Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 185


__ADS_3

Eric tidak menyangka kalau Philip masih duduk di atas kursi yang sama sebelum ia meninggalkan untuk menyuapi Elin dan Darya.


"Gimana apa Elin mau makan?" tanya Philip dengan wajah yang terlihat sekali kecemasanya.


Eric yang sedang berjalan ke meja makan pun mengembangkan senyum teduhnya, sembari tanganya menujukan piring yang kosong, sama seperti piring yang ada di hadapan Philip itu.


"Alhamdulillah... Apa sekarang dia baik-baik saja?" tanya Philip lagi, bahkan Eric sudah berkata sejak tadi kalau Elin itu baik dan sehat. Hanya saja mual dan hidup sensitif dengan aroma masakan itu wajar saat hamil, tetapi Philip terus saja menanyakan apakah ini baik-baik saja atau tidak. terlihat kalau dia memang benar-benar mencemaskan kondisi Elin.


"Elin baik Pah, sekarang sedang telpon dengan Kia dan Jia. Mereka sedang bahagia karena besok Kia sudah boleh pulang," jawab Eric tidak kalah ia masih merasakan kebahagiaan itu.


"Kia? Jia? Siapa mereka?" tanya Philip yang memang dia belum tahu siapa Jiara dan Zakia, dia memang pernah melihat mereka, tetapi Philip masih belum begitu ingat dengan cerita Lucas beberapa hari yang lalu.


Eric duduk di hadapan Philip sembari mengambil makanan, niat dia keluar dari kamar Elin karena ia lapar, dan biarkan putri dan istrinya bercerita dengan Zakia dan Jiara.


"Kia dan Jia itu istri dan anak Lucas," jawab Eric, sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Tunnggu, sepertinya Papah tahu siapa mereka. Apa itu adalah wanita dan anak kecil yang berhijab panjang?" tanya Philip, ia baru teringat beberapa hari yang lalu di mana ia sempat bertanya pada Lucas. Eric pun menganggukan kepalanya dengan kuat.


"Zakia besok sudah boleh pulang, dan rencanakanya kita ingin mereka tinggal di rumah ini juga agar bisa bergantian menjaga Kia. Apa papah tidak keberatan?" tanya  Eric, tadinya Darya yang kan membicarakan masalah izin, tetapi karena situasi yang memungkinkan sehingga Eric pun memutuskan kalau Eric saja yang meminta izin pada tertua di rumah ini.


Eric nampak memegangi dadanya di mana hidup ini seolah mempermainkan dirinya. Philip yang beberapa hari yang lalu sangat marah, kesal hanya karena Lucas yang sudah menikah, tetapi justru Eric meminta wanita itu tinggal di dalam rumahnya.


Eric yang melihat perubahan wajah Philip menjadi tidak suka. Ia pun tidak ingin memaksanya. "Kalau Papah tidak suka, kami tidak masakah. Mereka bisa tinggal di tempat lain, dan biar nanti kita bergantian untuk menjaganya. Eric hanya ingin kumpul agar tidak terlalu cape pada Jiara. Kasihan dia selama ini sudah menderita karena perbuatan anak Eric, dan sekarang Eric ingin mengganti tiga tahun yang sudah Jia alami dengan penderitaan, karena Lucas. Terlebih anak itu tidak salah apa-apa, jadi mereka berhak bahagia," lirih Eric, dan hal itu berhasil menampar kesadaran Philip yang mengira kalau wanita berjilbab panjang itu menjebak cucunya.


"Ajak mereka pulang ke rumah ini. Rumah ini tempat tinggal mereka juga," lirih Philip tidak ingin mengambil kesalahn untuk kesekian kalinya. Eric menatap wajah Philip ada gurat kecewa di sana.


"Terima kasih atas izinya. Eric tidak akan melupakan kebaikan Papah."

__ADS_1


******


Pagi hari menyapa Zakia, sudah bangun dan hari ini wajahnya nampak sangat bahagia, itu semua karena ia akan pulang dan opa dan omanya akan menjemputnya.


