni, sejak kapan Dokter ada di sini?" tanya Elin matanya masih di sipitkan dengan sempurna hal itu karena kepala dia yang terus berdenyut dan juga dengan kepala yang pusing, harus di paksa buka mata oleh Elin.


"Barusan Elin, gimana kondisi kamu, tadi Papah kamu cemas dengan kondisi kamu makanya telpon aku untuk datang ke rumah kamu," jawab Marni, dan Elin pun berusaha bangun dan duduk berseder di sandaran tempt tidur yang cukup kecil, bahkan apabila untuk tidur dua orang harus saling berhimpitan.


"Enggak tahu Dok, tiba-tiba Elin mual, dan gelap serta badan tidak enak Dok, tapi ini bukan karena  Efek dari operasi kemarin kan Dok?" tanya Elin, dia bahkan tidak ingin untuk datang dan mengunjungi negara itu lagi. Bukan hanya rasa sakit yang luar biasa paska operasi plastik , tetapi memang negara itu sangat jauh dan tidak bebas ngobrol, sebab ia tidak tahu bahasanya.


"Kamu tolong kencing, dan air kencingnya ditampung di sini yah!" Marni menjulurkan tempat penampungan air kencing. Wajah Eli pun seketika berubah, dia memang belum pernah hamil, tetapi bukan berarti dia tidak tahu cara yang diucapakan wanita yang sedang duduk di hadapnya adalah salah satu pemeriksaan untuk mengetahui kehamilan.


Elin tidak bisa menerima benda itu, justru kelopak matanya terasa panas dan itu tandanya mungkin sebentar lagi air matanya akan luluh dan ia akan menangis dengan kabar yang sama sekali tidak Elin inginkan. "Dok apa kalau seperti ini tandanya Elin hamil?" tanya Elin dengan suara bergetar.


"Saya tidak tahu Elin, maka dari itu untuk mengetahu kalau kamu hamil atau tidak aku harus mengetesnya dulu. Ayo kencing, biar saya tuntun." Marni menjulurkan tanganya Agar Elin mau mengikuti ucapanya turun dan melakukan pemeriksaan.


Elin pun yang penasaran pun pada akhirnya mengikuti apa yang Marni katakan, benar kalau tidak di lakukan tes mana bisa Elin tahu dirinya hamil atau tidak.


Elin masuk ke kamar mandi dan menggunakan alat pipih yang Marni berikan sedangkan Marni menunggu di depan pintu kamar mandi. Eric yang yang juga  belum siap dengan kabar yang mungkin saja akan membuat keluarganya kembali diuji laki-laki setengah baya itu memilih duduk di gasebo melamun dan  menunggu kabar yang Marni akan sampaikan.


"Gimana, hasilnya apa?" tanya Marni begitu Elin keluar dari kamar mandi dengan membawa benda pipih yang Marni berikan.

__ADS_1


Marni mengamati hasil tes kehamilan yang Elin lakukan, dan  hasilnya pun membuat Marni kagetkaget, sedih campur bahagia.


__ADS_2