
Kamu jangan cemas yah, orang tua aku tidak semengerikan itu kok," balas Lexi. Meskipun dia sendiri ada perasaan takut, tetapi Lexi berusaha untuk tetap menganggap semunya baik-baik saja dan berusaha membuat Elin tenang.
"Amin semoga saja yah," balas Elin masih menggosok-gosok tanganya seolah dia tengan mencoba mengurangi kedinginanya. Seperti yang orang tua Lexi inginkan kalau ingin Lexi membawa putranya, sehingga dua pasangan suami istri itu pun lebih dulu pulang ke rumah keluaraga Elin untuk mengambil sang buah hati, Eril. Yang mana pipi laki-laki itu sudah mulai gembil dan terlihat sangat menggemaskan.
"Loh, Lex, Lin udah pulang? Kirain bakal sampai tiga hari," kelakar Darya yang sedang bersantai.
"Iya Mah, ini juga pulang cuma sebentar, mau ambil Eril. Orang tuanya Lexi sedang dalam. perjalanan ke Indonesia, mau lihat Eril katanya," ucap Elin sembari memberikan salam pada sang mamah.
Darya pun nampak mengernyitkan dahinya. "Orang tua Lexi ada ke mari? Bukanya katanya mereka belum setuju dengan pernikahan kalian?" tanya Darya ada perasan takut kalau sampai orang tua Lexi belum juga merestui hubungan mereka.
"Itu hanya dugaan Lexi Tante yang mana artinya mereka sepertinya sekarang sudah merestui hubungan Elin dan Lexi. Semalam kami sempat berkomunikasi dan papih dan mamih meminta kirim foto Eril, dan tadi pagi tiba-tiba telpon sudah hampir sampai ke Indonesia. Berati itu tandanya kalau mereka merestu hubungan kami.
"Oh syukur lah, Mamah senang dengarnya. Kalau gitu Mamah bakal ambil Eril dulu," ucap Darya sembari bersiap berdiri.
"Loh, memangnya Eril di mana?" tanya Elin dengan heran. Kenapa juga dia baru sadar kalau Eril tidak sedang nersama Darya.
"Dicu-lik, sama Lucas dan Jiara, dari pagi mereka cu-lik anak kamu. Anehnya Eril anteng lagi," kekeh Darya.
"Oh mungkin Eril anggap kalau Lucas dan Jiara ibu mereka juga," balas Lexi yang langsung ditepis oleh Elin yang mana ia seolah tidak terima kalau Lucas dan Jiara adalah orang tua Eril juga.
"Kenapa kalian sudah pulang, bukanya katanya mau sampai tiga hari," goda Lucas dengan Eril dalam gendonganya.
"Ortu gue sedang dalam perjalanan ke Indonesia, pengin ketemu dengan cucunya," jawab Lexi, mereka sedang dalam mode baik sehingga tidak ada peperangan.
"Hist padahal aku pengin main lagi sama anak kamu. Kayaknya dia lebih dekat dengan aku. Kenapa tidak di tinggal aja Eril," goda Lucas seraya menyembunyikan ponakanya.
"Kamu jangan ngada-ngada yah Lucas. Sini balikin anak aku, ini sudah siang," ucap Elin dengan mengambil Eril, yang sejak tadi seolah tidak boleh diambil oleh Lucas.
"Ampun deh kalau sudah berurusan sama emaknya mah nggak berani galak banget," dengus Lucas sembari memberikan Eril yang seolah senang kalau dirinya dijadikan bahan untuk rebutan.
"Galak juga kamu tidak ada takut-takutnya," gumam Elin dengan merlalu pamitan pada orang tuanya untuk buru-buru ke bandara.
"Kamu hati-hati yang Sayang, salam untuk orang tua kamu yah Lex, kalau ada waktu mampir sini untuk bersilahturahmi," ucap Darya sebelum Elin dan Lexi pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Pasti Mah, nanti Lexi sampaikan salam dari Mamah, jawab Lucas dengan santai. Dan kini dirinya dan Elin, pastinya juga ada Eril, yang sudah berada di dalam mobil.
"Kamu masih deg-degan?" tanya Lexi yang melihat kalau Elin hanya diam saja, terutama sang jagoan yang mungkin kelelahan habis main, dan dimandiin, terus minum susu, sehingga langsung pulas tertidur dalam pelukan Elin.
"Udah mendingan setelah dapat wejangan dari Mamah dan Papah. Mereka bilang kalau orang tua kamu pasti akan setuju dengan pernikahan kita dan akan mengakui Eril," jawab Elin, kali ini nada bicaranya tidak secemas tadi di mana tadi Elin sangat berasakan gugup dan juga gerogi.
"Yah, aku pun percaya seperti itu," balas Lexi, kini mereka sudah ada di dalam bandara Elin sendiri hanya duduk menunggu di kursi tunggu, selain karena menggendong Eril yang cape juga Elin masih ada perasan yang takut. Ini pertama kalinya dia akan bertemu dengan keluarga calon suami yang mana membuat Elin sangat deg-degan.
