Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna Bab 103


__ADS_3

Elin di dalam mobil hanya diam saja, tidak banyak bercerita dengan Marni, tidak seperti biasanya di mana wanita itu akan lebih ramai, dan bisa menghidupkan suasana. Semenjak dia memasuki mobil Marni, Elin hanya lebih banyak diam dan juga membuang pandangan kosongnya menatap jalanan yang tidak ada menariknya sama sekali. Ini adalah hari pertama buat Elin di mana ia akan mengenal memeriksakan diri ke dokter kandungan.


"Lalu gimana nanti kalau Dokter itu bertanya di mana ayah, atau suamiku?" batin Elin, kedua bola matanya menghangat, tetapi Elin sama sekali tidak ingin menangis lagi. Ia sudah berjanji bahwa ia tidak akan menangisi apa yang sudah terjadi dan tidak hanya itu Elin juga tidak akan lagi  mengingat kenangan yang pahit dengan kejadian malam kelam itu.


Bahkan rasanya apabila Lexi datang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Elin akan tetap memilih membesarkan anak itu seorang diri.


"Elin, kenapa kamu diam saja, biasanya kamu sangat ramai. Apapun yang kamu liat biasanya akan kamu komentarin kenapa sekarang jadi pendiam. Mana Elin yang ramai dan berisik. Sepi nih," ujar Marni. "Udah kayak orang lagi musuhan ajah," imbuh wanita yang saat ini masih fokus dengan jalanan yang ia lewatinya.


"Hehehe... lagi deg-degan Dok, mau lihat calon anak Elin rasanya kayak nggak percaya tetapi ini kenyataan," jawab Elin. Bingung sekali, mau memulai dari obrolan yang mana terlebih Elin juga dalam hatinya belum bisa menerima sepenuhnya dengan apa yang terjadi dalam kehidupanya dalam waktu yang sangat singkat ini.


Tidak lama setelah terlibat obrolan antara Elin dan Marni, dan suasana mobil tidak terlalu sepi kini Elin pun sampai di ruangan dokter Spog, ternyata tanpa sepengetahuan Elin, dokter Marni sudah membuat jadwal dengan dokter tersebut di mana ternyata juga dokter yang akan memeriksa Elin adalah dokter Eka, teman dokter Marni. Berhubung dokter Marni sudah membuat jadwal sehingga merekapun tidak harus menunggu lama untuk mengantri, seperti pasien yang lainya..


"Kamu tenang ajah, Dokter Eka, ini teman aku kok, dan beliau juga sudah aku ceritakan tentang kasus kamu, dan dia tidak akan bertanya macam-macam yang menyangkut privasi. Tugas dia hanya  memeriksa kandungan kamu, dan menjelaskan tentang seputar kehamilan. Dan apabila dia macam-macam, Elin bisa bilang ke aku, biar aku go-rok dia," lirih Mirna, dan tentunya itu tidak sungguhan mana berani dokter Mirna melakukan kekerasan.


"Hehe Dokter Marni bisaan banget biki Elin tertawa. Mereka pun langsung masuk tanpa mengantri. Setelah mengisi biodata dan juga benar apa yang di katakan dokter Marni, kalau dokter Eka tidak menanyakan apapun yang menyangkut seputar suami atau pun ayah si jabang bayi.

__ADS_1


"Semua seputar kehamilan dari pemeriksaan Elin di jelaskan oleh dokter Marni dan saat ini usia kandungan Elin sudah sepuluh minggu. Bukan hanya usia saja yang di beritahukan oleh dokter Eka, tetapi juga berat bayi dan ukuranya serta seputar kehamilan dari cara menjaga buah hati, mengurangi resiko keguguran, makanan yang baik dan segala macam. Cukup lama Elin mendapatkan kuliah gratis dan singkat mengenai seputar kehamilan.


Kini Elin sudah berada di dalam mobil kembali setelah dokter Eka memberikan resep vitamin dan juga penambah darah. Dokter Eka pun memberikan obat anti mual yang mungkin nanti bakal Elin butuhkan, karena setiap ibu hamil berbeda gejalanya ada yang mabok dan ada yang biasa saja, mungkin Elin untuk bulan-bulan pertama tidak mengalami mabok, tetapi apabila tiba-tiba dia mengalami mual-mual maka Elin sudah sedia  obatnya.


