
Pagi hari Tamara bangun dengan kepala yang semakin berdenyut, di sampingnya ada Raka yang sudah dalam keadaan telanjang, dan Tamara buru-buru membuka selimut yang menutupinya.
"Gila...!!" umpat Tamara ketika tahu bahwa Raka menggaulinya di saat ia tertidur dengan pulas, dan sialnya dia tidak merasakan kalau dia semalam dijamah tubuhnya oleh laki-laki yang saat ini masih dengan pulas tertidur itu. Tamara dengan tubuh lelah dan kepala yang berdenyut melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, lalu memilh membersihkan tubuhnya, dan setelah itu ia akan datang ke rumah Philip di mana dia akan kembali mencoba meminta keringanan oleh Philip agar ia bisa tetap menjadi istrinya.
Tanpa sarapan terlebih dahulu dan juga tanpa menunggu Raka bangun Tamara pergi seorang diri ke rumah suaminya. Yah, Philip masih bisa dibilang suami sebab memang dia masih belum sah menceraikanya secara hukum. Meskipun laki-laki itu sudah menceraikanya secara agama, dan itu tandanya Tamara dan Philip sudah tidak ada lagi hubungan suami istri.
"Tamara datang dengan menaiki taxi yang sudah ia pesan. "Anda mau apa lagi nyonya, Tuan Philip tidak mungkin mau menemui Anda," ucap security yang semalam berjaga, mereka belum pulang karena memang ganti tukaran Sift mereka belum jatahnya.
"Tolong Pak, biarkan aku masuk setidaknya aku mengambil barang-barang aku, masa aku ajah tidak ganti baju, karena pakaian miliku semuanya ada di dalam sana," ujar Tamara dengan tatapan yang mengiba, itu adalah cara terakhirnya yang ia sangat yakin kalau Philip akan mau memberikan izin untuk Tamara mengambil barang-barang berharga dan pakaianya.
Ketiga security itu nampak berbisik satu sama lain, "Kami akan telpon Tuan philip dulu, apakan Anda diizinkan atau justru tidak nanti akan kamu beritahukan."
Tamara mau tidak mau harus menurut dari pada tidak mendapatkan hak apapun dari Phillip. Cukup lama Tamara menunggu.
"Maaf Bu Tamara, Tuan tidak mengizinkan Anda masuk dan kata Tuan Anda diminta menunggu di depan gerbang, nanti ada asisten rumah tangga yang datang untuk membereskan pakaian Anda dan Anda boleh membawanya," ucap Security dengan sopan.
Jeduuueeerrr.... Petir seolah menyambar tubuhnya. Tamara mematung, ini bukan mimpi dirinya akan segera menjadi janda, dan itu tandanya dirinya tidak ada lagi kesempatan untuk mengambil kekayaan Philip. Tubuhnya bersandar ke gerbang yang menjulang tinggi. Otaknya di penuhi dengan cara bagaimana dirinya bisa tetap menjadi istri Philip atau setidaknya ia bisa mengambil barang-barang berharga miliknya, dan juga bagian harta dari Philip.
Tangan Tamara mengepal dengan sempurna. Ia sangat yakin kalau memang ada yang melaporkan perselingkuhanya, tetapi kenapa, semuanya seolah terencana dengan baik. Ketika dirinya keluar dan tidak membawa barang-barang berharga lainya. Kartu pun semuanya sudah diblokir oleh Philip.
"Bu Tamara, ini barang-barang Anda, pakaian dan segala keperluanya, Tuan Philip hanya mengizinkan ini yang boleh Anda bawa. Barang lainya Tuan Phillip tidak diizinkan di bawa oleh Anda," ucap asisten rumah tangga yang dipercaya untuk mengatur semuanya.
__ADS_1
Tamara bangkit dengan tubuh lemahnya dan menghampiri asiten rumah tangga yang membawa dua koper serta satu tas tentengnya yang mungkin saja itu berisi peralatan make up milik Tamara.
"Bi, apa suami saya ada di dalam? Izinkan saya bertemu untuk terakhir kalinya," ucap Tamara dengan memohon.
"Maaf Bu Tamara, Tuan Philip tidak mau bertemu dengan Anda, dan kata Tuan, Anda boleh menemuinya di pengadilan nanti. Saya tidak bisa membantah Bu. Mohon maaf." Asisten rumah tangga pun kembali masuk ke dalam rumah itu tanpa mau melihat wajah Tamara yang sangat kecewa itu.
Air mata Tamara langsung jatuh seketika hatinya sangat sakit diperlakukan seperti ini, terlebih ia juga malu dengan asisten rumah tangga yang lain dan security yang seolah memperhatikanya seperti sebuah pertunjukan yang sangat lucu.
