
Elin menatap wajah dokter Arya yang lebam terlebih di bagian sudut bibirnya sangat jelas terlihat kalau bibir pecah. Yah, Elin sudah menduga bahwa ini semua adalah hasil perbuatan Lucas, kakak tirinya.
"Apa ini yang buat bibir dokter sampai seperti ini adalah Lucas?" tanya Elin, begitu papahnya keluar untuk melaksanakan sholat berjamaah. Meskipun Elin sudah sangat yakin bahwa jawabannya adalah iya. Wanita itu hanya ingin mengetes jawab Arya saja akan jujur atau menutupi perbuatan Lucas.
"Dia seperti ini karena sedang depresi saja," lirih Arya seolah sepupunya itu membela perlakuan Lucas.
"Apa orang seperti Lucas bisa depresi juga?" gerutu Elin, pandangannya di buang ke lain arah malas sebenarnya membahas Lucas.
"Justru orang seperi Lucas dan Lexi tingkat depresinya semakin terbuka lebih besar, hal itu karena sebenarnya apa yang dia lakuin itu sebagiaan tanpa kesadaranya, mungkin karena pengaruh minuman keras atau lain sebagainya. Ambisinya besar tingkat depresinya juga besar," tutur Arya, laki-laki itu tidak ingin Elin terlalu membenci Lucas, ia takut kalau nantinya Elin dan Lucas akan saling membenci dan saling membalas dendam, dan Elin nantinya akan merasakan apa yang saat ini Lucas rasakan yaitu menyesal. Terhukum oleh kesalahan yang sudah ia perbuat. Meskipun Lucas tidak pernah mengakui apa yang ia rasakan di dirinya, tetapi Arya tahu bahwa Lucas sedang meratapi kesalahanya. Menyesal dengan yang ia lakukan.
Arya ingin menjadi penengah diantara Lucas dan Elin. Bukan justru memanasi keadaan sehingga saling membenci.
"Ah, mudah-mudahan memang yang dikatakan dokter benar adanya. Lucas menyesali perbuatanya," dengus Elin dengan nada yang malas ketika membahas kakak tirinya, tetapi gadis itu ingin tahu lebih lanjut tentang kakanya itu.
__ADS_1
"Kamu tenang saja suatu hari baik Lucas maupun Lexi aku yakin kalau dia akan datang menemui kamu, dan semuanya kembali ke keputusan kamu apakah kamu mau memaafkanya atau tidak, itu semua terserah kamu," ucap Arya, sembari menatap Elin penuh.
"Seperti yang sudah pernah saya katakan, kalau saya tidak akan mau memaafkan orang-orang itu. Saya akan tetap membuat jarak buat mereka semua, dan saya juga meminta pada Tuhan, bahwa saya tidak akan di pertemukan dengan orang-orang itu lagi. Cukup sekali seumur hidup saya berhubungan dengan mereka," beber Elin, tentu Arya tahu sekali gimana marahnya Elin hingga ia tidak mau bertemu lagi dengan dua laki-laki itu.
*****
Di tempat lain, Lucas menggeliatkan tubuhnya, tangan kananya menyentuh kepalanya yang masih sedikit pening, tetapi setidaknya tidak seperti malam tadi di mana, suara bunyiaan apapun seolah ingin mengajaknya ribut. Matanya di bukan menyesuaikan sinar matahari yang sudah masuk ke dalam kamarnya melalui jendela kamar yang ternyata sudah terbuka dengan lebar.
Tubuh lemahnya ia angkat dan di senderkan ke dasbord tempat tidur. Otaknya bekerja dengan keras mengingat apa saja yang terjadi di malam tadi, samar-samar ia bisa mengingat apa saja yang membuatnya bisa tertidur dengan pulas. Keningnya mengerut seolah ia sedang mengingat sesuatu yang mengerikan.
Lucas memaksa tubuhnya bangun dan membersihkan tubuhnya, lalu berangkat kekantor, mungkin apabila dengan bertemu dengan Jiara pikiranya bisa sedikit tenang, setidaknya bisa mengalihkan pikiranya yang mulai terjebak dalam penyesalan. Meskipun Lucas belum tahu fakta apa yang ada di dalam keluarganya, tetapi perasaanya sudah di hantui oleh penyesalan.
