Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode


__ADS_3

Kita tinggalkan Elin dan Lucas serta Philip yang sedang berjuang untuk kesembuhanya, kita mampir dulu pada dua pasangan kekasih yang banyak membantu Elin dan Lucas. Eh, lebih banyak Lucas yang berbuat dia yang bertanggung jawab, sepertinya seperti itu lah.


Nasib dia di novel ini hanya sebagai peran pembantu, tetapi kontribusinya banyak sekali, tanpa perjuangan dia tidak akan selesai dengan masalah-masalah Lucas yang terlalu menggunung, belum sifat Lucas yang keras kepala dan sangat menyebalkan, yah dia adalah Arya. Dokter Arya dan dokter Marni tepatnya.


Arya yang sangat mengantuk pun menyambut istirahat dengan langkah yang lemas ia hendak mendatangi ruangan Marni. Mencari sumber kekuatanya. Yah, laki-laki itu sedang menikmati karma dalam hidupnya. Karma, betul sekali dia sedang terkena karma, karena mulutnya yang sadis dulu. Selalu menolak dengan Marni sekarang malah jadi bucin.


Buktinya kali ini tubuhnya lemas perut lapar, ngantuk semua masalah dalam hidupnya mencari obatnya adalah Marni, dia yang saat ini jadi obat dari segala obatnya.


Marni mengangkat kepalanya ketika ia sedang mengecek rekam medis salah satu pasienya tiba-tiba calon suaminya datang dengan wajah yang lecek seperti uang dua rebuan yang tersimpan di saku celana dan tergiling dalam mesin cucu, sudah lecek warnanya pudar lagi. Seperti itu bayangan wajah Arya.


"Kenapa?" tanya Marni dengan tatapan yang cemas dan tanganya langsung menyingkirkan pekerjaanya.


"Butuh vitamin," jawab Arya dengan tatapan yang mengiba.


"Vitamin? Vitamin apa?" tanya balik Marni, yah sudah biasa memang mereka akan melakukan suntik vitamin, agar stamina tubuh mereka tetap ok, yang kerja kadang tidak ingat waktu sangat membutuhkan suntikan vitamin.


Arya memonyongkan bibirnya, dengan mata yang genit, sudah tidak aneh sebenarnya karena memang Arya sejak sekolah dan kuliah banyak berganti-ganti betina untuk gandengan. Belum gaya pacaran dia yang terlalu bebas.


Marni juga dulu sempat marah dengan hatinya, dengan perasaanya yang tidak bisa mengerti dengan kenyataan di lapangan, di mana Arya play boy dan tentu pasanganya sudah pasti bukan wanita benar-benar karena dia sendiri juga bukan laki-laki benar, tetapi namanya hati kadang kerasnya melebihi kepala, tetap saja dia naksir pada laki-laki play boy itu.


Marni pun kembali menunduk dan mengambil map tadi, tidak mengindahkan apa yang Arya maksud meskipun Marni tentu tahun dong apa maksud Arya itu, tetapi justru Arya membopong wanita itu agar tidak bekerja terus, ini sudah jam istirahat juga.


"Arya, apa yang kamu lakukan," protes Marni sembari mencoba melepaskan tangan laki-laki itu dari perutnya yang ramping. Namun cengkraman tangan Arya terlalu kuat sehingga Marni sulit untuk melepaskan diri.


Bruk... Marni di turunkan di sova ruangan kerjanya. Wanita itu sudah berpikir yang kurang jernih, tapi buru-buru Arya merebahkan kepalanya di pangkuan kekasihnya sebelum ia berprotes.


"Aku ngantuk ingin tidur, dan aku juga lapar pengin makan, tetapi aku malas mau ngapa-ngapain," racau Arya dengan mata yang terpejam sempurna.


