
Eric tidak bisa tenang ketika menunggu ke pulangan putrinya, Yah seharusnya Elin pulang satu jam yang lalu. Itu sesuatu perhitungan dia, tetapi entah apa alasanya, sampai detik ini Eric belum melihat batang hidung putrinya. Padahal Eric sudah tidak sabar bagaimana kira-kira wajah putrinya setelah menjalani oprasi wajah di negara yang maju itu. Eric sangat penasaran sebab Elin selama di sana berkomunikasi tidak mau untuk melakukan panggilan video. Katanya untuk kejutan.
Entah sudah berapa balik Eric berjalan dari ujung pintu rumahnya ke ujung pintu yang lain, terus saja seolah laki-laki itu sedang mencari jarum yang hilang, padahal pikiranya sudah mengatakan kalau mungkin saja perjalanan macet dan itu sebabnya Elin telat sampai rumah.
"Kok tumben macet sekali Dok?" tanya Elin, sama halnya dengan Eric, Elin juga merasakan tidak sabar ingin buru-buru sampai rumahnya.
"Iya Lin, di depan ada perbaikan jalan makanya padet banget jalanan, mana kebetulan kan pas jam pulang kerja jadi makin macet deh," jawab Arya, karena terlalu fokus dengan jalanan sehingga Arya tidak mengetahui kalau Eric sudah menghubunginya entah beberapa kali.
Marni pun yang kelelahan, pulas tertidur di samping Arya. Apalagi ia selama di dalam pesawat tidak bisa tidur sama sekali.
"Kamu istirahat dulu ajah tuh kayak Marni dia udah pules ajah kealam mimpi," ucap Arya sembari mengelus rambut Marni. Hatinya bergetar, baru kali ini Arya memperlakukan Marni sedekat ini, biasanya mereka hanya saling sapa dan tidak ada interaksi yang dekat. Apalagi sampai mengelus rambutnya.
Namun makin kesini Arya makin berpikir, bukan hanya kasihan tetapi sadar ketika Marni sekian lama bisa menjaga cintanya dan mencoba menghadirkan laki-laki lain dalam hatinya, tetapi pada pilihan terakhirnya memilih melepaskan laki-laki itu dan memilih sendiri untuk mengejar cintanya pada Arya bukankah itu sudah membuktikan bahwa Marni adalah wanita yang baik, dan setia.
"Elin, nggak bisa tidur Dok, Elin mah di pesawat sepanjang penerbangan tidur terus, dokter Marni yang tidak tidur jadi, pasti kecapean, kalau Elin kebalikanya kekenyangan tidur," ujar Elin, dengan terkekeh samar.
__ADS_1
"Pengalamanya di sana gimana?" tanya Arya mencair kan suasana. Karena Elin yang tidak mengantuk bukankah lebih baik di habiskan dengan bercengkrama.
"Seru, dan pastinya tidak ada duanya. Untung ada dokter Marni yang bisa bahasa sana, dokter Marni memang juara, sehingga kalau ada penjelasan dari dokter beliau yang terus menjelaskan sama Elin, tidak hanya itu dokter Marni juga merawat Elin benar-benar baik. Entah gimana Elin bisa balas kebaikan dokter Marni nantinya." Pandangan mata Elin tertuju pada wanita yang masih tertidur pulas dengan rambut yang lurus dan diikat seperti ekor kuda.
"Dia memang baik, mungkin kamu sama seperti aku yang baru sadar kalau dia baik, dan entah kenapa aku dari dulu seolah tertutup sehingga aku tidak tahu kebaikanya," balas Arya, yang ia pun sama pandanganya dari tadi mencuri pada wanitanya.
Yah dia dan Marni sudah resmi berpasaran berati kurang lebih selama satu bulan, Niat Awal memang untuk menawarkan kerja sama, di mana Arya ingin kalau Marni mendampingi Elin dengan melakukan perawatan, dengan imbalan mereka akan menjalin kasih. Tentu Marni yang memang sudah memiliki perasaan dengan Arya langsung menyanggupinya.
