Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PWT #Episode 91


__ADS_3

"Jadi kedatangan Nak Lucas kesini cari Jiara?" tanya Abah, laki-laki yang mungkin saat ini berumur lima puluh tahu lebih.


Lucas buru-buru mengangukan kepalanya dengan kuat. "Iya Bah, saya sedang mencari Jiara apa dia ada di sini?" tanya balik Lucas, ada perasaan lega ketika sang pemilik pesantren kenal dengan Jiara.


"Itu tandanya sang sopir taxi tidak berbohong," batin Lucas ada perasaan bersalah ketika laki-laki itu terlalu berperasangka buruk terhadap sopir taxi yang sempat mengantarkanya ke tempat ini. Padahal sang supir juga pasti ngantuk dan cape, tetapi demi mendapatkan beberapa lembar rupiah ia mau mengantarkan Lucas ke tempat yang Lucas sendiri apabila mencari sendiri bisa tersasar entah kemana.


"Ngomong-ngomong kalau boleh tau Nak Lucas siapanya Jiara?" cecar Abah sebelum memberitahukan di mana keberadaan Jiara.


"Saya Lucas, Abah. Atasan Jiara kerja. Kemarin saya lihat Jiara tiba-tiba meninggalkan kantor, tanpa membawa ponsel dan juga berpamitan, maka dari itu saya berniat mencari tahu dia takutnya terjadi apa-apa dengan Jiara."


Abaah pun nampak pahan, hal itu terlihat dari anggukan kepala berkali-kali. "Tapi mohon maaf Nak Lucas, Jiaranya tidak di sini, kemarin begitu datang kata Ambu Nori langsung menuju ke rumah sakit karena anaknya sakit," jawab Abah dengan jujur.


Jeduerrrr... bak disambar petir di siang bolong, Lucas terkejut dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki paruh baya yang saat ini dudul dihadapanya.


"A... Apa yang Abah katakan itu benar? Jiara sudah memiliki anak? Lalu berati dia memiliki suami atau dia janda?" cecar Lucas, pertanyaan itu lolos begitu saja, entah apa yang ada dalam pikiran Lucas, antara kecewa dan tidak percaya kalau Jiara adalah seorang janda, atau bahkan istri orang.


Gelengan kepala terlihat dari laki-laki yang berpenampilan islami, dengan sorban mengalung di pundaknya. Abah tahu kalau Lucas memyimpan hati pada Jiara. Mana mungkin ada atasan yang mau datang ketempat terpencil seperti itu tengah malam hanya karena Jiara tiba-tiba pergi. Pasti ada rasa yang di khususkan untuk Jiara. Kalau tidak ada rasa itu pasti  Lucas akan membiarkan Jiara pergi, toh kalau dia butuh karyawan bisa mencari karyawan yang baru bukan menyusul Jiara.


"Ceritanya panjang, tapi intinya Jiara memiliki anak karena ada laki-laki keji yang tega memperkosanya dan meninggalkan dia begitu saja, hingga Jiara sampai di tempat ini,"  ucap Abah, yang melihat raut wajah kekecewaan pada Lucas.


"Kalau begitu di mana rumah sakit yang merawat anak Jiara, saya ingin menjenguknya Abah." Lagi, entah keberanian dan tujuan apa lagi, bibir Lucas seolah dengan sendirinya menanyakan hal itu.


Abah beranjak dari duduknya dan mengambil bulpoin serta secarik kertas dan menulis rumah sakit tempat Zakia menjalani perawatan. Setelah Lucas menerima kertas itu lalu membacanya, tidak lama pun Lucas buru-buru undur diri. Entah perasaan apalagi, kini Lucas ingin segera ke rumah sakit itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kalau masa lalu Jiara sangat kelam, apa ini alasan Jiara tidak mau menerima aku sebagai suaminya, karena ada anak di antara dia. Anak di luar nikah. Lalu siapa laki-laki itu yang tega memperkosanya," batin Lucas, pandangan matanya menatap secarik kertas yang berisi nama rumah sakit yang di tulis Abah.


"Kenapa aku begitu ingin tahu anak itu dan Jiara. Padahal Jiara sendiri bukan apa-apa aku, ingat Lucas dia hanya sekretaris, tetapi kenapa kamu terlalu perhatian sekali," batin Lucas, dia bimbang apakan akan menyusul Jiara kerumah sakit di mana Jiara berada saat ini atau justru dia akan kembali ke Jakarta, dan membiarkan Jiara dengan masalahnya."


"Kita kemana lagi Tuan?" tanya sopir sebelum melanjutkan perjalanya.


"Alamat ini." Lucas menjulurkan alamat rumah sakit. Setidaknya ia tidak mati penasaran setelah bertemu dengan Jiara.


"Bukankah tujuan aku datang ke lokasi ini untuk menemui Jiara, tetapi kenapa aku setelah tinggal satu lagkah lagi justru kembali ke Jakarta. Setidaknya aku tahu gimaana kabar Jiara saat ini," batin Lucas kembali meletakan kepalanya disandaran sofa penumpang belakang.


*****


"Zakia." Sekejap  Jiara terdiam merasakan matanya menghangat dari sudut bola matanya, tanpa sadar menetes butiran air  turun dengan pelan sekali. Pandangan matanya terus mengawasi tubuh kurus buah hatinya yang terbaring dengan lemah di atas kasur berwarna putih.


Bola mata Zakia di buka dengan gerakan yang sangat pelan ketika mendengar suara yang selama beberapa hari ini di carinya. Senyum samar menghiasi wajah pucat Zakia.


