
"Erlan... apa itu Erlan anak Mamih?" tanya ibunya sembari menatap Lucas yang baru masuk. Tatapanya sangat dalam seolah wanita berwajah tirus itu tengah mengamati wajah putranya.
Lucas yang baru mendengar suara ibunya dan mencari Erlan, yang dia tidak tahu siapa Erlan. Lucas langsung memeluk tubuh kurus mamihnya dan baru kali ini Lucas merasakan kehangatan. "Ya Tuhan, apa ini rasanya di peluk oleh seorang ibu, kenapa terasa hangat sekali.
Tangan lemah Darya mengelus rambut Lucas. "Erlan..." lirih Darya lagi. Lucas semakin bingung siapa Erlan, tetapi kenapa setiap mamihnya mengucapkan Erlan, pikiranya selalu menangkap nama Elin, wanita yang sangat ia benci.
"Siapa Erlan, apa Erlan adalah nama suaminya? Lalu yang di sebut Arya Eric itu siapa? Apa itu orang yang sama?" batin Lucas masih dalan pelukan ibunya.
"Mam, ini Lucas, putra Mamih. Lucas Philip Mufasa." Lucas menekankan nama panjangnya itu, yang ia tahu dari akta kelahiran dan nama selama sekolah, mungkin saja mamihnya mengenal nama itu, nama yang dia beri ketika anaknya lahir.
Namun, Darya justru nampak mengernyitkan dahinya, seolah dia tidak mengenali nama Lucas. "Mamih, apa Mamih lupa kalau Mamih punya anak laki-laki dan namanya Lucas," ujar Lucas masih terus berusaha memberikan ingatan pada mamihnya agar mamihnya ingat, yah mungkin saat ini memang mamihnya tidak ingat sesuatu tetapi Lucas yakin apabila berusaha terus menerus mamihnya akan ingat. Ini hanya ujian yang Tuhan berikan pasti semuanya akan berlalu, seperti itu kira-kira pemikiran Lucas.
Darya yang meencoba mengenal nama itu justru nampak menangis histeris, dan lagi-lagi seperti dulu yang Lucas lihat ibunya hanya menangis dan melamun. Suster dan dokter berdatangan, sedangkan Lucas mundur secara teratur, tatapan matanya terus memperhatikan mamihnya yang terus nangis histeris, "Jahat, kalian jahat kalian bunuh anakku. Kembalikan anaku, kembalikan suamiku," racau Darya, yaang membuat mata Lucas memanas dan tatapan matanya terus memperhatikan mamihnya. Wajahnya memerah dan mata yang tidak lepas dari mamihnya.
Brukkk... tubuh kekarnya membentur tembok ketika dia terus-terusan mundur tanpa sadar sudah berada di ujung kamar. Lututnya lemas seketika, dan ia bersimpuh dengan tubuh di biarkan menyender ke tembok. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mamih ya Tuhan? Kenapa Mamih berkata suami dan anaknya di bunuh? Apa yang Mamih alami tanpa sepengetahuan aku Tuhan." Lucas menjambak rambutnya, pikiranya semakin di hantui dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Apa yang di katakan Arya ada benarnya? Apa ada yang dengan sengaja mengarang cerita agar keluargaku hancur? Apa yang terjadi selama aku tidak tahu apa-apa. Apa saja yang telah Mamih alami hingga depresi seperti ini," lirin Lucas, lemas sekujur tubuhnya melanda.
"Tuan, apa kita bisa berbicara berdua saja?"tanya Dokter yang menangani mamihnya selama ini.
Lucas menatap dengan tajam, kedua matanya seolah ingin mencabik-cabik dokter yang tidak berguna itu. Yah, Lucas menganggap bahwa dokter itu tidak berguna, sebab Mamihnya sudah lama di rawat, tetapi tidak juga sembuh, ibunya tidak juga mendapatkan kemajuan, malah Lucas melihat kondisi ibu kandungnya semakin menurun. Hal itu membuat dia semakin kesal dengan tiga dokter yang di bayar mahal oleh kakeknya tetapi seolah tidak ada gunanya. "Kerja kalian apa? Hingga Mamih sudah di rawat berapa tahun tetapi kondisinya makin parah?" tanya Lucas, tatapanya masih membunuh dengan mata merahnya, suaranya yang berat dan tegas, menandakan betapa kecewanya Lucas dengan kinerja dokter yang menangani Mamihnya.
