
Arya melirik jam dipergelangan tangannya. Ia sejak tadi tidak sabar menunggu jam makan siang tiba, di mana laki-laki itu di jam makan siang ada janji dengan Lucas. Sepupunya itu sudah berjanji kalau ia akan menceritakan kenapa bisa Zakia gadis cantik berusia dua tahun, oleh laki-laki itu akui sebagai anak kandungnya.
"Marni aku ada urusan dulu dengan Lucas nanti kamu tolong temanin Jiara yah, mungkin dia butuh teman ngobrol," pamit Arya sebelum pergi menemui sepupunya itu.
Marni hanya diam dan mengangguk. "Arya apa Jiara itu ada hubungan dengan masa lalu kamu, mohon maaf bukanya aku cemburu, tapi sepertinya Jiara dan kamu dekat sekali," tanya Marni yang melihat interaksi antara Jiara dan kekasihnya sepertinya sudah kenal lama. Padahal pada kenyataanya Jiara dan Arya hanya terlibat komunikasi hanya beberapa kali saja.
Arya tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Marni, ia lupa kalau Marni juga wanita tanpa adanya penjelasan mungkin Marni mengira kalau Arya memiliki kisah masa lalu dengan Jiara.
"Oh, maaf aku bukan bermaksud curiga sama kamu. Iya nanti aku akan ke ruangan Zakia untuk mengajak ngobrol Jiara." Marni buru-buru mengalihkan percakapanya barusan ketika melihat reaksi Arya yang kaget dan nampak berpikir keras.
Marni buru-buru akan berlalu kembali ke ruangannya, tetapi tangan Arya lebih dulu menahanya.
"Aku juga belum tahu siapa sebenarnya Jiara, aku dan dia baru bertemu tiga kali atau lebih. Tujuanya kali ini aku pergi adalah untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya, tetapi dugaan aku dia ada hubunganya dengan Lucas, sepupu aku sekaligus kakak Elin dan itu artinya anak dari Om Eric. Aku kenal Jiara karena dia pernah menghubungi aku melalui telpon Lucas, dan saat itu Lucas butuh bantuanku. Selebihnya aku tidak pernah bertemu dia lagi, dan baru bertemu lagi pagi ini." Arya menceritakan semua yang terjadi agar Marni tidak salah paham.
Meskipun Marni terlihat biasa saja, tetapi dia juga wanita yang pasti memiliki kadar rasa cemburu yang lebih, dan itu katanya tanda cinta.
"Maaf kalau aku meragukan kamu," balas Marni dengan wajah menunduk, menyesal.
"Tidak perlu meminta maaf, karena kamu memang wajib tahu dengan semua kegiatan aku. Jadi kapan kamu akan ajak aku kerumah kamu," rayu Arya, laki-laki itu yakin kalau Marni pasti akan luluh dengan pertanyaan terakhirnya..
"Kalau aku terserah kamu aja, sesiap kamu dan aku tidak akan memaksa kamu untuk menemui Bunda, kalau kamu belum yakin," ucap Marni, wanita itu tidak mau membebani Arya, apalagi ia juga tahu kalau Arya masih banyak urusan mengenai keluarganya terutama Lucas dan keluarganya. Yang akhir-akhir ini banyak menyita perhatianya.
"Ok, setelah urusan aku dan keluarga Lucas menemukan titik terang, aku akan langsung menikahi kamu. Sabar yah." Arya kembali melepaskan gemggaman tanganya, karena jam makan siang sudah tinggal beberapa menit lagi, kalau Lucas terlalu lama menunggu bisa-bisa laki-laki itu menghadiahkan timah panas di betisnya.
__ADS_1
Marni pun setelah melihat Arya pergi, tersenyum manis, dan wajahnya memerah, dari tadi ia bersikap dingin diam saja padahal dalam hatinya sudah ingin berteriak kencang. Wanita yang masih mengenakan baju tugasnya langsung menyambangi ruangan rawat Zakia, mengikuti apa yang Arya katakan menemani Jiara yang mungkin butuh bantuanya, atau bahkan butuh teman sekedar untuk bercengkrama.
Pandangan mata Arya mengawasi seisi ruangan cafe pelangi yang tadi pagi Lucas dan dirinya membuat janji. laki-laki itu mengintip jam di pergelangan tanganya.
'Bahkan ini sudah lewat jam makan siang, tapi kenapa Lucas belum datang,' batin Arya, sangat berbeda dari biasanya di mana dirinyalah yang selalu berlangganan telat.
Mungkin memang Lucas terjebak macet atau justru laki-laki itu sedang banyak pekerjaan sehingga Arya pun lebih baik menunggu sekalian makan siang. Coffe latte di pesan dan cemilan pengganjal perut juga di pesanya untuk menemani dia menunggu sepupunya.
