Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 218


__ADS_3

Elin nampak membuang nafas kasar. "Huh, padahal aku pengin sekali tahu siapa kira-kira orang baik hati itu yang bersedia mendonorkan hatinya dan mengucapkan terima kasih. Pasti beliau adalah manusia berhati malaikat sehingga mau berbuat baik tanpa diketahui oleh orang lain. Siapa kamu wahai orang baik semoga kamu selalu sehat selalu dan juga selalu dalam lindungan Tuhan. Aku berharap suatu saat nanti kita akan bertemu, dan aku akan mengucapkan banyak Terima kasih,"  balas Elin, dengan wajah yang sedih, karena tidak bisa tahu siapa gerangan orang yang berbaik hati itu.


"Kalau gitu biarkan nanti aku yang mengatakan pada orang itu," jawab Lexi dengan santai.


Deg!! Elin langsung memalingkan pandangannya pada Lexi. "Apa kamu tahu siapa orang itu?" tanya Elin kembali dengan menghentikan langkahnya, di mana saat ini mereka sudah berada di depan ruangan Elin. Tatapan Elin yang sangat mengintrogasi membuat Lexi salah tingkah.


"Maksud aku, biar nanti aku yang mengatakan pada dokter Eka, agar beliau menyampaikan pada pendonor itu, karena yang tahu siapa orang itu hanya dokter Eka," elak Lexi, tetap bersikap sesantai mungkin, tentu agar Elin tidak curiga dengan apa yang dia maksud barusan.


Elin tetap menatap tajam pada Lexi, hingga Lexi salah tingkah, dan terlihat tidak nyaman ketika Elin terus menerus memperhatikanya seolah tidak ingin ada yang terlewat dari Lexi barang sedikit pun. "Tapi, kenapa aku melihat kalau kamu itu tengah menyembunyikan sesuatu, seolah kamu sedang merahasiakan sesuatu rahasia yang besar?" cecar Elin, masih mengawasi setiap gerak gerik Lexi yang terihat tidak tenang.


"Itu hanya perasaan kamu saja, mungkin kamu kalau tidak percaya bisa tanyakan hal itu pada dokter Eka."  Agar tidak di tuntut terus menerus Lexi pun memilih membiarkan dokter Eka yang menjelaskanya. Laki-laki itu yakin apabila dokter Eka yang menjelaskan maka Elin akan percaya.


"Ok, baiklah kali ini aku aggak percaya, dan omongan kamu memang benar, tetapi aku tidak akan pernah memaafkan kamu apabila kamu ketahuan tengah merahasiakan sesuatu," ancam Elin, yang dibalas senyum getir oleh Lexi. Mereka pun kembali ke ruangan Elin setelah Elin mencoba mengerti dan percaya dengan apa yang Lexi katakan.


Sementara Jiara setelah pergi, dari interogasi Elin, di dalam mobil ia masih terus memikirkan Lucas. Perasaanya kali ini benar-benar beda dan berat untuk meninggalkanya. "Sayang mudah-mudahan apa yang aku rasakan saat ini bukan pertanda buruk yah, aku yakin kamu pasti kuat melewati ini semua," ujar Jiara sembari menatap foto Lucas, sesaat sebelum ia menjalani operasi yang sengaja Jiara ambil secara diam-diam.


Wanita itu hanya bisa pasrah dan juga terus menerus berdoa agar Lucas sembuh dan laki-laki itu menepati semua janji-janjinya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup macet dan melelahkan Jiara pun sampai ke rumah mewah kakek mertuanya. Rumah yang kali ini terasa sangat sepi, sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu di mana rumah ini sangat ramai, dengan celoteh Zakia dan kedua mertuanya serta eyangnya Zakia.

__ADS_1


Namun, kini begitu wanita berhijab itu masuk ke dalam rumah mewah itu terasa horor dan juga kurang nyaman. "Ya Tuhan kenapa aku rasayan masuk rumah ini sangat berbeda." Lagi, Jiara bergumam dalam batinya. Hingga lamunan wanita itu terpecah ketika mendengar tangisan Zakia.


"Kia... Kenapa dia." Jiara langsung berlari menuju kamar pribadinya yang berada di lantai dua. Benar saja dugaan Jiara bahwa putri cantiknya tengah menangis.


