
"Gimana, aku boleh pulang kan?" tanya Elin, begitu melihat Lexi memasuki ruangannya lagi. Sementara Elin sangat terlihat sekali wajah yang sangat cemas, mungkin sepanjang Lexi menemui dokter dia juga berdoa agar usaha Elin dan Lexi tidak sia-sia.
"Berhasil setelah di paksa, dan aku pun harus menanda tangani surat pernyatan kalau aku tidak akan menuntut apabila terjadi sesuatu dengan kamu," ucap Lexi dengan ketus.
"Maaf kalau aku justru membuat kamu kesal," ujar Elin, dengan tatapan yang serius dan bersalah.
"Lupakanlah, aku ikhlas membantu kamu, bahkan kalau orang tua kamu butuh kesakian, aku siap mengatakan apa yang kamu sembunyikan dari mereka."
Sontak wajah Elin langsung berubah.
"Kamu mengancam aku?" tanya Elin dengan tatapan yang sangat tajam, bahkan bukan hanya Elin yang heran kenapa Lexi berubah menjadi sangat baik dan lembut. Lexi pun heran kenapa bisa Elin berubah menjadi sangat galak. Terlebih dia seolah sangat mirip dengan Lucas. Lexi seperti sedang berbicara dengan Lucas bukan dengan Elin wanita yang lemah lembut.
"Mungkin kalau kamu bandel memang aku harus menggunakan ancaman, tapi apa kamu benaran bisa diancam. Aku melihat sih kamu itu tidak bisa diancam, apalagi di sayangin." Lexi memberikan obat-obatan yang sudah ia tebus.
"Apa kamu bisa menyembunyikan obat-obatan sebanyak itu dari keluarga kamu? Apa mereka tidak curiga kalau kamu itu sedang sakit melihat obat yang kamu konsumsi, bukan obat-obatan ringan?" tanya Lexi dengan wajah yang serius sangat ingin tahu bagaimana reaksi Elin ketika dirinya bertanya seperti itu.
"Kamu jangan tanya yang macam-macam, cukup kamu jaga rahasa aku," sungut Elin dengan nada dan tatapan yang mengancam.
"Kamu tidak akan membuang obat-obatan itu kan?" Lexi semakin curiga kalau Elin itu tidak akan meminum obat-obatan itu. Yah, Elin seperti sedang menyiksa tubuhnya.
Sontak dia langsung menatap Lexi dengan sengit, ini tatapn kebencian, tetapi sangat berbeda dengan Elin yang beberapa waktu silam juga menatapnya penuh kebencian. Lagi-lagi Lexi melihat Lucas yang ada di diri Elin.
"Kenapa aku melihat sedang berkomunikasi dengan Lucas bukan dengan Elin yang ramah dan lemah lembut," desis Lexi, tetapi tentu Elin mendengarnya.
"Sejak kapan Elin ramah dan lembut, dari dulu aku memang seperti ini, kalau malam itu kamu melihat aku seperti kucing kampung yang sangat menyedihkan, karena kamu yang mengancamnya dengan ancaman membahayakan Papah aku. Pada kenyataanya aku seperti ini, Galak dan sangat menyebalkan." sergah Elin dengan pandangan yang malas.
"Tapi kenapa aku malah suka sama orang yang seperti ini. Gimana kalau aku datang ke rumah kamu dan aku melamar kamu?" tanya Lexi, dia benar-benar merasa tertantang dengan Elin yang seperti ini.
"Ini suster ke mana sih, tinggal lepas infus saja lama banget, kalau nggak datang-datang juga aku tarik nih infusan," oceh Elin, semakin malas menanggapi Lexi yang semakin gila. Ia ingin baru-baru pergi dari Lexi.
"Kan pasien mereka bukan hanya kamu saja Nona, atau mau aku yang copot selang infusnya? Aku bisa loh melakukannya," tanya Lexi dia sudah biasa melakukan ini, dulu ketika hidupnya masih gelap tanpa tujuan, kegiatan medis wajib ia kuasai.
Namun kali ini dia sudah yakin hidupnya memiliki tujuan yang jelas menaklukan Elin yang galak, dan lucu.