Padahal ini adalah kedatangan Lucas yang mungkin sedikit lama, biasanya ia datang dengan tergesa dan pergi dengan tergesa, bahkan selama satu tahun ia datang bisa di hitung dengan hitungan jari. Sedangkan Tuan Philip dan istrinya juga sama malah hampir tidak pernah mau perduli dengan perkembangan putrinya, atau malah mereka sudah menanggap bahwa Darya anak satu-satunya sudah meninggal dunia, sehingga untuk menanyakan perkembangan putrinya saja hampir tidak pernah.
"Mohon maaf kalau kerja kami masih belum bisa memberikan perubahan yang besar. Kita harus berbicara Tuan, ini menyangkut kesehatan mental Mamih Anda, selama ini kami sulit berkomunikasi dengan Anda maupun Tuan Philip, sehingga kami bingung untuk mengambil keputusan atas Nyonyah Darya, karena yang memiliki wewenang atas keputusan penanganan mengenai Nyonyah adalah Ana atau Tuan Philip. Kalau dua-duanya sulit kami hubungi kami tidak bisa melakukan apa-apa selain menjaga nyonyah Darya," ujar Dokter dengan suara sopan.
"Bisa keruangan saya Tuan!" ucap dokter sembari menjulurkan tangan kananya, agar Lucas bangun dari duduknya, dan mengikutinya keruangan kerja sang dokter.
Lucas mendengus malas, tetapi tak ayal, dia juga mengikuti sang dokter di mana dia akan memberikan laporan mengenai mamihnya, sementara Darya, dia sudah di tenangkan lagi-lagi dengan obat penenang. Ketika wanita itu terus meraung, meracau hal-hal yang entah apa maksudnya, Darya juga sering diikat tangan, karena sering melukai tubuhnya. Yah ditubuh Wanita paruh baya itu banyak terdapat luka-luka yang di sebabkan oleh dirinya sendiri, di mana dia ingin mengakhiri hidupnya. Wanita itu ingin menyusul anak dan suaminya, lalu siapa anak dan suaminya yang ia maksud, siapa yang sudah meninggal?
"Silahkan duduk Tuan," sang dokter lagi-lagi mengulurkan tanganya untuk meminta Lucas duduk, dan dia akan menjelaskan yang terjadi dengan Mamihnya.
__ADS_1
"Katakan apa yang ingin kamu katakan!" ucap Lucas, dengan nada yang jutex dan dingin.
"Sebenarnya saya hanya ingin menyarankan agar Mamih Anda di rawat di rumah sakit jiwa, karena di sana...(Ucapan dokter terpotong)
"Apa kalian sudah tidak sanggup merawat Mamih ku?" tanya Lucas langsung memotong ucapaan dokter, tanpa menunggu selesai dan mendengar alasan dokter menyarankan untuk membawa Darya kerumah sakit jiwa.
"Bukan Tuan, tetapi selama dirawat di rumah pribadi Anda, Nyonya Darya justru seolah semakin terpuruk mentalnya, mungkin apabila di rawat di rumah sakit jiwa beliau akan sedikit ada perubahan. Tidak ada salahnya apabila Anda mencoba. Semua demi kebaikan ibu Anda. Selama saya merawat Ibu Anda sudah lebih dari sepuluh tahun, kami tidak menemukan perubahan yang berarti. Kita harus cari jalan lain yang mungkin saja akan memberikan hasil untuk perkembangan kesembuhan Nyonyah Darya." Sang Dokter memberikan alasan mengapa ia mengusulkan agar Darya di rawat di rumah sakit jiwa.
"Akan aku pertimbangkan usulan kamu," jawab Lucas dengan ketus.
"Nyoyah Darya juga akhir-akhir ini menyebut nama Erlan. Apa Anda kenal siapa yang bernama Erlan? Mungkin kalau tahu bisa membantu untuk kesembuhan Mamih Anda. Beliau juga meracau bahwa suami di bunuh, apa ada yang Anda tahu dengan anak dan suaminya. Sebelumnya selama kami merarat Mamih Anda baru kali ini Nyoyah Darya merancau hal semacam itu. Entah itu yang dia ingat dan benar terjadi. Atau itu hanya ketakutanya alam bawah sadarnya saja," terang Dokter, yang berhasil membuat Lucas berfikir ulang.
Lucas kini merasakan penyesalandi mana usianya selama ini tidak pernah sedikitpun peduli dengan ibu. Di mana dia selalu merasa bahwa ibunya sudah mendapatkan penanganan yang terbaik. Dengan uang kakeknya sudah mengurus semua kebutuhan dan perawatan mamihnya. Namun baru sajah Lucas tersadar bahwa kehidupan manihnya sangat menderita, di mana memiliki anak tapi tidak tahu apa yang terjadi dengan mamihnya itu.
"Maafkan Lucas Mih, Lucas sudah jahat sama Mamih," batin Lucas dengan sedih.
__ADS_1