Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 140


__ADS_3

"Gimana?" tanya Raka, di mana ternyata Tamara tidak langsung pulang setelah diusir oleh security. Wanita ular itu masih berusaha untuk menguhubungi suaminya, dan ia sangat yakin kalau security itu hanya mengada ada. Tidak mungkin Philip yang cinta mati itu menceraikanya, dan tidak mengizinkan dia pulang.


Tamara membuang nafasnya kasar dan meletakan ponselnya dengan lemas.


"Nomornya tidak aktif," lirih Tamara dengan pasrah, pikiranya  langsung kalut. "Gimana kalau kakek tua itu memang benar akan menceraikan aku? Aku belum siap hidup menjadi gelandangan." Tamara tampak melamun membayangkan nasibnya yang akan berubah dratis mulai malam ini.


"Lah emang kamu ajah yang bingung, aku juga bingung kalau kamu tidak ada uang lagi gimana aku bisa memenuhi kebutuhanku," batin Raka, tidak kalah bingung dengan Tamara. Terlebih selama ini Raka memang selalu mengandalkan Tamara untuk memenuhi kebutuhanya.


"Kita pulang dulu, masalah itu besok bisa kita pikirkan lagi. Saat ini sudah malam, waktunya istirahat," lirih Raka, mencoba mencoba menghibur kekasihnya. Tamara pun mengangguk dengan pasrah. Meskipun ia mengangguk tetapi dalam otaknya Tamara sedang bingung setidaknya gimana cara mengambil barang-barang berharganya kalau dia sendiri tidak bisa masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Raka, bagaimana kalau aku memang benar-benar dicerai oleh Philip dan juga barang-barang berhargaku surat-surat berharga dan lain sebagainya ada di dalam rumah itu," ucap Tamara. Mungkin kalau Philip akan membagi hartanya sebagian dia tidak akan sepusing ini, setidaknya ada yang bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhanya setelah menyandang status jandanya.


"Kamu tenang dulu ajah Sayang, kita akan cari idenya bersama-sama, dan kita akan pastikan kalau laki-laki itu tidak bisa menceraikan kamu," ucap Raka dengan mengusap pundak kekasih gelapnya.Tamara pun mengembangkan senyumnya setidaknya dia tidak terlalu bersedih kalau ada Raka.


"Kira-kira yang melaporkan hubungan kita siapa yah?" tanya Tamara. "Apa mungkin security yang melaporkan hubungan kita. Tapi kenapa baru melaporkanya saat ini sedangkan hubungan ini sudah berlangsung hampir sepuluh tahun," lirih Tamara, tidak mungkin Philipp tahun hubungan mereka tanpa ada yang melaporkan.


"Seharusnya kalau sudah lama seperti ini kamu sudah banyak mengumpulkan pundi-pundi harta yang sebanding dengan Philip," balas Raka, ini karena mereka terlalu nyaman dan santai sehingga tidak memikirkan kalau perselingkuhanya akan terbongkar.

__ADS_1


"Phillip memang cinta sama aku, tetapi apabila soal harta dia akan sangat sulit untuk mengerluarkanya, dia memberikan hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Harta dia sebagian masih atas nama mantan istrinya yang meninggal itu, dan tentunya jatuh ketangan anak dan cucunya," jelas Tamara itu yang pernah Phillip beri tahukan soal harta-hartanya.


Tanpa terasa mereka pun sampai di rumah Raka dan untuk sementara Tamara akan tinggal di rumah Raka, rumah itu yang ia dapatkan karena memanfaatkan Tamara. "Kamu istirahat dulu soal hubungan kamu dengan Phillip semoga hanya pertengkaran biasa, hanya salah paham, nanti setelah kamu jelaskan semoga saja laki-laki tua itu bisa mengerti. dan kamu memang hanya bisa hidup bersama dirinya." Raka mencoba menenangkan Tamara.


"Tapi kalau ternyata ketakutan aku terjadi gimana? Aku tidak bisa hidup dengan uang-uang Philip Raka. Sejak aku bisa masuk ke dalam kehidupan laki-laki itu aku bisa merubah perekonomian keluargaku, dan aku juga bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kamu, dan sekarang semua itu terancam hilang semua. Kamu juga pasti bingungkan kalau aku jatuh miskin karena di tendang oleh laki-laki tua itu," ucap Tamara dengan tatapan yang sinis.