Lagi, Elin mendelik ke arah Lexi dengan sengit, "Kenapa kamu nggak pulang saja sih, ngapain juga ada di sini terus kepala aku pusing lihat kamu di sini, mana bawel," desis Elin, secara tidak langsung dia mengusir Lexi dari pandanganya.
Hahaha... Lexi terkekel, 'Fix nih cewek bakal gue kejar sampe ke pelanet Mars juga.' batin Lexi yang terus terkekeh. Sementara Elin yang mendengarnya benar-benar jengkel.
Elin mengunci mulutnya, cape energinya berkurang gara-gara Lexi yang tidak waras, dan laki-laki itu pun menuruti apa yang terjadi pada Elin, dia membalas kediaman Elin tidak sekalipun Lexi berucap. Bahkan laki-laki itu merasakan tubuhnya jauh lebih sehat, tidak lagi lemas seperti biasanya.
Tidak lama menunggu dengan kondisi ruangan yang sunyi, karena baik Elin dan Lexi saling diam. Ingin Elin memaki suster yang datangnya sangat lama sekali, tetapi apa yang dikatakan Lexi benar, mungkin pasien di rumah sakit ini banyak.
__ADS_1
Namun, sedetik kemudian Elin berpikir lagi, bukanya perawat di rumah sakit ini juga tidak hanya satu?
"Nona aku akan melepaskan selang infusnya, dan tolong Anda benar-benar jaga kesehatan yah. Apalagi Anda pulang bukan karena sembuh, tetapi karena Anda yang memaksa. Sayangi tubuh Anda Nona, karena apabila sudah sakit akan sangat gampang terserang virus yang lain. Dan juga kondisi Anda sedang hamil, jadi jaga kesehatan juga untuk buah hati Anda." Suster yang sedang melepaskan selang infus di tangan sebelah kiri pun terus memberikan nasihat. Suster itu terus menasihati Elin. Bahkan mungkin kalau kuping Elin buatan manusia sudah rusak, saking panasnya mendengan nasihat-nasihat itu.
"Baik Sus," jawab Elin dengan singkat.
"Obatnya di minum yah Nona, jangan sampai Anda semakin parah sakitnya, karena kalau hati sudah rusak, jalan satu-satunya harus melakukan transplantasi hati dan itu akan sulit mencari hati yang pas untuk Anda belum biaya yang pastinya tidak sedikit." Sebelum benar-benar pergi sang suster kembali memberikan nasihat.
Elin membuang nafasnya dengan kasar, dan juga terlihat raut wajah yang sangat berbeda dengan Elin yang barusan berbicara dengan suster, lebih dngin dan tentunya lebih galak.
"Kamu hafalkan apa yang suster tadi katakan, kalau sakit kamu semakin parah kamu harus melakukan transplantasi hati, atau cangkok hati dari hati orang yang normal yang mau mendonorkan hatinya, dan satu lagi kamu jaga anak kita, jangan sampai dia kenapa-napa," oceh Lexi yang mendadak sudah ada di samping ranjang Elin, bahkan wanita itu sudah mengira kalau Lexi sudah pergi.
"Kenapa kamu masih ada di sini sih?" cetus Elin, dengan bersusah payah mau turun dari ranjang dan pulang ke rumah Philip sebelumnya Elin sudah meminta kalau Papahnya untuk mengirimkan alamat rumah kakeknya, karena sesuai janji Elin pada Arya dia akan pulang ke rumah kakeknya langsung, agar Arya tidak curiga dan cemas
Lexi mengulurkan tanganya untuk membantu Elin, tetapi memang Elin yang sebenarnya memiliki watak yang sama dengan Lucas, keras kepala. Menolak dengan tegas yang Lexi lakukan. Dia tetap pada pendirianya tidak mau disentuh oleh Lexi.
"Sumpah aku melihat kamu itu sangat mirip dengan Lucas, keras kepala, tapi tunggu!! Kenapa Lucas bicara ke aku kalau kamu sudah meninggal apa ini rencana kamu agar Lucas tidak mengganggu kamu?" oceh Lexi ketika mereka sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit, bahkan Elin yang tidak tahu di mana pintu keluarnya pun asal-asalan mengayunkan kakinya menyusuri lorong yang panjang dan nampak bersih dan sepi.
