Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna bab 174


__ADS_3

 Lexi menatap Philip. "Tapi apa Kakek tidak meminta aku bertanggung jawab akan perbuatanku yang menghamili Elin?" tanya Lexi, kalau memang orang-orang itu meminta pertanggung jawabanya maka Lexi akan melakukanya. Dia akan tanggung jawab atas anak Elin.


Namun, Philip justru menggelengkan kepalanya pelan. "Kalau Kakek meminta kamu bertanggung jawab Elin akan semakin tertekan.


"Kakek tidak ingin membuat kesalahan untuk yang kesekian kalinya. Biarkan bagaimana perasaan Elin nyaman. Kalau menjadi single parent, tanpa adanya pernikahan yang paling membuat Elin tenang. Kakek akan mendukungnya. Dan Kakek juga meminta kamu menjauhi Elin, demi bahagia Elin. Kakek tidak ingin menambah beban Elin dengan kamu menjadi suaminya."


Deg...!! Lexi tersentak kaget dengan jawaban Philip, ia awalnya mengira kalau dirinya akan bisa menjadi suami Elin untuk melindunginya, karena sudah pasti Philip maupun keluarga Elin akan meminta pertanggung jawaban darinya. Namun, semua pemikiranya salah.


"Jadi Kakek akan membiarkan Elin melahirkan tanpa seorang suami?" Pertanyaan yang bodoh sebenarnya, sudah jelas ia pun tahu bahwa Elin akan lebih memilih hal itu.


Philip mengangguk dengan senyum yang samar. "Bahagia Elin yang menetukan dia, aku tidak ada kuasa lagi mengatur apa yang terbaik untuk Elin sedangkan yang tahu  posi bahagianya hanyalah dirinya sendiri," balas Philip dan dari ucapan Philip itu, Lexi tentu sudah tahu kalau ia akan sangat sulit untuk mewujudkan keinginanya bertanggung jawab atas anaknya.


"Tapi apa nanti tidak akan menjadi gunjingan orang-orang dan akan membuat Elin semakin tertekan," lirih Lexi dengan suara yang bergetar, ia membanyangkan hal itu terjadi saja sesak. Sungguh sebelumnya Lexi tidak pernah merasakan rasa yang seperti ini, peduli dengan kehidupan orang lain.


"Seharusnya kamu memikirkanya sebelum ini terjadi," balas Philip dengan sedikit rasa kesalnya. "Tetap Kakek tidak akan ikut campur dengan masa depan Elin, dan kalau nanti ia mendapatkan jodoh entah itu kamu maupun laki-laki lain, maka itu murni dari pemilihanya bukan perjodohan atau apalah itu."


Yah, Lexi pun berusaha mengerti dan sangat-sangat mengerti berada di posisi Philip. Kesalahannya sudah banyak pasti tidak ingin melakukan kesalahan lagi.


"Kalau begitu apa yang harus aku katakan pada Lucas, tidak mungkin dia terus-terusan terlibat salah paham seperti ini," ucap Lexi, pembahasan dengan Elin sudah selesai, dengan keputusan Philip tidak akan meminta Lexi untuk bertanggung jawab.


Kali ini Philips kembali menghirup nafas dalam. "Kamu lebih tahu dengan cucu kakek yang itu, maka lakukan yang menurut kamu yang paling baik, kakek sudah pasrah," balas Philip dengan suara berat.


"Kalau begitu Lexi akan mengatakan kebenaranya, meskipun resikonya Lucas akan seperti merasakan kalau harinya akan kiamat. Cepat atau lambat semua harus diketahunya. Siap tidak siap harus tahu, andai menunggu siap makan Lucas tidak akan tahu apa yang terjadi dengan adiknya." Lexi sangat yakin dengan apa yang akan dia lakukan.


"Kakek serahkan semuanya pada kamu," lirih Philip benar-benar pasrah.

__ADS_1


Lexi yakin Lucas pasti akan sedih dan juga akan sangat kecewa, merasa bersalah dan bahkan mungkin dia akan merasa bahwa takdir mempermainkanya, sama seperti Lexi mengetahui fakta ini semua. Namun justru Lexi makin yakin kalau Lucas bisa megambil jalan yang terbaik.


Prihal Elin yang marah pada Lucas dan Lexi, itu sudah jadi resikonya, tetapi Lexi tahu Elin pasti akan mengampuni kesalahanya. Dia gadis yang baik.


Namun, rasa sedih kembali menghampiri Lexi ketika mengetahui sakit Elin yang siang tadi baru diketahunya.  "Gimana kalau memang sakit yang Elin derita tidak akan sembuh?" batin Lexi dengan perasaan yang seolah tercubit. Hatinya sakit mengetahui ini semua, ingin Lexi certitakan pada Philip, tetapi ia tahu kalau Elin pasti akan marah besar.


"Terus kasus Lucas sendiri sudah sampai  mana? Bukanya kamu datang ke sini akan membahas masalah ini?" tanya Philip, pekerjaanya sudah menumpuk dan itu tandanya ia akan semakin repot dan sibuk karena tidak ada Lucas.


