Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Kematian Palsu


__ADS_3

Jiara nampak menimang apa yang Arya katakan. "Caranya gimana Dok? Bukanyan nanti juga Lucas bisa kenal dan tahu dengan mereka, atau Anda akan mengasingkan wanita itu dan juga Papahnya?" tanya Jiara dengan serius.


"Tidak aku justru ingin Lucas dekat dengan mereka, agar dia merasakan ikatan batin, karena ikatan batin itu sulit di hindari. Elin sebentar lagi akan melakukan operasi pelastik yang mana ada kemungkinan dia akan berubah wajahnya, meskipun tidak akan total mungkin, tetapi setidaknya Lucas tidak mengenalinya lagi. Sedangkan Om Eric, setahu aku Lucas tidak begitu tahu bagai mana wajah papahnya sehinga untuk beliau tetap aman. Itu sebabnya aku membuat berita kematian palsu untuk dua orang itu, dan tentu berharap dengan sangat, kamu juga bisa merahasiakan ini dari Lucas. Aku ingin meminta bantuan kamu. Aku ingin kamu menjadi air di tengah-tengah kobaran api. Aku berharap apapun yang terjadi di antara kamu dan Lucas tetaplah bertahan untuk mendinginkan suasana hati Lucas, aku yakin kamu pasti bisa, kamu adalah orang yang baik, dekati Lucas dan rubah sedikit-sedikit sifat, dan kembali dengan sifat Lucas yang dulu, Lucas yang baik dan di sayangi banyak orang. Bukan Lucas yang seperti sekarang di mana kehidupan Lucas penuh dendam," ucap Arya, laki-laki itu percaya bahwa Jiara bisa ia andalkan, makanya ia mau bercerita padahal ia dan Jiara termasuk baru untuk saling mengenal.


"Baiklah saya akan berada di kubu kalian Dok, saya juga tidak tega juga yakin bahwa wanita itu adalah wanita yang baik. Dan soal merubah sifat Lucas, insyaallah akan saya lakukan sebisa saya, saya akan mencoba melakukan seperti yang Anda katakan," jawab Jiara dengan yakin.  Wanita itu juga merasakan hal yang sama, meskipun ia baru mengenal Lucas dan juga Arya bahkan ia belum mengenal Elin, tetapi Jiara yakin, dan hati nuraninya mengatakan bahwa ia tidak usah takut untuk berpihak pada Arya karena yakin Elin hanyalah korban.


"Kalau begitu terima kasih Jiara kamu mau membantu aku, meskipun kamu nanti mungkin akan bertemu dengan Lucas yang sifatnya sangat menyebalkan. Semoga kamu tetap di berikan kesabaran yah Ji, semoga Lucas juga bisa ditaklukan oleh kamu."


"Amin." Jiara pun setelah berbincang cukup lama akhirnya pamit untuk kembali pulang ke kamar Lucas, ia bahkan yang niatnya akan pergi ke kantin untuk membeli makan siang pun akhirnya lupa. Jiara lupa dengan perutnya yang lapar. Pikiranya sekarang sudah di penuhi oleh kisah yang Arya sempat ceritakan. "Sebenarnya aku ingin tahu tentang bisnis gelap yang Arya maksud tadi pagi, tetapi itu sepertinya agak sensitif. Biar aku akan cari tahu sendiri dengan diam-diam," batin Jiara.


Kini gadis berkerudung itu sudah berada di depan kamar Lucas dan dia melihat ke kamar sebelah yang nampak tertutup dengan rapat. Memang Jiara juga beberapa kali sering bertemu dengan laki-laki paruh baya yang menemani Elin dan Jia baru tahu bahwa laki-laki itu adalah Eric, papah dari Lucas maupun Elin.


"Sepertinya laki-laki itu orang yang taat sama perintah Tuhan, sangat janggal sekali ketika dia tega meninggalkan satu wanita demi wanita lain dan menelantarkan anak yang satu demi anak yang lain juga," gumam Jiara yang mana pikiran dia sama dengan pikiran Arya dan Elin tidak mungkin apabila Eric memiliki sifat seperti itu.


Pintu di buka secara perlahan, dan Jiara mengintip kedalam. Lucas masih tertidur pulas. Jiara pun kembali menutup pintu kamar Lucas, dan kini beranjak melangkahkan kakinya ke kamar sebelah. "Mumpung Mas Lucas masih tidur aku coba berkenalan sama adik tiri dari bos dan juga Papahnya," gumam Jiara.

__ADS_1


[Mas Nanti kalau sudah bangun kirimkan pesan balik yah, tadi saya masuk ke kamar, dan Anda masih tertidur, jadi saya putuskan untuk kembali ke Masjid rumah sakit. Kalau butuh sesuatu panggil saja saya] Sebelum  mengetuk pintu kamar sebelah, Jiara lebih dulu mengirimkan pesan pada Lucas, tentu agar Lucas tidak marah karena dia tidak ada di ruanganya dan juga tidak mencari Jia, dan takut Jiara ketahuan sedang berada di dalam kamar Elin, musuh terbesarnya.


