Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelukan Hangat Seorang Ibu


__ADS_3

Pukul sembilan Lucas sampai di rumah sakit, berhubung jalanan macet jadi perjalanan yang biasa di tempuh dengan waktu tidak sampai satu jam, malam ini hampir kena waktu ngaret hampir dua jam. Dengan kekuatan uang, di mana biasanya di atas jam delapan maka tidak diizinkan untuk berkunjung ke rumah sakit tempat Darya di rawat, tetapi karena yang datang adalah super rich sehingga semuanya di mudahkan. Sebelum menemui mamihnya yang menurut perawat sudah tidur. Lucas pun menemui Diki di mana ia adalah penanggung jawab atas semua laporan ibunya, dengan semua perkembangan dan kendala dalam pengobatanya.


"Apa ada perkembangan untuk Mamih selama tiga hari aku tidak menemuinya?" tanya Lucas, pada Diki yang sudah siap dengan laporanya.


"Perkembanganya untuk saat ini Mamih Anda sekarang sudah lebih bisa mengalihkan kesedihanya dengan orang sekitar dan tidak terlalu sering melukai tubuhnya sendiri, sehingga beliau sedikit-sedikit tanganya tidak selalu di ikat, tetapi apabila depresinya sudah terlihat akan kambuh maka perawat akan kembali mengikatnya. Mamih Anda juga kemarin beberapa kali sempat menanyakan Anda mungkin beliau kangen dengan Anda Tuan," tutur Diki, melaporkan apa perkembangan Darya, meskipun semuanya belum terlihat banyak kemajuanya, tetapi Diki yakin bahwa cepat atau lambat Darya akan sembuh, hanya butuh waktu dan kesabaran dalam proses penyembuhanya.


"Apa ada kendala di rumah sakit ini, kira-kira perlu tidak Mamih di pindahkan ke rumah sakit lain yang mungkin lebih memadai?" Lucas juga akan menerima masukan dari Diki, apabila memang rumah sakit ini menurut pemantauan dia kurang bagus dalam cara penangananya.


"Sejauh ini saya lihat sudah bagus pelayananya Tuan, dan saya rasa mau dimanapun Nyoyah di rawat yang penting dukungan Anda untuk kesembuhan Mamih Anda, karena saya lihat di bawah alam bawah sadarnya Mamih Anda ingin bersama dengan Anda terus. Beliau akan merasakan seperti kehilangan ketika Anda tidak ada. Jadi sarah saya Tuan, sempatkan Anda datang untuk menemani mamih Anda, biarpun kalian tidak terlibat obrolan tetapi ikatan batin pasti bisa di rasakan oleh nyoyah Ely." Diki berharap setelah ia memberikan masukan seperti itu Lucas akan lebih memprioritaskan kesembuhan mamihnya. Meskipun Diki tahu bahwa kesibukan bosnya sangat banyak.


"Aku terima masukan dari kamu, dan kedepanya aku akan meluangkan waktuku untuk mengunjungi Mamih," balas Lucas, sementara Jiara hanya diam saja berada di samping bosnya. Dalam hati wanita itu ingin izin untuk melihat papahnya tetapi dia juga takuti tidak diizinkan.


"Diki, aku ingin kamu juga ingin kamu sekalian pantau papah dari wanita ini yang kebetulan dia juga dirawat di rumah sakit ini, berikan perawatan yang sama dengan mamih, soal biaya dan gajih kamu nanti saya yang urus. Gajih kamu juga nanti saya akan bayar dua kalilipat. Kalau ada apa-apa dengan pasien bisa hubungi aku,"  ucap Lucas dengan menunjuk pada Jiara dan tentu Jiara kaget dengan ucapan Lucas.

__ADS_1


"A... apa Anda serius Mas?" tanya Jiara dengan mengangkat wajahnya yang dari tadi hanya menunduk mendengarkan obrolan Diki dan bosnya.