Dengan tubuh yang lemas Tamara menarik barang-barangnya, percuma ia tetap berada di tempat ini yang ada dirinya hanya semakin malu pada security dan para pekerja yang lain. Dirinya yang dulu berkuasa dengan menjadi nyonya kini dibuang tanpa iba.
Tubuh Tamara mematung dengan sempurna, ketika ada sebuah mobil datang tepat di hadapanya.
Tanpa curiga Tamara pun langsung menyanggupinya dan naik ke atas mobil itu dengan hati yang berbunga-bunga. "Aku sudah duga, kalau Philip tidak akan mungkin tega membuang aku begitu saja," batin Tamara, dengan garis bibir yang melengkung sempurna.
Wanita itu duduk dengan perasaan yang bahagia, dalam hatinya di tumbuhi bunga-bunga yang indah dan harum, setidaknya ia memiliki rumah untuk tempat bernaung. Selama ini dirinya terlalu bodoh tidak sedikit pun ia mempersiapkan semuanya, dia tidak mempersiapkan kalau hal ini akan terjadi. Tamara terlalu percaya kalau Philip tidak mungkin menceraikan dia, karena laki-laki itu sangat mencintainya.
Sebenarnya Tamara ada rumah, tetapi itu di tempati oleh orang tuanya dan apabila ia datang ke rumah itu maka dirinya akan di maki-maki oleh keluarganya yang selalu mengandalkan uang-uang Tamara.
"Apa rumah yang akan aku tempati jauh, kenapa lama sekali sampainya?" tanya Tamara, memecah kebisuan, di mana di dalam mobil sejak tadi tidak ada obrolan. Lebih seperti dalam kuburan sepi dan mengerikan.
"Masih sekitar setengah jam lagi Nona," ucap sang sopir, dan orang yang tadi terbicara dengan dirinya pertama kali hanya diam saja duduk di samping supir.
__ADS_1
"Apah? Setengah jam lagi, kalian gila yah. Mau kalian bawa kemana aku?" tanya Tamara lagi, kali ini dengan nada yang serius, bahkan Tamara semakin curiga kalau dua orang yang ada di hadapanya dengan memakai pakaian yang rapih itu akan berbuat macam-macam. Mata Tamar dengan awas mengawasi sekeliling yang mana dia seolah di bawa ke tepian hutan, bukan hunian yang ramai yang dibayangkan oleh wanita itu memang belum tahu dengan tempat yang ia lewati, tapi pikirnya mengatakan kalau tempat yang akan ia tinggali adalah tempat yang cukup mengerikan.
"Ka... kalian siapa sebenarnya?" tanya Tamara semakin gugup. "Turunkan aku di sini? Biarkan aku turun dan pulang kembali ke Jakarta sendirian?" imbuh Tamara semakin yakin tempatnya akan menyerupai makam, bahkan dari tadi matanya tidak menangkap adanya lalu lalang orang di sepanjang jalan.
"Anda bisa diam tidak nyonya, apa harus aku ikat biar bisa diam!" bentak orang yang berkaca mata dengan suara keras dan terlihat sangat mengerikan.
"Aku akan diam kalau kalian lepaskan aku, tapi aku akan loncat kalau kalian tidak memberhentikan mobil ini," ucap Tamara semakin menjadi.
"Coba saja kamu loncat, biar tugas kami semakin ringan. Kami tidak harus mengotori tangan kami dengan membunuh kamu karena kamu yang dengan sengaja bunuh diri," balas sang sopir dan dari ucapan itu Tamara semakin ketakutan, dan mencoba membuka pintu mobil yang ternyata terkunci.
"Dua orang yang mengaku suruhan Philip pun tertawa dengan renyah, menertawana ke bodohan Tamara.
"Kalian semua siapa sebenarnya? Dan kalian mau apakan aku? Apa yang tadi kalian katakan adalah sebuah sebuah kebohongan?" tanya Tamara dengan gugup.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, dan suruhan siapa, yang jelas saya hanya ingin menyelamatkan Anda dari hidup yang sulit ini. Kami akan bawa Anda nona ketempat yang lebih nyaman dan indah. Semua yang kamu butuhkan ada di sana, tapi syaratnya Anda harus meninggal dunia terlebih dahulu." Suara gelak tawa dari dua laki-laki yang berpenampilan rapih membikin suasana menjadi lebih horor.
"Ja... jangan macam-macam kalian. Aku tidak ada masalah dengan kalian, tolong jangan macam-macam," ucap Tamara dengan gemetar.
"Anda memang tidak ada masalah dengan kami Nona, tapi Anda ada masalah dengan bos kami." ujar orang berkacamat gelap, dengan mengacungkan sebuah senjata api yang siap untuk ditembakan di kening Tamara.
Seketika tubuh Tamara menjadi tegang dan juga menjadi tidak bisa berucap barang sepatah kata pun. Ia tidak menyangka hidupnya akan serumit ini.
__ADS_1