Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Izinkan Aku Melindungimu


__ADS_3

"Jadi menurut dokter Arya, aku harus gimana?" tanya Elin dengan sorot mata yang bingung.


Tangan Elin yang kecil dan lentik di raih oleh tangan Arya, di mana besar tangan Arya dua kali lipat tangan Elin. Kedua tangan itu saling menggenggam, sorot mata Arya yang tegas menatap Elin dengan serius. "Tetap di sini! Aku yang akan menjaga kamu, aku yang akan mengawasi kamu dan Om Eric, dari bahaya Lucas dan Lexi. Kalau  kalian pindah ke kampung, di mana menurut kalian adalah tempat yang paling aman, aku justru semakin mencemaskan kalian Elin. Kalau Lucas saja sepupu aku, lalu bedanya apa dengan kamu? Kamu juga sepupu aku, meskipun kata Lucas kamu terlahir dari wanita yang berbeda dari Tante aku, tapi aku tetap mengaggap kamu ada sepupu aku. Tetap di sini dan biarkan aku yang mengawasi kamu. Aku lebih percaya dan tenang apabila kamu di sini."


Arya memberikan alasan yang seharusnya bisa menjadi bahan pertimbangan Elin untuk menolak rencana papahnya mengajak dia pindah ke kampung, tempatnya dia tinggal dulu.


"Kalau boleh jujur, entah kenapa Elin sebenarnya lebih nayaman di sini juga Dok. Tempat dan lingkungan sekitar juga baik, serta Elin seperti semakin dekat dengan wanita yang telah melahirkan Elin, tetapi satu sisi perlakuan mereka masih terekam dengan jelas. Terutama Lexi yang semakin membuat Elin ketakutan di setiap membayangkan malam itu. Bahkan tubuh ini seperti masih merasakan rasa sakit itu," lirih Elin. Kepalanya menunduk menyembunyikan wajah sedih, takut dan marah.


"Soal Lexi dan Lucas aku bisa mengawasinya, kamu fokuslah dengan masa depanmu dan juga Om Eric. Papah kamu bisa memulai usaha yang kamu dan beliau rintis. Aku lebih tenang Elin. Aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama bahkan lebih dari ini, apalagi aku tidak bisa membatu kalian. Aku juga merasakan sakit kalau kamu sakit," balas Arya, ini bukan hanya ucapan isapan jempol semata, tetapi memang ini yang dia rasakan.


Bagi Arya, Elin bukan sekedar sepupu, tetapi kehadiranya memberikan kehangatan yang sudah lama ia tidak rasakan terlebih sejak Lily pergi dari kehidupanya untuk selamanya. Hatinya kosong, dan hampa, baru kali ini Arya merasakan kehangatan lagi.

__ADS_1


"Baiklah, Elin akan coba untuk membujuk Papah, agar papah tidak jadi mengajak Elin kembali tinggal di kampung lagi," ujar Elin, kini gadis itu sudah sedikit menemukan semangat baru lagi, terlebih Arya sangat baik dan tidak membuat Elin tertekan, di samping itu Aya juga mau melindungi Elin, padahal mereka tidak ada hubungan dari sebelumnya juga tidak saling kenal, tetap Arya tetap menganggap Elin adalah sepupunya.


*****


Eric membuka pintu berwarna putih, tentu sebelumnya sudah mengetuk dan mengucapkan salam, dan setelah mendapatkan sahutan dari dalam Eric langsung membuka pintu yaag ada di hadapanya dengan perlahan. Dadanya bergemuruh apabila ada kabar yang akan disampaikan oleh dokter Marni adalah kabar yang kurang mengenakan hati.


"Pagi Dok, tadi dokter Arya memberi tahu pada saya bahwa Anda memanggil saya?" tanya Eric dengan membungkukan badanya sedikit condong ke depan.


"Iya betul Pak Eric, sebelumnya silahkan duduk." Dokter Marni menjulurkan tanganya dengan sopan agar Eric duduk di hadapanya. Laki-laki yang baru berumur empat puluh lima tahun dan terlihat masih muda dan gagah duduk di kursi, di hadapan dokter Marni.


