Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 182


__ADS_3

"Elin belum keluar?" tanya Philip dengan suara lirih. Di mana  Philip, Darya dan Eric saat ini sudah ada di ruang makan. Bersiap untuk makan malam perdana dengan keluarga yang baru berkumpul selama puluhan tahun.


"Biar saya lihat ke kamarnya," balas Eric.


"Ely juga mau lihat Elin Pah," Darya pun menyusul Eric untuk melihat putri mereka. Meskipun mereka sebenarnya memaklumi apabila Elin memang tidak mau makan malam bersama mengingat di satu meja yang sama ada Philip. Darya dan Eric juga tahu kalau Elin belum begitu ikhlas menerima perminta maafkan Philip, berat pasti tiba-tiba memaafkan otak dari masalahnya terjadi.


#Nama Darya sebenarnya Darya Caroline Elya nah di panggil di keluarganya Ely dan sama Eric baru di panggil dengan sebutan Darya, jadi nama Darya dan Ely itu satu orang yang sama, takutnya ada yang salah paham kok namanya ganti-ganti. Itu tergantung dengan siapa dia berkomunikasi kalau dengan keluarganya Ely dan kalau dengan Eric Darya, nanti akan di ambil satu nama saja. Mungkin Eric yang akan menyesuaikan dengan panggilan masa kecil istrinya yaitu Ely.


Eric menatap Darya ketika pintu kamar Elin tidak juga dibuka, perasaan sudah tidak karuan, takut terjadi apa-apa dengan putrinya terlebih sejak beberapa hari kebelakang Elin terlihat sangat aneh. Seperti ada yang di tutupi.


"Kita masuk ajah Pah," lirih Darya. Eric pun mengikuti saran dari istrinya masuk ke dalam kamar Elin, dengan perasaan yang berkecamuk. Ada rasa lega ketika dua pasang mata menatap Elin sedang tertidur.


"Sayang... bangun kita makan yuk." Darya menepuk pundak Elin dengan pelan, sebenarnya tadi Darya meminta Eric yang melakukanya, karena Eric lebih dekat dengan putrinya, tetapi Eric menolak.


"Ini waktunya agar Elin juga dekat dengan Mamahnya, orang tuanya bukan hanya papah saja," lirih Eric di belakang telinga Darya sehingga Darya pun mencoba apa yang dikatakan oleh suaminya ia mencoba mendekatkan diri dengan putrinya.


Pastinya untuk pertama akan terasa canggung, meskipun mereka adalah ibu dan anak kandung, tetapi karena baru dipertemukan diusia Elin yang menginjak dua puluh sembilan tahun pasti akan tetap terlihat canggung berbeda dengan Eric yang sudah merawatnya dari baru lahir jadi ikatan batin, dan kenyamananya sudah jangan diragukan lagi. Elin memang lebih nyaman kalau bercerita dengan sang papah, tetapi bukan berati mengabaikan ibu kandungnya.


Elin mengerjapkan kedua bola matanya beberapa kali dan menyipitkan mata ketika melihat wajah mamahnya dan juga ada sang papah sedang memijit kakinya.


"Mamah... Papah... Kenapa ada di kamar Elin?" tanya Elin, dengan suara serak khas bangun tidur.


"Makan dulu yuk, ini sudah hampir pukul delapan malam, tapi kamu belum makan, apa kamu sakit?" lirih Darya sembari memegang kening putrinya yang tidak panas. Elin buru-buru menggeleng, justru wanita itu menarik selimutnya sebatas dadanya yang awalnya sedikit turun.

__ADS_1


"Elin tidak lapar Mah, Pah, Elin hanya ingin tidur," lirih Elin dengan suara yang lemah.


"Kamu memang tidak lapar Sayang, tetapi anak kamu, dia butuh nutrisi, sedikit saja makan yah." Eric dari belakang Darya ikut membujuk Elin.


Namun, lagi-lagi wanita itu menggeleng dengan lemah. "Akhir-akhir ini Elin kurang nafsu makan Pah," adunya, memang Elin merasa akhir-akhir ini dia kurang bernafsu untuk makan.


"Paksa dikit saja yah, Papah ambilkan nanti di suapi oleh Mamah yah," bujuk Eric, dan Elin pun hanya diam saja. Kata orang kalau diam itu tandanya setuju. Eric pun keluar guna mengambil makan malam untuk Elin, dan saat ini Elin hanya tinggal berdua, dengan wanita yang telah melahirkanya.