Pintu berwarna putih di buka perlahan oleh Jiara begitu di dalam sana sudah memberikan sahutan dari salam yang sempat ia ucapkan di luar pintu.


"Selamat siang Om, Elin boleh saya main dan mengobrol sama kamu Lin?" tanya Jiara, langkahnya menghampiri Elin dan Eric yang sedang terlibat obrolan ringan.


Eric maupun Elin heran kenapa ada wanita berhijab dan cantik tetapi kenal dengan dirinya, sementara mereka tidak mengenal wanita itu. "Mohon maaf Mba siapa?" tanya Eric, yang lebih dulu pelemparkan pertanyaan yang sebelumnya Elin juga  akan menayakan pertanyaan yang sama.


"Oh maaf aku belum berkenalan, "Nama saya Jiara panngil saja Jia, saya keluarga pasien sebelah dan kebetulan aku dan dokter Arya adalah teman. Dokter Arya banyak bercerita dengan kamu, dan saat ini pasien yang saya jaga sedang istirahat jadi saya memutuskan main ke ruangan kamu, sekalian ingin kenal dengaan wanita yang hebat seperti kamu. Kamu tidak keberatan kan aku datang dan ingin mengobrol santai dengan kamu, ngobrol sebagai teman," jelas Jiara, mengambil karangan cerita yang bisa di maklumi oleh Elin maupun Eric.


"Ndok, kalau gitu Papah boleh pulang sekarang, kan ada temenya nanti malah kalau ada Papah enggak bebas ngobrolnya lagi," ucap Eric, berpamitan untuk pulang di mana Elin meminta makan masakan Papahnya lagi.


"Oh boleh Pah, ati-ati yah," balas Elin.


"Mba saya nitip Elin dulu yah, nanti dokter Arya kalau tugasnya selesai akan datang kesini, saya mau pulang dulu. Soalnya Elin pengin di masakin makanan  hasil tangan Papahnya," pamit Eric, setidaknya apabila ada temanya Elin tidak akan kesepian sampai Arya datang menemani Elin.

__ADS_1


"Iya santai ajah Om, Jia juga bosan di kamar terus enggak ada teman buat di ajak ngobrol kalau ada Elin kan Jia bisa saling ngonbrol," balas Jiara, dan setelah itu Eric pergi meninggalkan Elin dan Jiara.


"Kamu beruntung banget yah punya Papah yang baik banget kaya gitu, pasti masakanya enak sampe kamu maunya makan masakan Papah kamu," ucap Jiara pandangaanya masih menatap pintu di mana baru saja Eric keluar.


"Hehehe... iya Mba Papah memang sangat pandai memasak, nanti deh, Papah biasanya akan masak dengan jumlah yang banyak nanti Mba bisa cobain masakan Papah," balas Elin dengan antusias.


Jia pun membalasnya dengan senyuman. "Lin panggilnya jangan Mba, panggil Jiara ajah, biar lebih akrab," ucap Jiara dan di sambut baik oleh Elin. Dua wanita itu pun terlibat obrolan yang ringan.


"Ji, kamu tidak takut ngobrol dengan aku?" tanya Elin dengan raut wajah yang sedih. Jiara pun mengernyitkan dahinya tanda bahwa ia  tidak begitu paham dengan apa ucapan Elin.


"Maksud kamu takut apa? Justru seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku, kamu enggak takut kalau aku akan berbuat jahat ke kamu, bisa ajah kan kalau aku mendekati kamu dengan niat jahat?" tanya balik Jiara.


"Aku percaya dengan kamu, dan kalau kamu berniat jahat, biarkan Allah yang lebih tahu dari segalanya menegor kamu dengan cara Allah, tetapi aku percaya kalau kamu adalah orang baik. Mungkin kamu takut karena lihat wajah aku yang mengerikan seperti ini," jawab Elin dengan menunjuk wajahnya yang mungkin bagi orang memang mungkin sebagian akan takut karena luka bakar yang di derita Elin.


"Astagah Elin kenapa aku harus takut dengan kondisi wajah kamu. Bukanya dokter Arya sudah mengatakan bahwa akan ada donatur yang membantu menanggung biaya untuk operasi wajah kamu, semoga saja semuanya lancar, dan kamu akan kembali cantik lagi. Aku yakin wajah kamu yang dulu adalah wajah yang cantik," ucap Jiara dengan memegang tangan Elin seolah wanita itu sedang memberi dukungan agar Elin tetap kuat dengan cobaan dari Allah.

__ADS_1


__ADS_2