
Dengan langkah kaki yang benar-benar berat Arya pun mengikuti ucapan sang papih masuk ke dalam rumah Marni, meskipun hatinya bergemuruh dan rasanya tidak tega melihat wajah-wajah kecewa dari keluarga calon istrinya. Belum masuk saja Arya sudah membayangkan wajah kecewa itu.
Namun, yang Arya lihat justru sebaliknya keluarga Marni masih menyambutnya dengan ramah dan hangat. Hingga Arya menitikan air mata karena senang, setidaknya ketakutanya tidak terjadi.
"Mih, Pih, apa ini kerjaan kalian?" tanya Arya sembari menyembunyikan wajahnya yang tengah kecewa, jadi Arya sudah tahu kalau dia bukan lagi telat datang keacara pertunanganya dengan sang pujaan hati, tetapi justru dia yang terlalu awal datang sehingga tamu yang lain belum pada datang.
Aryo dan Dinda pun hanya tertawa dengan kelakuannya. "Itu karena kamu yang terlalu santai dengan acara sepenting ini, ya udah Mamih hubungi Marni untuk undur acara ini kalau tidak kamu dan semuanya yang akan malu," balas Dinda, justru bukanya seharusnya Arya bersyukur karena orang tuanya yang teramat mengerti akibatnya kalau tidak segera dilakukan oleh dirinya.
Acara pertunangan Arya dan Marni pun hari ini lancar tidak ada kendala dan juga baik Arya maupun Marni sepakat kalau pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam waktu satu minggu. Sudah jelas dong ini semua adalah idenya siapa? Yah ini semua adalah idenya Arya dengan berbagai alasan terutama kebutuhan batin dari pada kebablasan (Katanya seperti itu) sehingga orang tua mereka pun setuju. Dua keluarga itu pun harus kerja keras untuk mempersiapkan acara pernikahan Arya dan juga Marni yang akan dilangsungkan dalam satu minggu ke depan.
Eh bukan dua keluarga tapi tiga keluarga, karena pada keputusan finalnya Elin dan Lexi pun akan menikah di hari yang sama dengan pernikahan Arya dan Marni.
******
Dua hari telah berlalu dan hari ini Lucas pun sudah diperbolehkan untuk pulang karena memang luka bekas operasi sudah mengering dan juga kondisi hati sudah bisa berfungsi dengan baik, dan organ hati pun sudah mulai memperbaiki luka-lukanya dan akan tumbuh kembali seperti sebelumnya.
"Papah, apa Papah sudah boleh pulang?" tanya Zakia, gadis kecil itu sejak pagi sudah datang ke rumah sakit saking bahagianya karena papahnya akan pulang dan akan kembali bersama ke rumah dan tentunya Kia sudah tidak sabar menujukan koleksi mainanya yang banyak.
"Iya dong, Papah sudah boleh pulang ngomong-ngong Kia suka tidak kalau Papah sudah boleh pulang?" tanya Lucas dengan menjawil hidung mungil sang putri.
"Suka, Kia sangat suka Papah. Kia mau main baleng sama Papah. Oh iya Pah, Tante Elin mau nikah sama Om Lexi," bisik bocah kecil itu, seperti orang besar yang dengan sengaja membisikan pada teman gibahnya.
__ADS_1
"Oh iya? Kenapa Papah tidak tau kalau Om Lexi dan Tante Elin mau nikah?" Lucas pun mengikuti gaya yang terkejut dan penasaranya.
Zakia menganggukan kepalanya dengan kuat. "Ehem... bahkan Om Arya dan Tante Malni juga mau nikah," gadis kecil itu pun kembali memberikan kabar bahagia untuk yang terakhir kalinya.
"Oh, astaga kenapa Papah merasa kalau Papah banyak sekali tertinggal," dengus Lucas dengan menatap Jiara yang ternyata hanya memperhatikan interaksi Lucas dan putrinya yang sangat menggemaskan.
"Itu karena Papah tellalu lama di lumah sakit," balas Kia dan kali ini jawabanya benar lagi Lucas terlalu lama menginap di rumah sakit hingga banyak kabar bahagia yang tidak dia ketahui.
"Apa kamu tahu kalau Lexi dan Elin serta Arya dan Marni akan menikah dalam hari yang sama?" tanya Lucas sembari setengah berbisik pada Jiara.
