Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 146


__ADS_3

Sudah dua hari paska Lucas menemui putrinya, dan saat ini Lucas tengah sibuk dengan pekerjaanya, tetapi untuk komunikasi saat ini ia sudah lancar dengan Zakia, sehingga kangenya tidak terlalu seperti kemarin-kemarin. Lucas sangat bahagia, karena pada akhirnya Jiara memberikan izin Lucas untuk menghubungi putrinya kapan pun dia mau.


Bahkan laki-laki itu sehari bisa lebih dari lima kali untuk melakukan sambungan telepon, dan Zakia pun tidak terlalu merengek bertanya kapan papahnya akan datang, setelah tahu kalau pekerjaan papahnya sangat banyak. Saking laki-laki itu banyak pekerjaan hingga ia hampir setiap malam bermalam di kantor, karena terlalu cape untuk pulang dia tidak ada waktu. Lagian ia pulang ke rumah hanya untuk istirahat sehingga Lucas pun memilih beristirahat di kantornya.


Di pikiran Lucas hanya satu di saat ia cepat menyelesaikan pekerjaanya maka ia akan bisa mengunakan waktu liburnya di akhir pekan untuk menemui Zakia, dan menemaninya bermain. Sehingga saat ini tidak masalah dirinya bekerja lebih keras, demi bisa bermain dengan buah hatinya.


Philip pun kondisinya semakin membaik dan saat ini dirinya sudah di perbolehkan pulang dan bisa beristirahat di rumahnya.


Dua hari juga Tamara sudah menghilang, Raka dan polisi sudah beberapa kali datang ke rumah Philip untuk mengecek keberadaan wanita itu, tetapi tidak ada yang bisa menemukan bahwa Tamara ada di rumah mewah milik mantan suaminya.


Dari CCTV yang berada di sekitar rumah Philip menangkap satu nomor kendaraan bermotor dan polisi pun mulai melacaknya. Hingga mereka menemukan titik terang bahwa mobil itu melaju meninggalkan kota Jakarta menuju pingiran kota, dengan mengandalkan CCTV jalanan polisi akhirnya menemukan sebuah titik yang cukup mengejutkan di mana wanita itu sudah terbunuh dengan kondisi yang mengerikan di sebuah gudang tua di pinggir kota, dan lebih terlihat rumah yang terlihat di tengah-tengah hutan.


Dengan beberapa bukti yang diyakini polisi bahwa itu adalah petunjuk yang tanpa sengaja ditinggalkan oleh pelaku polisi membawanya untuk menjadikan itu semua petunjuk. Agar pelaku pembunuhanya segera tertangkap.


Dilain tempat Raka yang masih mencari di mana kekasih gelapnya berada, ia pun langsung mengangkat telepon ketika satu panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


[Hallo apa ini dengan Raka pelapor kehilangan dengan wanita bernama Tamara?} tanya penelepon dengan suara yang berat dan tegas.


[I... Iya benar Pak, saya Raka. Apa kalian sudah menemukan di mana Tamara?] tanya balik Raka dengan suara yang sedikit terbata dan masih setengah kaget, tetapi ada rasa bahagia setidaknya pencarianya tidak sia-sia. Laki-laki itu langsung tahu kalau sang penelepon adalah petugas kepolisian, yang menangani kasus hilangnya Tamara.


[Anda datanglah ke alamat ini, untuk mengonfirmasi apakah wanita yang kami temukan memang Tamara, kekasih Anda atau bukan.] Polisi itu langsung mengirimkan alamat dirinya berada.


Raka langsung melihat alamat yang polisi kirimkan dan tidak menunggu lama dirinya menuju alamat itu. "Tamara, kamu baik-baik saja kan?" gumam Raka, ia sudah merasakan janggal, dan seperti ada yang aneh ketika perjalanan yang ia lalui lebih banyak melewati semak belukar dari pada jalanan yang ramai. Hingga Raka beberpa kali menghubungi polisi untuk memastikan kalau jalanan yang ia tempuh itu benar menuju lokasi mereka berada.