Sedangkan Marni yang awalnya deg-degan luar biasa karena dikira Arya bakal berbuat macam-macam pun hanya mengeluskan dadanya cukup lega karena Arya hanya tidur dipangkuanya, dengan perlahan tangan letiknya membelai rambut laki-laki itu. Hingga Arya sendiri baru merasakan senyaman itu tidur di pangkuan kekasihnya. Sangat nyaman dan dalam waktu singkat laki-laki itu sudah tertidur dengan pulas. Terdengar dekura halus dan nafas yang teratur.


Tidak henti-hentinya Marni menatap Arya. Wajah tampan yang dulu hanya jadi idaman saja kini ada di hadapan dirinya bahkan hanya menghitung bulan Arya berjanji akan menikahi Marni itu tandanya tubuh Arya sepenuhnya akan jadi miliknya.


Marni yakin meskipun Arya adalah mantan play boy, tetapi dia pasti setia. Yah memang seperti itu biasanya yang petakilan malahan yang setia.


Setelah Marni puas menatap wajah Arya. Dengan berhati-hati Marni pun beranjak bangun dan mengganti bantal sebagai topangan kepalanya.


"Alhamdulillah akhirnya bisa juga lepas." Marni menepuk-nepuk pahanya yang cukup pegal, kebas dan kesemutan, padahal baru beberapa menit Arya tidur dipangkuanya.


Sementara Arya tidur dengan pulas di ruanganya. Marni sendiri meninggalkan ruanganya menuju kantin untuk makan siang perutnya jug lapar minta diisi dan juga pastinya ia tidak lupa membelikan makanan untuk calon suaminya. Wanita itu paham betul pasti Arya sangat lelah semalaman berjaga untuk menemani Elin dan Lucas operasi.


Marni pun menggunakan dua jam istirahat mereka untuk membiarkan kekasihnya istirahat dia tahu betul bagaimana capenya Arya.


"Ar... Arya... bangun sudah dua jam istirahatnya sudah cukup kan?" Marni menepuk punggung Arya dengan lembut, Hingga Arya pun bangun dan meneluk pelan tubuh kekasihnya itu.


Ya dia memang laki-laki yang sedikit mesum bentar-bentar peluk cium dan nyosor saja. Untung Marni lurus-lurus saja sehingga tidak terbawa dengan cara berpacaran dia yang cukup menghawatirkan.


"Aku sudah beli makanan untuk kamu makan siang, tidak masalah kan kamu makan dengan menu seperti ini," ucap Marni dengan membawakan satu kotak menu makan siang. Arya mengintip makanan apa yang Marni bawa.

__ADS_1


"Suapin," balas Arya dengan suara yang serak dan manja. Marni lagi-lagi melotot pada Arya yang tingkahnya benar-benar manja ketika dengan dirinya.


"Aku masih banyak kerjaan dan kamu makan sendiri saja, dan cepatlah gunakan sisa waktu isitarahat kamu, aku sudah bilang sama dokter Winda agar menggantikan jam praktek kamu diawal, karena kamu mau makan dulu dengan waktu tiga puluh menit jadi gunakan waktu itu dengan baik," jelas Marni dengan tetap kedua matanya awas mengecek hasil pemeriksaan pasien-pasienya.


"Kalau gitu aku lebih baik kembali ke ruangan aku untuk kerja saja, dan lupakan makan siang," ancam Arya, dengan memberikan wajah yang merajuk.


"Ck... Kenapa kamu suka sekali mengancam aku, apa kamu tidak puas tidur di pangkuan aku hingga kaki aku kebas," protes Marni dengan tatapan yang malas.


"Bukanya kamu memindahkan aku dengan tidur di atas bantal," balas Arya yang ternyat tahu bahwa Marni memindakan dirinya di atas bantal, dan dia sendiri pergi ke kantin.


"I... Itu karena kaki aku sudah kebas." bela Marni dengan nada yang  setengah terbata.


"Ya udah lupakan makan siang, terima kasih tumpanganya untuk tidur di pangkuan kamu hingga kaki kamu kebas," ucap Arya dengan menekankan kata ' terima kasih, dan kebas'.


