Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Wanrna #Episode 142


__ADS_3

"Sayang kamu cantik sekali," lirih Lucas yang sudah selesai mendandani putrinya itu. Yah, dengan dibimbing oleh Jiara, Lucas belajar mengikat rambut putrinya dengan ikatan dua yang simpel, tetapi sangat cantik untuk Zakia.


"Iya, kata Bunda. Kia cantik sama kaya Bunda, iyakan Bun?" oceh Zakia dan hal itu berhasil membuat pipi Jiara memerah. Lucas pun tersenyum bahagia dengan kebahagiaan ini, setidaknya  dia bisa merasakan bahagia memiliki keluarga meskipun ini mungkin hanya sementara.


"Kalau gitu kita mau jalan-jalan dulu atau foto-foto dulu?"tanya Jiara mengalihkan obrolan mereka pipinya sudah semerah tomat, apalagi dengan tatapan Lucas dirinya semakin salah tingkah.


"Foto dulu Bun, tapi nanti kalau jalan-jalan foto lagi boleh?" tanya Zakia bahkan kepalanya sampai  menengleng ke kiri saking semangatnya.


"Eh... tapi Papah belum mandi nih. Gimana kalau Papah mandi dulu?" ucap Lucas sambil mengangkat tanganya dan hidungnya diienduskan ke bagian ketiak. "Heh... bau acem." kekeh Lucas, daan Zakia pun terkekeh dengan renyah.


"Uh, bau...(Zakia menutup hidungnya) Sana-sana Papah mandi dulu biat tidak bau acem..." usir Zakia dengan mengibaskan tangan yang tidak ada selang infusnya.


"Bunda udah mandi belum?" tanya Zakia sisa tawanya masih jelas terlihat di wajah cantiknya.


"Udah dong Sayang, Bunda mandi sebelum sholat Subuh," jawab Jiara dengan suara yang sedikit pelan.


"Tuh contoh Bunda, Papah lajin. Papah tidak sholat?" tanya Zakia kebetulan Lucas belum beranjak ke kamar mandi dirinya sedang menunggu pakaianya yang diambil oleh Alvi.


Lucas tertawa  dengan getir. "Hehehe... Papah tidak bisa sholat Sayang, kan Papah bobo bareng Kia," jawab Lucas dengan rasa yang sedikit malu, dirinya yang tidak mengenal agamanya, dan diingatkan oleh putrinya.

__ADS_1


"Bunda, masa Papah udah besal tidak bisa sholat." adu Zakia sama Jiara yang berada di sampingnya.


"Tidak apa-apa nanti kita belajar bareng-bareng yah," jawab Jiara dengan mengelus rambut putrinya, dan selanjutnya kedua mata Jiara dan Lucas saling bertemu dan senyum tipis tersunggung di bibir Jiara. Sementara Lucas semakin dibuat tidak bisa berkutik dengan posisinya.


Ingin dia menjerit dan meminta pada Tuhan agar saat ini juga takdir berhenti dan dia bisa menikmati hidup bersama keluarganya. Biarkan hidup dengan kesederhanaan yang terpenting dia bisa berkumpul seperti hari ini bersama anak dan istrinya. Namun laki-laki itu juga sadar bahwa apa yang menimpanya adalah bagian dari apa yang ia tanam di masa lalunya. Lucas sadar betul bahwa hidupnya sejak  dulu sudah sangat jauh dari kebaikan, dunianya yang gelap dan tidak penah memiliki belas kasih membuat Lucas semakin tergulung dengan gelombang dosa yang besar dan saat ini ia tengah terombang-ambing dengan gelombang dosa itu.


"Mas, kamu mandi saja, biar nanti saya yang mengambil pakaian kamu ke depan kalau Alvi sudah sampai sini," ucap Jiara, suaranya yang lembut berhasil membawa dirinya yang sedang terbawa emosi pada dirinya sendiri berhasil terreda. Lucas menatap Jiara yang wajahnya terlihat santai.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya," ucap Lucas dan di balas anggukan oleh Jiara.


"Sayang Papah, mandi dulu yah," ucap Lucas sebelumnya memberikan kecupan pada putrinya yang semakin pintar, dan hafalan suratnya makin pintar, itu bisa Lucas dengar semenjak dirinya menginap dengan Zakia dan Jiara di mana di sela-sela kegiatanya, putrinya itu beberapa kali terdengar apalan surat pendek, dan doa, dan ketika ia lupa, akan buru-buru bertanya pada bundanya, dan Jiara pun dengan sabar memberitahukan bacaan yang benar atau mnengoreksi bacaanya, kalau ada yang salah maka Jiara akan langsung menyambung dengan bacaan yang benar.


