Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Cinta Berselimut Dendam #Episode 184


__ADS_3

Eric dan Elin saling menatap, ketika melihat perubahan wajah Darya. Mereka takut kalau suatu hal terjadi pada Darya lagi, mungkin semacam depresinya kambuh. Eric mengusap tangan Elin agar wanita hamil itu tidak bersedih.


"Mamah cuma sedih, keingat kembali pada Lucas, mungkin kalau ada dia kebahagiaan kita akan semakin sempurna. Mamah ingin kita bahagia seperti ini dan ada Lucas di tengah-tengah keluarga kita." racau Darya, dengan pandangan menunduk dan jari tangan yang saling meremas, mungkin wanita paruh baya itu juga cemas dengan kondisi putranya.


Deg!!! Seketika kunyahan Elin terhenti wajahnya langsung berubah dan selera makanya langsung hilang. Eric pun tahu perubahan wajah Elin, dan Eric hanya mengusap tangan Elin dan memberikan kode kalau semuanya akan baik-baik saja. Eric yakin kalau apa yang Darya rasakan adalah murni rasa kangenya pada putranya.


Tidak bisa di pungkiri Eric sendiri juga di saat momen seperti ini ada perasaan rindu dan ingin mereka berkumpul dan saling bercerita satu sama lain, tetapi Eric bisa menahanya demi perasaan putrinya, berbeda dengan Darya yang mungkin ia lupa kalau Lucas dan Elin itu terlibat ketegangan.


"Mah, ini nasinya tinggal sedikit lagi di habiskan yah." Eric mencoba mengalihkan fokus Darya, terlebih ketika laki-laki paruh baya itu melihat ada alirah butiran bening di pipi Darya, sedangkan Elin sudah menunduk. Lagi-lagi Eric yang serba salah dalam situasi seperti ini.


Darya buru-buru mengerjapkan kedua bola matanya. Punggung tanganya menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Hidung yang memanas dan juga perasaan yang tidak menentu, wanita paruh baya itu mencoba menghela nafas panjang.


"Maafkan Mamah Sayang, gara-gara Mamah kamu jadi sedih," ujar Darya sembari mendekat ke samping Elin dan memeluk putrinya yang sedih.


"Ini bukan salah Mamah, takdir Elin yang memang buruk," lirih Elin, ia pun bingung mau menyalahkan siapa.


Elin menatap ponsel yang berbunyi. Untung ada panggilan masuk, sehingga Elin bisa terhindar dari ketegangan ini, sedikit melegakan hatinya.


"Siapa Pah?" tanya Elin, ketika Eric menlirik siapa gerangan yang telpon.


"Jia..."Eric  menyerahkan ponsel Elin pada putrinya, biarkan Elin yang mengangkatnya. Darya dan Elin pun kembali terlihat tenang setelah bocah usia menginjak tiga tahun itu dengan celotenya menyapa tante dan omanya.


"Tante, Oma, Kia kangen..." Senyum bahagia terlihat dari wajah Zakia, berbeda dengan Jiara yang masih merasakan ketegangan, terlebih hingga malam Arya tidak juga menghubunginya, dan Arya juga tidak cerita dengan apa yang kira-kira terjadi di kantor polisi selanjutnya.


Jiara sudah menduga dengan yakin, kalau paska ia meninggalkan kantor polisi ada keributan di dalam sana. Hingga Arya marah dan kecewa pada Jiara.


'Apakah aku akan menceritakan masalah ini pada Elin dan Papah,' batin Jiara ia sudah tidak tenang, bahkan untuk menatap Elin ia merasakan takut.

__ADS_1


[Tante, Oma dan Opa juga kangen banget, besok deh kita sempatkan main ke rumah sakit. Akhir-akhir ini sibuk Sayang sampai tidak sempat bermain ke rumah sakit,] balas Elin dengan perasaan bersalah.


Meskipun ia sangat benci dengan Lucas, tetapi setiap melihat wajah Zakia dia tidak bisa membencinya. Justru Elin sangat sayang dengan ponakannya itu.


