
"Bukanya ini kesempatan yang baik, untuk aku memberitahukan pada Kakek Philip kalau Tante Ely sudah sembuh, dan sekarang sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Kakek Philip juga harus tahu kalau cucunya bukanlah Lucas saja," gumam Arya dalam batinya.
Namun, sedetik kemudian dia ragu lagi dengan rencananya itu. "Lalu gimana kalau justru Philip akan kembali menghancurkan rumah tangga Tante Ely dan Om Eric? (Arya berpikir sejenak) Ah, Mungkin aku akan coba pancing dulu gimana perasaan Om Philip, apakah rindu dengan keluarganya. Lagian dulu mungkin dia akan membenci Om Eric, tetapi sekarang kondisinya berbeda dia tidak ada keluarga yang mengurusnya sehingga pasti Om Eric akan berpikir ulang dengan apa yang jadi pilihan Tante Ely," lirih Arya dalam batinya.
Ehemmzzz.... Arya mengagetkan Lucas yang sedang termenung.
"Lalu apa yang harus aku katakan pada Jiara dan Zakia? Apakah aku boleh mengatakan yang sebenarnya terjadi pada kamu dengan Jiara?" tanya Arya, sebelum dirinya salah ucap pada Jiara dan mengakibatkan Lucas kecewa pada dirinya.
Lucas tampak menghirup nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Ini juga yang sedang aku pikirkan. Tapi kalau menurut kamu gimana? Apa aku akan berbohong dengan pekerjaan atau aku harus jujur?" tanya balik Lucas, mungkin ini adalah kali pertama Lucas bertanya pendapat pada orang lain. Biasanya dia akan keras dengan pemikirannya.
"Kalau menurut aku, kamu lebih baik berbicara langsung dengan Jiara apa yang sebenarnya terjadi. Karena kalau kamu berbohong, dan pada akhirnya dia tahu entah dari mana, wanita itu akan kembali kecewa untuk kesekian kalinya pada kamu," usul Arya, dia tidak suka berbohong. Lebih baik jujur meskipun menyakitkan, tetapi itu lebih baik dari pada bohong dan akibatnya akan hilang kepercayaan.
"Kalau begitu katakanlah yang sejujurnya," balas Lucas, nampak laki-laki itu terlihat sedih, "Aku sudah siap kalau pun Jiara akan kecewa untuk kesekian kalinya, karena aku memang yang terlalu buruk untuk wanita itu."
"Kamu tenang aja, biarkan aku yang akan menjelaskan pada Jiara, dan aku yakin dia akan tahu berada diposisi kamu, dan tugas kamu hanya buktikan pada kami kalau memang bukan kamu yang membunuh Tamara," tekan Arya.
"Ok, aku percaya dengan kamu. Kamu pasti lebih tahu dan lebih bisa berbicara dengan Jiara, dan aku yakin wanita itu juga akan lebih mendengarkan apa kata kamu." Sejujurnya Lucas iri, dengan kedekatan Arya dengan Jiara dan Zakia, tetapi Lucas juga yakin kalau Arya tidak akan menghianatinya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah khawatir, aku tidak tertarik pada Jiara, aku melakukan ini karena Zakia adalah ponakan aku, dan Jiara adalah istri dari sepupuku, dan kamu tidak usah khawatir. Marni tetap nomor satu di hatiku," lirih Arya dengan percaya diri, dan memang benar adanya Marni tetap nomor satu. Arya terlalu banyak hutang budi pada Marni yang sudah sangat banyak membantunya.
"Kalau gitu aku pulang yah, aku juga harus mengecek Philip dan menjemput Marni, agendaku terlalu banyak. Kamu baik-baik di sini aku yakin kamu pasti akan menemukan keadilan selagi kamu tidak ada salah dengan semua ini." Arya memeluk Lucas dan dia sangat-sangat bersyukur dengan Lucas yang saat ini, banyak sekali kemajuanya.
Bukan Lucas yang dulu yang selalu berjalan di kaki sendiri dan tidak pernah mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain. Hari ini justru Lucas yang memintanya untuk mendengarkan apa kata dirinya.
"Aku nitip keluargaku yah," lirih Lucas, terdengar sangat menyayat hati.
"Kamu jangan khawatir, kelurga kamu juga keluarga aku," balas Arya. Setelah itu Arya pun benar-benar pergi dari kantor polisi itu, dia melihat jam di pergelangan tanganya baru pukul sebelas. Ia akan menemui Philip sesuai yang ia katakan pada Lucas, dan tentunya sesuai dengan misinya. Mungkin saja setelah Lucas keluar dari penjara keluarganya sudah bersatu, dan Lucas bisa memperbaiki semua kesalahnya.
Dari balik mobil seorang laki-laki terkekeh dengan renyah terlebih setelah tahu kalau Lucas memang langsung menjadi penghuni hotel prodeo. "Akhirnya gue bisa membuat loe merasakan gimana nikmati tinggal di balik jeruji besi, dan gue akan pastikan kalau apa yang sudah saya inginkan satu langkah lagi akan tercapai."
"Ada apa ini Pak, kenapa saya tidak bisa masuk?" tanya Arya dengan membuka kaca mobilnya hingg setengah badan.
"Tunggu yah Den, saya akan konfirmasi dulu dengan Tuan Philip mau menerima Anda sebagai tamu tidak," balas security dan Arya pun hanya mengagukan kepalanya dengan samar, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Silahkan masuk Den. Tuan Philip mengizinkan Anda masuk." Pintu gerbang pun akhirnya di buka setelah sepuluh menit Arya menunggu. Tanpa menunggu lama Arya langsung memutuskan dirinya untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
__ADS_1
Arya yang sudah hafal rumah itu pun langsung masuk. "Kakek Philip di mana Bi?" tanya Arya pada asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makan siangnya.
"Tuan Philip ada di ruangan kerjanya Den."
Arya tanpa menunggu lama langsung mengayunkan kakinya langsung menuju ruangan kerja pemilik rumah mewah itu. Setelah maengetuk pintu Arya pun masuk.
"Apa kondisi Kakek sudah baikan, kenapa memaksakan untuk bekerja," ucap Arya sembari melangkahkan kaki ke kursi di mana Philip tampak serius dengan pekerjaanya.
"Kondisiku akan semakin sakit kalau hanya bediam di atas kasur," jawab Philip tanpa mengangkat wajahnya. "Tumben kamu datang ke sini, di saat Lucas tidak ada, apa gerangan yang membawa kamu menemui aku?" tanya Philip, kali ini laki-laki yang sudah seharusnya pensiun mengangkat wajahnya, dan duduk bersandar di kusi kerjanya.
Arya pun meletakan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Philip, tanpa menunggu Philip menyuruhnya.
"Apa Om tahu dengan apa yang terjadi dengan Lucas?" tanya Arya, berhati-hati, terlebih Philip baru saja sembuh dan tentu ia takut kalau laki-laki itu akan kambuh lagi sakitnya.
Apalagi sakit yang Philip derita bukan sakit ringan. Sakit jantung yang kapan saja bisa terjadi serangan jantung susulan.
Raut wajah Philip terlihat langsung berubah. Arya mencoba tahu berada di posisi Philip. Di mana di hari tuanya ia justru harus menghabiskan waktu sendiri. Tanpa anak dan cucu.
__ADS_1
"Yah, ini adalah momen yang pasti untuk aku mengatakan tentang Tante Ely."