Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PWT #Episode 89


__ADS_3

"Nduk... bangun Sayang, Sholat yah jangan lupa." Eric membangunkan, menepuk-nepuk pelan punda putrinya yang terlihat tidurnya sangat nyaman. Ini adalah doa terbesar Eric agar ia bisa bersama-sama lagi dengan putrinya dan kini kenyataan itu sudah terkabulkan.


Elin menggeliatkan tubuhnya, setelah papahnya terus mengganggu tidurnya yang sangat nyaman. Matanya di buka perlahan, kedua matanya menyipit, menyesuaikan cahaya lampu yang cukup silau, ternyata lampu sudah di nyalakan oleh Eric. Senyum sapaan selamat pagi, terlihat di wajah Elin yang cantik dan mulus. Tidak ada kebahagiaan lain ketika ia bangun dan wajah pertama yang dilihat adalah wajah papahnya yang teduh dan senyum damainya.


"Gimana tidurnya nyenyak?" tanya Eric, menirukan gaya  perawat dan dokter Arya setiap mereka masuk di pagi hari pasti pertanyaan itu yang keluar dari bibir mereka. Bahkan mereka sampai hafal dengan pertanyaan itu.


"Banget, malahan sepertinya ini adalah tidur paling nyenyak Elin," balas Elin tidak kalah dengan papahnya, gadis itu mengembangkan senyum terbaiknya.


"Ya udah mandi yah, Papah mau sholat dulu di masjid. Dan awas jangan tidur lagi mandi dan langsung sholat, bau jigong kalau nggak mandi." Eric mengacak-acak rambut putrinya yang sama dengan mantan istrinya, Darya. Bergelombang dan enak dipandang mata. Mungkin juga ia jatuh cinta pada Darya karena rambutnya.


"Hist... mana ada Elin bau, Elin wangi tau Papah."


Eric hanya membalasnya dengan senyuman, dan setelahnya benar-benar pergi dari hadapan Elin untuk sholat berjamaah di masjid, dan warga pun sejak kemarin malam banyak yang datang untuk menemui Elin dan melihat kondisinya saat ini. Dan mungkin saja siang ini hingga malam, mungkin juga akan banyak yang datang untuk melihat kondisi Elin yang bernasib na'as. Meskipun Eric tidak menceritakan secara detail apa yang telah menimpa Elin, tetapi tetangga semua tahu bahwa putrinya menerima perlakuan tidak manusiawi.


Setelah Eric pergi, Elin pun beranjak dari tidurnya dan mengikuti apa yang papahnya katakan bahwa ia harus mandi dan sholat. Pagi pertama Elin di rumahnya tidak ada kendala, bahkan tidurnya malam tadi pun tidak ada masalah sehingga ia tidur dengan sangat nyenyak tidak seperti hampir dua bulan kebelakang, yang tidur seolah selalu dihantui dengan perasaan was-was, dan dalam alam bawah sadarnya ia tidak merasakan tenang.


Seperti biasanya Eric begitu pulang dari masjid langsung menyiapkan segala keperluan untuk pesanan yang sebagian sudah disiapkan dari tadi malam.


"Papah mau masak untuk pesanan Dokter Arya yah?  Boleh Elin bantu?"

__ADS_1


"Apa nanti kamu tidak kecapean Nduk, kan kata Dokter Marni kamu tidak boleh terlalu cape. Ingat nanti malah kalau kamu ada masalah dengan wajah kamu, repot lagi." Eric bukanya tidak mau di bantu oleh putrinya tetapi dari pada malah nantinya merepotkan yang lain karena harus bolak balik ke luar negri pun Eric benar-benar memanjakan Elin tidak di perbolehkan mengerjakan apa-apa. Untuk satu bulan ini sampai semuanya benar-benar sembuh kerjaan Elin hanya rebahan, dan bermain ponsel serta menonton TV.


"Kan bantuinya cuma iris-iris saja Pah," balas Elin tidak mau kalah.


"Ya udah kalau kamu memaksa, tetapi ingat kamu hanya iris-iris." Eric memberikan sayur yang sedang di potong-potong dan dia sendiri mulai mengolah menu makan hari ini.


