Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 190


__ADS_3

"Siapa yang bilang seperti itu?" Eric dan Darya yang baru saja datang langsung masuk ke dalam ruangan besuk, di mana di dalam sana ada Lexi yang sedang berdebat dengan Lucas.


Suara yang tiba-tiba datang membuat Lucas san Lexi mengangkat wajahnya secara bersama. Lexi yang sudah mengenal Eric pun langsung berjabat tangan tidak lupa juga pada Darya. Berbeda dengan Lexi yang langsung memberikan salam pada  kedua orang tuan Elin, Lucas justru termenung, matanya menatap kosong pada Mamih dan juga Papahnya.


Laki-laki itu yang sebelumnya belum begitu paham dengan Eric pun hanya memperhatikan laki-laki paruh baya yang masih tampan dan juga gagah. Bahkan rasanya lebih tampan Eric dari pada dirinya, apalagi saat ini penampilan Lucas sangat memperihatinkan.


"Silahkan duduk Om, Tante." Lexi memberikan tempat duduknya untuk Eric dan Darya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Eric ketika tahu bahwa Lexi akan pergi ke luar. Lexi menghentikan langkahnya.


"Lexi tunggu di luar saja Om, silahkan kalian bercerita. Lexi bisa nanti-nanti saja," balas Lexi dengan ramah. Itu yang membuat Eric tidak curiga bahwa Lexi yang ia kenal adalah Lexi yang sama dengan orang yang  telah memperkosa putrinya.


"Kamu di sini saja, Om juga ada yang ingin di tanyakan sama kamu." Eric menepuk-nepuk kursi yang tidak jauh dari Eric duduk.


Jantung Lexi semakin memompa dengan kencang, ia merasa seolah-olah hendak dihakimi oleh pengadilan. Tubuhnya langsung memanas, perutnya langsung terasa kurang nyaman, dan keringat pun langsung ke luar.


Lucas sendiri seperti orang yang kesurupan, tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia benar-benar memperhatikan apa yang ia lihatnya. Hatinya hangat dan nyaman, tetapi ada rasa yang mengganjal, kurang nyaman.


"Erlan... kenapa anak Mamih jadi seperti ini." Darya langsung menggenggam tangan Lucas dengan hangat. Laki-laki itu pun langsung menangis tersedu, dan mencium tangan wanita yang telah melahirkanya dengan hangat.


"Mih, maafkan Lucas. hukum Lucas setara dengan apa yang sudah Lucas lakukan. Lucas adalah anak yang paling durhaka, dan Lucas adalah sodara yang telah menyebabkan adik Lucas menderita. Mih, katakan Lucas harus apa?" racau Lucas, tidak perduli ia menjadi laki-laki paling cengeng, yang ia ingin lakukan adalah menebus kesalahan apa yang telah ia lakukan. Dia salah dan harus mendapatkan hukuman. Itu yang Lucas pikirkan.


Darya pun hanya terisak sama seperti Lucas. Dia tidak bisa mengucapkan apa-apa, yang ada dalam hatinya adalah ia ingin berkumpul dengan anak-anaknya. Memeluk kedua putra putrinya, tanpa ada perasaan lainnya. Meskipun wanita paruh baya itu tahu betul keinginannya sangat sulit untuk diwujudkan.


Mungkin terkesan egois, karena itu tandanya Darya tidak memikirkan perasaan Elin, tetapi sebagai seorang ibu, kebahagianya adalah bisa memeluk anak-anaknya tanpa membedakan sedikit pun.

__ADS_1


Lexi di samping Eric pun hanya bisa menunduk, meskipun ini adalah masalah keluarga Lucas, tetapi Lexi bisa merasakan kesedihan di hatinya.


"Papah..." Suara Lucas, berhasil membuat hati Eric berdesir dengan hebat. laki-laki paruh baya itu mengangkat wajahnya yang sebelumnya menunduk. Senyum dari wajah sedihnya terlukis, meskipun terlihat terpaksa, tetapi berhasil membuat Lucas bahagia.


"Pah... Kenapa takdir mempermainkan Lucas segini hebatnya. Kenapa baru saat ini Lucas kenal Papah? Kenapa setelah kekacauan yang Lucas buat, kita baru dipertemukan. Lucas malu, masih pantaskan Lucas menjadi bagian dari keluarga kalian?"


Suara yang berat, dan bergetar, menandakaan bahwa Lucas memang sangat menyesali apa yang sedang ia alami. Menyesal apa yang telah ia lakukan.


Eric mengusap punggung tangan Darya yang saat ini masih menggenggam tangan Lucas di atas meja. Senyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca menandaakan bahwa Eric juga sakit dengan takdir ini. Mau marah? Tetapi ia tidak bisa marah pada takdir. Laki-laki paruh baya itu selalu percaya bahwa takdir Tuhan memang akan terasa berat di awal, tetapi Eric tahu bahwa Tuhan sudah memilihkan Takdir yang terbaik untuk hambanya.


Akan ada pelangi setelah badai. Marah dan kecewa, pasti ada, tetapi tidak perlu untuk menghukumnya, karena itu hanya akan membuat hatinya tidak akan tenang dan hanya membuang waktu dan tenaga.