Pandangan Elin menatap Lexi ke luar dengan pasangan suami istri yang tampan dan cantik serta beberapa orang berbadan tegap di belakangnya. Yang sudah bisa Elin tebak kalau itu adalah orang yang menjaga orang tua Lexi. Wanita itu jadi semakin deg-degan karena pastinya mertuanya itu orang yang sangat penting buktinya untuk sebuah perjalanan saja harus ada orang yang mengawalnya.
"Pih, Mih, kenalkan ini Elin," ucap Lexi tepat di hadapan Elin yang masih melamun.
"Elin pun berdiri dan mengulurkan tanganya dengan Eril yang ikut meraih tangan seolah bocah bayi itu juga ingin bersalaman dengan sang kakek dan nenek. Ketegangan pun terjadi ketika Elin mengulurkan tangan, tetapi ke dua orang tuan Lexi seolah tidak meresponya.
Lexi sendiri sama kecewa dengan kedua orang tuanya, padahal di dalam ruang tunggu tadi Lexi sudah mejelaskan siapa Elin dan bagaimana prilaku Elin sehingga Lexi jatuh cinta tidak hanya itu kesabaran dan pribadi keluarga Elin dan Elin sendiri juga yang membuat Lexi memilih Elin.
Lexi ceritakan dari awal mula bertemu dengan Elin hingga sampai Ein bisa hamil anaknya. Tanpa ada yang Lexi tutupi. Laki-laki itu tidak mau kalau keluarganya memandang rendah sang istri.
Dengan gurat kekecewaan Elin menarik kembali tanganya. Namun, justru Elin dikejutkan dengan pelukan hangat dari sang mamih mertua.
Nyatanya bukan hanya Elin yang bahagia tetapi juga Lexi tidak kalau jauh lebih senang karena ketakutanya tidak terjadi.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Papih mertua Elin yang terkenal keras dan juga tegas kali ini mereka justru luluh dan menerima Elin dengan tangan terbuka.
"Oh, apa ini cucu Opa?" tanya Raja (Papih dari Lexi)
"Iya Pih." Elin pun memberikan Eril pada sang papih mertua yang sudah ingin menggendongnya. Lagi bocah yang sudah terbiasa diasuh oleh siapa saja pun tidak takut ketika di gendong oleh orang yang baru di kenalnya.
Cukup lama Elin dan juga Lexi membiarkan Eril bermain dengan kedua kakek dan neneknya.
"Lex kita pulang yuk, biar Eril sama mamih yah, kalian berdua saja dengan Elin." Rajaya dan juga Sifa membawa Eril ke dalam mobil mereka. Dan pasangan suami istri itu pun membiarkan saja. Kini Elin dan Lexi bisa bernafas dengan lega karena keluarga Lexi mau menerima Elin dengan hangat dan juga Eril mereka terlihat sangat sayang pada Eril.
"Aku senang banget ternyata papih dan juga mamih akhirnya mau mengakui Eril sebagai cucunya dan kamu sebagai menantuny," gumam Lexi tidak henti-hentinya laki-laki itu mengucapkan hamdalah.
__ADS_1
Hal yang sama tentu Elin rasakan, dia sempat membayangkan kalau orang tua Lexi akan melakukan penolakan, hingga hinaan dengan kata-kata yang kasar tetapi nyatanya itu semua tidaklah terjadi.
Kembali Elin dan Lexi di sambut dengan hangat oleh keluarga Lexi di rumah mewahnya.
"Lex, Lin, kalian selama ini tinggal di mana?" tanya Sifa, sang mamih mertua.
"Di rumah Mamah, Mih." Elin yang mengambil alih jawabanya. Yah, saat ini mereka sedang duduk bersama dengan santai di ruang keluarga dan Eril sebagai pusat perhatian mereka.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja. Mulai sekarang kalian tinggal di sini yah. Biar mamih dan papih bisa main setiap hari sama Eril," tawar Sifa, dengan tatapan yang mengiba.
Elin dan Lexi pun saling pandang. "Kita akan obrolkan dengan orang tua Elin, Mih, mudah-mudahan mereka memperbolehkan Elin untuk pindah ke rumah ini." Kali ini Lexi yang menjawab.
"Kalau nggak kita ke rumah orang tua kamu Elin, biar nanti papih yang bilang sama orang tua kamu." Rajaya pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi orang tua Elin.
Lexi dan Elin pun tersenyum puas.
"Kalau seperti itu kayaknya ide bagus Pih, kapan kira-kira Papih akan temui keluarga Elin?" tanya Lexi dengan guras wajah kebahagiaan.
"Sore ini, sekarang kalian istirahat saja dulu, biar Eril sama kita," balas Sifa sembari kembali menggendong Eril lagi untuk di bawa ke kamarnya. Lagi-lagi Eril di cu-lik oleh kakek dan neneknya.
Elin dan Lucas pun tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
"Sayang kayaknya kita perlu bikin adik untuk Eril. Abisaan anak itu hampir jarang sekali bersama kita," goda Lexi yang langsung mendapat pukulan hangat dari Elin.
"Jangan ngada-ngada deh kata dokter tunggu sampai Eril minimal tiga tahun." Elin langsung mode galak.
Lexi pun menyengir kuda dengan mengucapkan kata. "Maaf."
...****************...
Sembari nunggu kisah kelanjutan Elin, mampir yah ke novel bestie othor yah...
Kuy ramaikan....
__ADS_1