Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Kesedihan yang Mendalam


__ADS_3

Arya langsung berlari kearah Eric, ketika laki-laki paruh baya itu jatuh pingsan ketika melihat kondisi putrinya. Tubuh kekar Arya mengangkat tubuh Eric dan di letakan di atas sova yang cukup besar.


"Papah, Dok, apa Papah tidak apa-apa?" tanya Elin dengan sedih. Menyaksikan papahnya sampai syok seperti ini melihat kondisi dirinya, yang terluka tidak berdaya di atas ranjang pansien.


Arya tersenyum kearah Elin, setelah memeriksa Eric. "Kamu jangan khawatir, Papah kamu tidak apa-apa, beliau hanya syok melihat kondisi kamu yang sangat memprihatinkan seperti ini, tapi sebentar lagi juga bangun. Aku tidak bangunkan dengan rangsangan bau-bauan yang menyengat, biarkan saja Papah kamu sadar dengan sendirinya. Mungkin juga tubuh Papah kamu butuh istirahat, tetapi kamu enggak usah cemas, semuanya baik-baik sajah, Ok.


Elin membalas senyum Arya, "Terima kasih yah Arya. Aku tidak tahu harus bagaimana  membalasnya, aku hanya bisa ucapkan terima kasih kepada kamu, tetapi aku sangat berharap kalau kamu adalah kakak aku yang sebenarnya bukannya Lucas," lirih Elin, sengaja di bikin sepelan mungkin takut papahnya mendengar obrolan mereka.


"Dan aku juga berharap, kamu adalah adik perempuan aku yang sudah meninggal karena kecelakaan," balas Arya, dengan senyum tipisnya.


"Dokter punya adik perempuan?" Tanya Elin sedikit terkejut, dia baru tahu karena Arya yang baru mengatakanya, barusan.


Arya mengangguk, "Sebelum semuanya kembali lagi ke pangkuan Tuhan. Adikku, Lily meninggal karena kecelakaan dan itu sangat memukul keluargaku, terutama ibuku yang paling dekat dengan Lily, maklum dia anak perempuan satu-satunya. tetapi dia juga yang ternyata paling di sayang oleh Sang Penciptanya. Meskipun kejadian itu sudah lama, tetapi aku masih berharap Lily akan kembali ke keluarga kami." Arya bercerita sepenggal kisah adiknya, tetapi berhasil mengiris perasaan hati Elin. Yang mana itu tandanya Arya sangat sayang dengan adik perempuanya, sedangkan Luson justru sangat membencinya. Senyum getir selalu menghiasi wajahnya ketika teringat dengan kakak tirinya itu. "Apa sebegini mengerikanya memiliki sodara tiri?" batin Elin.


"Maaf yah Dok, aku jadi membuat kenangan yang seharusnya, sudah kamu lupakan malah aku korek kembali, maaf. Aku tidak tahu," ujar Elin dengan wajah menyesalnya.

__ADS_1


"Hahaha... kamu santai sajah, aku kuat untuk menghadapi ini semua, itu kalau kamu juga mau bertahan dan berjuang untuk papah dan kalau kamu mau berjuang untuk aku, sepupu kamu." bisik Arya, mungkin saja Eric mendengar obrolan mereka.


Elin mengangguk, sebagai jawaban kalau dia mau berjuang untuk kesembuhanya, untuk papah dan untuk Arya, yang kekeh mengaku sepupunya.


"Elin... Elin... Elinnnn..." lirih Eric, menginggo, yah Eric seperti mengiggo.


"Om, bangun! Elin menunggu Om," bisk Arya di telinga Eric yang masih di ambang kesadaranya.


Eric perlahan membuka kedua matanya, dan mengedarkan pandanganya yang masih terlihat remang-remang. "Elin mana?" Tanya Eric dengan suara seraknya, sedangkan tanganya memegang pelipis kepalanya yang mungkin saja masih setengah pening.