Darya mengusap perut Elin dengan lembut. "Apa mual rasanya kalau makan?" tanya Darya  dia pernah hamil mungkin bisa memberikan solusi.


Elin menjawab dengan anggukan. "Mual dan rasanya begah."


"Besok periksa ke dokter kandungan yah, takut terjadi sesuatu dengan Baby-nya," balas Darya. Namun Elin buru-buru menjawab dengan gelengan kepala.


"Terus kata dokter gimana? Kondisi Babynya sehat kan?" tanya Darya dengan antusias.


Elin kali ini mengangguk dengan kuat. "Bagus, sehat dan tidak ada masalah apapun." Memang itu yang dikatakan oleh dokter, sejauh ini buah hatinya sehat dan tidak terganggu dengan sakit yang Elin derita. Anaknya memang pintar sehingga tidak membuat Elin menderita dengan kehamilanya.


"Syukurlah, Mamah suka dengarnya. Semoga kalian sehat terus yah sampai waktu melahirkan tiba," lirih Darya sembari mencium tangan putrinya, dan Elin hanya menjawab dengan anggukan kepala samar. Meskipun Elin tidak tahu ia akan tetap bisa bertahan hidup hingga buah hatinya lahiran atau tidak, tetapi tekad dia akan terus mempertahankan anaknya. Ia tidak ingin membuat kesalahan yang bodoh dengan cara membunuh anaknya.


Philip nampak sedih ketika Eric menghampiri meja makan seorang diri. Nafsu makanya langsung hilang. Ia sudah bisa menebak kalau Elin memang tidak mau makan bersama. Wajar, sebenarnya Elin protes atas kesalahan Philip, dan laki-laki tua itu juga seharusnya sudah tahu konsekuensi-nya dan tidak ada kata sedih atau kecewa. Ada sebab pasti ada akibat.


"Apa Elin tidak mau makan di sini?" tanya Philip dengan nada kecewa.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Pah, Elin memang tidak mau makan di sini, tetapi itu karena di sedang kurang enak badan, mabok sehingga tidak mau makan, tapi ini Eric akan coba paksa untuk makan barang satu atau dua sendok," balas Eric dengan sopan. Philip membalasnya dengan anggukan kepala. Mengerti kondisi orang hamil memang banyakan seperti itu.


"Apa dia sering seperti ini?" tanya Philip lagi. Dengan raut wajah yang terlihat lebih cemas.


"Tidak juga, hanya kadang-kadang memang seperti itu. Mood-nya berubah ubah, dan Papah jangan cemas Elin pasti akan cepat membaik, mungkin karena ada pikiran yang mengganjal sehingga dia seperti ini. Pasti kedepanya akan biasa saja." Eric menanggapi obrolan dari mertuanya dengan mengambil makanan untuk putrinya.


"Eric pamit Pah, mau bawa makanan ke kamar Elin dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Philip, Eric pun pergi meninggalkan mertuanya yang nampak berpikir keras.


"Kasihan anak itu, gara-gara fitnah dari aku, dia jadi menderita seperti ini. Pasti dia melewati hari-hari ini sangat sulit, dan dia gadis yang baik, masih bisa menyunggingkan senyum untuk menyapa warga sekitar, dan juga senyum untuk terlihat baik-baik saja di hadapan kami," gumam Philip menatap pinggung menantunya yang menuju kamar yang ditempati oleh Elin.


Philip pun tidak masalah kalau Elin bersikap seperti itu mungkin memang hanya itu yang bisa Elin lakukan untuk mengungkapkan rasa kecewanya. Tanpa adanya fitnah dari Philip Elin akan tetap jadi anak yang baik, dan anak yang ceria.


Nasi yang ada di atas piring Philip pun hanya di makan beberapa suap, ia sudah kehilangan selera makanya. Itu karena ia memikirkan nasib cucunya. Bahkan kini Philip bingung dan seperti tidak percaya kenapa dirinya bisa sebenci itu pada Eric dulu, sedangkan menantunya adalah orang yang baik, sopan dan juga bisa memberikan kebahagiaan pada anaknya.


Entah gimana caranya dulu dia benci dengan Eric yang begitu luar biasa, hingga ke anak-anaknya pun tak luput jadi bahan kebencian Philip.


**********


Teman-teman sembari nunggu kisah selanjutnya. Yuk mampir di novel bestie othor, di jamin bikin baper....


Kuy ramaikan....


__ADS_1


__ADS_2