Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Permintaan Elin


__ADS_3

Elin dan Eric masih terlibat obrolan, hanya saling bertukar cerita dan saling menguatkan yang selama ini Elin dan papahnya lakukan, selama Elin di rawat di rumah sakit. "Pah kalau Elin tidak mau kita pulang ke kampung, kira-kira Papah bakal marah atau tidak?" tanya Elin dengan hati-hati. Ia baru keingat ucapan Arya yang meminta agar ia dan papahya tidak kembali ke kampung tempatnya selama ini tinggal.


Eric nampaknya terkejut dengan pertanyaan putrinya. Tumben Elin seperti ini sedangkan biasanya Elin akan ikut apapun yang Eric putuskan, tidak pernah dia membantah apapun yang sudah menjadi keputusan Eric, tetapi kali ini Elin meminta negosiasi. Pasti ada yang membuat putrinya memutuskan ingin tetap tinggal di sini.


"Apa yang membuat kamu ingin tetap tinggal di sini, setelah semua yang kamu alami? Papah memutuskan ini semua karena Papah ingin melindungi kamu, tidak lebih dan tidak ada niatan lain," jawab Eric, laki-laki paruh baya itu masih sangat trauma dengan kejadian penculikan itu. Eric juga apabila di minta memilih, ia akan tetap memilih untuk tetap tinggal disini. Sama halnya dengan perasaan Elin, Eric juga merasakan nyaman berada di tempat ini, baik lingkungan dan juga laki-laki itu merasa semakin dekat dengan cinta sejatinya.


Elin menunduk, memainkan jari-jarinya yang lentik. "Elin betah di sini, Elin juga betah kerja di rumah sakit itu, Elin ingin tetap melanjutkan  kehidupan Elin, tanpa terus-terusan tergantung dengan Papah, kalau kita tinggal di kampung, Elin merasa selamanya akan tergantung dengan Papah. Soal keamanan dan kejadian malam itu. Dokter Arya mengatakan bahwa dia akan bantu menjaga Elin. Elin yakin dengan dokter Arya makanya Elin ingin tetap tinggal di sini," jawab Elin dengan lantang.


"Dokter Arya yang minta kamu tetap tinggal di sini?" tanya Eric, dengan pandangan menelisik gerak-gerik putrinya.


Elin mengangguk dengan lemah. "Elin percaya kalau dokter Arya juga bisa melindungin Elin seperti Papah melindungi Elin, tidak hanya itu Elin juga merasa kalau di kampung Elin kurang aman. Elin berharap kalau Papah bisa mempertimbangkan kembali apa yang sudah Papah putuskan, dan bukanya Papah perah bilang kalau jodoh maut dan juga rezeki sudah diatur oleh Allah sehingga Elin yakin di mana pun Elin berada kalu sudah ajal kita akan tetap datang, benar begitu bukan Pah?" tanya Elin, besar harapan Elin kalau papahnya bisa memikirkan kembali apa yang Elin inginkan.


Eric mengelus rambut putrinya, rambut yang indah karena menuruni dari istrinya, Rya. Tubuhnya yang sedang duduk di atas kursi di depan jendela ruangnya, di tarik ke dalam pelukanya di mana saat ini Eric sedang berdiri di samping putrinya.

__ADS_1


"Kamu yakin dokter Arya bisa melindungi kamu?" tanya Eric mungkin jawaban dari Elin bisa menjadi pertimbanganya untuk memutuskan tetap tinggal di sini, atau kembali pindah ke kampung, tempat tinggalnya dulu.


"Elin yakin, dokter Arya sudah seperti kakak bagi Elin, jadi Elin merasa bahwa dokter Arya memang bisa melindungi Elin." Jawaban yang Elin beri adalah hasil pertimbangan yang benar-benar sudah gadis itu pikir dengan baik-baik.


