Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Ancaman dan Kebohongan


__ADS_3

Arya masuk kembali ke dalam kamar Elin. "Lin om Arya, saya pamit dulu yah, masih ada kerjaan nanti kalau kerjaan sudah kosong saya akan datang kembali. Buat kamu Elin yang tabah yah, semua ini akan segera berakhir, karena dokter Marni sedang menyiapkan semua prosedur untuk kamu mendapatkan penanganan yang baik dan menghubungi donatur untuk menyegerakan ke berangkatan kalian. Semoga saja kamu cepat untuk mendapatkan kabar baik ini. Jadi kamu tidak perlu bersedih dengan apa yang terjadi dengan kamu, karena badai akan segera berlalu, dan badai itu akan meninggalkan Elin yang lebih tangguh dan kuat." Arya menggenggam tangan Elin dan seolah memberikan ke kuatan agar jangan bersedih terus.


"Iya Dok, Elin udah tidak sedih lagi kok, Elin juga yakin pertolongan Allah pasti ada," Meskipun Elin mencoba menarik bibirnya, tetapi wajah sedihnya masih terlihat dengan jelas.


"Elin pasti kuat Dokter Arya, karena ada orang-orang yang sayang sama Elin, terima kasih sudah mau mendukung Elin sampai detik Ini, tanpa dokter Arya mungkin Elin akan menyerah, dan kita semuanya tidak akan tahu bahwa ada wanita kuat seperti Elin. Om berterima kasih sekali lagi, karena sudah baik dan mau menolong Elin bahkan hingga ada donatur yang berbaik hati untuk memberikan sebagian rezekinya untuk biaya Elin menjalani oprasi wajah. Kalau dokter Arya kenal dengan donatur tersebut, tolong sampaikan salam Om pada dia, dan sampaikan ucapan terima kasih dari kami," terang Eric.


Laki-laki paruh baya itu bingung mau mengucapkan apa, sedangkan sang donatur saja tidak tahu seperti apa wujudnya, mungkin apabila Arya tahu ia akan menyampaikanya rasa terima kasih Eric pada orang yang sudah mau membantu Elin untuk menjalani perbaikan wajah.


"Ah, baik Om nanti Arya sampaikan pada sang donatur, mungkin dokter Marni tahu siapa donatur tersebut dan beliau nanti akan menyampaikanya," balas Arya sebelum meninggalkan Elin dan Eric di ruanganya dan ia akan kembali melakukan kewajibanya sebagai dokter.


"Kalian tidak usah berterima kasih Elin, Om Eric, karena dengan melihat wajah bahagia kalian sang donatur juga sudah bahagia," batin Arya, begitu pintu ia tutup dan langkah kakinya dilanjutkan menuju ke ruangan Lucas.


"Aku dengar dari Jiara, kamu akan pulang sore ini?" Suara Arya berhasil mengagetkan Lucas yang sedang sibuk dengan laporanya, terlebih pekerjaanya sekarang bertambah sejak Lexi memutuskan mudur dari dunia gelapnya, hampir semua kerjaan Lucas yang urus, meskipun tetap Rosi yang mengatur semuanya. Rosi adalah asisten Lucas dan Lexi yang sangat di percaya untuk mengurus bisnis di dunia gelapnya, baik penjualan minuman keras, sejata bahkan narkoba. Rosilah yang mengatur semuanya, dan di balik tubuh Rosi ada sang pengendali lain yaitu Lucas dan Lexi, tetapi Lexi memutuskan mundur, karena hal sepele yaitu Elin.

__ADS_1


"Apa loe tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu baru masuk," dengus Lucas sembari menutup laptopnya, bahkan Lucas lebih terlihat seperti pencuri yang tengah tertangkap basah.


"Cukup jawab yah atau tidak, kenapa jadi ketakutan seperti itu apa kamu sedang melakukan transaksi ilegal? Sehingga sangat kaget kalau kegiatan loe di ketahui oleh orang lain?" tanya Arya yang sedikit banyak sepupunya itu tahu  bahwa Lucas dan Lexi memang bos dari dunia gelap, bahkan kelompok yang di pipin oleh dua orang itu termasuk kelompok yang di takuti oleh organisasi lain bahkan polisi pun seolah tutup mata dan telinga dengan organisasin yang tersebar hampir di seluruh dunia itu.


"Tidak usah urusi urusan orang, lebih baik urusin kerjaan loe saja, biar loe tetap bisa makan," sungut Lucas dengan pandangan tajam menatap Arya yang saat ini sedang duduk di hadapanya.