Lagi, Elin hanya diam, terlebih yang Lexi bahas adalah Lucas orang yang sangat dia benci.
"Kenapa kamu tidak jawab? Pasti tebakan aku adalah sebuah kebenaran, iya kan?" Lexi kali ini menjadi orang yang paling bawel. Dan Elin seperti pasa perinsipnya malas berbicara dengan Lexi, dia sudah menganggap kalau Lexi udah tidak ada.
Sementara Lexi yang tahu kalau Elin tidak menanggapi ucapanya, pun kembali diam tetapi ia mencari cara agar Elin mau berbicara lagi dengan dirinya, biar dah marah-marah juga yang penting jangan diam. Lexi takut kalau Elin diam.
"Aku antar kamu," ucap Lexi yang tahu arti dari tatapan Elin yang sangat sadis itu.
"Tidak perlu, karena aku bisa naik taxi dari pada naik mobil kamu. Nanti pasti kamu meminta imbalan yang tidak masuk akal," desis Elin, mempertahankan dengan pendirianya ia tidak mau berhutang budi dengan Lexi. Keinginanya hari ini adalah cepat-cepat bebas dari laki-laki yang bernama Lexi, dan penyesalanya hari ini adalah dia berobat di rumah sakit yang salah, sehingga Elin harus bertemu dengan Lexi.
"Aku bertanggung jawab untuk keselamatan kamu, kamu tinggal duduk manis tidak harus ngomong apa-apa sudah cukup." Lexi terus memaksa Elin, kalau Elin bisa bersikap menyebalkan seperti itu, maka Lexi juga sama dia tinggal mengikuti bagaimana permainan Elin itu.
"Kenapa sih kamu dari dulu suka mengancam dan juga suka menyuruh-nyuruh tidak jelas," oceh Elin, tetapi pada akhirnya wanita itu mau juga masuk ke dalam mobil Lexi. Meskipun dengan dongkol.
Namun alih-alih Elin duduk di kusi belakang yang mana pintu mobil sudah di bukakan oleh Mario. Elin justru duduk di kursi penumpang depan.
"Nona, Anda duduk di belakang, di depan itu adalah wilayah saya." Mario menasihati Elin agar pindah kursi.
"Perkara kursi saja ribet banget yah, lagian aku mau duduk di mana kek itu urusan aku, tugas kamu haya nyetir dan fokus kejalanan, karena aku tidak mau dibuat mabok oleh kamu," dengus Elin menatap Mario dengan sengit.
"Udah Marco, biarkan dia mau duduk di mana saja, bahkan kalau muat mau duduk di bagasi juga silahkan saja, kita pura-pura tidak ada pengguninya," lirih Lexi yang tahu kalau Elin sedang melakukan protes lagi agar tidak terlalu Lexi kepoin hidup dia.
Tidak lama Lexi pun masuk ke dalam mobil mewahnya. "Kamu tinggal katakan pada supir kalau kamu mau ke mana," ucap Lexi begitu masuk ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Sementara Elin pun tanganya langsung mencari alamat yang di bagikan oleh papahnya. Elin menyebutkan dengan detail alamat rumah yang akan ia datangi. Lexi pun mengernyitkan dahinya ketika mendengar dengan apa yang Elin katkan itu.
"Bukan itu alamat Philip, ngapain kamu datang ke rumah Philip?" tanya Lexi semakin curiga siapa Elin sebenarnya, apa ia Philip menerima Elin sebagai cucunya, sedangkan Elin adalah anak dari sang pelakor.
"Udah sih, kamu tinggal diam dan antarkan aku datang ke rumah itu, jangan kebanyakan tanya aku pusing," ringis Elin, bukan dia sakit kepala sungguhan, tetapi dia pusing dengan ucapan Lexi yang kepo. Elin tidak ingin kalau Lexi tahu siapa dia sebenarnya.
"Apa Lucas sudah tahu kamu tinggal di rumah itu? Tidak mungkin kan kamu tinggal di rumah itu, tetapi Lucas sampai tidak tahu?" cecar Lexi lagi semakin penasaran.