"Elin kita mampir supermarket dulu yah buat beli susu untuk ibu hamil. Kamu pasti membutuhkanya," ujar Marni kembali memecah kesunyian. Elin sejak memeriksakan diri ke dokter kembali banyak melamun, tetapi bukan melamun dalam arti dia tidak menerima buah hatinya, tetapi Elin seperti merasakan tidak tega apabila menyalahkan anak yang ada di perutnya. Terlepas dari siapa ayahnya yang sangat Elin benci , tetapi anak itu adalah darah dagingnya, sehingga berat atau ringan ujianya kenapa tidak Elin terima dengan iklas. Itu yang sedang Elin pikirkan dalam isi kepalanya.


"Elin ikut ajah Dok," jawab Elin dengan pasrah. Sementara Marni selain memang Elin mebutuhkan susu,karena  juga Arya dan Marni berencana agar Elin dan Marni berjalan-jalan lebih dulu agar pulang lebih lama, karena Arya di rumah Eric sedang membahas masa mudanya dan juga Lucas. Tepatnya membahas hasil tes DnA yang sedang dilakukan oleh Elin.


"Kamu kalau pengin apa-apa ambil saja Elin, jangan takut nanti aku yang bayar, sebagai hadiah buat calon keponakan aku," ujar Marni yang memang wanita itu sangat baik, dan tidak pernah perhitungan .


"Dok, ini seperti ini kayaknya belum terlalu penting, jangan dulu lah. Lagian kan perut Elin ajah masih rata loh," protes Elin yang tidak ingin kalau dia Marni justru menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu penting. Lagian Elin juga tahu kalau dokter Marni kerja juga cape, tetapi malah dia membuang-buang uangnya untuk membelikan baju Elin.


"Hist... apa sih Elin, tidak apa-apa kalau aku membelikan kamu baju, sekali-kali lagi. Aku tidak pernah membelikan kamu apa-apa, rasanya tidak akan masalah kalau aku membelikan kamu baju beberapa setel, lagi pula nanti kamu pasti akan membutuhkanya Elin," lirih Marni dengan tangan dan mata masih sibuk mencocokan pakaian untuk Elin.


"Ya udah Elin nggak bisa bilang apa-apa lagi selain terima kasih yah Dok. Elin nggak bisa balas apa-apa untuk semua yang sudah dokter Marni, bahkan sampai mau dengan repot-repot dan uang yang tidak sedikit membelikan Elin pakaian hamil," ucap Elin, tidak ada salahnya menerima pemberian dari Marni.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Nah kayak gitu dong. Kalau kamu terima apa yang aku kasih, aku kan jadi semangat." Entah berapa setel pakaian yang Marni belikan untuk Elin. Sepertinya yang lebih antusias untuk menyambut kehamilan Elin adalah Marni.


Setelah berkeliling untuk mencari pakaian untuk ibu hamil dan juga untuk Marni sendiri, kini dua wanita itu sedang menikmati makan malam yang lezat, mungkin bisa di bilang perbaikan gizi, Setelah biasanya Elin makan paling banter dengan daging dan ayam sertya ikan-ikanan sekarang Elin di ajak oleh Marni mencicipi masakan dari Turki yang kata Marni di lestoran itu terkenal masakan turki  yang paling lezat.


'Kamu pesan apa ajah yang ingin kamu kama Elin, jangan takut untuk tagihanya, karena Arya seperyinya sedang baik hati dia meminjam kan kartu ini." Marni menunjukan sebuah kartu berwarna hitam, milik calon suaminya yang sudah dipastikan hanya kalangan atas yang memiliki kartu-kartu itu.


Elin pun hanya membalas anggukan dan juga senyum yang mengembang sempurna. "Terima kasih ya Allah, selain Engkau mengirimkan ujian untuk aku, Engkau juga tidak lupa mengirim mereka untuk  menguatkan aku


...****************...


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Elin dan Lucas yuk mampir ke karya teman othor, di jamin pasti kalian bakal baper sampai kronis...


Mampir yah, kuy meluncur....


__ADS_1


__ADS_2