Namun sepertinya sekarang Arya juga sudah mulai bisa menerima Marni untuk menjadi pendampinya. Setelah hampir satu bulan ini Arya berkomunikasi intensif dengan kekasihnya, dan sifat dewasa Marni membuat Arya kagum, terlebih Arya tahu gimana perjuangan Marni yang notabenya bukan berasal dari keluarga kaya raya, tetapi justru keluarga dia yang bisa, tapi dia menunjukan kegigihanya hingga ia bisa menjadi dokter sepesialis kulit, tentu bukan waktu yang singkat untuk melngambil pendidikan seorang dokter, dan juga bukan uang yang sedikit ketika ia harus mengambil pendidikan sepesialis.
"Ngomong-ngomong dokter Arya bukanya mau nikah sama dokter Marni, kira-kira kapan. Nanti jangan lupa undang Elin yah."
Setelah melewati jalanan yang cukup padat, karena ada perbaikan jalan dan juga mereka bertepatan dengan jam pulang kantor sehingga jalanan dua kali lebih padat. Kini mereka sudah hampir sampai di rumah Elin.
"Akhirnya Lin kita sudah sampai juga," ucap Arya ketika kendaraan sudah memasuki perumahan tempat Elin tinggal.
__ADS_1
"Iya Dok, perasaan deg-degan banget Dok, tangan keringatan, kayak mau ketemu siapa ajah. Papah reaksinya nanti gimana yah lihat wajah Elin?" balas Elin tidak kalah deg-degan.
"Pasti senang, karena kamu sekarang lebih cantik lagi," balas Arya, memang benar hasil dari oprasinya tidak mengecewakan, alias semuanya berhasil, dan juga kalau dilihat dari yang dulu, sekarang wajah Elin lebih cantik.
"Ah dokter Arya bisa ajah kalau bikin Elin senang memang."
Kini mereka pun sudah sampai di gang rumah Elin, dan Elin terharu ketika melihat papahnya terlihat cemas sekali dengan kepulangan Elin. Apalagi Eric sudah cemas sekali menunggu mereka. Namun, begitu ia melihat mobil Arya berjalan berlahan menuju rumahnya wajah panik Eric berubah menjadi wajah bahagia, karena itu tandanya anaknya tidak apa-apa dalam perjalanan pulang.
Elin di dalam mobil mencoba menetralkan perasaannya ini benar-benar di luar dugaan dia, di mana dia merasakan sangat deg-degan seolah ia akan bertemu dengan presiden atau sang idola. Entah sudah berapa kali Elin menghirup udara agar tidak deg-degan. Meskipun Elin juga tahu bahwa pasti bukan dirinya saja yang deg-degan papahnya juga pasti lebih deg-degan dan was-was, gimana hasil selama Elin menjalani pengobatan, terlebih Elin selama menjalani pengobatan, Elin sama sekali tidak mau menggunakan vidio call, dengan alasan ingin memberikan kejutan kepada papahnya dan sekarang adalah waktunya ia akan memberikan kejutan pada papahnya dengan wajah barunya.
Elin turun lebih dulu dari mobil untuk menemui papahnya. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera memeluk papahnya.
"Mar... Marni bangun. Ini udah sampai." Arya menepuk pundak Marni yang masih terbuai dialam mimpi, sepertinya dokter Marni memang terlihat sangat cape, hingga tidurnya nyenyak sekali.
Setelah Arya mencoba membangunkan beberapa kali, akhirnya wanita yang duduk di bangku penumpang samping pun menggeliatkan tubuhnya tanda ia akan bangun.
__ADS_1
Matanya di sipitkan untuk mengetahui di mana saat ini mereka berada, pandanganya yang masih remang-remang mencoba menatap lurus kedepan.
"Ini udah sampai?" tanya Marni, suara serak khas bangun tidur dan penampilan rambut yang sedikit acak-acakan, membuat Arya menyunggingkan senyum, hampir saja Arya kelepasan tertawa dengan keras ketika melihat kekasihnya rambutnya kayak mak lampir.