Tanpa Lucas duga Jiara langsung mengangukan kepalanya sebagai tanda kalau wanita itu tahu bahwa dua orang sodaranya akan menikah dalam waktu dekat ini dan harinya pun sama.
"Kenapa kamu tidak bilang pada aku?" tanya Lucas dengan suara yang terdengar di tahan itu.
"Jia...."
Jiara pun terkekeh bersama Zakia karena berhasil mengerjai Lucas.
Di saat Lucas dan keluarga kecilnya tengah berbahagia karena hari ini adalah hari kepulanganya. Di kamar rumah sakit yang sama Darya tengah menangis tergugu karena penantianya setelah hampir dua minggu terbayar sudah, hari ini Philip pun sadar dan juga bisa langsung berkomunikasi dengan Darya sehingga apabila tidak ada halangan dalam waktu dua hari Philip juga di perbolehkan pulang dan kingdom akan dilakukan untuk melakukan rawat jalan.
"El... Bagaimana kondisi Elin?" tanya Phillip dengan suara yang terdengar sangat lemah.
__ADS_1
Darya yang masih terisak karena terlalu bahagia pun langsung mengusap air matanya dengan punggung tanganya.
"Elin sudah pulang Pah, dia kondisinya jauh lebih baik dari Lucas jadi dokter mengizinkan untuk pulang lebih dulu, sedangkan Lucas hari ini dia sudah boleh pulang," jelas Darya dengan nada bicara yang terdengar sangat lembut.
Terlihat senyum samar dan pucat dari wajah tua Philip. "Pa... Papah senang dengarnya Papah ingin lihat mereka berdamai," imbuh Philip dengan wajah penyesalannya.
Darya pun kembali membals dengan senyum terbaiknya. "Yah, Papah akan melihat itu karena sebentar lagi akan terwujut. Makanya Papah cepat sembuh yah biar Papah bisa cepat-cepat bisa mewujudkan keinginkan Papah." Darya mengusap punggung tangan Philip yang sudah keriput dan urat-uratnya menonjol dengan jelas.
Philip pun membalas ucapan Darya dengan anggukan yang kuat. dan dia yakin kalu dirinya bisa sembuh dan kuat seperti dulu.
Di tempat yang berbeda Tidak kalah bahagia dari Lucas dan juga Darya Elin selama dua hari ini juga sangat bahagia karena ia benar-benar bisa merawat buah hatinya sendiri tubuhnya semakin hari semakin bagus perkembanganya.
Pagi ini seperti biasa Elin akan mengajak Eril berjemur di taman belakang di mana di taman itu sudah banyak permainan anak-anak tepatnya permainan Zakia tetapi Eril kalau mau ikut bermain juga boleh.
"Pagi anak gantengnya Papah." Lexi pun seperti biasanya akan datang ke rumah Philip untuk menemui putra dan calon istrinya sebelum laki-laki itu pergi bekerja.Elin membalas senyuman Lexi yang baru datang itu.
"Aku membawakan makanan yang kemarin kamu inginkan," ucap Lexi dengan menujukan satu kanting pelastik yang berisi gudeg bahakan khas dari Jogjakarta itu.
Elin menyipitkan matanya. "Emang aku pesan apa?" gumam Elin sebari Mengernyitkan dahinya dengan mengingat-ingat dia ingin apa. "Perasaan aku tidak minta apa-apa atau ingin makan apa-apa deh," imbuh Elin yang sudah mengingat ingat memori-nya tetapi dia tidak juga menemukan kalau dia menginginkan sesuatu.
"Yah bukan kemarin banget sih, tepatnya waktu masih di rumah sakit. Kamu minta pengin gudeg," ucap Lexi mengingatkan lagi ucapan Elin yang ingin makan gudeg, tetapi Lexi tidak mengizinkannya karena memang dokter juga tidak memberikan dulu.
__ADS_1
"Ok, ya Tuhan, aku bahkan sudah lupa," ucap Elin terkekeh renyah hingga Eril yang sedang nikmat bersantai di bawah sinar matahari pagi pun membuka matanya mungkin penasaran kenapa emaknya tertawa dengan renyah. Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
Namun masih ada yang membuat Lexi berkecil hati, yaitu keluarganya yang pasti tidak akan mengizinkan Elin menjadi istrinya.