"Tamara apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu?" Raka lagi-lagi bergumam dalam batinya, ia membayangkan yang terjadi dengan Tamara sangat mengerikan.


"Apa dia adalah Tamara?" tanya Raka, dengan suara beratnya dan tersengal, kesedihanya bertambah dan bahkan tubuhnya akan terjatuh ke lantai ketika polisi meminta Raka mengenali jenasah itu.


"Iya ini Tamara, wanita yang aku cari," ucap Raka, masih dengan suara berat dan bergetar. Raka bisa mengenali dengan mudah dari wajah yang sepertinya Tamara meninggal masih baru, pakaian dan juga barang-barang Tamara yang lainya Raka sangat kenali.


Pikiran Raka langsung menju pada Phillip laki-laki yang menjadi suaminya dan juga orang terakhir yang ingin dia temui.

__ADS_1


"Pak, saya yakin kalau pelakunya adalah Phillip suaminya yang terakhir ingin dia ketemui," ucap Raka, memberikan saksi tambahan untuk acuan polisi mencari pelakunya.


"Anda tenang Tuan, biarkan kasus ini kami yang tangani, Anda cukup datang apabila nanti kami butuh bantuan untuk saksi," ucap polisi dan semuanya pun dilakukan olah TKP dan jenasah Tamara di bawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi untuk mengetahu sebab dirinya meninggal dan juga untuk mengetahui pelaku pembunuhan melakukan apa saja pada Tamara.


******


Di lain tempat Philip yang baru pulang dari rumah sakit dan beberapa kali mendapatkan segerombolan polisi yang memeriksa rumahnya dengan tuduhan telah menyembunyikan Tamara, sangat disayangkan karena semua tidak terbukti, sedangkan dirinya saja tidak bertemu dengan Tamara sudah lebih dari empat hari dan itu karena dirinya yang sakit serangan jantung, dadakan karena kabar perselingkuhan istrinya.


"Tuan... Tuan... ini ada polisi telpon katanya menemukan Nyonya Tamara terbunuh di salah satu gudang tua di pinggir kota Jakarta," ucap asisten rumah tangga dengan tergopoh dan memberikan informasi dari yang ia dapatkan.


Philip memijit kepalanya dengan sedikit keras, "Masalah kembali datang," guman Philip, lalu sedetik kemudian ia menghubungi pengacaranya untuk mempersiapkan pembelaan yang mana mungkin saja polisi akan menyangkutkan kasus terbunuhnya Tamara dengan dirinya.


"Siapa pun kalian yang ingin memfitnah aku maka kalian akan tahu akibatnya," gumam Philip dengan jari-jari yang mengepal hebat. Laki-laki tua itu tahu ini ada unsur disengaja agar semua bukti mengarah terhadap dirinya.


"Atau ini salah satu cara untuk menghilangkan bukti atas kasus perselingkuhan Tamara." Pikiran Philip masih terjebak dalam kasus pembunuhan mantan istrinya. Sangat janggal, di mana hanya membutuhkan beberapa hari lagi menuju persidangan tetapi malah Tamara terbunuh, sangat tidak masuk akal dan semuanya terlihat seperti sesuatu yang terencana, meskipun Philip beberapa kali berpikir normal, tetap pikirannya menangkap kejanggalan.

__ADS_1


Philip pun dengan detail dan dengan bukti yang Lucas miliki, menyerahkan kasus ini pada pengacaranya, bukan ia menghindar tetapi kesehatanya menjadi alasan terbesarnya dirinya tidak mungkin bisa menghadapi polisi-polisi yang datang ke rumahnya. Bukan hanya Sandy yang menangani kasus ini tetapi ia juga menambah satu lagi pengaca untuk menyelesaikan kasusnya. Hilmi pengacara muda yang sudah banyak mendapatkan penghargaan menjadi pilihan terakhir Philip untuk mengatasi kasus yang pasti akan menyeret namanya.


__ADS_2