"Bunda... Ambu, Bunda datang..." Seolah anak kecil itu ingin memberitahukan bahwa orang yang sedang dia tunggu sudah ada di hadapanya.


"Iya  sayang, Bunda datang. Kia suka kalau Bunda datang?" tanya  perempuan paruh baya yang lebih sering di sapa Ambu.


Dengan antusias Zakia mengangguk. "Kia suka, kia ingin digendong sama Bunda," lirih gadis yang menginjak umur  dua tahun.


Sekuat apapun Jiara menahan tangisnya tetapi tetap saja lolos juga air matanya membanjiri pipinya bahkan hingga terjun membasahi hijab yang ia kenakan. Anak kecil yang belum berusia genap dua tahun, tetapi dengan pintarnya tahu bahwa Jiara adalah ibu kandungnya. Padahal Jiara dan anak itu saja jarang sekali terlibat komunikasi. Jiara selalu menghindar apabila dengan dan tanpa sengaja ia bertemu dengan Zakia. Tetapi anak kecil itu tetap menyayanginya, tanpa sedikit pun marah dengan apa yang Jiara lakukan dengan dirinya.

__ADS_1


"Kia ingin di gendong oleh Bunda?" tanya Jiara, dengan suara yang berat, tenggorokannya sakit dengan apa yang di lihatnya. Bahkan untuk sekedar berbicara saja terasa sangat sakit.


Zakia langsung mengangguk dengan apa yang diucapkan oleh Jiara. Dan Jiara pun langsung meraih tubuh anaknya, tangaisnya kembali pecah ketia dia bisa mendekap tubuh buah hatinya. "Sayang maaf kan  Bunda, Bunda adalah ibu yang paling jahat. Bunda jahat tidak ada di saat Kia butuh Bunda," lirih Jiara dengan mencium putrinya yang menempel di dadanya dengan tenang tanpa gerak, seolah anak kecil itu sedang merasakan kenyamanan berada di dalam dekapan wanita yang melahirkan dia.


Zakia mengangguk dengan lemah di balik dada Jiara. Tangan Jiara membelai rambut Zakia yang tipis dan berwarna coklat.


"Jia, Zakia sangat rindu dengan kamu, bahkan beberapa hari ini dia selalu memanggil nama kamu, dan sekarang kamu datang semoga saja Zakia senang dan bisa berpengaruh dengan pengobatanya. Dia anak yang baik, bisa mengerti kondisi dia yang berberbeda, tidak rewel, meskipun Ambu tahu kalau  Kia cukup kesakitan dengan serakaian pengobatan yang dilakukan untuk kesembuhanya. Jiara cobalah menerima Kia, percayalah dia anak yang baik, tidak mungkin Tuhan menghadirkan Kia di dalam kehidupan kamu tanpa ada tujuan yang berarti, Pasti ada hikmahnya, mungkin bukan saat ini, tetapi mungkin esok, lusa atau bahkan di tahun-tahun yang akan datang jawaban atas kehadiran Zakia akan kamu dapatkan." Ambu mengelus pundak Jiara yang saat ini sedang duduk sembari menggendong Zakia, putri kecilnya yang langsung pulas tertidur, berada di dekapan ibunya.


"Iya Ambu, Jiara akan menerima Kia, Jia akan coba melupakan mata itu sehingga Jia juga akan coba menerima mata Zaakia, Jia memang tidak sepatutnya membenci Zakia, dia anak yang baik." Jiarat mencium tangan Zakia berkali-kali, seolah wanita itu tengah meminta maaf pada putrinya.


Ambu pun bisa bernafas sedikit lega dengan jawaban Jiara. Dan malam ini Zakia semalaman tidur di dalam pelukan bundanya, gadis kecil itu akan terbangun ketika Jiara berniat memindahkan tubuhnya keatas ranjang, dan terpaksa Jiara tidur dengan memeluk putrinya di depan dadanya, seperti anak Koala yang sedang menempel pada induknya, itulah saat ini yang Jiara lakukan.


Namun Jiara senang bisa berasakan memeluk putrinya, dan hatinya pun tenang ketika Jiara  bisa memeluk tubuh Zakia semalaman. Pagi hari menyapa dan Zakia terlihat lebih segar dan tidak sepucat kemarin, mungkin itu efek gadis kecil itu yang tidur nyenyak semalaman dengan di peluk oleh bundanya.


Jiara pun seolah ingin menebus kesalahanya selama ini yang tidak pernah merawat Zakia, mulai pagi ini wanita berkerudung panjang itu, benar-benar memerankan peran ibu dengan baik. membersihkan tubuh putrinya dan mengganti dengan baju yang bersih.


"Yeh Kia udah wangi," sorak Jiara ketika wanita itu selesai membersihkan tubuh putrinya, Jiara yang tidak biasa melakukanya pun butuh waktu lama untuk membersihkan tubuh Zakia dan mengganti baju yang kotor dengan baju yang baru.


"Terima kasih Bunda," lirih Zakia, yang langsung membuat hati Jiara teriris, ketika mendengar ucapan itu, dan bola matanya yang kembali terasa hangat, tetapi buru-buru Jiara menepis air mata yang mungkin sebentar lagi akan mengintip keluar dari sudut bola matanya.


"Sama-sama sayang, cantiknya Bunda." Jiara mencium dengan gemas  putrinya itu.


"Ya Tuhan kenapa aku baru sadar ternyata berada di dekat anak, hati hamba bisa sebahagia saat ini," lirih Jiara, tatapan matanya terus mengawasi tubuh lemah Zakia.

__ADS_1


__ADS_2