
Ehemmm.... Arya berdehem dengan keras, tentu niatnya untuk mengagetkan Lexi yang sedari tadi menatap Elin tanpa kedip, laki-laki itu pun langsung tersentak kaget.
Ck... Lexi berdecak dan memukul bahu Arya. Sementara Arya sendiri terkekeh dengan kelakuan Lexi yang kaget itu.
"Ngapain loe ke sini?" dengus Lexi sembari berjalan menghampiri sofa, dan diikuti oleh Arya, tentunya dua laki-laki itu berbicara dengan pelan. Karena takut kalau Elin akan bangun
"Aku tidak percaya Elin dijaga oleh loe, aku malah takut kalau Elin akan loe buat kenapa-napa. Contohnya tadi loe mau ngapain lihatin Elin sebegitunya. Masa iya dia yang sedang sakit, perut buncit mau loe garap juga." Dengan sengaja Arya memancing Lexi.
Plakkk... Lexi menampar Arya dengan keras, tetapi Arya tidak membalasnya dia tahu kalau Lexi hanya bercanda.
"Sembarangan Loe kalo ngomong. Gini-gini gue udah tobat. Gue hanya senang aja lihat Elin yang tidur seperti itu seperti dekat banget." Lexi pun berbicara dengan lebih sopan.
"Ya kali loe mau lakuin itu, tapi karena gue datang loe mengurungkan niatanya." Arya malah semakin senang meledek Lexi yang sudah sejak tadi menahan agar tidak terpancing. Namun, namanya juga Arya malah senang untuk memancingnya.
Bruggg...kali ini Lexi memukul pundak Arya dengan keras, Arya malah kelepasan tertawa, dengan semua yang Lexi lakukan, rasanya baru merasakan sedekat ini dengan Lexi.
"Kalau ngomong jangan sembrangan yah gue sudah tobat tidak mau lagi gue cari gara-gara." balas Lexi dengan menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa, dan membuang nafas kasarnya.
Sementara Elin sendiri yang sejak tadi tidur, karena ada suara gaduh-gaduh pun bangun dan mencoba membuka matanya, tetapi setelah tahu bahwa yang datang adalah Arya, Elin pun memejamkan matanya kembali. Setidaknya Elin tidak terlalu tegang, dan takut kalau dalam satu ruangan hanya dengan Lexi, dia senang karena ada Arya yang menemaninya. Elin pun memejamkan ke dua bola matanya kembali, tetapi tidak dengan telinganya ia mendengarkan obrolan Arya dan Lexi.
"Tobatnya beneran apa tobat sambel. Karena gue tidak sudi kalau merestui loe dengan Elin kalau loe saja tobat sambel, kumat-kumatan nanti kalau Elin sudah maafin dan loe ada kesampaian lagi, ngulang kesalahan yang sama, malah nyakitin Elin lagi dalam fersi yang berbeda." Arya hanya memperingatkan Lexi dan juga memastikan tobatnya Lexi.
"Astaga Arya, gue nggak mungkin kaya gitu lah, gini-gini gue sayang banget sama anak gue dan Elin juga. Gue bahkan tidak ada kepikiran untuk melakukan hal seperti itu," lirih Lexi tahu juga sih kalau Arya itu bertanya seperti itu hanya untuk mengetesnya.
"Ya kan siapa tahu aja, Lex. Loe bersikap seperti itu karena belum ada cewek bening berlenggak-lenggok di depan loe, tetapi kalau hal itu terjadi gimana. Apa iman loe tergoda, dan loe ninggalin Elin dan anaknya, untuk wanita murahan itu." Arya pun langsung mencecar Lexi dengan pertanyaan seperti itu.
Terkesan jahat banget memang berbicara seperti itu, tetapi inilah realitanya banyak laki-laki yang tergoda dengan rayuan oleh wanita yang seperti ini.
__ADS_1
Elin sendiri yang telinganya masih mendengar itu semua merasakan sangat deg-degan dengan jawaban Lexi, sama halnya dengan Arya kalau Elin takut apa yang dia sudah korbankan, malah Lexi kembali lagi ke sifat yang seperti dulu.
"Amit-amit Ar, jangan sampai gue seperti itu. Gue yakin kalau dalam hati gue hanya ada Elin dan anak gue nantinya." Lexi berbicara cukup meyakinkan.
