Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 115


__ADS_3

"Selamat siang Zakia," sapa Marni, sesuai yang Arya minta. Mirna pun datang ke ruangan Zakia untuk menemani Jiara yang mungkin butuh istirahat, sehingga bisa bergantian untuk Mirna menjaga buah hatinya.


Zakia yang sedang makan siang pun langsung memalingkan pandanganya pada Mirna yang ada di depan pintu. Senyum lesu terlihat dari wajah anak kecil itu. "Siang Tante," jawab Zakia dengan lirih, dan Jiara pun membalas dengan senyum teduh dan anggukan kepala, sebagai salam hormat.


"Wah, Kia sedang makan siang yah, makan pakai apa tuh?" tanya Marni dengan suara yang dibuat menyerupai suara anak-anak.


"Sama baso, dan sayur Tante." Jiara yang mewakilkan menjawab pertanyaan Marni, itu semua karena Zakia sedang tidak baik-baik saja, makan pun seolah terpaksa. Bukan karena sakitnya, tetapi anak kecil itu sedang kangen dengan papahnya.


"Kok, kayaknya Zakia sedang sedih ada apa?" tanya Marni, sembari mengambil duduk di samping Zakia. Kini Jiara yang memberi kode pada Marni, mungkin ada yang ingin di bicarakan, dan Marni pun hanya diam, paling bermain dengan Zakia. Namun memang anak gadis itu sepertinya sedang sedih sehingga dia tidak banyak berinteraksi berbeda dengan pagi tadi. Yang lebih bawel dan banyak bercerita.


"Emang Kia kenapa Ji?" tanya Marni setelah gadis kecil itu tertidur.


Jiara mengambil duduk di samping Marni. "Aku pusing Mar, Zakia nanya papahnya terus, bahkan aku tadi sempat bentak dia setelah dia nggak mau makan, kalau nggak ada papahnya, padahal kan kita juga cape ngurusin dia, malah dianya aneh-aneh mintanya," dengus Jiara sebari mengusap wajahnya. Wanita berhijab itu sebenarnya menyesal telah membentak putrinya, tetapi wanita itu juga pikiranya masih tidak menentu.


Terlebih apabila teringat dengan Lucas, ia masih sangat ingat dengan kejadian malam kelam itu. "Aki juga sebenarnya kasihan dengan dia, apalagi dia lagi sakit, tapi aku juga kesal dengan papahnya dia, makanya itu aku nggak izinin dia untuk bertemu dengan papahnya. Aku nggak mungkin melarang dia bertemu dengan papahnya kalau papahnya benar dan tanggung jawab. Aku masih ingat perlakuan papahnya. Rasanya aku belum siap kalau harus bertemu laki-laki itu lagi," lirih Jiara.


"Kira-kira aku harus gimana Mar, apa perlakuanku itu salah," lirih Jiara,


Sementara Marni hanya bisa mendengarkan, tanpa bisa memberikan masukan karena memang dia juga belum tahu apa yang menyebabkan Jiaratrauma sepertia ini.


"Aku belum tahu permasalah kamu Jia, jadi aku belum bisa banyak memberikan masukan, takutnya malah salah," jawab Marni. "Nanti aku akan sering datang untuk menemani Zakia, jadi mungkin dia akan sedikit melupakan keinginannya untuk bertemu papahnya." Marni mengelus pundak Jiara meskipun Marni sendiri belum tahu siapa papah dari Zakia.

__ADS_1


Jiara pun mengangguk dan tersenyum, ia pun merasakan lega ketika mendengar ucapan Marni.  Mungkin memang Zakia  itu merasa jenuh karena tidak ada temanya, terlebih Jiara akui dia masih belum mengetahui gimana cara merawat buah hati, di mana ia dan Zakia saja baru dekan akhir-akhir ini.


'Maafkan Bunda, Sayang pasti kamu sedih banget, karena tadi Bunda bentak,' batin Jiara, semakin dihantui rasa bersalah.


Disisi lain Arya pun merasakan senang ketika Lucas sudah banyak kemajuan, dan juga kini laki-laki itu tidak lagi marah-marah terus. Tentu yang membuat Arya semakin senang adalah Lucas mengizinkan ia memberikan perawat pada Drya dan itu artinya Elin bisa bertemu dengan ibu kandungnya.