"Ok, buluan yah Papah, Kia tidak sabar ingin buru-buru  jalan-jalan," oceh gadis kecil yang sudah rapi dengan sendal baru yang di berikan oleh Elin.


Jiara yang melihat pun langsung menundukan pandanganya. "Mas pakaian ada di paper bag di atas nakas," ucap Jiara dengan pandangan mata masih menunduk. Wanita itu akui tubuh Lucas memang idaman dirinya dan wanita kebayakan lain. Bentuk perut yang sixpack menambah maco laki-laki yang menyandang suami untuknya.


"Ih Papah malu," ucap Zakia dengan menujuk sang papah yang hanya tertutup dengan kain selembar yang cukup pendek.


"Cium nih..." kekeh Lucas dan sang anak pun menutup pipinya yang akan dicium oleh Lucas, lagi-lagi Zakia tertawa dengan nyaring, entah berapa kali gadis itu tertawa dengan lepas karena dirinya yang sangat bahagia dengan kebersamaan ini.

__ADS_1


Setelah semua beres dan Lucas pun sudah makin tampan dengan pakaian santai celana pendek cardinal dan kaus sudah terlihat tampan, tentu minyak wangi sebagai pelengkap.


"Papah udah siap, apa kita akan foto sekarang?" tanya Lucas mendekat pada Zakia dan Jiara yang sedang belajar mewarnai.


"Ayo Bunda." Zakia langsung menyingkirkan gambarnya yang akan dilanjutkan nanti. Begitupun Jiara beberapa kali jepretan mereka ambil untuk koleksi pribadinya, dan seperti yang Zakia katakan untuk kenang-kenangan. Lucas memperhatikan foto-foto yang hampir memenuhi galerinya. Di mana Zakia tampak bahagia sekali, dan satu foto di mana Zakia di tengah dan Jiara serta lucas mencium pipi Kia masing masih dan Kia sendiri tertawa bahagia. Foto yang paling bagus momenya itu Lucas langsung gunakan sebagai walpaper ponselnya.


Dia tidak berani menggunakan foto mereka di sosial medianya karena untuk menjaga prifasi anak dan istrinya. Terlebih dirinya banyak menjadi incaran orang-orang dalam bisnis yang gelap, bahkan mungkin keselamatanya sendiri saja sedang menjadi incaran seseorang. Itu sebabnya Lucas tidak mau ada yang tahu anak dan istrinya biar mereka aman.


Setelah berfoto mereka pun jalan-jalan santai dan berjemur di taman rumah sakit. Siapa pun yang melihatnya mungkin iri dengan keluarga mereka, di mana Lucas juga terlihat sangat melindungi dan menyayangi putri dan istrinya, sepanjang acara jalan-jalan baik Zakia maupun Jiara terus tertawa dengan lepas, dan mereka pun sesekali mengabadikan  momen indah itu dengan ponselnya.


"Papah, Bunda, duduk perdua di sana, nanti Kia foto yah," oceh Zakia yang sedang melihat hasil foto-fotonya, di mana kebanyakan foto bertiga dan juga foto Zakia yang tengah sendiri, dan gadis kecil itu tidak melihat ada foto bunda dan papahnya berdua.


Lucas dan Jiara pun kembali terlibat kontak mata, dan lagi-lagi mereka tidak bisa menolak, Zakia pun mulai menujukan kepiawaianya untuk mengambil gambar papah dan bundanya yang berpose dengan romantis.


Bibir Zakia tersungging dengan sempurna. "Apa Kia sudah senang?" tanya Jiara sembari mendekat pada Zakia, yang sedang melihat gambar hasil fotonya.


"Senang Bunda. Terima kasih Papah dan Bunda sudah ngikuti kemauan Zakia." Suara isakan samar terdengar dari anak itu, dan Lucas pun datang untuk memeluk mereka.


"Kita masuk yuk, sinar matahari sudah sangat panas," ucap Lucas sembari tanganya melepaskan pelukan anak dan istrinya.

__ADS_1


"Ayok, Kia juga ingin bobo, cape," ucapnya, Lagi-lagi ketika mau di gendong, anak kecil itu menolak dan memilih bergandengan berjalan. Dirinya bergandengan dengan Jiara dan Lucas bagian membawa infusnya, dengan langkah yang pelan dan pasti keluarga bahagia itu pun kembali ke ruangan Zakia.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan arah sepasang mata mengawasi kegiatan mereka pagi ini. "Keluarga yang bahagia."


__ADS_2