"Baiklah kalau begitu, nanti Papah akan pikirkan kembali keputusan Papah, dan juga Papah akan bertanya pada Allah keputusan terbaiknya. Tetap tinggal di sini atau justru di kampung kita dulu. Karena sebaik-baiknya keputusan adalah jawaban dari Allah," balas Eric, ia tidak ingin salah mengambil keputusan.


Elin mengangguk dengan semangat, setidaknya papahnya mau mendengarkan keluhanya dan mau mempertimbangkan kembali yang sudah menjadi keputusanya. Elin yakin Papahnya akan mempertimbangkan apa yang jadi kemauan Elin.


"Mulai nakal yah," ucap Eric sembari meninggalkan Elin untuk menghampiri petugas rumah sakit dan mengambil jatah makanan Elin.


"Pah..." rengek Elin mulutnya di tutup dan kepalanya di gelengkan serta sorot matanya mengiba, agar Eric tahu anaknya sudah sangat kangen dengan makanan yang di olah oleh Eric dengan bumbu cinta.


"Nanti yah, sekarang makan pakai ini dulu, nanti kalau ada yang gantian nungguin kamu papah akan pulang untuk masak, makanan untuk kamu, sekalian Papah nemuin warga dan Pak RT yang sudah bantu cari kamu, sampai sekarang mereka masih tidur di depan rumah kita untuk nunguin rumah kita takut ada yang jahat katanya. Makanya Papah pengin nemuin mereka untuk mengucapkan terima kasih secara langsung," terang Eric, sembari tanganya menyuapi putrinya dengan makanan yang kata Elin selalu mengeluh tidak enak.

__ADS_1


"Kita bersyukur banget yah Pah, di mana pun kita tinggal kita selalu dapat orang-orang yang sayang dan peduli sama kita," balas Elin, mulutnya akhirnya mau makan juga setelah di bujuk dan tentunya di janjikan akan di masakan oleh Papahnya. Elin berharap dokter Arya akan datang secepatnya dan menggantikan Papahnya jaga, sehinga Eric bisa pulang dan memasakan makanan untuk dirinya. Bahkan saking kangenya dengan masakan olahan dari papahnya, wanita itu sudah terbayang-bayang enaknya makan malam nanti, dengan menu makanan yang mengundang selera.


"Itulah rezeki yang Allah berikan sangat baik untuk kita." Tangan Eric terus menyuapkan jatah makan Elin, hingga tanpa sadar makanan pun habis, meskipun beberapa kali Elin mengeluh kenyang dan kenyang, tetapi berkat Eric yang pandai untuk mengalihkan obrolan, lama kelamaan makanan habis tanpa Elin sadari.


"Sayang ini sudah mau masuk waktu Ashar, papah mau sholat di masjid kamu tidak apa-apa kalau Papah tinggal?" tanya Eric, putrinya yang tadi menyarankan agar papahnya sholat di masjid, jamaah dengan yang lainya. Kali ini Elin sudah merasa tenang, karena Arya mengatakan kalau Lucas maupun Lexi tidak akan datang lagi kesini. Sehinga Elin tidak harus merasa cemas ketika suara pintu di buka, karena hal itu sudah pasti petugas rumah sakit kalau tidak Arya.


"Tidak apa-apa Papah, Elin yakin tempat ini aman kok," balas Elin dengan yakin. Dia ingin melihat pemandangan luar rumah sakit dari balik jendela.


Eric pun akhirnya meninggalkan Elin sendirian di ruanganya, tetapi tentu sebelumnya sudah menitipkan pada penjaga yang tidak jauh dari ruangan Elin. Ia tetap saja masih tidak begitu percaya meninggalkan putrinya sendirian di rungan rawatnya.


Setelah menitipkan putrinya pada petugas yang berjaga, Eric baru bisa tenang, dan bisa khusu mengadukan nasibnya, dan meminta bantuan pada pemilik kehidupan.


Entah berapa banyak untaian doa yang Eric langitkan untuk kehidupanya dengan putrinya. Laki-laki itu juga selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pengambilan keputusan. Termasuk sebelum ia memutuskan pindah ketempat ini.

__ADS_1


__ADS_2