Tidak lama Lucas sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar, dan rambut yang masih meneteskan air, dengan gerakan lembut tanganya memijit dengan handuk kecil kepala yang tadi masih terasa berat. meja makan dan sarapan adalah langkah selanjutnya, agar ia tidak kembali masuk ke rumah sakit. Enak sih sekarang ada yang merawat, biarpun sakit, yaitu Jiara tetapi itu tanda ia akan jarang bertemu dengan mamihnya, sedangkan janjinya malam tadi ia akan selalu datang mengunjungi mamih dan bercerita seperti semalam, setiap hari. Tentu apabila ia ingin harapanya tercapai dia harus selalu sehat. Harus menjaga waktu tidur makan dan pikiranya agar tidak terlalu setres.
__ADS_1
Namun, ketika Lucas menginginkan pikiranya tenang dan tidak setres dan tertekan, justru ingatanya selalu mengingat kejahatanya terhadap adik tirinya Elin.
Saat ini Lucas sedang berada di meja makan bersama dengan Philip dan Tamara, ingin laki-laki itu menanyakan kembali apa kiranya yang terjadi dengan mamihnya hingga bisa depresi, apakan jawabannya mereka akan sama atau justru keteranganya akan berubah dari yang pernah Philip katakan dulu. Lucas bahkan masih sangat ingat kata-kata apa yang Philip katakan dulu mengenai papahnya dan juga adik tirinya.
Seperti biasa ketika makan mereka akan fokus dengan makananya, sama seperti Lucas ia sibuk dengan makananya, dengan kata lain ia ingin buru-buru selesai makanya dan selanjutnya kembli pergi dar rumah ini. Rumah yang saat ini sebenarnya sudah tidak nyaman untuk Lucas tinggali. Andai ia tidak memiliki misi untuk tinggal di rumah itu, mungkin Lucas sudah memilih tinggal di rumah sendiri. Sebagai orang yang kaya raya, tentu Lucas memiliki hunian tidak lebih dari satu, alias tempat tinggal Lucas itu banyak, dan salah satunya yang saat ini di tempati oleh Jiara.
"Lucas kamu kondisinya gimana? Apa sudah baikan, maafin Oma yah, dari kemarin Oma ada kerjaan sehingga Oma tidak sempat jenguk kamu di rumah sakit, rencananya hari ini Oma akan menjenguk kamu, tapi kamu sudah pulang," ucap Tamara, memecah kesunyian di meja makan yang hanya terdengar bunyi-bunyian dari alat makan yang saling beradu.
Uhukkk... Uhhukkk... Lucas tiba-tiba terbatuk dengar apa yang diucapkan oleh Tamara, mulutnya seketika itu langsung berhenti mengunyah. Bahkan makanan yang ada di dalam mulutnya ia telan begitu saja padahal makanan belum halus di kunyanya. Diteguknya satu gelas air putih untuk mendorong makanan yang serasa mengganjal di dalam tenggorokanya.
Ingin sekali Lucas tertawa dengan lantang, menertawakan basa-basi Omanya itu. Yah, Lucas tahu bahwa Omanya sedang bereting agar ketahuan baik di depan kakeknya.
"Kenapa aku baru sadar sekarang sih, kelakukan wanita ini sangat menjijihkan," batin Lucas, pandangan mata tajam mengamati gaya gelamor wanita muda yang disebut Oma itu.
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa Oma, yang terpentingkan saat ini Lucas sudah pulang dan sudah berada di rumah itu tandanya Lucas sudah sehat, malah sekarang Lucas sudah akan kembali bekerja itu tandanya Lucas sudah sehat, kemarin juga Lucas tidak benar-benar sakit, hanya butuh istirahat saja," jawab Lucas, berpura-pura tetap biasa saja, padahal dalam hatinya laki-laki itu mengumpat wanita muda yang sekarang sedang duduk di samping kakeknya.
"Sepertinya aku harus mulai menyelidiki wanita ini, dari gerak geriknya dia seperti wanita yang hanya menginginkan harta kakek saja," batin Lucas, kembali, kedua matanya dengan awas mengamati Tamara.