Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna. #Episode 204


__ADS_3

Lexi berjalan begitu tergesa ketika memasuki halaman rumah Philip. Rasa lega langsung ia rasakan begitu ia melihat orang yang dia carinya.


"Lucas, apa kamu bisa ikut dengan aku!!"


Lucas yang merasakan kebersamaanya terganggu pun langsung melayangkan protes pada Lexi, dengan memberikan sorotan yang tajam.


"Ini soal nyawa seseorang," balas Lexi dengan tatapan yang mengiba.


"Kia, om Lexi pinjam papahnya Kia sebentar boleh? Nanti om akan kembalikan setelah semua urusan selesai." Suara yang lembut membuat Zakia tidak bisa menolaknya. Bocah kecil itu melihat pada Lucas, dan laki-laki yang baru saja merasakan kebebasanya langsung menatap pada Zakia, dan setelahnya menganggukan kepalanya dan seulas senyum terbaiknya.


"Om Lexi mau bawa Papah ke mana? Apa Kia boleh ikut. Kia tidak mau Papah pelgi lagi," balas Zakia dengan perasaan yang was-was.


Lexi pun berpikir sejenak setelahnya mengangguk memberikan persetujuanya.


"Lex, bagaimana kabar Elin?" Darya yang melihat kecemasan di wajah Lexi pun langsung menanyakan yang sejak semalam mengganggunya.


Wajah cemas memang terlihat sangat jelas dari soroy wajah Lexi, tetapi setelahnya laki-laki itu memberikan senyum terbaiknya.


"Elin kabarnya baik Tante, dan sekarang sudah melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan dan lucu," ucap Lexi dengan senyum mengembang sempurna. Kedua bola mata Darya pun melebar sempurna ketika ia mendengar kabar bahagia itu.


"Lex, apa yang kamu katakan itu benar?" Kali ini Philip yang sangat antusias mengingat ia sudah sejak lama menginginkan cicit laki-laki, dan dari Elin dia bisa merasakanya. Memang Elin tidak pernah mengatakan jenis kelamin anak yang di kandungnya, meskipun ia sendiri sudah tahu jenis kelaminya apa, tetapi apabila ditanyakan akan di jawab tidak tahu, dan hanya dijawab biarkan menjadi kejutan. Dan benar saja dengan kelahiran anak laki-laki sudah memberikan kejutan yang luar biasa bahagia untuk keluarganya.


Lucas pun tidak kalah bahagia, dengan kabar yang Lexi bawa. "Anak laki-laki," gumamnya, rasanya dadanya langsung berdesir dengan hebat, merasakan rasa bahagia yang luar biasa.


"Papah ada apa dengan Tante Elin?" oceh Zakia dengan wajah yang terlihat sangat penasaran.


"Tante Elin sudah punya Baby, Sayang. Kalau begitu ayok kita datang ke rumah sakit untuk melihat adik bayi." Darya langsung menggendong Zakia, dan pengasuh Zakia juga dengan sigap langsung menyiapkan perlengkapan untuk anak asuhnya.

__ADS_1


"Kalau gitu ayok kamu ikut gue, biar Kia dengan Tante Darya." Lexi menarik tangan Lucas, sementara Zakia tatapanya terus mengawasi papahnya yang justru meninggalkanya lebih dulu.


"Oma, kenapa Papah pelgi sama Om Lexi tidak dengan Kia?" tanya Zakia dengan pandangan yang terus terarah pada Lucas dan Lexi yang sudah hilang ditelan kendaraan roda empatnya.


Sementara Philip melihat ada kenjanggalan dari Lexi. "Apa mungkin Elin kenapa-napa?" gumam Philip dalam batinnya, rasanya tidak mungkin ada masalah yang lebih gawat selain Elin.


Berbeda dengan Philips yang cemas dengan kondisi Elin, Darya justru tetap terlihat tenang-tenang saja. Ia justru telihat sangat bahagia. Karena kini dirinya sudah memiliki cucu cewek dan cowok.


"Om Lexi dan Papah ada kerjaan Sayang sebentar," balas Darya dan wanita paruh baya itu tidak perduli kerjaan apaan yang terpenting kini dirinya sudah memiliki cucu sepasang.


Huaaa... Zakia pun menangis tersedu, ketika gadis kecil itu membanyangkan bagaimana kalau papahnya tidak kembali lagi. Rasa kangenya bahkan belum sepenuhnya terobati malah Lucas kembali pergi, hal itu berhasil membuat Zakia sangat sedih. Seolah bacah itu memiliki trauma yang berat kalau Lucas akan meninggalkan dirinya.


"Loh, Kia kenapa nangis, kita akan bertemu dede bayi yang ada di dalam perut Tante Elin. Kia tidak boleh menangis," bujuk Darya dengan memeluk tubuh bocah kecil itu.


"Kia takut Oma, Kia takut kalau Papah tidak akan pelnah balik lagi, nanti Kia belmain dengan siapa?" racau Zakia yang seolah dia memiliki perasaan buruk untuk papahnya.