"Secepatnya akan Lexi selesaikan, saat ini Lexi sudah menemikan petunjuk yang mengarah kepelaku memang, tetapi Lexi tidak ingin gegabah takut mereka malah semakin licin."


"Secepatnya buka kasus Itu yah Lex, karena kakek ingin keluarga kakek kembali untuh berkumpul bersama sebelum kakek meninggal dunia," mohon Philip dengan tatapan yang sudah jelas sangat mengiba.


"Kakek tenang saja, semuanya akan Lexi usahakan yang terbaik, dan cepat. Lexi juga tidak tega kalau harus melihat Lucas di dalam jeruju besi."


"Iya, itu adalah alasan kakek belum siap untuk menjenguknya. Lex, apa Kakek bisa minta tolong,"  sela Philip, tatapnya sangat berbeda dengan Philip yang dulu.


"Perusaahan Kakek tidak ada yang mengawasi ada Jation, tetapi pasti dia juga akan sangat keteter, apa kamu mau untuk sementara menggantikan posisi Lucas. Nanti Kakek akan minta Jation (Asisten kepercayaan Philip) untuk mengajari pekerjaan kamu," lirih Philip dengan wajah mengiba.


"Untuk sementara mungkin bisa, tetapi kalau untuk waktu yang lebih lama Lexi tidak bisa, karena Lexi sendiri juga ada perusahaan yang harus dijalankan, tetap butuh Lexi untuk mengawasi," balas Lexi, memang kenyatanya seperti itu.


"Kakek tahu, nanti kakek juga akan meminta Eric dan Darya membantu kamu, dan nanti dia akan di bimbing oleh Jation, kalau Eric dan Darya sudah bisa dilepas kamu bisa meninggalkanya." Philip menjabarkan keinginanya.


"Baiklah Lexi akan jalankan apa yang kakek inginkan. Jadi mulai kapan Lexi yang datang ke kantor Kakek," balas Lexi.


"Aku akan hubungi Jation, nanti ia akan menghubungi kamu."

__ADS_1


Setelah Lexi dan Philip bercerita terutama perihal Lucas dan Elin. Lexi pun saat ini sudah tidak penasaran kenapa bisa Elin ada di sini, yang saat ini ia siapkan adalah bagaimana caranya ia akan mengatakan fakta ini pada Lucas.


Lalu gimana penyesalan  Lucas nantinya. Itu yang sedang mengganggu pikiran Lexi.


*****


"Dingin....Dingin..." Elin terjaga dari tidurnya, manakala tubuhnya terasa menggigil, barusan saja ia sebelum tidur merasakan mual yang sangat luar biasa dan tiba-tiba saat ini ia sedang tertidur dengan lelap, ia terjaga karena tubuhnya yang meriang.


Tangan Elin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga lehernya pun tidak terlihat, ia benar-benar merasakan tubuhnya menggigil luar biasa, tetapi aneh dikeningnya keluar keringat yang banyak.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh ini ya Tuhan," lirih Elin terus menatap langit-langit kamarnya yang nampak indah.


Pikiranya kembali ke doa-doanya dan beberapa kali ucapanya selama ini yang menginginkan kematian menjemputnya.


"Apa mungkin Tuhan juga akan mengambulkan doaku yang ini agar aku tidak bertemu dengan sodara kembarku?" Elin terus berbicara seorang diri. Dulu kala ia masih kecil dia sering bertanya pada papahnya kenapa ia tidak ada sodara yang bisa diajak main bersama.


Elin sangat menginginkan bermain bersama dengan sodaranya. Bahkan ia sangat ingin tahu rasanya memiliki sodara yang bisa diajak bermain itu seperti apa, tetapi saat ini justru Elin tidak ingin memiliki sodara, ia ingin tetap menjadi anak semata wayang.


Setelah dingin di tubuhnya hilang Elin bangkit dan mengambil buku yang ada di atas meja, dan mengambil sebuah pena.


Perasaan yang mengganjal di dalam dirinya ia tuangkan di atas kertas putih.


"Mungkin tulisan-tulisan ini bisa menjadi saksi perjalanan hidupku." Elin pun mulai menulis dari ia masih kecil dan tinggal di kampung, dari ia yang selalu diantarkan sekolah dan dijemput oleh sang papah, dengan berjalan kaki, dan akan di gedong oleh Eric ketika Elin merasakan cape.


Tanpa terasa air matanya jatuh, dan tangisnya semakin kencang kala ia mengingat momen-momen itu, betapa besar cintanya pada sang papah, begitupun sebaliknya cinta sang ayah sudah tidak bisa diragukan lagi.

__ADS_1


"Lalu gimana jadinya kalau Tuhan mengabulkan doaku untuk  kembali pada-Nya, apa Papah akan sedih? Ah tidak Papah masih bisa memeluk Lucas, bukankan dia juga anaknya." Elin kembali menghapus air matanya dan melanjutkan tulisanya.


Menjadi sebuah perjalanan hidupnya menjadi kisah yang indah.


__ADS_2