Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 152


__ADS_3

"Lexi? Kenapa mesti Lexi? Kalau laki-laki itu bertemu dengan Elin gimana? Kenapa nasib Elin sangat memprihatinkan sekali. Akan semakin sulit Elin untuk bersembunyi dari dua laki-laki ini." Arya menjerit dalam batinya.


"Ar... Kenapa kamu lagi-lagi melamun?" tanya Lucas dengan menepuk pundak sepupunya. "Apa kamu benar-benar sakit kepala. Kalau memang ia kamu langsung pulang saja, tapi sebelumnya kamu hubungi Lexi terlebih dahulu, aku sangat butuh batuan dia," lirih Lucas setelah Arya kembali bisa diajak berkomunikasi denganya, dan tidak lagi melamun.


"Kenapa mesti Lexi, apa tidak ada orang lain yang bisa membantu kamu?" tanya Arya, berusahanya menahan agar Lucas tidak meminta bantuan Lexi. Yang ada dalam pikiran Arya saat ini hanya Elin. Bagaimana Elin nanti kalau memang ia bertemu dengan Lexi, mau bersembunyi kemana lagi Elin untuk menghindar dari Lucas dan Lexi, karena Arya yakin kalau Elin tidak akan siap apabila ia beretemu dengan Lucas maupun Lexi.


"Karena aku hanya percaya Lexi yang bisa membantu aku untuk memecahkan masalah ini. Sama aku percaya juga dengan kamu, tetapi aku lebih percaya kamu untuk menjaga keluargaku. Kamu tolong jaga keluargaku dengan baik, dan jangan terpecah dengan masalah ini. Tetap fokus melindungi mereka, biarkan urusan kasus ini Lexi yang menanganinya. Aku yakin Lexi akan membantu aku," jelas Lucas, tanpa terprofokasi oleh Arya, ia tetap yakin kalau hanya Lexi yang bisa membanunya.


Beberapa waktu Arya diam, karena memang yang dikatakan oleh Lucas itu benar adanya. Kalau Arya harus lebih fokus dengan masalah sendiri, kalau tidak seperti itu tidak mungkin semua ini bisa terbongkar dan mungkin saja, apa yang ditakutkan oleh Lucas terjadi. Yaitu akan ada korban lain selain Tamara.


"Aku bisa saja percaya pada polisi, tetapi aku sendiri masih ragu dengan dugaan aku, dengan kata lain, bukan hanya pembunuhan dan mengincar keluargaku, ada alasan lain kenapa aku meminta bantuan pada Lexi. Aku juga berpikir kalau ini adalah rencana dari anak buahku yang menginginkan kepemimpinanku di dunia yang sudah lama aku geluti," lirih Lucas dan dia memastikan obrolan ini hanya dirinya dan Arya yang mendengarnya.


"Kenapa kamu masih mau menjadi pemimpin yang beresiko besar Lucas?" tanya Arya dengan geram, laki-laki itu bisa mengerti arah obrolan Lucas.


"Aku sudah terfikirkan akan mengikuti jejak Lexi, tetapi belum ada pengumuman malah sudah tertangkap duluan, dan fitnah itu sudah membuat aku terjebak dalam permainan gila ini," balas Lucas bahkan suaranya lebih seperti orang bergumam.


Arya membuang nafas kasar. "Ok aku akan hubungi Lexi." Pada Akhirnya Arya mengalah juga.


"Kamu hubungi di sini, biar aku juga berbicara denganya, agar dia percaya. Kalau aku tidak berbicara langsung takutnya dia tidak percaya," lirih Lucas. Lagi, Arya mengikuti apa kata sepupunya. Tanganya merogoh ponsel yang ada di sakunya, dan dengan cekatan tangnya mencari kontak Lexi.


*******


Di negara yang berbeda....

__ADS_1


Lexi yang hari kemarin baru saja melakukan operasi pada saluran pencernaanya. Lagi, dia hanya ditemani oleh asistenya Marco, Mily dan keluarga sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Pernikahanya dengan Mily benar-benar hanya sebatas kerja sama, buktinya dia sakit pun hanya dibantu semuanya oleh Marco tanpa ada Mily yang memberikan suport untuk kesembuhanya.


"Tuan ada telpon," ucap Marco yang baru masuk ke ruangan Lexi dengan membawa telepon genggamnya.