"Iya... iya aku suapin tapi, tidak ada lagi suap-suapan apalagi di jam kerja." Marni pun lagi-lagi kalah dengan apa yang Arya  katakan. Senyum kemenangan tentu tersungging dari bibir Arya. Dia sudah bisa tebak kalau Marni pasti akan mau mengikuti apa kata dirinya.


Dengan berjalan setengah di hentakan, Marni berjalan mendekat pada Arya dan duduk kembali di samping calon suaminya dan mengambil kotak nasi jatah makan siang Arya, dan menyuapinya dengan sangat manja Arya pun memakan dari tangan kekasihnya.


"Tunggu, kenapa rasanya berbeda, apa jangan-jangan kamu tidak cuci tangan?" tanya Arya yang memang tidak melihat kalau kekasihnya tidak cucu tangan sebelum menyuapi dirinya.


"Tidak perlu paling juka mentok-mentok kamu diare," balas Marni, padahal kenyataanya dia tentu sudah menggunakan handsanitizer dan tentu Arya juga sudah tahu.


"Ya ampun kekasihku ini memang jahat banget. Tapi anehnya kenapa makanan yang dari tangan kamu rasanya enak sekali," goda Arya dengan gaya yang sangat menyebalkan. Orang kalau sudah melihat Marni cemberut akan takut dan segan tentu berbeda dengan Arya dia malah semakin senang melihat Marni cemberut. Karena cintanya semakin dengan wajah imutnya itu.


#Marah dibilang imut cuma Arya yang begitu.


Kembali lagi ke rumah sakit. Eric menatap Darya dengan tatapan yang sangat memprihatinkan di mana kondisi Philip juga semakin kurang bagus, ini adalah kali ke dua laki-laki tua itu terkena serangan jantung. Dokter sudah mewanti-wanti agar menjaga emosinya karena bisa saja Philip justru menyerah karena emosinya yang sulit terkontrol.


Tidak hanya emosi yang meluap-luap dalam arti marah, tetapi pikiran yang mengganggu sehingga membuat pikiran terus bekerja lebih keras lagi.


"Mah, kondisi Papah bagaimana?" tanya Eric sembari menepuk punggung istrinya dengan pelanggan yang sedang menunggu Philip sadar di samping ranjang pasienya.


Darya yang cukup kaget pun langsung memeluk tubuh suaminya yang berdiri tepat di sampingnya. "Kondisi Papah terus memburuk, Mamah takut kalau secepatnya Papah tidak akan bertahan untuk melihat anak-anak kita berdamai. Padahal yang sangat Papah inginkan di sisa hidupnya adalah melihat Lucas dan Elin yang berdamai. Tapi Papah justru jatuh sakit." Darya pun langsung terisak.


Eric mengusap rambut sang istri hanya itu yang bisa ia berikan untuk memberikan kekuatan pada istrinya.


"Ngomong-ngomong, kondisi Elin seperti apa? Apa Elin selama ini baik-baik saja kondisinya dan kondisi Lucas gimana. Maaf Mamah belum sempat melihat kondisi mereka. Mamah terlalu cemas memikirkan kondisi Papah." Wajah bersalah terlihat dari Darya, dengan mata yang sembab.


"Tidak apa-apa Elin ada Lexi dan Jiara yang menjaganya. Kondisi Elin memang sangat bagus perkembanganya, dan saat ini dia sudah berada di ruang perawatan sedangkan Lucas dia masih di ruang Picu, untuk terus mengontrol perkembangnya. Kondisi Lucas belum ada tanda-tanda peningkatan, tetapi dokter berjanji akan bekerja yang terbaik untuk anak-anak kita terutama Lucas." Eric mengusap rambut Darya terus menerus sebagai tanda dia sangat perduli dengan dirinya.


Yah, dengan perhatian-perhatian kecil itu Darya sangat nyaman dengan Eric tidak hanya itu dia juga bisa merasakan kasih sayang yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tapi apa Lucas akan baik-baik saja?" tanya Darya hanya dia sendiri pikiranya semakin terpecah dengan kejadian ini.