Seulas senyum tipis terkembang di wajah cantik dokter Marni. "Anda tenang saja Pak Eric, putri bapak itu wanita kuat (Tangan dokter Marni diangkat dan menyiku dengan menunjukan tanda kuat). Saya bahkan bangga dengan Elin dia adalah wanita yang tidak mengeluh dan tidak menyerah dengan kondisi dia yang di temukan pertama kali dalam kondisi kritis tidak membuat dia nyerah. Justru dia sangat semangat sekali untuk sembuh. Dan itu pemicunya adalah Papahnya yang hebat juga ternyata, semangatnya untuk sembuh Anda Pak Eric. Elin ingin terus menemani Papahnya hingga sang Papah menemukan wanita yang di cintainya. Aku jujur merasa terenyuh dengan cinta putri bapak dan Bapak sendiri yang di luaran sana biasanya sudah jarang Papah dan anak saling mencintai sebegini dalam, tetapi sekarang saya menemukan cinta tulus itu. Cinta dari Papah untuk anak perempuanya begitupun cinta dari anak perempuan untuk Papahnya." Dokter Marni menyunggingkan senyum bangga dan mengajungkan dua jempolnya.

__ADS_1


Eric membalasnya dengan senyuman ramahnya. "Terima kasih dokter, kami saling mencintai satu sama lain, karena di dunia ini yang saya miliki hanya tinggal Elin seorang. jadi sebisa mungkin saya, menjaga dia lebih dari saya mencintai tubuh saya sendiri. Makadariitu saya sangat sedih ketika kehilangan putri saya. tetapi berkat dokter Arya, Elin bisa kembali ke pelukan saya."


Dokter Marni nampak bangga dengan jawaban Eric, hatinya tersentuh, karena masih ada orang tua dan anak yang saling terikat sebegini kuat. "Saya sungguh salut dengan kalian, sungguh beruntung Elin memiliki Papah yang  sangat sayang dengan Elin dan pantas saja dia kuat sekali. Papahnya adalah semangat untuk Elin." Dokter Marni sampai lupa membahas yang akan dia sampaikan dengan memanggil Eric. Saking terlalu hanyut dengan cinta Elin dan Papahnya.


Iri? Sepertinya anak perempuan sangat mendambakan seorang Papah yang seperti Eric. Begitupun dengan dokter Marni, di mana dia kurang begitu dekat dengan papah kandungnya, sangat berbeda jauh dengan Elin, dan Elin adalah satu dari seribu di dunia yang beruntung itu karena mermiliki papah yang sangat mencintai anak perempuanya, tidak hanya itu Eric adalah cahaya untuk Elin dan juga sebaliknya Elin adalah pelangi penuh warna bagi Eric.


"Astagah, gara-gara ngebahas cinta, sampe lupa mau bahas tentang kesehatan Elin." Dokter Marni akhirnya sadar tujuan utama wanita muda itu memanggil Eric.


"Iya Dok, saya sampe gemetaran kalau kabar yang Anda sampaikan adalah kabar kurang mengenakan buat putri saya." Eric lagi-lagi menunjukan wajah cemasnya.


Berbeda dengan Eric yang terlihat cemas dan tegang. Dokter Marni justru mengembangkan senyum ramahnya. Dokter Marni mengambil map laporan rekam medis Elin dan akan menjelaskan dengan kondisi Elin dengan apa yang telah Lucas dan Lexi lakukan.

__ADS_1


Kabar ini memang sedikit membuat nyeri Eric nantinya, tetapi pasti juga ada solusi dari semua yang terjadi dengan fisik Elin, akibat perbuatan kakak tirinya.


Namun, sebelumnya Arya sudah sangat mewanti-wanti pada dokter Marni kalau dia jangan sampai menyebut apa yang sebenarnya terjadi pada Elin. Yah, sebelumnya Arya menceritakan pada dokter Marni apa yang terjadi dengan Elin dan juga alasan apa yang Arya sampaikan pada Eric, bagaimana ia bisa bertemu dengan Elin. Semuanya agar Eric tidak tahu yang sebebarnya terjadi dengan Elin, sesuai yang dimau Lucas dan Lexi.


__ADS_2