
"Jia, Arya kalian ada di sini?" tanya Eric yang baru saja keluar dari ruangan cucunya, hendak menjalankan kewajibannya diwaktu Magrib.
"Iya Pah, sedang membahas kesehatan Kia yang alhamdulillah semakin bagus. (Wanita itu memang berbohong dengan pembahasan mereka, tetapi ada doa dari kebohongannya itu, siapa tahu memang Zakia benar-benar makin sembuh.) Apa Kia tidak rewel?" Jiara beranjak dari duduknya lagi pula ia sudah selesai mengobrol dengan Arya, pembahasannya sudah selesai, dan juga wanita itu sudah tahu apa yang terjadi dengan suaminya.
"Kia tidak rewel sedang bermain dengan Omanya, Papah mau ke mushola dulu untuk jamaah," balas Eric, dan di balas anggukan oleh menantuntunya. Jiara pun pamit untuk kembali ke ruangan putrinya.
"Om, tunggu!! Arya ikut," pekik Arya, ketika Eric sudah melangkah beberapa langkah. Meninggalkan dirinya. Eric pun membalik dan terlihat senyum teduhnya. Ia senang karena Arya mengikut juga ke mushola untuk ibadah. Namun tujuan Arya memanggilnya tentu bukan hanya ingin beribah saja, tetapi pasti ada yang ingin laki-laki itu sampaikan.
Kini Arya dan Eric pun berjalan bersamaan menuju tempat ibadah, dan mereka juga terlibat obrolan ringan, sekedar candaan, yah mereka sering melakukan ini. Bahkan kalau yang belum tahu mereka mungkin akan berkata dan akan menduga kalau memang Eric dan Arya itu seperti anak dan ayah. Mereka tidak akan segan untuk sekedar bercanda baik serius ataupun candaan receh.
"Om nanti setelah sholah kita ngobrol dulu yah," sela Arya ketika mereka baru selesai bersuci. Eric menatap Arya dengan penuh tanya.
"Ada apa Dok, kenapa Om lihat seperti ada yang sangat penting," cecar Eric dengan jiwa penasaran dan meronta-ronta.
"Nanti aja yah, biar lebih bebas kita ngobrolnya." Arya dan Eric pun langsung mengambil tempat masing-masing untuk mengadu pada Rabnya. Setelah memanjatkan doa, Arya pun lebih dulu keluar dan memilih duduk di emperan tempat ibadah dan menghadap ke taman yang tidak terlalu luas.
Ehemzzz... Eric berdehem, dan mengambil duduk di samping Arya, yang tengah melamun.
"Biasanya Dokter Arya itu kalau sedang begini itu sedang ada yang ingin dibicarakan seriuz, ada apa kira-kira Dok?" tanya Eric, sembari menyenderkan punggungnya pada dinding.
"Benar Om, ada yang ingin Arya sampaikan ada dua kabar satu kabar yang mungkin kurang mengenakan untuk di dengar, dan satu lagi pastinya kabar yang sedang Om Eric tunggu-tunggu sejak lama," jawab Arya, laki-laki itu lebih semangat dan lebih yakin dan dan nyaman ketika berbicara dengan Eric, karena orangnya lebih dewasa dan pastinya bisa diajak komunikasi dengan baik. Yang pastinya tidak emosian seperti Lucas.
Sehingga Arya sampai bingung dan heran kenapa Eric bersifat baik seperti ini, dan memiliki anak yang kelakuanya sangat berbanding terbalik dengan papahnya. Lucas selalu senang membuat masalah.
"Apa ini ada kaitanya dengan Lucas?" tanya Eric, laki-laki paruh baya itu pun seolah sudah hafal betul kalau setiap Arya berbicara serius maka ada sangkutanya dengan putranya.
Arya membuang nafas kasar, dan Eric pun langsung paham bahwa memang yang terjadi dengan anaknya bukan masalah yang ringan.
"Maaf kalau anak Om lagi-lagi membuat masalah," lirih Eric dengan suara yang parau.