"Kondisi Zakia baik-baik saja, begitu pun Elin dan Jiara, Kakek pun tidak kalah sehat. Pulanglah!! Hukuman kamu sudah selesai, saat ini sudah saatnya kamu memperbaiki kesalahan kamu. Papah ingin kamu tanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan bukan bersembunyi  atas apa yang sudah kamu perbuat." Eric mengusap pundak putranya, meskipun sedikit ia harus berdiri karena terhalang meja di hadapan mereka.


Namun, tebakannya salah, Eric berbicara dengan lembut, membuat laki-laki itu semakin dihukum penyesalan.


Lexi pun di samping Eric hanya bisa menunduk sesekali punggung tanganya mengusap butiran bening yang memaksa ke luar dari sudut mata.


Setelah merasa Lucas sedikit tenang. Kini Eric pun menatap Lexi yang masih menunduk. Sejak lama laki-laki paruh baya itu ingin bertanya dengan apa yang ia curigai. Hatinya belum tenang kalau belum tahu siapa ayah dari bayi yang Elin kandung. Ini kesempatan yang baik untuk menanyakan kebeneran atas apa yang terjadi pada putrinya.


"Lex, apakah ada yang ingin kamu katakan pada kami?" tanya Eric yang melihat tangan Lexi sejak tadi saling bertaut, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


Lexi menangkat wajahnya menatap Eric dengan dalam, dan bergantian menatap Darya yang justru masih menunduk dan Lucas yang sama-sama masih menunduk. Lexi menganggukan kepalanya dengan lemas.


Ucapan istigfar sudah terdengar dari bibi Eric, padahal Lexi belum bercerita, tetapi laki-laki paruh baya itu seolah tahu apa yang akan Lexi katakan.

__ADS_1


"Maafkan saya Om, saya menyesal, dan sangat ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan, tetapi Tuan Philip meminta saya tidak bertanggung jawab pada Elin karena takut hanya akan membuat Elin tertekan." Lexi sudah siapa atas semua konsekuensi apapun yang mungkin akan dia dapatkan atas pengakuannya.


Eric berkali-kali menghirup nafas dalam dan menghembuskanya perlahan, berharap besar kalau apa yang ia lakukan akan mengurangi sesak di dadanya. Rasanya sangat sesak ketika ia mengetahui fakta yang terjadi diantara mereka.


Bibir Eric terus komat kamit melafalkan bacaan untuk mengurangi emosi di dalam hatinya. Darya sejak tadi sudah tidak bisa berkata-kata lagi, wanita paruh baya itu sudah  pasrah atas apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi karena kejutan hari ini sudah sangat luar biasa.


Meskipun baik Eric maupun Darya sudah mempersiapkan bahwa hal ini sudah pasti terjadi. Hanya jawabanya adalah memaafkan atau tidak, tetapi pada kenyataanya tidak semudah itu, hati dan perasaanya tidak segampang dalam bayanganya, sesak, marah, kecewa, sedih menjadi satu.


"Kamu sudah pernah bertemu dengan Elin?" tanya Eric, meskipun dulu pertama ia melihat Lexi di rumah Philip datang bersamaan dengan Elin.


Lexi mengangguk dengan yakin. "Lexi sudah tahu apa yang terjadi dengan Elin," balas Lexi dengan perasaan bersalah.


"Apa kamu sudah merasa  bersalah? Dan yang ingin kamu lakukan untuk menebus semua kesalah yang telah kamu perbuat pada putri kami. Hingga ia mengalami trauma, kesedihan yang tidak berujung, dan  bayangan ketakutan yang setiap saat menghantui putri kami? "


Eric berbicara dengan penuh penekanan, kecewa yang sudah sampai pada titik batasnya, hingga ia sendiri bingung apakah mereka akan memaafkan Lexi atau tidak. Tetapi Eric tahu. Lexi tidak mungkin melakukan pelecehan pada Elin tanpa izin dan perintah dari Lucas. Kalau pada Lucas saja bisa memaafkan kenapa pada Lexi tidak? Itu yang sejak tadi mengganjal pemikiran Eric.


Lexi mengangguk dengan lemah. "Andai saya diberi satu kali kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu, saya pastikan tidak akan menyia-nyiakanya. Saya akan memanfaatkan satu kali kesempatan itu dengan baik," lirih Lexi dengan wajah yang menunjukan penyesalan.


Eric menghirup nafas dalam, dan menatap Lucas serta istrinya Darya yang tahu arti tapan Eric pun hanya  diam saja tidak bisa mengucapkan sesuatu, segala keputusan ia serahkan pada Eric.


"Om tidak bisa memutuskan ini, karena masalah kamu, hanya Elin yang bisa menentukanya. Kalian bicarakan baik-baik, dan apapun keputusan Elin. Om akan hargai. Sekalipun dia memilih membesarkan anak kalian seorang diri, Om akan dukung apapun keputusanya. Berbeda dengan masalah Lucas karena dia adalah anak Om, ada andil Om sebagai orang tua menyatukan anak-anak kami sehingga Om dan Tante akan selalu mendampingi. Kalau urusan kamu bicarakan sendiri dengan Elin."


Bohong, kalau Eric tidak marah pada Lexi, ia marah, kesal dan kecewa, bahkan semua rasa jadi satu. Namun Eric yang selalu melibatkan Tuhan selalu bersikap tenang meskipun itu sakit, ia percaya bahwa ada bahagia di ujung kesusahan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2