Tentu sebagai orang yang tahu betul perajalan hidup Lexi seperti apa Arya merasakan seperti hal yang aneh, dan sangat tidak masuk akan. Ketika Lexi tiba-tiba langsung tobat dengan Elin, dan siapa yang rela kalau tobat Lexi itu hanya main-main saja.
Arya menatap Lexi lamat-lamat, seolah tengah mencari keseriusan dari sorot mata Lexi. "Alasan loe tiba-tiba memutuskan untuk berubah itu apa? Rasanya sangat mustahil dan seperti terkesan memaksa ketika loe yang dulu notabenya sangat gemar mengoleksi wanita, tetapi justru memilih bertaubat dan meninggalkan dunia loe yang... loe lebih tahu gimana kelakuan loe tempo dulu, tetapi yang bikin gue seperti tidak percaya dalam waktu singkat loe tiba-tiba berubah dan memilih memperbaiki diri untuk Elin dan buah hatinya. Apa ini murni dari diri loe atau... ada udang di balik bakwan?"
Elin pun semakin sesak batinya, ketika mendengar obrolan mereka. 'Berapa banyak wanita yang jadi boneka s*k Lexi, dan apa wanita-wanita itu sama nasibnya seperti aku? Hamil di luar nikah?' batin Elin, dia jadi tidak bisa tidur lagi, dan tanpa terasa air matanya menetes. Membayangkan kalau di luaran sana juga Lexi memiliki anak yang mungkin nasibnya lebih buruk dari dirinya. Elin kembali menajamkan pendengaranya.
Lexi pun wajahnya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya, dan Arya tahu apa arti dari itu semua. "Kalau loe tanya seperti itu jujur gue juga bingung dan kira-kira akan bertanya dari mana, tetapi bagaimana lagi ini adalah murni perasaan gue. Gue sendiri kadang merenungi semuanya dan kenapa dengan diri gue yang tiba-tiba seperti ini. Tetapi balik lagi ternyata memang mungkin ini hidayah. Tuhan ingin melihat gue jadi orang baik, dan gue akan berusaha jadi orang baik, meskipun kalau di lihat dari kebiasaan gue yang sangat buruk."
"Yah, aku harap loe tidak hanya janji-janji saja dan berbicara dengan sesuka loe. Gue harap kamu benar-benar menjaga Elin dan putranya. Karena kalau hal buruk terjadi pada Elin, gue yang akan membuat loe jadi gelandangan. Izin akan bertanggung jawab atas Elin dan anaknya seketika gue cabut," ancam Arya dengan tatapan yang mematikan, sangat mengerikan ancaman Arya itu.
"Kenapa jadi galakan loe dari orang tuanya," sungut Lexi dengan menatap sinis pada Arya.
"Karena Elin sendiri sudah gue anggap lebih dari adik gue. Entah, sejak pertama gue bertemu dia, gue merasakan ada jiwa Lily dalam hidup Elin, gue seperti melihat Lily yang sedang meminta bantuan pada orang-orang dan tidak ada yang mau menolongnya. Itu sebabnya ketika pertama kali gue melihat Elin gue seperti melihat Lily dan timbul rasa kasihan, semuanya gue lakuin untuk kesembuhan Elin, tidak perduli gue habis-habisan tabungan gue untuk memberikan pengobatan untuk dia, asal dia kembali ceria seperti dulu." Arya benar-benar membuktikanya hingga detik ini.
Arya benar-benar ikhlas dengan apa yang sudah dia lakukan. Elin sendiri makin penasaran sepertinya Arya menyimpan rahasia sesuatu. Wanita itu malah makin menajamkan telinganya mencari tahu apa yang kiranya terjadi.
"Terima kasih karena loe sudah berada di garis terdepan untuk membantu Elin dan keluarganya berapa uang yang loe keluarkan untuk pengobatan Elin, gue akan ganti semuanya. Karena Elin seperti ini karena ulah gue." Lexi tahu untuk pengobatan Elin tidak lah murah itu sebabnya dia mau bertanggung jawab atas kesalahanya.
Arya justru tetawa dengan renyah. "Gue kalau mau diganti uang-uang yang telah gue keluarkan, gue tidak akan memeras loe yang miskin, gue akan memeras Philip yang hasilnya pasti lebih gede, tetapi bukan materi yang gue inginkan Lex. Gue hanya ingin melihat senyum di wajah Elin. Wajahnya yang dulu rusak karena air keras yang Lucas siramkan. Membuat wajah dia rusak sebagian, siapa pun yang melihatnya mungkin tidak akan mau melihatnya karena mengerikan." Arya sangat yakin bahwa pasti Lexi tidak akan tahu kalau Elin mengalami luka cacat pada fisiknya karena ulah Lucas. Yang mereka tahu gimana saat ini wajah Elin mulus dan cantik kembali, apakah kalau Elin tidak menjalani operasi Lexi akan menerima Elin dengan semua kekuranganya.