Philip pun sama dia merasakan, berat, takut kalau Lucas terjadi sesuatu. Keluarga itu pun perlahan meninggalkan rumah mewah itu menuju rumah sakit di mana Elin melahirkan.


********


"Lex, ini ada apa sih? Kenapa gue ngerasa ada yang tida beres yah, mengenai kasus gue apa kondisi Elin?" cecar Lucas begitu kendaraan roda empat yang mereka tumpangi bergerak perlahan meninggalkan rumah mewah Philip.


(Pangigilan gue, loe disesuaikan yah. Kalau lagi berdua mereka akan bebas pangginya. Tapi kalau lagi di depan keluarganya panggilnya lebih formal aku, kamu. Jadi kadang ada aku dan kamu kadang loe, gue.)


"Barusan gue ke kantor polisi untuk jemput loe, tetapi loe malah udah pulang, karena kejadian ini udah buang-buang waktu berharga gue untuk loe," sungut Lexi, ia masih belum bisa menghilangkan kemarahanya dengan Lucas yang bebas tidak bilang-bilang.


"Ya sorry, gue pikir Arya sudah memberithukan ke bebasan sama loe. Lagi pula mana kita tahu loe bakal mencari gue," balas Lucas dengan santai.

__ADS_1


"Elin kondisinya makin parah, dia mengindap gagal hati dan sekarang butuh pertolongan dari loe, bantu dia untuk tetap hidup dengan mendonorkan sebagian hati loe. Dokter berkata kemungkinan sembuh kalau dari sodara akan lebih besar karena jaringan hati dan golongan darah yang kemungkinan besar sama, di bandingkan dengan pendonor dari orang luar." Lexi langsung menyampaikan apa yang menjadi ke putusan dokter barusan. Melupakan masalah bebas dari kantor polisi.


Sementara Lucas saking kagetnya ia sampai tidak bisa berkata-kata, bibirnya kaku, kelopak matanya kembali memanas ketika mendengar kabar ini, tubuhnya lemas seketika.


"Kenapa meski Elin? Kenapa bukan orang lain? Kenapa meski Elin ya Tuhan," racau Lucas tidak menyangka bahwa sodara kebarnya akan separah itu sakitnya.


Lucas menatap Lexi dengan tatapan yang dalam dan mengiba. "Bagaimana kondisi Elin saat ini? Apakah masih sehat?" tanya Lucas dengan suara yang parau dan bergetar.


"Kurang bagus yang jelas, saat ini sedang bersama dengan Om Eric, dan gue tidak tahu kondisi pastinya sebab begitu gue dapat informasi dari dokter gue langsung pergi, cari loe." 


Lexi sendiri merasakan tidak karuan memikirkan bagaiamana yang terjadi pada Elin kalau Lucas tidak bisa membantunya. "Tapi aku takut kalau loe justru tidak bisa membantu Elin."


Lucas langsung memalingkan pandanganya pada Lexi yang terlihat cemas dengan pandangan lurus ke depan mengamati jalanan yang padat merayap. "Maksud loe kenapa gue tidak bisa membantu Elin? Gue sodara kembarnya kemungkinan organ-organ gue sama dengan Elin, seharusnya gue bisa membantu Elin bukan?"


Lexi mengangguk membenarkan apa yang seharusnya di ucapkan Lucas memang benar. "Masalahnya loe pengonsumsi al-kohol, orang yang gemar meminum-minuman. keras itu organya ada kemungkinan akan rusak juga, dan mungkin saja organ hati loe tidak bagus untuk Elin yang mengakibatkan loe gagal menjadi pendonor."


Deg!!! Jantung Lucas, benar-benar seolah telah berhenti saat itu juga.


"Ya Tuhan kenapa gue tidak terpikirkan sejak dulu kalau hal ini bisa terjadi. Lalu bagaimana kalau hal itu memang terjadi Lex. Gue menyesal telah menjadi orang yang paling bodoh. Gue menyesal kenapa tidak bisa membantu Elin pada saat ia membutuhkan bantuan? Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk meminta maaf pada dia dengan mengorbankan sedikit hati gue," racau Lucas, yang saat ini ia sedang merasakan menjadi orang paling buruk sedunia.


Lexi pun hanya bisa diam, tanpa menjawab pertanyaan dari Lucas.


"Apapun akan aku lakukan untuk kamu Elin, apapun hingga kamu setidaknya tahu bahwa aku sangat menyesal karena membuat kamu sehancur ini." gumam Lucas dalam hatinya, membayangkan Elin merasakan kesulitan dan kesakitan ini sendirian rasanya sesak sekali dadanya. "Bagi sakit kamu untuk aku Lin, agar aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan."


"Ya Tuhan, semoga Engkau mengabulkan apapun itu doa aku saat ini terutama kesempatan hamba yang ingin bisa melindung sodara kembar hamba."


,

__ADS_1


...****************...


__ADS_2