"Papah yakin semuanya akan baik-baik saja. Mamah juga harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja."


Darya pun mengangguk dengan kuat, dan kembali yakin dan tidak bleh lemah dia adalah ibu. Dua anaknya butuh dukungan  dari dirinya. Seorang ibu harus lebih kuat dari anak-anaknya.

__ADS_1


******


Arya dan Marni yang pulang kerja pun langsung memutuskan mengujungi rumah sakit begitu mendengar kalau Elin sudah di pindahkan ke ruang rawat.


"Kira-kira hasilnya Elin bagaimana yah?" ucap Marni memecah ketegangan diantara Arya dan dirinya. Meskipun Marni dan Elin adalah keluarga calon ipar, tetapi kedekatan mereka sudah jangan diragukan lagi sehingga Elin sangat dekat dengan dirinya.


"Menurut info Elin kondisinya semakin membaik, justru Lucas yang menghawatirkan kondisinya." Arya tetap fokus dengan kemudinya.


Marni sampai tersentak kaget dengan apa yang di katakan oleh Arya. "Serius, kenapa malah Lucas yang kondisinya kurang bagus, bukanya Lucas pendonor. Biasanya kalau pendonor malah kemungkinan untuk sembuh lebih besar lagi.


"Itu lah, ternyata kondisi Lucas saat melakukan donor kurang sehat sehingga terjadi beberapa kendala pada saat operasi berlangsung, untung dokter profesional, sehingga masalah-masalah serius yang terjadi di meja operasi bisa segera diatasi. Paling juga nanti kalau bangun dia dapat ceramah dari para dokter. Bandel sih nekad, yang cemas dan yang tegang bukan dia justru dokter aku tidak membayangkan bagaimana seriusnya dokter-dokter di ruang opearasi itu, dan pelakunya hanya tergolek tidak berdaya."


Tertu Arya dan Marni yang berprofesi sebagai dokter sangat paham betul gimana situasi seperti itu adalah situasi yang sangat menyebalkan dan bisa saja berakibat buruk dengan profesi mereka.


Apabila keluarga pasien tidak terima ketika pasien tidak tertolong bisa menuntut dokter bisa kalah dan bukti kurang kuat karir mereka dan nama rumah sakit yang tercoreng. Untung yang terjadi pada Lucas bisa diatasi coba kalau tidak bisa diatasi akan kena semuanya.


Yah, meskipun ada surat perjanjian rasa kesal dihati bisa saja akan membekas untuk selamanya.


Pasangan kekasih itu pun terus melanjukan kendaraanya dengan di selingi cerita-ceria dari mereka terutama tentu membahas Elin dan Lucas. Membahas bagaimana suasanya di depan ruang operasi yang sangat horor.


****"


Detik berganti menit dan menit terus berganti jam, jam terus berganti dengan hari, hari-hari berganti dengan harapan yang semakin besar kalau Lucas akan sembuh. Yah saat ini sudah tiga hari paska operasi cangkok hati yang Lucas lakukan bersama dengan Elin. Kondisi Elin tentunya jauh lebih baik, bahkan Elin sudah sering jalan-jalan keluar ruangan untuk sekedar mencari udara segar.


Kondisi Philip pun tidak jauh berbeda dari sebelumnya masih sangat lemah. Sudah banyak upaya dokter yang membantu penyembuhan laki-laki berumur itu. Darya pun semakin hari semakin berusaha untuk pasrah dengan apa yang terjadi pada papahnya, orang tua tunggalnya. Namun meskipun Darya selalu berkata siap dan tidak apa-apa, apabila papahnya berpulang tetapi tidak dalam hatinya ia ingin agar Philip menunggu Lucas dan Elin berbaikan.


Itu kata-kata yang Darya sangat ingat sebelum Philip di temukan pingsan di dalam kamarnya.