"Om Eric tidak usah merasa bersalah, karena Lucas seperti ini bukan kesalahan Om yang salah mendidiknya, tetapi memang Philip yang memulainya, dan didikan dia yang dari dulu memang bebas sehingga membuat Lucas menjadi orang yang sangat sulit dinasihati. Jujur Arya sekarang sudah senang dengan perubahan Lucas yang sangat banyak berubah bahkan tidak lagi banyak marah-marah seperti dulu. Bahkan sekarang Lucas sudah sering menghubungi Arya meskipun sekedar tanya masukan, sangat jauh dengan dulu. Setiap Arya nasihati pasti berujung pertengkaran dan pengusiran," celoteh Arya menjeritakan sifat-sifat Lucas dari dulu sampai sekarang.
"Om itu senang dengarnya, tapi apa kira-kira yang membuat Arya ingin berbicara dengan Om?"
__ADS_1
"Lucas saat ini sedang di penjara."
Eric sendiri langsung mengangkat tubuhnya yang semula bersandar di dinding mushola. "Apa... apa maksud ucapan dari yang Dokter Arya katakan?" tanya Eric dengan terbata, terkejut dan pastinya tidak percaya.
Cukup lama Eric mencerna kembali ucapan Arya. "Apa yang anak Om lakukan sampai dia bisa di penjara?" tanya Eric dengan mimik wajah yang tegang dan sangat sedih.
"Om tenang saja, Lucas tidak melakukan kesalahan apa-apa kok, dia melakukan ini karena untuk kebaikan semuanya. Arya pun pertama kali mendengar berita ini sangat kecewa dengan Lucas,bahkan Arya sempat benjanji tidak akan membantu dia lagi, tetapi setelah mendengarkan kasus yang menimpanya. Arya mau tidak mau harus membantu dia, karena semua ini demi kebaikan semuanya. Sama seperti Jiara tadi begitu mendengar kabar kalau Lucas di penjara dan kemungkinan tidak bisa menemui Zakia, dia juga kecewa berat, bahkan suaranya langsung parau menandakan kalau dia akan menangis, tetapi setelah Arya jelaskan keadaan Lucas pada akhirnya. Jiara pun tidak lagi kecewa, dan dia mengerti keputusan Lucas."
Arya melihat wajah Eric sudah tidak setegang tadi. Itu tandanya kalau Eric pun bisa mengerti tindakan Lucas, meskipun Arya belum melanjutkan ceritanya.
"Om yakin Lucas itu sebenarnya anak baik, tapi entah apa yang membuat dia menjadi seperti ini."
"Betul Om, Lucas sebenarnya dia sudah ada kemauan untuk berbuat baik buktinya saat ini dia rela berkorban demi melindungi keluarganya Arya yakin kalau suatu saat nanti dia bisa meninggalkan sifatnya yang buruk itu."
Arya pun menceritakan apa yang terjadi pada Lucas, sama persis seperti tadi Arya menceritakanya pada Jiara, dari mulai Arya dituduh melakukan pembunuhan berencana sampai Tamara yang tebunuh. Arya menceritanya dengan detail bahkan dia tidak meninggalkan cerita Lucas sedikit pun.
"Tunggu Arya, kamu bilang tadi yang terbunuh adalah Tamara? Dan juga Tamara adalah istri dari Philip? Apa Tamara adalah teman Darya?" cecar Eric, ia lebih terfokus dengan wanita bernama Tamara.
"Om Eric kenal yang namanya Tamara?" tanya Arya, ia semakin penasaran, apa hubungan Tamaran dan Tante dan Om-nya.
"Apa ini ada kisah masa lalu Om dan Tante, soalnya Kakek Philip pun mengatakan kalau semua yang dia katakan pada Lucas adalah atas permintaan Tamara, dan berati memang Tamara adalah otak dari semua ini.
"Iyah, Tamara adalah teman akrab dari Darya, bahkan mereka sering menginap bersama, sampai suatu hari Darya memergoki papahnya selingkuh dengan teman sekolahnya itu. Marah dan kecewa. Sampai Darya sering kabur dan lain sebagainya bukan semata karena Om, tetapi karena dia tidak tahan dengan kelakuan teman dan juga papahnya. Yang membuat Darya lebih marah adalah ibunya sampai sakit gara-gara mendengar dan tentunya banyak yang melaporkan kelakukan suaminya, tetapi lagi-lagi Philip menyalahkan sakit istrinya dengan Darya yang kabur-kaburan dari rumahnya. Padahal yang membuat mamahnya sakit adalah perselingkuhan papah dan sahabatnya." Eric menceritakan sedikit dari yang terjadi di masa lalunya dengan Tamara.