Eric mencari sumber suara yang sangat ia kenal, tubuhnya dipaksa bangun dan tertatih menghampiri Elin. Laki-laki paruh baya itu langsung meraih tangan Elin yang sebelah kanan dan menciuminya terus menerus dengan kebisuan. Air matanya luluh, ia tidak bisa berkata apa-apa. Cukup lama Eric menciumi tangan Elin, yang seperti ia lakukan ketika Elin masih bayi. Arya yang melihat pun tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Laki-laki berumur tiga puluh tiga tahun itu pun bisa menilai bagaimana sayangnya Eric terhadap putrinya.


"Te... terima kasih Ndok, sudah bertahan untuk papah. Terima kasih masih bisa kuat untuk sampai di sini. Papah takut tidak bisa memeluk kamu lagi, papah takut tidak bisa mencium kamu lagi. wangi tubuh kamu disaat kamu bayi masih teringat jelas diingatan papah, papah tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Terus kuat dan bertahan untuk Papah yah Nduk." isak Eric masih mencium tangan Elin.


"Elin, akan terus kuat, karena Papah adalah kekuatan Elin," balas Elin dengan suara beratnya, dan mencoba tetep tegar, agar Eric juga tidak melow.

__ADS_1


"Maafkan Papah Yah Ndok, karena Papah yang telat jemput kamu, kamu sampai seperti ini. Maaf kan Papah. Papah gagal menjadi orang tua yang seharusnya selalu melinduungi kamu, papah lalai."


Tatapan Eric terus memperhatikan tubuh putrinya yang banyak lebam dan juga wajah yang terpasang perban hampir menutup sebagian wajah cantiknya. Eric tidak tahu apa yang terjadi dengan putrinya, tetapi Eric tahu putrinya mengalami ketakutan yang luar biasa ketika kejadian itu. "Maafkan Papah, Papah tidak ada ketika Elin membutuhkan perlindungan. Seharusnya Papah ada untuk Elin, sehingga anak Papah tidak mengalami ini semua." Eric memegang tanda merah berkas tanda kepemilikan yang Lexi tinggalkan di leher Elin yang terbuka dan itu sangat jelas. Eric bukan orang kemarin sore yang tidak tau tanda itu. Ini bukan perkara laki-laki atau perempuan, ketika buah hatinya di perlakuan tidak manusiawi air mata adalah ungkapan kesedihanya. Eric menangis seolah ia sedang mengungkapkan ke marahanya.


Hancur hati seorang papah yang dengan penuh kasih sudah merawat dan membesarkan anak, tetapi ada orang yang tidak tahu diuntung membuat hidup putrinya hancur seperti ini. Marah, kesal, kecewa dan benci. Ingin Eric memaki pada takdir, pada diri sendiri yang telat menjemput anaknya. dan apa akibatnya. Masa depan putrinya hancur.


"Mana yang sakit sayang, bagi sakitnya sama Papah, biarkan papah mengganti sakit Elin, semua ini karena salah papah. Papah yang bersalah telah telat menjemput Elin, sehingga Elin mengalami ini semua. Bagi sakit Elin untuk papah," lirih Eric suaranya parau dan berat. Arya pun ikut terhanyut dalam kesedihan ini.


"Sakit Elin sudah sembuh, ketika papah datang. Semua bukan salah papah. Papah tidak salah, ini semua sudah menjadi takdir Elin." Yah, ini bukan salah papahnya, tapi ini memang sebagian rencana Lucas.


Arya memindai penampilan Eric yang terlihat sangat religi, dan sabar, penyayang. Rasanya benar kata Elin, mana mungkin papahnya selingkuh. Arya semakin penasaran dengan kisa masa lalu Eric yang sepertinya misterius.


Eric memeluk tubuh putrinya yang bagi dia masih sama seperti dua puluh delapan tahu yang lalu, dia masih bayi. Eric kembali terisak dibalik tubuh Elin yang ia peluk. "Apa mereka membuat putri Papah ketakutan?" lirih Eric.


"Semuanya sudah berlalu Pah, Elin hanya ingin terus bersama Papah. Elin ingin terus bersama-sama dengan Papah, sampai ajal yang memisahkan kita." Elin tidak ingin mengingat malam kelam itu yang tanpa ampun Lexi menggagahinya sampai ajal hampir mengampirinya.

__ADS_1


"Apakah dua laki-laki itu akan terus mrmbuat kami sengsara?" batin Elin selalu di selimuti ketakutan itu.


__ADS_2