Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Bos Baru


__ADS_3

"Baiklah, untuk tugas pertama kamu, bantu aku ke kamar mandi aku kebelet pipis," ucap Lucas dengan menjulurkan tanganya.


Kedua mata Jia pun terbuka sempurna, "Mas, Jia panggilkan perawat saja yah. Mohon maaf, Jia tidak bisa membantu Mas," tolak Jiara dengan suara sopanya, agar bos barunya tidak tersinggung.


"Cuma bawa tiang infusnya saja Jia, nanti di dalam aku bisa buka-buka sendiri. Apa kamu kira kamu bakal aku minta bukakan celana aku. Tidak, aku masih bisa mengeluarkan sendiri, senjataku sendiri" ujar Lucas dengan nada lebih terkesan memerintah.


"Ohhh..." jawab Jia panjang, dan gadis berhijab itu pun membantu mendorongkan tihang infus dan mengikuti jalan Lucas, tanpa ada kontak fisik di antara mereka. Setelahnya Jia akan menunggu di depan. Begitupun setelah selesai Jiara akan kembali lagi membantu membawa tiang infus mengikuti langkah Lucas.


"Aku mau duduk di sini dulu Ji," ujar Lucas dengan menunjukan Sova. Jiara pun lagi-lagi mengikut apa kemauan bosnya, mendorong selang infus menuju sofa.


"Ji tolong ambilkan tas aku yang tadi kamu bawa. Keluarkan laptop dan buka, aku mau cek kerjaan. Jia pun kembali mengikuti apa kemauan Lucas, tanpa membantah dan mengeluarkan ucapan sepatah katapun, mengambil laptop dengan logo buah apel yang di gigit di ujung atasnya. Lalu Jiara membukakan untuk Lucas di letakan di meja dihadapan Lucas.


"Duduk Ji! Aku mau ajarkan kamu mengenai kerjaan kamu nanti, tapi nanti kerjanya kalau aku sudah boleh pulang. Untuk saat ini kamu paling temanin aku buat jaga di sini dulu. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Lucas, ingin mengetahui isi hati Jia, dia suka atau terpaksa menjaga dia di ruangan ini, meskipun Lucas bisa tebak bahwa Jiara terpaksa melakukanya. Namun Lucas malah suka juga apabila Jiara terpaksa.


"Kalau boleh jujur sebenarnya saya kurang nyaman Mas, untuk bekerja menjadi sekretaris Mas Lucas di samping kita pastinya akan sering berinteraksi dengan Mas Lucas, dan juga kita sering berada di dalam satu ruangan seperti ini. Buat saya kurang nyaman," jawab Jiara sembari tetap menunduk.


Yah, sesuai yang ada di otak Lucas, bahwa Jiara keberatan. Hal itu tentu sangat berbanding terbalik dengan Lucas yang justru ingin terus-terusan berdekatan dengan Jiara. Suka? Mungkin. Yang jelas ada yang mengganjal, mungkin itu adalah perasaan suka sehingga Lucas ingin terus-terusan bersama dengan wanita berpa rasa cantik kan imut itu.


"Lalu kamu penginya kerja apa?" tanya Lucas mungkin bisa dia pertimbangkan pekerjaanya, tetapi tentu tidak jauh dari ruanganya, biar bisa sekalian cuci mata, seperti itu niat Lucas.

__ADS_1


"Apa ajah Mas, kalau adanya office girl juga tidak masalah, yang penting kerjaanya halal," balas Jiara yang memang tidak masalah kerja apa saja selagi halal.


"Udah, kamu tetap jadi sekretaris aku, dan soal laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan takut dosa, kalau kamu mau ayo kita nikah saja biar tidak timbul fitnah dan dosa, kalau sudah nikah tidak dosa kan? Karena kan sudah jadi suami istri," ujar Lucas dengan gampang.


"Ya udah Jia tetap jadi sekretaris Mas Lucas, tetapi jangan nikah. Cita-cita Jia masih banyak dan juga Jia masih terlalu muda," jawab Jiara. Tidak mau protes lagi, dari pada nanti malah di nikahin sama Lucas, dan nanti cita-cita dia untuk bisa menemani papahnya sampai sembuh malah nantinya terabaikan. Kasihan papahnya tidak ada siapa-siapa lagi kecuali Jiara, dan Bima seperti ini juga karena terlalu cinta dengan ibunya.


Lucas pun menjelaskan pekerjaan Jiara nantinya, dan Jiara pun mencatatnya di buku yang biasa dia bawa. Semua penjelasan yang di jelaskan oleh Lucas, Jiara catat tanpa satu kalimat pun terlewat dari catatanya. Saat ini Jiara sudah tahu gambaran tugas dia nantinya apabila mereka sudah kembali mengerjakaan kerjaan di kantor.