Huek... Huekkk... Elin segera lari kekamar mandi, dan menumpahkan isi perutnya yang ternyata belum ada apa-apa hanya ada air putih yang ia baru minum tadi ketika ia bangun tidur.


"Sayang kamu kenapa." Tangan Eric langsung mematikan kompor dan berlari meyusul Elin dengan cemas. Elin menyeka bibirnya dengan pakaian yang gunakan.


"Papah masak apa sih? Kenapa baunya tidak enak bikin perut mual," adu Elin dengan kembali menutup hidungnya.


Eric yang sudah berpengalaman pun sedikit tahu kalau anaknya mungkin saja hamil, dan salah satu tanda kehamilannya adalah yang sa'at ini Elin rasakan.


Tubuh Elin seketika lemas. Ketika ia sudah selesai muntah.


"Ya Allah cobaan apa lagi ini, kalau Elin benar-benar hamil bagaimana?" lirih Eric dengan bingung.


"Pah, kok malah bengong. Papah masak apa? kenapa tidak enak sekali baunya," ucap Elin mengulang pertanyaanya.

__ADS_1


"Masak biasa saja sayang. Kalau gitu kamu diam ajah yah di kamar biar Papah yang melanjutkan masak. Dokter Arya sebentar lagi datang." Eric menuntun Elin ke kamar, dan dia sendiri melanjutkan masakannya.


Elin yang memang tiba-tiba kepalanya pusing dan juga perutnya tidak nyaman pun mengikuti saran dari Eric, kebali kekamarnya dan merebahkan tubuhnya yang lemah di atas kasur, dan menggunakan selimut karena tiba-tiba tubuhnya pun terasa dingin menggigil.


Sedangkan Eric di dapur juga terus kefikiran dengan kondisi putrinya. "Ya Allah semoga saja ini hanya masuk angin biasa," batin Eric, bukan dia tidak menginginkan seorang cucu, tetapi apabila Elin hamil tanpa adanya suami yang mendukungnya pasti akan tertekan, belum gunjingan orang-orang yang mungkin saja tidak mengetahui kisah Elin hingga bisa hamil seperti ini.


Lima rantang makanan seperti biasa sudah siap, dan bertepatan dengan itu Arya pun datang untuk mengambil pesananya.


"Udah siap Om?" tanya Arya, di mana saat ini Eric tengah melamun masih memikirkan kondisi Elin. Bahkan Eric bingung apabila Elin benar-benar hamil gimana?


"Om... (Arya menepuk pelan pundak Eric) sampai Eric terlonjak kaget ketika menyadari kalau Arya sudah ada di rumahnya.


"Eh Dokter Arya sudah datang. Sudah lama Dok?" tanya Eric, sembari buru-buru beranjak dari duduknya.


Arya menatap Eric dengan perasaan yang bingung. Sangat berbeda dari biasanya, "Bukanya Om Eric seharusnya bahagia dengan kepulangan Elin, tapi kenapa pagi ini aku lihat Om Eric justru seperti bingung dan murung," batin Arya .


"Apa ada masalah Om? Kenapa Om Eric kelihatan sangat sedih dan murung? Kalau ada yang mengganjal katakan Om, mungki nanti Arya bisa bantu." tanya Arya, masih ada waktu sampai jam di mana biasanya Lucas sudah datang kerumah sakit tempat Darya di rawat.


Eric tidak langsung menjawab, ia memikirkan kembali apa yang terjadi pada pagi tadi di mana Elin tiba-tiba berubah, "E... a-nu Dok. Om Eric takut kalau Elin hamil. Tadi pagi tiba-tiba dia muntah-muntah ketika Om masak, dan kata dia masakan Om bau yang membuat dia muntah," jawab Eric sembari tatapanya mengawasi rumahnya, di mana di dalam sana Elin sedang istirahat.

__ADS_1


"Mungkin saja dengan aku bercerita kecemasan aku, Dokter Arya akan membantu mencari solusinya," batin Eric.


__ADS_2