"Apa aku selama ini bohong dengan kamu?" tanya balik Lucas, tetapi pandangan tetap pada deretan tulisan laporan atas perkembangan mamihnya selama dirawat di rumah sakit ini. Jiara menggelegkan kepalanya pelan, dan hal itu bisa di ketahui oleh Lucas meskipun laki-laki itu pandanganya masih tertuju pada laporan yang Diki buat


"Terima kasih atas bantuan Anda Mas, saya sangat berharap dengan bantuan dari Anda, Papah bisa sembuh dan kami bisa berkumpul bersama," balas Jiara dengan hati bahagia dan terharu atas kebaikan bosnya itu.  Diki pun meminta Jiara untuk melengkapi data diri Papahnya dan mulai besok dia akan mengurus semua perpindahan kamar rawat papahnya Jiara dan  juga semua keperluanya akan sekera di lengkapi sama persis dengan Darya tanpa di bedakan satu pelayanan pun.


"Kamu boleh temui papah kamu, mungkin kamu kangen nanti ada perawat yang dampingi kamu, aku mau keruangan mamih aku dulu," ucap Lucas membebaskan Jiara untuk menemuai papahnya, sedangkan dia ingin menemui mamihnya yang sudah tiga hari tidak bertemu.


"Anda yakin Tuan akan masuk seorang diri?" tanya Diki, meskipun dia tahu bahwa Darya tidak akan melukai Lucas, terlebih Darya tahu dan sudah mengenali bahwa Lucas adalah anaknya yang ia kenal dengan sebutan Erlan.


Dengan perlahan Lucas duduk di samping ranjang mamihnya, bahkan saking pelanya, sampai wanita yang sedang tertidur dengan pulas tidak menyadari bahwa ada orang lain yang sedang duduk di tempat tidurnya. Hati Lucas seolah tersayat-sayat ketika melihat mamihnya sedang tidur, meskipun wanita paruh baya itu mungkin secara materi tidak kekurangan apapun, tetapi rasanya wajah mamihnya itu memendam banyak derita.


"Lucas tidak terlibat kontak fisik, karena memang Lucas tidak ingin mamihnya bangun Lucas hanya ingin melihat wajah mamihnya di saat tidur, biarpun hanya melihat wajah Darya rasanya hatinya sudah tenang.

__ADS_1


Darya menggerakan kelopak matanya, mungkin ini yang di namakan ikatan batin padahal Lucas tidak sama sekai bergerak dari tadi hanya memperhatikan mamihnya dengan serius, memperhatikan mamihnya yang sekarang terlihat lebih berisi, rambut dan wajahnya juga sudah tidak seperti waktu di kurung di rumah mewah Philips. Darya sekarang lebih terawat dan lebih rapih.


"Kamu siapa?" tanya Darya dengan suara serak khas bangun tidur, tetapi buru-buru Darya seolah tengah mengingat sesuatu. "Erlan mana?" tanya Darya lagi. Wanita yang sedang berada di hadapan Lucas mengamati wajah laki-laki yang ada dihadapanya juga.


"Mamih lupa ini siapa?" tanya balik Lucas, ingin mengetes daya ingat mamihnya.


"Erlan, kamu Erlan kan? Kamu Erlan? Iya..." racau Darya dengan berkali-kali menyebut nama yang menurut dia adalah nama anaknya. Dan itu tandanya Lucas harus terbiasa dengan nama Erlan.


Lucas mengangguk dengan senyum manis yang terkembang. "Mamih kangen dengan Erlan?" tanya Lucas  sembari mencoba merentangkan tanganya agar mamihnya memeluk dirinya.


"Kangen..." ucap Darya dengan balas memeluk putranya. Dada Lucas langsung bergemuruh hebat, rasanya sakit di tubuhnya sembuh seketika, dan juga rasa lemas di tubuhnya juga berganti semangat karena pelukan yang Darya berikan.


"Ya Tuhan berginikan rasanya di peluk oleh wanita yang sudah melahirkan aku," lirih Lucas. "Mamih, Lucas berjanji apapun akan Lucas lakukan asal Mamih sembuh."

__ADS_1


__ADS_2