"Bawel yah," sungut Elin, dan wanita itu pun langsung memejamkan matanya, tidak mau menanggapi ocehan Lexi lagi yang sangat menjengkelkan, apalagi yang disebut Lucas dan Lucas. Entah sudah berapa kali dia menyebutkan nama Lucas. Kuping Elin sampe mau pecah.
Tidak lama Elin pun sampai di depan gerbang itu, dan Elin lagi-lagi di buat terkejut dan kaget ketika melihat rumah mewah kakeknya yang akan dia tempati nya juga. Baru kali ini Elin akan tinggal di dalam rumah mewah ini, Bahkan dia tidak tahu bentuk dalamnya seperti apa.
Lexi terus meperhatikan Elin yang reaksinya nampak heran dengan rumah mewah itu. Yah, Elin sangat terlihat sekali reaksi terkejut dan kagumnya. Laki-laki yang sedang duduk di kursi penumpang belakang fokus dengan ponsel pintarnya membaca laporan dari orang-orang suruhannya yang bekerja mencari dalang dari pembunuhan Tamara.
Seperti Arya kemarin kali ini mau masuk kedalam pun harus melakukan pemeriksaan super ketat. Hingga Tuan Philip mau bertemu dengan mereka atau tidak.
"Mohon maaf Nona namanya siapa dan hubunganya dengan Tuan Philip apa, karena kami tidak bisa memasukkan kalian kalau kalau identitas Anda tida jelas." Seorang security menghampiri mobil mereka dan mendata siapa yang datang.
"Saya Elin, cucu dari Kakek Philip," ucap Elin dengan suara sedikit di pelankan.
Deg!!! Lexi yang sejak tadi menajamkan telinga pun sudah pasti dengar dengan apa yang Elin ucapkan barusan.
'Apah, kalau Elin benar cucu Philip itu tandanya?' batin Lexi, ia tidak mau menebak-nemabk sehingga ia pun harus ikut masuk ke dalam dan menanyakan hal ini pada Philip langsung. Karena sekuat dan sekeras dia berusaha mencari kebenaranya dari Elin itu sangat susah.
"Kalau Anda siapa?" tanya security pada Lexi, sebenarnya Lexi tentu sudah di kenal oleh Philip, mengingat Lexi adalah teman baik Lucas. Mereka dulu juga sering menginap di rumah ini.
"Lexi, datang ke sini akan membicarakan perkembangan kasus Lucas," jawab Lexi dengan jelas tidak seperti Elin tadi yang terdengar kalau dia tidak mau diketahui apa rencananya.
Deg!!
Kali ini Elin yang kaget, 'Kasus? Kasus apa yang terjadi pada Lucas?' Wanita itu ingin menanyakanya pada Lexi, tetapi ia pun sama sangat paham kalau Lexi tidak akan dengan mudah bercerita padanya.
"Kalian tunggu yah," ucap security, mereka langsung menghubungi Philip yang ada di dalam sana. Tidak lama menunggu security tadi datang kembali.
"Kalian boleh masuk."
"Gila yah, mau masuk rumah Kakek sendiri saja pemeriksaanya ketat banget," gerundel Elin, ia bahkan baru datang ke rumah ini kali ini, tentu tidak tahu kalau kakeknya sekaya apa.
"Mereka melakukan ini semua dengan alasan pengamanan Nona, katanya kamu cucu dari Tuan Philip, masa tidak tahu kalau dia seorang milioner, perusahaanya tidak hanya satu dua tetapi banyak, belum kebun kelapa sawit yang tebesar di negara ini, kalau pengamananya asal-asalan, rampok bisa-bisa datang setiap hari untuk meminta sumbangan dari rumah ini," dengus Lexi sembari terkekeh ringan.
"Ya, mana saya tahu kalau Tuan Philip itu sekaya itu, aku pikir dia paling sekelas juragan empang," balas Elin dengan santai.
__ADS_1
Sontak saja Lexi tertawa dengan renyah ucapan Elin, yang mengatakan kalau Philip sekelas juragan empang.