Bahkan Lucas saking senangnya bahwa ia akan dapat sekretaris baru dan yang jelas sekretarisnya tidak neko-neko gayanya. Dan justru sekarang Lucas senang dengan gadis yang berpenampilan kalem dengan mengenakan hijab. Berbanding dengan dulu, di mana dulu Lucas selalu menghina apabila ada wanita berpenampilan aneh seperti Jiara. Namun justru sekarang Lucas tertarik sekali, dengan wanita seperti Jiara, seolah misterius dan tidak banyak omong.


"Ji, aku lapar." Lucas memegangi perutnya yang memang terasa perih, tetapi masih jauh dari jam makan malam. Mungkin karena Lucas yang tadi siang makan hanya sedikit sehingga sekarang cacing di perutnya sudah demo.


"Apa ajah lah Jia, yang penting makanan, dari tadi aku makan tidak enak sekali, mungkin setelah kamu yang belihan makan dan nyuapin aku makan aku jadi berselera." Seolah sudah menjadi kebiasaan apabila tidak meledek Jia,  akan ada yang kurang. Apalagi kalau gadis berkerudung panjang itu sampai melebarkan kedua bola matanya dan bibir di manyunkan. Bahagia rasanya, kebahagiaan yang tidak pernah Lucas rasakan.


"Tapi Mas tidak apa-apa kan kalau Jia tinggal sendirian di ruangan ini?" tanya Jia, memastikan sebelum dia keluar ruangan.


"Iya tidak apa-apa Jia, dari pada aku di tungguin terus nanti pingsan lagi karena kelaparan. Sema sekalian beli makan buat kamu nanti buka puasa." Lucas menjulurkan Tiga lembar uang pecahan berwarna merah.


"Hist... ini ajah belum masuk Ashar, nanti ajah lah Mas, kalau beli sekarang sampai Magrib tiba sudah tidak enak lagi," tolak Jia. Emang Lucas ini ada-ada ajah, orang Magrib juga masih beberapa jam lagi sudah di minta untuk membeli makanan untuk buka.

__ADS_1


"Oh ya udah terserah kamu ajah, akukan enggak tahu kalau buka  puasa jam berapa," balas Lucas dengan santai sembari menggaruk-garuk kepalanya, saking tidak pernah menjalankan kewajiban seorang muslim sampai-sampai dia tidak tahu kalau buka puasa itu di jam berapa.


Jia pun mengira kalau Lucas itu non muslim sehingga sangat wajar kalau dia tidak tahu jam buka puasa, dan Jia sendiri juga tidak ingin bertanya agama bosnya itu. Karena menurut dia agama itu prefasi dan tidak semuanya harus di ketahui, terlebih Jia hanyalah bawahan.


Jiara membuka pintu ruangan Lucas dan bertepatan dengan  Arya yang juga membuka ruangan Elin yang bersebelahan itu.


"Eh, dokter Arya abis kontrol atau abis ngapain dok?" tanya Jiara dengan penasaran.


"Hai Jia, tidak. Habis jenguk teman ajah. Kebetulan ada teman yang di rawat di sini jadi sekalian jenguk.


Jiara mencoba mengintip orang yang di dalam sana dari pintu yang masih terbuka sebagian.  "Mohon maaf dia cewek Dok?" tanya Jiara, ada rasa senang karena kalau cewek mungkin ia bisa mampir ke ruangan rawat sebelah ketika bosan dengan menunggu Lucas.


"Iya, kenapa?" tanya Arya sembari menyatukan alisnya heran kenapa rasanya Jiara bahagia sekali ketika penghuni di sebelah adalah seorang wanita.


"Tidak, kalau saya nanti main keruangan sebelah boleh tidak? Saya bosan kalau harus nungguin bos terus, apalagi dengan laki-laki dan perempuan saja di dalam sana," adu Jiara yang di sambut keheranan oleh Arya.


"Bos? Apa kamu sudah bekerja dengan Lucas?" tanya Arya semakin heran siapa sebenarnya wanita berkerudung itu, Arya berharap dan mengira kalau wanita yang saat ini berada di hadapanya adalah wanita yang akan menjadi kekasih Lucas, tetapi kenapa malah sepupunya hanya menjadikan sebagai pekerjanya. Arya menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak tahu dengan jalan pikiran Lucas yang terlalu membatasi diri dari wanita.


Jiara mengangguk, sebagai jawabanya. "Jadi boleh kan Dok kalau saya main ke pasien yang di sebelah?" tanya Jiara lagi. Wanita berhijab itu tentu sangat berharap bahwa Arya mengiizinkanya.

__ADS_1


"Boleh saja, tetapi kamu jangan sampai sebut nama pasien yang di dalam sana di hadapan Lucas yah, karena Lucas sangat benci dengan wanita itu. Sebenarnya kami bertiga sodara, tetapi Lucas dan wanita yang ada di dalam sana saling tidak akur, sehingga baik Lucas atau wanita yang di dalam sana saling benci, dan tidak tahu kalau mereka di rawat di rumah sakit yang sama," jelaas Arya, lebih baik di katakan di awal dari pada Arya Jiara keceplosan dan Lucas tahu bahwa musuhnya ada di rawat di rumah sakit ini, dan mengancam keselamatan Elin lagi.


__ADS_2