
"Sampai kapan kamu akan berada di tempat ini? Apa kamu tidak kasihan dengan Zakia dan Jiara mereka membutuhkan kamu." Eric kembali mencoba menasihati Lucas, yang sedikit keras kepala itu.
"Kamu memang salah, tetapi bukan seperti ini cara menyikapinya, bukan seperti ini cara kamu menghukum diri kamu. Pulang Nak, selesaikan masalah yang kamu buat satu per satu, jangan lagi bersembunyi di tempat seperti ini." Darya pun tidak mau kalah ikut menasihati putranya.
Lucas sendiri, masih tetap diam tidak ada lagi ucapan dari bibirnya, tidak dipungkiri dia memang ingin pulang, terutama dengan Zakia, dia sudah sangat-sangat kangen.
"Lagi pula bukanya Lexi sudah mengatakan kalau dua pelaku pembunuhan Tamara sudah selesai, lalu untuk apa kamu masih di sini? Kamu itu laki-laki, suami dan juga ayah, bukan hanya itu, kamu juga abang bagi Elin, dan anak laki-laki buat kami. Kamu kalau ada masalah diatasi jangan malah lari dari masalah dan bersembunyi di tempat seperti ini. Apa kamu tidak kasihan dengan kami, dengan Zakia dan Jaira? Saat ini bahkan Jiara kerja membantu papah mengurus perusahaan Kakek. Zakia sendiri untuk saat ini dititipakn pada Mamah dan pengasuhnya. Tidak hanya itu Jiara juga harus kerja bolak balik kalau Zakia ada check up ke dokter. Mungkin kalau kamu pulang, Jiara bisa sedikit istirahat. Papah kasihan dengan cucu dan menantu papah." Eric sangat berharap kalau Lucas kali ini mau mengikuti apa saran dari kedua orang tuanya.
Lucas mengangkat wajahnya, dan menatap wajah kedua orang tuanya. "Apa kalau Lucs pulang Elin tidak akan tertekan?"
Eric pun menggenggam tangan putranya. "Elin anak yang kuat, sedih, marah dan lain sebagainya, papah yakin dia akan bisa mengatasinya. Dia wanita yang kuat, kamu tidak usah khawatir dia pasti akan bisa menata hatinya."
"Kalau gitu Lucas akan mengatakan pada Lexi agar dibantu keluar dari tempat ini," ucap Lucas dengan yakin, dia sudah yakin dan percaya kalau dia akan mulai memperbaiki kekacauanya. Setelah berpamitan dan juga memastikan kalau Lucas tidak akan berubah pikiranya. Kini Eric dan Darya pun kembali ke rumah mereka.
"Mamah senang banget Pah akhirnya Lucas mau pulang juga," ujar Darya dengan riang, hatinya tidak seberat tadi waktu berangkat. Sehidaknya harapan untuk kumpul terbuka dengan lebar.
"Papah juga senang, tapi juga tidak bisa memungkiri papah juga ada perasaan was-was, gimana perasaan Elin. Apalagi Elin sebentar lagi akan melahirkan. Papah cuma takut kalau nanti Elin akan marah, akan kesal dan berpengaruh pada persalinanya." Bahkan untuk membayangkan hal itu Eric tidak berani.
"Kita berdoa semoga Elin mendapatkan kekuatan dan kelapangan hati." Tidak bisa berbohong Darya pun pasti terfikirkan dengan persaan Elin.
Dilain tempat.
Kedua mata Lexi memerah dan berkaca-kaca ketika secara langsung dia melihat kondisi buah hatinya. Tidak hanya itu Elin pun akhirnya memberikan izin pada Lexi untuk mengusap-usap perutnya, merasakan bagaimana buah hatinya menendang.
Bahkan sangking bahagianya, kalau dia bisa merasakan tenangan dari jagoanya, rasanya air matanya meleleh tidak terasa. Bahagianya sudah sampai di puncaknya.
"Gimana hasil pemeriksaanya Dok?" tanya Lexi tanganya sudah panas dingin mendengarkan apa nanti penjelasan dokter.
__ADS_1
"Kondisi bayinya sejauh ini bagus tidak ada kendala apapun, hanya saja kondisi fisik ibunya, seperti yang sudah saya katakan kalau Elin memang ada riwayat keruskan hati, dan itu berpengaruh untuk fisik ibunya. Kondisi anak pun hanya tinggal menunggu hari sudah memasuki hari persalinan bisa cepat dan juga bisa lambat. Kondisi Elin yang kurang sehat, akan saya rundingkan dengan dokter Eki, apakan akan dilakukan cesar secepat ini dan dilanjutkan untuk operasi setelah kamu baikan, atau tetap menunggu HPL, nanti akan saya bicarakan dengan dokter yang lain," jelas Dokter Eka.
"Berati saya tidak perlu rawat inap Dok?" tanya Elin ada perasaan lega ketika ada harapan ia tidak harus rawat inap.