"Kia... kenapa menangis?" tanya Jiara sembari memeluk putri kecilnya, dan menepuk-nepuk pelan  punggungnya agar bocah kecil itu tidak menangis lagi, dan merasakan nyaman di pelukan sang bunda.


"Sus, Kia kenapa bisa nangis seperti ini?" tanya Jiara kali ini pada kedua suster yang bergantian jaga Zakia dan sangat kebetulan juga dua susternya ada di dalam kamar pribadinya.


"Anu... Nyonyah. Zakia, hari ini sangat rewel, makanya ada Suster Silvi juga ada di sini, itu karena saya kesulitan menenangkan Nona Kia," jawab Suster Titi.


Rasa tidak enak Jiara pun kembali menggunung, ia seolah kembali diserang dengan rasa tidak tenang. Apa yang ia rasakan sejak dirinya ke luar dari rumah sakit kembali menghantui perasaan Jiara.


Cukup lama Jiara diamkan Zakia, untuk mengontrol emosinya yang mungkin saja setelah Zakia mengontrol emosinya ia bisa sedikit bercerita pada bundanya dengan apa yang dia rasakan.


"Kia, apa sudah bisa bercerita?" tanya Jiara dengan tangan masih mengusap-usap punggung bocah kecil itu. Namun, justru Zakia tertidur dengan pulas.


"Sus Titi, memang apa yang terjadi dengan Zakia, kenapa dia bisa nangis histeris seperti itu?" tanya Jiara, kali ini mungkin bertanya pada susternya dulu, berharap menemukan jawabanya, dan nanti baru bertanya pada buah hatinya, kira-kira apa yang ia rasakan hingga ia menangis histeris.


"Saya juga tidak tahu Nyah, Non Kia, tiba-tiba tidak mau dengan saya dan dia juga tidak mau dengan Suster Silvi," jawan Sister Titi dengan jujur dan memang itu yang mereka rasakan Zakia terus meracau hebat, tidak biasanya seperti ini.

__ADS_1


"Apa Suster sudah periksa mungkin dia di gigit serangga atau ada sakit yang di rasakan?" cecar Jiara ulang rasanya tidak mungkin juga buah hatinya tiba-tiba rewel, bisa jadi sakit atau ada serangga yang gigit, atau mungkin dia ada. rasa tidak nyaman karena sakit sesuatu.


Kembali Suster Titi dan Silvi mengatakan bahwa apa yang kemungkinan bosnya katakan tidak terjadi.


"Ya sudah, kalau memang semua tidak mungkin, semoga saja, memang Zakia hanya kangen dengan saya. Kalian bisa lanjutkan dengan pekerjaan lain. Eril baik-baik saja kan?"


"Baik Bu, Eril tidak rewel, malah terlihat ceria."


Jiara hanya membalas dengan anggukan menandakan bahwa ia paham dengan apa yang di katakan suster Silvi dan juga suster Titi.


Jiara yang melihat kalau buah hatinya sudah tidur pulas pun langsung mencoba merebahkanya, dan dirinya akan bersiap mandi, tetapi Zakai justru semakin memeluk erat ketika Jiara mencoba menidurkanya di atas kasur.


"Tidak Papah, Kia mau sama Papah," racau Zakia dengan memeluk dengan kuat leher Jiara seolah Jiara akan meninggalkanya.


Deg!! Jantung Jiara seolah berhenti berdetak, nyeri dengan apa yang dia dengar barusan dari bibir mungil Zakia.


"Kia, ini Bunda bukan Papah," bisik Jiara agar Zakia segera sadar.


"Papah... Kia tidak mau sendili. Kia mau ikut dengan Papah..." Air mata Jiara pun luluh ketika kembali terdengar celoteh bocah kecil itu rasanya sangat sakit dan juga sangat menyakitkan ketika buah hatinya terlalu rindu dengan papahnya sedangngkan sang papah sedang berjuang untuk kesembuhan.

__ADS_1


"Mas.. apa kamu mearasakn kalau putri kita sangat rindu dengan kamu. Sayang kamu harus tahu bahwa setiap malam dan hampir setiap saat Zakia selalu mendoakan kamu. Mas cepatlah sadar kami sangat merindukan kamu."


__ADS_2