Eric tidak menyangka kalau Tamara yang menjadi ibu tiri dari istrinya, dan Eric semakin yakin kalau yang membuat fitnah-fitnah pada Darya adalah Tamara. laki-laki paruh baya itu sangat yakin kalau Tamara adalah orang yang menyebabkan Darya sampai depresi.
"Kalau Arya lihat sepertinya Tamara orang yang sangat jahat."
Eric mengangguk dengan kuat. "Bahkan kalau Om adalah orang yang gampang tergoda, Om juga akan termakan rayuan Tamara. Dua kali wanita itu membuka pakaianya di hadapan Om, dan entah berapa kali wanita itu mengatakan kalau Om telah berkencan denganya pada Darya. Untung Tante kamu terlalu percaya pada Om sehingga wanita itu mengatakan apapun tudik pernah di gubris. Itu juga karena Darya tahu watak wanita itu"
"Kalau gitu baguslah wanita itu meninggal dunia, dari pada hidupnya meresahkan sekali," desis Arya. "Heran kenapa Philip tergoda dengan wanita itu, padahal dia jahat," imbuh Arya, gigi-giginya saling beradu.
"Wanita itu pintar membalikan fakta sehingga Tuan Philip juga pasti termakan kata-kata dia yang manis. Bahkan buktinya beliau sampai membenci Darya dan Om, padahal kita tidak melakukan apa-apa. Kami hanya memilih jalan kita, dan tidak meminta uangnya barang sepeser pun, tetapi selalu di cari kemanapun dan berusaha untuk di pisahkan," eluh Luson dengan semua keras kepala mertuanya, dan juga keserakahan Tamara.
__ADS_1
Arya pun kini mengucapkan syukur karena Tamara terbunuh. Meskipun tidak memungkiri kalau Arya ingin melihat Tamara cemburu melihat keharmonisan keluarga Tantenya, yang selama ini ia buat rusak.
"Lalu apa Lucas ada kesempatan untuk bebas?" tanya Eric dengan harapan yang sangat besar tentunya.
"Lexi sedang dalam perjalanan ke sini, ia siap membantu Lucas mencari masalah ini?" jelas Arya, sebenarnya tidak ingin membuat Eric terpikirkan dengan kedatangan Lexi, laki-laki yang menjadi ayah dari jabang bayi yang dikandung oleh putrinya. Di mana ia adalah laki-laki yang dengan tidak tahu belas kasih memper-kosa putrinya. Yah, meskipun yang Lexi lakukan adalah atas perintah Lucas.
"Tunggu Lexi dia bukanya...."
"Iya betul, dia adalah laki-laki yang menjadi ayah dari anak Elin," balas Arya, tanpa Eric melanjutkan pertanyaanya Arya sudah tahu betul kemana arah pertanyaan dari laki-laki paruh baya itu.
Eric pun termenung ketika mendengar ucapan Arya. "Dok apa yang harus Om lakukan, mengingat Elin juga pasti tidak akan mau dan tidak akan sudi kalau harus bertemu dengan laki-laki itu. Om juga tidak mau memiliki menantu laki-laki seperti Lexi itu," lirih Eric. Dia juga bukan laki-laki baik, tetapi rasanya ia akan sangat bersalah ketika putrinya diperlakukan dengan tidak baik oleh laki-laki lain, dan meninggalkanya begitu saja, dengan rasa trauma, dan sekarang ada anaknya yang sedang Elin kandung.
