Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 234


__ADS_3

Malam panjang sudah mereka lewati baik Arya, Lucas dan Lexi mendapatkan jatah istimewa dari sang istri mereka masing-masing.


Yah, Arya pun pada kenyataannya dia tetap. mendapatkan jatah dari sang istri barunya karena Marni pada kenyataannya tidak sedang kedatangan tamu. Bahkan akhirnya mereka berdua semalaman bekerja lembur hingga pagi pun mereka kembali melanjutkan permainannya.


Lexi dan Elin pun baru terbangun di jam sepuluh pagi, sedangkan Lucas dari pukul lima sudah bersiap untuk pulang, di mana Zakia sudah mencari bundanya. Yah, bocah cantik itu memang sangat dekat dengan sang bunda sehingga Jiara hilang sedikit saja dia akan mencarinya terus.


Kalau Arya, jangan ditanya jam segini dia baru mau beranjak tidur lagi setelah pagi-pagi mereka berolah raga lagi, setelah sarapan tentunya. Maklum sang Playboy dapat perawatan jadi nggak bisa dibiarkan nganggur diki.


Tangan Lexi merabah-rabah sisi nakas yang mana panggilan telepon sudah mengganggu dirinya. Laki-laki itu sudah mengira kalau yang meneleponya pasti adalah mertuanya mungkin anak mereka mencari Elin seperti Zakia. Namun ternyata dugaanya salah.


Justru yang tengah melakukan panggilan dengannya adalah dari ke-dua orang tuanya.


Kembali kedua mata Lexi langsung melebar sempurna ketika kali ini papinya menghubungi Lexi. Dengan tubuh yang masih polos laki-laki itu segera meraih handuk dan menutup bagian bawahnya, agar tidak terbang. Burung kali ah terbang.


Lexi menatap Elin yang masih pulas tertidur setelah pagi tadi mereka melakukan ibadah bersama, setelah itu mereka kembali merajut kasih dan dilanjutkan untuk tidur kembali.


[Ha... halloh Pih, ada apa?" tanya Lexi dengan suara yang  berat khas bangun tidur, langsung menyapa sang papih.


[Jemput Papih dan Mamih di bandara nanti abis duhur perkiraan kami sampai Indonesia, jangan lupa bawa anak kamu!] #Anggap saja boleh menggunakan telepon di dalam pesawat.


Jeduerrr... Tubuh Lexi langsung bergeming, kaget tentunya dengan kabar yang luar biasa ini.

__ADS_1


Seharusnya Lexi senang mendengar kabar ini yang mana artinya keluarganya ada harapan besar akan merestui hubungan mereka. Namun, juga Lexi tidak boleh berbesar hati dan langsung berpikir seperti itu adanya karena pada kenyataanya keluarganya belum tentu merestui hubungan mereka.


Lexi langsung membangunkan Elin agar bersiap di mana sekarang harus bersih-bersih kembali dan menjemput Eril lalu muter lagi menjemput orang tuanya di bandara. Dalam pikiran Lexi berharap kalau kedatangan orang tuanya adalah kabar yang gembira. Bukan kabar yang membuat Elin jadi terpojok kembali.


"Ehhemzz... Sayang aku masih ngantuk," racau Elin setelah Lexi membangunkannya dengan beberapa kali menepuk pelan pundaknya.


"Bukan Sayang, ini bukan mau nambah, tapi kita harus segera pulang," bisik Lexi dengan tangan mengusap punggung Elin yang mulus.


"Kenapa tidak nanti saja. Kata Papah kita boleh menginap bahkan sampai sore," balas Elin, dengan mata yang masih terpejam.


"Iya aku tahu kalau kita memang boleh pulang sampai sore, tapi masalahnya orang tuaku tadi telepon. Mereka sedang ada di pesawat dan meminta kita untuk menjemputnya. Ayok buru-buru waktu kita hanya dua jam," ucap Lexi ia yakin kalau Elin pasti akan segera bangun.


"Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Elin dengan menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan.