'Semoga ini adalah awal yang baik,' batin Arya, bahkan saking senangnya laki-laki itu dengan perubahan sepupunya ia sampai lupa kalau dia siang ini belum makan siang.


'Tapi itu juga tandanya aku harus mulai membuka kebenaran pada Elin cepat atau lambat semuanya akan terbuka, dan Elin juga harus tahu kalau memang Lucas adalah sodara kembarnya sehingga ia tidak harus takut lagi.' Arya terus bergumam dana batinya. Laki-laki itu tidak hanya berencana untuk mempertemukan Darya dengan Elin putrinya tetapi dia juga harus mulai memperkenalkan Zakia dengan Eric. Gadis kecil itu adalah cucunya dan mungkin dengan adanya dukungan dari Eric, Jiara akan semakin kuat menghadapi ini semua, dan juga Zakia akan semakin bersemangat untuk menjalani pengobatan ini semua.


Masalah Lucas dan Philip biarkan Lucas yang hadapi, Arya yakin sifat teras kepala Lucas sangat cocok dengan apa yang Philip inginkan sehingga ia akan merasakan betapa mujarabnya memiliki cucu seperti Lucas sesuai dengan didikan yang ia inginkan.


Arya yang merasa dipanggil oleh seseorang yang suaranya bahkan sudah sangat di kenalinya.


"Bisakan dibiasakan panggil itu pakai Sayang, Baby atau mungkin panggilan yang lain gitu, biar semua tahu kalau kamu adalah kekasihku," dengus Arya, laki-laki itu bersikap aneh lagi, biasanya ia adalah orang yang paling anti dengan panggilan yang semacam itu, tetapi sekarang ia yang protes pada Marni untuk memanggilnya dengan sebutan yang alay. Itu yang selalu laki-laki itu bilang kalau sebutan sayang dan sebagainya adalah sebutan pasangan alay.


"Hish... nggak usah alay lah," dengus Marni. "Zakia tadi marah dia pengin ketemu dengan papahnya, apa kamu tahu papanya Zakia itu siapa? Kenapa Jiara seperti tidak menyukai Zakia menginginkan papahnya menemuinya." Marni memulai obrolan sembari berjalan keruangan kerja masing-masing.


Arya langsung menoleh pada Marni Seolah laki-laki itu bertanya keseriusan ucapan yang Marni katakan.


'Aku berkata apa adanya, dan Jiara juga sempat membentak Zakia yang tidak mau makan kalau tidak ada papahnya. Itu yang Jiara katakan padaku," imbuh Marni lagi, agar Arya percaya apa yang ia katakan. Tentunya Arya sebenarnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Marni, terlebih memang biasanya ikatan anak kecil akan kuat, mungkin Zakia juga merasakan apa yang Lucas rasakan, mitu sebabnya dia ingin bersama Lucas.

__ADS_1


"Apa kamu tahu siapa papah dari anak itu?" tanya Marni ulang.


"Tau. Dia adalah Lucas," jawab Arya dengan santai.


"Hah... kamu serius, laki-laki itu adalah papah dari Zakia." Marni tentunya merasakan keterkejutan yang teramat setelah mendengar apa yang Arya katakan.


"Apa ada selama ini yang aku ucapkan adalah sebuah kebohongan. Aku ajah sedikit kaget dengan fakta ini," balas Arya, dan Marni hanya menggelengkan kepala seperti tidak percaya dengan ucapan Arya kali ini.


"Aku heran dengan kehidupan laki-laki itu, apa dia  tidak memiliki sisi positif sehingga banyak sekali yang dia sembunyikan dalam hidupnya," lirih Marni, dan wanita itu akan kembali masuk ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Nanti kamu temenin aku menemui Om Eric untuk mengatakan bahwa ia sudah punya cucu," lirih Arya, ada kesempatan untuk kembali bersama-sama dengan kekasihnya.


Marni hanya menanggapinya dengan membuang nafas jengah. Sementara Arya terkekeh dengan ekspresi kekasihnya itu.


*******


Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Elin dan Arya, yuk mampir ke novel bestie othor yah, di jamin kalian bakal baper dan suka...


Kuy ramaikan....


__ADS_1


__ADS_2