"Maksud kamu? Tapi bukanya Elin itu wajahnya masih sama saja seperti dulu," ucap Lexi pandanganya dialihkan untuk menatap Elin yang masih tertidur dengan miring, dan tanpa mereka sadari Elin tidak benar-benar tidur, tetapi sedang mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Itu karena Elin menjalani pengobatan di luar negri tepatnya dengara K untuk operasi pelastik di wajahnya. Siapa yang tega melihat wajah dia cacat, dan pasti juga dia tidak nyaman dengan wajahnya, belum pandangan orang-orang tentang wajahnya." Dengan sengaja suara Arya di kecilkan tetapi Elin masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Apa untuk operasi di negara K itu juga uang-uang dari kamu. Mengingat untuk operasi wajah itu biayanya tidak sedikit?" tanya Lexi semakin penasaran, begitu pun Elin dalam batinya dia juga makin penasaran dengan apa yang akan Arya katakan. Ini sebenarnya yang sudah lama Elin tunggu-tunggu, penasaran dengan siapa yang jadi donor untuk biaya operasi dirinya.
Meskipun Elin sudah yakin kalau donaturnya adalah Arya, yah dia meskipun diam saja, tetapi dari cara berbicaranya ia adalah orang yang melakukan donatur itu.
"Bahkan aku harus berpura-pura jadi donatur agar Elin mau menerimanya, karena pada kenyataanya kalau tidak berpura-pura menjadi donatur untuk membantu wanita itu dan papahnya itu sangat sulit," lirih Arya. Mereka belum sadar kalau sejak tadi obrolan antara dirinya masih di dengarkan oleh Elin.
Deg!!! Jantung Elin seolah berhenti berdetak, ketika mendengar ucapan Arya. Sebenarnya Elin pun sudah menduga kalau yang menjadi donatur adalah orang terdekatnya, tetap rasanya bukan Arya yang notabenya Arya sendiri tidak begitu terlalu terlihat mencolok kekayaanya, tetapi tebakan Elin salah ternyata Arya adalah sultah berkedok sebagai seorang dokter.
"Berapa uang yang loe keluarkan untuk membiyayai semuanya?" tanya Lexi lagi dengan suara yang lirih, tidak mau kalau Elin mendengarnya.
"Untuk apa? Di ganti? kan gue udah bilang gue ikhlas untuk melakukan ini semua. Kalau gue tidak ikhlas mungkin gue akan berkata jujur siapa donatur itu, yang sampai sekarang Elin juga tidak tahu siapa yang membantu pengobatnya," jawab Arya dengan santai, tetap tidak mau membocorkan biyayanya.
"Bukan, ingin membantunya, tetapi aku hanya ingin tahu berapa kira-kira uang yang loe keluarkan." Lexi pun sama ingin tetap tahu berapa kira-kira uang Arya yang dikeluarkan.
"Tetap saja kalau tahu loe pasti bakal ganti."
Sementara Elin yang mendengar perdebatan ini semakin tidak tahu kenapa orang-orang tidak mau uangnya diganti padahal kan lumayan. Itu pikiran Elin.
"Apa sampai sepuluh?"
Arya menggeleng. "Hanya lima," balas Arya dengan santainya.
"Lima ini lima juta, atau lima berapa," gumam Elin, tetapi ia juga merasa rasanya tidak mungkin kalau lima juta, atau pun lima ratus juta.
Lexi mengerutkan keningnya. "Hanya lima milliar? Rasanya tidak mungkin pasti lebih lah," ucap Lexi tidak percaya.
"Tetapi kenyataanya gue hanya mengeluarkan uang segitu," balas Arya dengan santai. Sementara itu Elin dadanya lagi-lagi sesak ketika tahu berapa jumlah uang yang di keluarkan Arya yaitu lima milliar.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong uang lima milliar seperti apa?" gumam Elin, yang jelas rasa senang dirinya bisa bertemu Arya yang tidak pernah perhitungan.
#Uang lima milliar seperti apa Kira-kira yah? Othur juga gak tahu Lin...