"Jadi benar dugaanku bahwa kamu sedang melakukan transaksi ilegal. Sampai kapan Lucas, sampai kapan kamu bisa tobat dengan pekerjaan kotor itu. Apa kurang kekayaan Philip kamu kuasai? Aku rasa Philip sudah lebih dari kaya sehingga tidak usah lah kamu bermain terus menerus dengan uang panas itu. Percaya deh Lucas seberapa banyak uang kamu, kamu tidak akan merasakan kedamaian, kamu akan merasakan kuras secara terus menerus. Hentikan bisnis seperti itu, sekarang kamu fokus dengan misi kamu yaitu kesembuhan Tante Ely. Lalu cari tahu kebenarnaya Keluarga nomor satu, dari pada kamu kejar terus dunia tidak akan pernah dapat Lucas yang ada kamu cape sendiri tetapi hati kamu kosong," ujar Arya yang kesal dan marah atas apa yang sepupunya itu lakukan.


"Udah gue bilang urusi saja hidup loe yang katanya tenang tetapi masih saja ngerusuhin hidup orang. Soal Mamih biarkan itu urusan gue, dan gue lebih tahu mana yang terbaik untu Mamih, loe hanya orang luar yang ngaku-ngaku memiliki hubungan darah dengan gue jadi lebih baik loe pergi dan urusin hidup loe sendiri selagi gue belum marah dan kesal dengan loe, lalu hidup loe akan berakhir sia-sia," jawab Lucas tetap menganggap Arya sok tahu.


"Sebelum aku pergi, tujuan aku datang ke ruangan ini cuma mau mengatakan sesuatu pada kamu, tujuan kamu unuk menyingkirkan Elin dan membuat hidupnya tidak berarti sudah berhasil, Elin sudah pergi dan mengakhiri hidupnya, sesuai dengan yang kamu inginkan. Semua tujuanmu sudah terwujud. Kamu sepertinya harus mengadakan pesta," ucap Arya tanpa membalikan tubuhnya, di mana saat ini posisi Arya sedang memunggungi Lucas.


Yah, Arya memutuskan untuk berbohong pada Lucas, terlebih setahu Arya, Lucas belum begitu tahu wajah Eric, dan wajah Elin juga akan berubah setelah menjalani operasi. Jadi biarkan Lucas menganggap dua musuh terbesarnya sudah tidak ada di dunia ini, selain demi kebaikan Elin dan Eric juga Arya ingin tahu bagaimana reaksi Lucas, setelah dua musuhnya tidak ada lagi di dunia ini. Menyesal atau justru bahagia.

__ADS_1


"Oh... bagus lah, memang lebih baik anak pelakor berakhir itu seperti itu, dari pada tangan aku yang akan membunuhnya sendiri," balas Lucas dengan suara ketus dan jutek, tetapi tidak dengan hatinya, tentu hatinya merasakan nyeri ketika mendengar kabar dari Arya dan itu tandanya Elin sudah mengahiri hidupnya, dan meninggal.


"Apakah kamu juga ingin gimana nasib Papah kandung kamu?" tanya Arya mengetes segimana perasaan Lucas dengan Elin dan Eric.


"Tidak," jawab Lucas dengan singat, dan jawaban itu sudah membuat Arya sakit, kenapa ada anak yang sangat membenci papahnya sendiri. Bahkan adiknya, meskipun mereka meda rahim, tetapi mereka masih ada ikatan darah, kenapa bisa sebenci itu. Otak laki-laki itu terbuat dari apa? Seperti itu kira-kira pikiran Arya.


"Baiklah, mungkin kamu suatu saat akan butuh informasi ini. Papah kamu juga sudah tenang bersama Elin, jadi sekarang kamu benar-benar harus berpesta dengan kemenangan kamu. Karena semua tujuanmu sudah terwujud, dendam kamu sudah terbalaskan. Hanya satu pesan aku apabila kamu nanti tahu sebuah fakta yang mengatakan sebaliknya dari yang kamu ketahui saat ini, jangan pernah meneteskan air mata sedikit pun, karena semua yang terjadi saat ini adalah keinginan kamu. Bahkan nasihat yang pernah aku katakan pada kamu juga tidak kamu dengarkan sama sekali, kamu tetap membenci Elin dan Eric. Penyesalan kamu tidak akan pernag berguna," ucap Arya dengan nada yang berat karena dokter itu sudah sangat marah dengan sepupunya. Meskipun yang dikatakan Arya adalah sebuah kebohongan tetapi tetap dia marah dan kesal pada Lucas yang sangat keras kepala itu.


"Gue tidak akan menyesal, camkan itu." pandangan mata Lucas tertuju pada punggung Arya yang kokoh. Lucas tahu ucapan Arya adalah ancaman untuk ia dimasa depan.


"Semoga semuanya benar seperti itu, semoga ucapanmu kali ini juga sesuai dengan yang kamu harapkan Lucas, tetapi ingat  Tuhan tidak penah tidur." Arya langsung meninggalkan Lucas, yang ia tahu bahwa Lucas saat ini sedang marah terhadap dia.


"Arya membuka pintu ruangan Lucas di mana di sana ada Jia dengan keterkejutanya. Yah Jia dengar semua pebicaraan Arya dan Lucas.

__ADS_1


"Apa yang aku dengar adalah sebuah kebenaran?" tanya Jiara dengan mata yang memerah menahan keterkejutanya.


__ADS_2