[Tidak Tante, Oma jangan ke lumah sakit, besok Kia sudah boleh pulang. Kia akan pulang baleng Bunda,] ucap Zakia senyum bahagia di wajahnya tidak kunjung berhenti. Ini adalah kebahagiaan yang luar biasa. Bahkan bocah kecil itu sudah membayangkan ia bisa jalan-jalan tanpa selang yang selalu menempel di tubuhnya.


Elin dan kedua orang tuanya sangat terkejut dengan kejutan yang Zakia katakan.


[Jia, apa yang Kia katakan itu betul?] Eric mengambil alih ponselnya.


[Betul Pah, hari ini sudah keluar hasil pemeriksaan keseluruhan Zakia yang kemarin dilakukan, dan dokter mengatakan kalau besok Kia sudah boleh pulang,] jawab Jiara, wajahnya masih tegang, takut kalau mertuanya serta iparnya akan marah dengan dirinya atas kecerobohan mulutnya.


[Terus kalian akan pulang ke mana?] tanya Eric lagi. Ia ingin kalau Jiara dan Zakia juga tinggal di rumah ini, tetapi ia juga belum izin dengan mertuanya. Apakah Philip akan mengizinkan dirinya untuk tinggal di sini atau tidak.


Jiara nampak diam sejenak, [Sepertinya ke apartemen Pah,] balas Jiara dengan raut wajah yang sedih, ketika ia harus merawat putrinya seoraang diri, papahnya yang kondisinya juga masih sakit fisik dan ingatanya masih belum kembali. Bahkan untuk saat ini Jiara sendiri tidak dibolehkan untuk menjenguk papahnya, hal itu karena kondisi Bima yang daya pikirnya kembali sering marah-marah. Untuk pengobatan saja harus di ruang khusus dan terisolasi hanya orang tertentu yang boleh masuk ke dalam ruanganya.


[Nanti Kia mau main sama Tante dan juga Oma, dan Opa tiap hali,] oceh Jiara yang nampak sangat antusias sekali.


Elin pun ikut berbahagia, tetapi justru Jiara nampak semakin tidak enak hati, dalam hatinya masih memikikan gimana kalau Elin sampai tahu kalau rahasia yang Arya katakan jangan sampai Lucas tahu, malah sama dirinya di bocorkan.


Mereka pun masih terus melanjutkan obrolanya, dan Zakia pun sangat antusias dan bahagia sekali ketika mereka akan tinggal bersama keluarganya. Dia tidak harus bersedih karena tinggal di apartemen yang nantinya akan sepi karena tidak ada temanya.


******


Lucas nampak lesu, terutama setelah kedua temannya pergi. Kini ia terkurung di dalam jeruji besi, bukan kesedihan itu saja yang ia rasakan, tetapi nasihat Arya tadi benar-benar menusuk hatinya. Ia tidak pernah terpikirkan selama ini, kalau ia akan terhukum dengan apa yang ia buat selama ini.


"Elin... Kenapa harus dia adalah sodara kembarku. Kenapa dia bukan anak pelakor saja," gumam Lucas, hatinya sakit sekali ketika ia harus tahu kenyataan ini. Wanita yang sangat ia benci ternyata sodara kembarnya tinggal satu rahim dalam waktu yang sama pula.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan agar dia memaafkan aku? Apa ada sodara yang paling kejam di dunia ini selain aku?" Lucas malam ini benar-benar tidak selera makan, bahkan ia tidak mau makan barang satu suap pun. Dia seolah menghukum dirinya dengan apa yang telah ia lakukan. Mungkin laki-laki itu berpikir kalau ia melakukan protes pada tubuhnya Elin dan keluarganya akan memaafkan.


"Kenapa harus ada fitnah seperti ini. Kenapa harus aku yang kena fitnah ini. Kenapa harus wanita itu (Tamara) mati duluan, Andai wanita itu belum mati mungkin aku akan membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri," lirih Lucas, ia masih ingat setiap kata yang Arya katakan.  Meskipun Philip juga ikut menyebarkan berita palsu, tetapi tidak mungkin ada cerita ini semua tanpa Tamara.