"Apa mereka tidak bisa menunda barang beberapa hari lagi, aku sedang sakit seperti ini," geram Lexi dengan menutup mulutnya yang sudah berasa mual lagi. Yah, dia sangat sensitif dengan makanan dia hanya kuat makan dua sendok paling banyak lima sendok, pasti akan mual, dan laki-laki itu akan menghentikanya. Sampai rasa mual itu hilang, lalu dia akan melanjutkan makan lagi hingga perutnya aman.


"Apa Anda tidak mau mengangkatnya?" tanya Marco memastikan.


"Telpon dari siapa?" tanya Lexi sebelum memutuskan mau atau tidak dirinya mengangkat sambungan telpon itu.


"Tuan Arya." Marco menunjukan layar ponselnya yang terdapat nama Arya di sana.


Lexi tanpak mengernyitkan dahinya. "Tumben sekali Arya menghubungiku," lirih Lexi, bahkan dirinya sudah hampir satu bulan paska terakhir dirinya akan menikah tidak di hubungi lagi oleh Arya. Lexi pikir Arya marah, dan Lexi tidak memperdulikanya, tetapi dirinya tiba-tiba saja dihubungi oleh Arya.


"Coba kamu angkat Co," lirih Lexi dan Marco pun mengangkat sambungan teleponnya.


[Hallo, Lex nih gue Lucas...] belum juga Lucas melanjutkan ucapanya, tetapi sudah di hentikan oleh Marco.


[Tuan, saya Marco,] jawab Marco dengan sopan.


[Co, berikan telpon ini pada Lexi, ini penting,] balas Lucas, dan Marco pun langsung memberikan teleponya pada bosnya.


[Tuan Lucas ingin berbicara dengan Anda, katanya penting,] ucap Marco, dan Lexi langsung mengambil telponya. Sudah tidak ada gunanya lagi dia kecewa dengan Lucas, toh saat ini dia juga sudah menikah, dan nasib gadis itu bagaimana jadinya bukan urusan Lexi, itu yang ada dalam pikiran Lexi, sehingga laki-laki itu sudah tidak marah lagi dengan Lucas.

__ADS_1


[Ada apa?] tanya Lexi seperti biasa akan berbicara seperlunya dengan Lucas.


[Loe datang ke sini sekarang! Gue butuh bantuan loe. Gue sekarang di penjara, dengan kasus pembunuhan, semua bukti mengarah kegue, tetapi bukan gue yang melakukanya. Gue dijebak, butuh bantuan loe.] jelas Lucas tanpa banyak berbasa basi lagi, dan laki-laki itu sangat yakin kalau Lexi akan membantunya.


[Apa tidak ada yang membantu loe di sana, Rosi?] tanya Lexi, seharusnya Lucas datang lebih dulu pada Rosi yang sudah jelas laki-laki itu adalah asistenya dalam bisnis gelap yang masih dia geluti.


[Gue, justru takut kalau ini adalah bagian dari rencananya,] imbuh Luca.


[Ok, gue tahu, gue akan ke sana,] balas Lexi tidak berbicara panjang kali lebar lagi, dia  tahu diposisi Lucas.


Setelah mendengar jawaban dari Lexi, Lucas pun langsung memutuskan sambungan teleponya, dan Lucas sendiri bisa bernapas lega.


"Gimana?" tanya Arya sembari menujukan wajah penasaran.


"Dia akan segera datang," lirih Lucas, sembari mengembalikan ponselnya.


"Syukur deh, kalau gitu gue bisa pulang juga kan? Tidak ada lagi yang harus gue bahas lagi di sini?" tanya Arya untuk memastikan, laki-laki itu sangat yakin, Lucas bisa bersosialisai di dialam penjara.


"Pulanglah, aku titip Kakek, dan juga keluarga kecilku," balas Lucas, dengan wajah yang sangat terlihat sedih, ia baru saja merasakan bahagia berkumpul dengan putri dan istrinya, tetapi masalah ia harus terkurung di jeruji besi, dan gimana kalau sampai anak istrinya tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya. Pasti mereka akan sangat sedih. Lucas termenung dengan masalahnya yang tidak kunjung selesai, selalu saja ada masalah yang baru silih berganti.


Tidak hanya Lucas yang termenung memikirkan akan nasibnya. Arya pun sama difikiranya sedang memikirkan nasih Philip dan keluarganya.


"Bukanya ini adalah kesempatan yang baik untuk aku memberitahukan pada Om Philip kalau Tante Ely sudah sembuh, dan sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, dan juga Om phlip harus tahu kalau cucunya bukan hanya Lucas," gumam Arya dalam batinya. Arya sangat berharap kalau Philip juga mau menerima Elin sebagai cucunya.

__ADS_1


__ADS_2