"Yah tentu untuk apa aku berbohong." Lexi membantu Elin untuk bangun, karena rasanya meskipun dia sudah  bukan prawan, tetapi untuk melakukan hubungan kesekian kalinya Lexi masih merasakan kalau Elin seolah masih prawan, sempit dan bikin nggak bisa berhenti. #Anggap saja begitu nggak tau othor rasa perawatan kayak mana.


Pasangan suami istri itu pun mandi bersama dan bergegas untuk pulang dan lanjut menjemput keluarga Lexi.


"Sayang kenapa aku deg-degan banget yah. Aku takut nanti keluarga kamu tidak merestui aku," ucap Elin, entah wanita itu mengucapkan hal semacam itu berapa kali.


"Kamu jangan cemas yah, orang tua aku tidak mengerikan kok," balas Lexi. Meskipun dia sendiri ada perasaan takut, tetapi Lexi berusaha untuk tetap menganggap semuanya baik-baik saja dan berusaha membuat Elin tenang.

__ADS_1


"Amin semoga saja yah," balas Elin masih menggosok-gosok tangannya seolah dia tengan mencoba mengurangi kedinginanya. Ini adalah momen pertama dia akan bertemu dengan mertua sehingga sangat wajar kalau Elin merasakan tegang yang luar biasa. Berbagai macam ketakutan ia rasakan, bahkan sampai tubuhnya merespon hal yang menunjukkan kalau dia sedang tegang.


Lexi jadi teringat kembali kemasalah sebelum dirinya pergi dari negara di mana orang tuanya tinggal.


Mamih dan Papih marah besar karena dirinya yang memutuskan bercerai dengan Milly. Bahkan kedua orang tuanya mengancam akan memutuskan tali silaturahmi dengan dirinya.


Namun kali ini justru orang tuanya yang datang untuk menemui dirinya antara orang tuanya yang menemui dirinya untuk merestui hinggan dirinya dengan Elin. Atau Justru kembalikan yaitu menolak agar dia tidak bersama dengan Elin.


"Emang orang tua kamu kayak apa sih? Galak atau tidak?" tanya Elin agar dia lebih bersikap tenang.


"Mereka baik kok, nggak ada yang perlu kamu takutkan," jawab Lexi dengan menggenggam tangan Elin agar dia tidak tegang meskipun pada kenyataannya laki-laki itu sudah melihat kalau Elin sangat cemas dan tegang.


"Tapi kenapa kemarin kamu bilang kalau. orang tua kamu bisa marah. kalau ketahuan kamu menikah dengan aku? Bahkan kamu tidak. mengabarkan pada orang tua kamu kalau akan menikah dengan pilihan kamu?"


Yah tentu Elin masih ingat ucapan Lexi sebelum dirinya menikah yang Elin ingin kalau Lexi mengabarkan pada orang tuanya tentang pernikahan ini. Direstui atau tidak yang terpenting memberikan kabar terlebih dahulu.


"Itu hanya dugaan aku saja, tapi ternyata apa yang aku takutkan tidak terjadi. Aku yakin orang tuaku tidak akan mengatakan hal yang menyakitkan untuk kamu," jawab lexi bukan hanya ia ingin menenangkan Elin tapi memang apa yang ia tahu orang tuanya juga masih memiliki sisi kebaikan. Apalagi Lexi sudah memberikan Cucu.


"Semoga saja apa yang kamu katakan memang benar. Aku hanya takut kalau orang tua kamu tidak menyukai aku dan juga mereka tidak menyukai Eril. Padahal dia masih kecil sehingga dia tidak seharusnya di benci dan dibawa-bawa dalam masalah kita."


"Aku janji kalau orang tuaku melakukan hal itu maka aku akan maju paling depan untuk membela kamu dan juga Eril. Sudah cukup kesedihan yang kamu alami selama ini. Sekarang waktunya kamu untuk bahagia dan tidak ada lagi kesedihan seperti dulu." Lexi. kembali meraih tangan Elin dan menciumnya dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2