Lucas terus meratapi nasibnya, nasib Elin, papah dan juga mamihnya. Kenapa di saat keluargaku kumpul dan meraih bahagianya aku justru menghancurkanya. Lucas memegang dadanya sebelah kiri. Rasanya sangat sakit ketika ia mengingat kejadian-kejadian yang ia lakukan pada Elin.


Bukan hanya dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, kepalanya juga ikut berdenyut dengan sempurna ketika ia mencoba mengingat apa yang malam itu terjadi, tangisan Elin, jeritan dari bibir mungil Elin, tatapan matanya, dan permohonan Elin yang meminta belas kasih, dari Lucas agar membenbaskanya. Laki-laki itu bingung kenapa ia bisa sangat kesal  dan sangat marah ketika mendengar ucapan Elin, malam itu. Seharusnya ia memiliki ikatan batin dengan Elin.


"Bahkan aku tidak tahu apa itu ikatan batin," lirih Lucas, semakin ia mengingat itu semua hatinya semakin sakit, ia hanya bisa duduk termenung menatap ke tahanan lain yang sudah pulas tertidur. Sementara Lucas jangankan tidur baru mencoba memejamkan mata, bayangan malam kejadian itu melintas kembali diingatanya.


"Apa seperti ini yang dulu Elin rasakan, rasanya untuk tidur saja ketakutan. Kalau ini karma, aku ikhlas Tuhan, aku benar-benar ikhlas," lirih Lucas dengan suara yang serak, sejak tadi ia diam tenggorokanya sangat sakit seolah ia sedang makan biji kedongdong.


"Sudah lama aku membayangkan kalau suatu saat aku memiliki keluarga yang utuh, kasih sayang Papah dan seorang Mamih, tetapi kenapa saat hari itu tiba aku justru terhukum dengan kesalahanku. Apa Engkau tidak mengizinkan aku untuk bahagia Tuhan," jerit Lucas dalam batinya.


Detik berganti menit, menit berganti jam Lucas tidak sama sekali memejamkan matanya. Cape? Yah, tubuhnya sesungguhnya cape dengan yang ia lakukan hanya merenungi kesalahan, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa apa setiap ia ingin istirahat dan memejamkan matanya, suara tangisan Elin terdengar.


"Elin, aku berharap suatu saat kamu bisa memaafkan aku. Aku akan menebus semua kesalahan aku. Aku akan menebus semua yang sudah aku perbuat sama kamu," racau Lucas.


"Untuk Papah. Pah maafkan Lucas, pasti Papah sangat kecewa pada Lucas. Papah pasti sangat kecewa dengan Lucas karena seharusnya Lucas bisa melindungi Elin, tetapi justru Lucas mengahncurkan Elin. Maafkan Lucas, Pah. Andai Tuhan mengizinkan kita bertemu aku ingin merasakan pelukan Papah," lirih Lucas, tanpa terasa kedua matanya menghangat, dan butiran bening menetes di pipinya.


Sudah lama ia memimpikan gimana rasanya memiliki papah dan di peluk oleh sosok papah tetapi di saat impianya terwujud ada papah yang mungkin juga menginginkan memeluknya harus terhalang dengan kesalahanya yang fatal.


"Bahkan aku membayangkan wajah kalian sangat ketakut. Kalian terlalu baik sampai detik ini, tetapi kenapa aku justru menjadi manusia paling jahat untu kalian. Pasti Mamih kecewa denganku." Lucas sendiri membayangkan gimana keadaan kakeknya saat ini. Marah, kecewa, tetapi juga kasihan itu yang Lucas rasakan saat ini.


"Elin, Papah, dan Mamih. Tolong maafkan Lucas. Hukum Lucas sesuka kalian tetapi setelah ini Lucas harap kalian bisa memaafkan anak yang kejam ini."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2