"Hay kata siapa, aku tidak berbicara seperti itu Elin. Kamu harus rawat inap, kondisi kamu lemah, kurang bagus kalau kamu pulang." Dokter Eka pun langsung mengurus semua urusan Elin. Tidak bisa ngelak lagi Elin harus rawat inap, terlebih dia juga mengalami kurang darah itulah ia sering pusing dan lain sebagainya.
Lexi mengusap punggung Elin dan menguatkan wanita itu. "Kamu tenang saja, aku akan tetap ada di samping kamu. Aku akan menebus kesalahanku yang telah berlalu."
"Bukan hanya itu, pasti nanti Papah akan cemas dengan keadaan aku," balas Elin dengan pasrah, yah inilah Elin yang selalu memikirkan orang lain terutama keluarganya.
"Om Eric akan tahu kalau kamu baik-baik saja dengan aku." Lexi mendorong kursi roda Elin untuk di bawa ke ruang perawatan yang sudah Lexi urus yaitu ruang rawat VIP. Lexi benar-benar menujukan keseriusanya menunjukan tanggung jawabnya.
Dengan sabar Lexi mengusap usap pucuk kepalanya ketika Dokter memasangkan selang infus di tangnya.
"Aku tidak menyangka kalau akan bersahatat lagi dengan selang infus," ringis Elin dengan menatap selang infus yang sudah ada di sampingnya.
"Aku malah lebih istimewa kalau Papah yang jagain aku di sini. Baru juga dipasang selang infus, suah tidak betah pengin pulang," gerutu Elin, sontak saja Lexi tetawa dengan renyah.
"Padahal aku berharap kalau kamu itu dirawat cukup lama, agar aku bisa merawat kamu. Menebus semua salah yang sudah aku lakukan pada kamu," ujar Lexi dengan tangan terus mengusap perut Elin. Awalnya tubuh Elin langsung kaku pada saat Lexi memegang tubuhnya terutama mengusap perutnya, tetapi Elin bersikap biasa saja, dan mengaggap yang melakukanya papah, mamah dan juga Jiara. Terlebih anaknya pun seolah tahu bahwa yang menyapanya adalah ayah biologisnya.
Sehingga saat ini pun sudah bisa bersikap biasa saja. Tidak lagi terlalu tegang seperti tadi.
"Jadi kamu mendoain agar aku lebih lama sakitnya?" dengus Elin dengan menatap nyalang.
"Bukan mendoakan Elin, tapi mungkin dengan kamu di rawat seperti ini akau jadi ada rasa tanggung jawabnya dan aku bisa membuktikan kalau apa yang aku katakan itu serius, aku tidak bohong soal tanggung jawab ini."
"Ya tapi jangan sampai berharap kalau akan berharap lama di sini, cukup sampai lahiran saja," lirih Elin, untuk membayangkan lama-lama di rumah sakit saja sudah sangat lelah.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu tadi dengar kan kalau Dokter mengatakan kemungkinan kamu lahiran bisa dipercepat. Aku jadi tidak sadar kalau akan punya anak," balas Lexi, kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan.
Berbeda dengan Elin malah dia terasa sedih. "Lex, apa kamu ada nomor Papah? Aku ingin telpon, tapi ponselku tidak dibawa itu karena kamu yang ajak aku ke rumah sakit buru-buru."
Lexi meraih ponselnya dan memberikanya pada Elin. Namun baru juga Elin akan menghubungi papahnya Lucas meneleponya. Elin kembali menyodorkan ponselnya.
"Nanti ajah." Elin menyodorkan ponselnya kembali pada Lexi.
Laki-laki itu pun mengambil telponya, "Lucas, apa dia udah bebas?" tanya Lexi pada dirinya sendiri. Ia pun menekan ikon telepon berwarna hijau dan berbicara langsung di depan Elin, dia tidak ingin ada kebohongan. Biarkan Elin tahu apa yang nanti dibalasnya.
[Lex, loe di mana?] cecar Lucas begitu telpon baru terhubung.
[Rumah sakit, kenapa?]
[Gue mau loe urus kebebsan gue dan serahkan pembunuh aslinya. Gue sudah yakin kalau gue akan keluar. Gue akan hadapi semuanya.]
[Sekarang? Gue lagi ada urusan. Loe telpon Arya saja dia bisa diandalkan, saat ini gue sedang ada masalah lebih penting.]
Tanpa menunggu lama Lexi memutuskan sambungan teleponya.
"Apa Lucas akan bebas?" tanya Elin yang menguping pembicaraan mereka. Ada raut wajah cemas di wajah Elin, dan Lexi bisa merasakan kalau Elin tidak suka dengan kabar itu.
...****************...
Teman-teman mampir yuk kenovel besties others, di jamin seru dan bikin ga bisa berhenti bacanya...
__ADS_1