"Sebenarnya Arya lihat Diki orang baik, dan ingin meminta bantuan dari Diki untuk berpura-pura menjadi suami Elin, karena Arya yakin kalau Lexi tahu Elin hamil anaknya pasti dia tidak akan tinggal diam. Sementara Lexi juga bukan orang yang sembarangan bisnis gelap dia banyak, anak buahnya banyak sangat bisa menculik Elin dan berbuat yang tidak diinginkan. Jadi selain menyembunyikan Elin, sebagainya Elin memiliki pasangan agar Lexi tidak tahu kalau Elin hamil atas kelakuanya," usul Arya.
Egois sih, tetapi hanya ide itu yang melintas di otak cerdas Arya. Hanya Diki yang sangat masuk akan untuk menjadi suami Elin.
Eric nampak diam kembali mencerna ide dari ponakanya tersebut. Ide Arya bagus, tetapi sama saja ia menghilangkan kebahagiaan untuk Diki, apalagi usia kandungan Elin sudah cukup besar menginjak usia empat bulan bukan kandungan yang bisa ditutupi lagi. Bagai mana Diki mau membantunya?
"Tapi, apa Dokter Diki mau membantu Om? Dokter Diki juga memiliki masa depan, Om tidak tega kalau masa depannya direnggut sama Om karena harus menikah dengan Elin, meskipun mungkin menikahnya hanyalah pura-pura, tetapi tetap sama saja akan banyak yang menilai kalau ini benaran," kilah Eric ada rasa tidak tega kalau harus membiarkan Diki menutupi secandal putrinya.
"Kita belum coba berbicara dengan Diki kan, jadi belum tahu dia mau atau tidaknya, tidak masalah kita coba saja dulu, kalau mau berati keberuntungan dan kalaupun tidak mau ya tidak apa-apa, dia berhak untuk mengambil keputusanya, dan itu tandanya kita bisa cari dengan cara lain." Arya selalu percaya diri dan selalu optimis bahwa Tuhan pasti memberikan jalan atas semua masalah yang menimpa hambanya.
"Baiklah nanti Om akan coba berbicara dengan Dokter Diki," jawab Eric, benar yang dikatakan oleh Arya, dia tidak tahu jawabanya apabila belum mencobanya.
"Nanti Arya akan bantu berbicara pada Diki," imbuh Arya, dia tidak tega membiarkan Omnya berbicara sendiri, selain tidak tega dia juga tidak begitu percaya pada Eric, karena pasti dalam segi bicara Arya sudah sangat berpengalaman, sedangkan Eric kadang masih sering kehabisan kosa kata sehingga Arya ragu, malam nanti jadi salah paham.
Eric tersenyum dengan tulus. "Om, sampe bingung mau ngomong apa lagi sama Arya itu, terlalu baik, terima kasih untuk semua yang sudah Arya lakukan. Om tidak bisa benjabarkan kebaikan Arya, tetapi jujur kita semua tanpa Arya tidak akan bisa berkumpul. Mungkin kami akan selamanya terombang-ambing di jalanan tanpa bertemu Darya, dan mamahnya Elin pun mungkin selamanya akan terjebak dalam pemikiranya kalau kita sudah meninggal, dan dia masih terkurung dalam penyesalan."
"Semua Arya lakuin dengan tulus, jujur Arya suka membantu semua ini seolah Arya menemukan kebahagiaan ketika masalah satu-satu terselesaikan. Hati rasanya puas," ungkap Arya. Eric pun membalas dengan senyuman.
"Om tadi adalah kabar yang kurang mengenakan, di mana Lucas di penjara, dan kabar bahagianya apa Om Eric mau dengar?" tanya Arya ini adalah kesempatan Arya untuk bercerita juga mengenai Philip, sembari menunggu waktu untuk sholat isa alangkah baiknya Arya mengatakan semuanya.
Arya sendiri masih merasakan belum tenang kalau Eric belum tahu semuanya. Laki-laki itu benar-benar merasakan kalau Eric itu seperti seorang orang tua untuk dirinya juga. Cara menyikapi masalah Arya selalu salut dengannya.
__ADS_1
Namun justru Lucas sangat berbanding terbalik dengan Eric yang sabar dan tenang. Lucas selalu ceroboh dan juga tidak pernah mau mendengarkan nasihat orang lain, dan tentunya tidak mau kalah.
"Sepertinya pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya sangat tidak cocok untuk Lucas."