"Kenapa kamu jadi membawa-bawa aku, bukanya kamu sendiri yang datang padaku untuk menawarkan kerja sama dan aku rasa wajar-wajar saja kalau aku mengharapkan imbalan dari kerja sama kita. Aku bekerja dan kamu memberikan bayaran itu sangat masuk akal," balas Raka yang terpancing dengan ucapan Tamara.


"Aku tahu Raka, kalau kerja sama kita memang menguntungkan untuk aku dan kamu. Aku hanya sedang berpikir apa jadinya kalau Phillip sudah tidak membukakan pintu maaf lagi untuk aku," lirih Tamara. Bahkan wanita itu tidak bisa berpikir untuk dirinya sendiri. Pikiranya terlalu buntu dengan nasibnya kedepan nanti.


Raka pasti akan jadi gelandangan kalau Tamara bercerai dengan sugar dadynya. Selama ini hanya itu sumber penghasilan laki-laki itu kalau benar-benar terjadi perceraian. Mau makan apa dirinya dan juga keluarganya yang selama ini bergantung pada dirinya.


Dirogohnya ponselnya dan tanganya dengan lihai mengirimkan pesan untuk teman-temanya agar membantu permasalahanya itu. Raka dengan lancar menceritakan permasalah yang membelitnya. Ide-ide bermunculan dari para temanya selama ini.


Bibir Raka melengkung sempurna setelah satu ide yang masuk dalam rencananya. "Sepertinya memang aku harus menggunakan cara ini."


********

__ADS_1


"Minum Dok." Eric menyodorkan kopi yang ia buat untuk Diki.


"Rencanaya Om Eric selain menikahi Nyoyah Darya apa?" tanya Diki, dia sebagai dokter pribadi untuk Darya tentu akan memantau setiap hari perkembangan pasienya yang bisa di bilang saat ini sudah sembuh, tetapi untuk jaga-jaga Diki akan datang setiap hari untuk mengecek yang mungkin saja terjadi pada Darya tanpa disadarinya.


"Tidak ada Dok, lebih kejalani ajah dengan ikhlas dan mengikuti takdirnya. Ingin sebenarnya tidak tinggal di sini lagi tetapi tidak bisa, orang-orang secara tidak langsung sudah ada di sekitar sini semua. Jadi mau tidak mau Om dan keluarga akan tetap tinggal di sini dan bahagia dengan hidup sederhana. Tidak ingin hidup terlalu dibebani," jawab Eric dengan santai. Yah, kini laki-laki paruh baya itu tidak memiliki rencana apapun ia hanya mengikuti hidupnya seperti air mengalir.


"Diki dukung dengan apa yang Om lakukan yang terpenting bisa kumpul."


Seterlah bercerita ringan dan juga mulai dengan yang berat kini Diki pun pamit untuk pulang." Om Diki pamit yah, dan nanti kalau terjadi apa-apa dengan nyonya Darya langsung infoin Diki saja."


"Pasti Dokter. Om terima kasih yah selama ini sudah merawat Darya dengan sangat baik tanpa dokter Diki mungkin Darya belum sembuh." Ucap Eric sangat terharu setelah tahu kalau Diki merawat istrinya lebih dari sepuluh tahun.


"Sama-sama Om, semuanya sudah jadi tanggung jawab Diki, dan soal sembuhnya nyonya Darya itu bukan karena Diki, tetapi karena keluarga yang sangat perduli," balas Diki.


Andai bukan karena Eric dan keluarga yang lainnya mungkin sampai saat ini Darya juga belum sembuh. Karena dukungan keluarganya sehingga Darya mengalami perkembangan yang sangat pesat.


Andai semuanya bertemu lebih cepat dari saat ini, mungkin Darya sampai sekarang sudah hidup bahagia, tetapi terlepas dari semuanya. Takdirnya memang mungkin baru saat ini Darya diizinkan  untuk sembuh oleh Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2