Sekitar tiga puluh menit Arya menunggu Lucas, dari kejauhan wajah letih Lucas menghampiri Arya. Sangat berbeda dengan Lucas yang biasanya, hari ini sepupunya yang selalu tampil rapih dan sempurna hilang berganti menjadi Lucas yang kusut.
"Apa sebegini parah kehidupanmu sampai penampilamu kacau seperti gembel," ucap Arya memberikan penilaian sebagai ucapan pembuka.
"Mungkin lebih parah dari sekedar tampilan gue hari ini," jawab Lucas dingin.
"Tanpa aku harus melakukan tes DnA aku sudah yakin dan pasti kalau Zakia adalah anak biologisku. Aku dan Jiara sudah menikah."
Uhuk...Uhuk... Arya yang sedang meminum Coffe latte pun langsung terbatuk.
"Loe lagi nggak bercanda kan, kapan loe nikah? Meskipun kalau kawin gue sudah tidak aneh mendengarnya, tapi kalau loe nikah ini baru gue dengar," tanya Arya, bahkan hidungnya terasa panas karena ia tersendak minuman yang sedang diseruput'nya.
Lucas pun menceritakan dari semua yang dia alami bersama Jiara sampai pernikahan yang dilakukan dadakan kemarin, hingga Jiara yang tahu bahwa Lucas-lah yang memperkosanya hingga wanita hamil dan mengasingkan diri dan melahirkan serta merawat anaknya sendiri.
Lucas juga tidak lupa menceritakan kondisi Jiara pada saat ia tiduri dan Jiny yang telah menjualnya, tetapi Jiara tidak tahu hingga semuanya terbongkar malam tadi. Ketika Lucas dan Jiaara akan melakukan hubungan badan untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Arya nampak memijit kepalanya, "Belum juga masalah kamu selesai Lucas, tetapi sekarang loe datang dengan membawa masalah baru lagi, kenapa aku jadi ikut pusing menyelesaikan semua masalah yang di tinggalkan kamu," ucap Arya, sungguh kalau laki-laki itu bukan sepupunya Arya lebih baik memilih tidak kenal laki-laki yang saat ini berada di hadapanya.
"Apa ini yang namanya karma, aku merasa hidupku semakin gelap tanpa adanya cahaya yang menerangi," balas Lucas bahkan untuk bekerja dan mencari hiburan semuanya tidak bisa melupakan masalah yang saat ini di hadapinya, bayang-bayang Jiara yang ketakutannya dan juga Zakia yang polos selalu melintas dipikiranya.
"Kenapa kamu masih bisa tanya, seharusnya tanpa ditanya kamu sudah tahu jawabanya. Dan sekarang masalah mana yang akan loe selesaikan dulu? Semua masalah yang loe buat bukan sekedar masalah tali simpul ditarik langsung lepas. Masalah kamu sudah membulet, kalau ditarik yang ada bukan lepas tetapi justru semakin menyakiti," ucap Arya, memang sebagai anak yang kurang kasih sayang dan pengarahan yang tepat akan meninggalkan masalah di lain hari seperti Lucas saat ini sangat mungkin terjadi.
Terlebih didikan dari Philip yang salah dan pergaulan dengan Lexi yang semakin mendukung untuk Lucas berbuat semakin jauh dari aturan hidup, membuat Lucas semakin tersesat dalam lubang kegelapan.
"Aku tidak tahu, andai bunuh diri semuanya akan selesai. Mungkin cara itu yang akan aku ambil saat ini." Pandangan Lucas semakin kosong, dan hal itu membuat Arya semakin takut kalau Lucas memang benar-benar nekad.
"Jangan gila kamu Lucas, ingat anak kamu butuh Papah yang akan mengantarkanya sekolah juga menjemputnya sekolah, kalau loe bunuh diri yang menggantikan sosok itu siapa," bentak Arya.
"Tapi Jiara saja tidak mau memaafkan aku," balas Lucas dengan frutasi.
"Jiara bukan tidak mau memaafkan kamu, kamu taahu tidak seharusnya kamu sadar bahwa Jiara hanya ingin keseriusan maaf dari kamu. Jiara hanya ingin diperjuangkan oleh kamu. Dia butuh sosok suami untuk bergantian merawat Zakia. Mungkin bukan saat ini semuanya terjadi, mungkin butuh waktu lama untuk memulai hubungan lagi, tetapi bukan tidak ada kesempatan, hanya memang kamu harus membuktikanya Lucas. Buktikan kalau kamu Papah yang baik untu Zakia, dan suami yang bertanggung jawab untuk Jiara." Arya berbicara sedikit meninggi. Mungkin dengan itu Lucas akan sedikit sadar kalau perbuatanya hanya menambah masalah baru.
*****
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Elin dan Lucas, mampir dulu yuk ke karya bestie othor di jamin bikin baper...
Kuy ramaikan...
__ADS_1