Eril sendiri sudah boleh pulang dari satu hari yang lalu, itulah yang membuat Elin sangat bersemangat untuk sembuh dan ingin pulang untuk mengasuh putranya. Jiara dan Lexi serta Eric sudah kembali keaktifitas sebelumnya bekerja, meskipun di rumah sakit masih butuh dukungan dari mereka tetapi di siang hari ia akan bekerja dan malam hari menjaga keluarga mereka kecuali Jiara yang harus tetap pulang untuk menjaga putrinya, sedang untuk Eril selama Elin di rumah sakit dan Darya juga muter-muter menjaga Elin dan sesekali melihat Philip yang sudah ada dua penjaga untuk memantaunya.


Pulang kerja seperti biasa Lexi dan Jiara akan datang ke ruamh sakit Lexi memag semalaman juga selalu menjaga Elin dan Eric menjaga Philip sedangkan Darya untuk malam hari akan pualng bersama Jiara. Jiara hanya datang sekejap untuk menjenguk Lucas dan memang suaminya masih dalam pemantauan dokter yang cukup ketat. Untuk berkunjung pun hanya diizinkan satu orang saja dan dalam tempo waktu yang tidak lama.


"Sayang. aku datang lagi." Jiara sudah membiasakan diri memanggil sayang.


"Ini adalah hari ketiga paska kamu operasi, Zakia hampir setiap malam terus menanyakan kamu, kapan Papah pulang dan kapan Papah sembuh. Sayang kamu pasti juga sudah tahu bagaimana perkembangan Elin, dia sekarang sudah jauh berbeda, sudah jaun sembuh di bandingkan dengan Elin yang kemarin. Itu tandanya perjuangan kamu berhasil." Jiara  diam sejenak rasanya tenggorokanya sudah tercekik. Sangat sakit, bahkan sekedar di gunakan untuk menelan salivanya.


Jiara mengusap pipi Lucas dan tanganya, ia duduk dengan mencium tangan laki-laki yang bersetatus suaminya. Setiap hari yang ia lakukan adalah seperti itu. Niat hati ingin bercerita banyak, tetapi lagi-lagi tenggorokanya sakit dan dadanya terlalu sesak.


"Sayang, aku tidak bisa lama di sini kamu harus banyak istirahat, dan aku juga tidak bisa menemani kamu setiap hari aku harus kerja. Kamu tidur yang nyenyak yah, tapi berjanjilah setelah itu kamu akan bangun, dan menepati janji kamu satu persatu. Aku sudah tidak marah sama kamu, dan aku berharap kamu adalah jodoh satu-satunya untuk aku. Begitu pun aku jodoh satu-satunya untuk kamu. Aku pamit pulang yah."


Jiara pun bangkit, dan mencium pucuk kepala suaminya. "Ini ciuman dari Zakia, yang sangat rindu kapan papahnya akan pulang."  Lalu Jiara mencium lagi pucuk kepalanya cukup lama. "Ini ciuman dari aku, aku memaanfkan semua kesalahan kamu, dan semua masa lalu kamu yang mungkin kurang aku saukai, dan I love YOU." Jiara membisikan kata-kata sakral itu. Entah dari mana datangnya, tetapi Jiara sudah menerima Lucas dari masa lalu yang yang gelap hingga detik ini. Jiara berharap Lucas dalam alam bawah sadarnya tahu dan mendengarkan apa yang dia ucapkan.


Jiara sudah membuka pintu maafnya dengan lebar dan tidak akan lagi melihat ke belakang, biarkan masa lalu Lucas sebagai pelajaran berharga untuk dirinya. Tentunya berharap agar Lucas bisa memperbaiki diri di masa depanya, dan memberikan contoh yang baik untuk anaknya kelak.


Wanita berhijab itu ke luar dari ruangan rawat suaminya masih dengan perasaan yang sama dengan tiga hari ke belakang yaitu berat dan seolah harapanya menggantung tidak bertepi. Sesak yang teramat kalau di ceritakan. Terutama setiap pulang ke rumah juga ia selalu di tambah sesak dengan pertanyaan-pertanyaan dari Zakia yang kadang menambah sesak didadanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2