"Bunda... Bunda... Kia mau mandi," celoteh bocah itu begitu membuka matanya. Zakia menatap jam diponselnya. Sedetik kemudian ia menyunggingkan senyumnya.


"Kia, ini masih pukul enam pagi, nanti dokter akan periksa Kia dulu jam sepuluh setelah itu kita baru boleh pulang," lirih Jiara mencoba mengerti pengertian pada putrinya. Ia tahu betul kalau Zakia itu sudah bosan dan juga ia sudah membayangkan pulang dan akan bermain dan berenang seperti yang Elin semalam katakan kalau di rumah mereka nanti ada kolam renangnya.


Zakia nampak berpikir. "Jam sepuluh lama tidak Bunda? Kenapa doktelnya halus datang jam sepuluh?" tanya bocah kecil itu, dan Jiara lagi-lagi harus menjelaskan dengan detail dan juga dengan jelas agar semuanya tidak salah tangkap.


Bocah kecil itu nampak dengan serius mendengarkan apa yang Jiara jelaskan. "Sekarang Kia tahukan jam sepuluh ada berapa jam lagi?"


"Tau Bunda ada empat jam," balas Zakia, dengan lima jari yang mengacung semuanya, dan hal itu membuat Jiara terkekeh.


"Kalau gitu Kia diam yah, Bunda mau bersiap-siap. Terutama membereskan mainan Kia. Sekarang Kia nonton Tv saja Bunda yang rapihkan mainan Kia," lirih Jiara, tanganya meraih remot dan mencari chenel kesukaan Zakia di mana di sana ada kartun kesukaan Zakia dua kembar yang botak. Entah anak itu sudah menonton kartun itu berapa kali, tetapi tidak bosan juga.


Tidak berbeda jauh dengan Zakia yang tidak sabar dengan dirinya yang akan pulang. Elin dan ke dua orang tuanya pun berantusias akan menjemput Zakia.


Memang Elin sejak pulang dari rumah sakit tidak meminum obat-obatan yang dokter berikan, yang dia minum hanya vitamin dan penambah darah serta anti mual untuk buah hatinya. Kini Elin sangat sayang dan sangat berhara kalau bayinya akan baik-baik saja.


Berbeda dengan awal ia mengetahui bahwa ia hamil, rasanya ia ingin berdoa kalau bayinya akan terjadi sesuatu, tetapi saat ini justru kebalikanya. Ia reka mengorbankan segalanya asal buah hatinya baik-baik saja.


"Kamu baik-baik saja yah Kak, sehat untuk Mamah dan Opa dan Oma kmau."


Cukup lama Elin berdiam di sisi ranjangnya ia selalu membaca doa-doa yang Eric ajarkan, tetapi rasanya masih belum berkurang banyak. "Maaf Kia, Tante tidak bisa ikut jemput Kia," lirih Elin ia memilih duduk di kursi yang ada di hadapan balkon. Memilih berjemur dan tidak banyak melakukan aktifitas.


"Sayang..." Eric masuk membawakan susu untuk putrinya. "Apa kamu tidak ikut ke rumah sakit?" tanya Eric sembari menghampiri putrinya yang sedang berjemur. Eric berkata seperti itu pasalnya ia justru melihat Elin yang masih bermalas-malasan, biasanya dia yang akan heboh duluan.

__ADS_1


Elin membuka matanya dan langsung memberikan senyuman pada sang Papah. "Anak Elin nggak mau ke mana-mana, pengin di dalam kamar terus," lirih Elin, tubuhnya di angkat dengan perlahan.


"Mual atau pusing?" tanya Eric kembali.


"Pusing serasa seluruh ruangan berputar, mual juga ia," adu Elin wajahnya ia tunjukan menjadi sangat sedih.


Eric mengusap rambut putrinya. "Pagi ini pengin makan pake apa biar Papah masakan?"


"Pah, kalau Elin ingin pulang kampung apa Papah bakal mengizinkan?" tanya Elin dengan suara yang pelan. Ia tahu Eric tidak akan dengan mudah mengizinkan ia pulang ke kampung halaman.


Eric duduk di hadapan Elin, dan menatap putrinya dengan tatapan yang sayu. "Papah tahu betul perasaan kamu seperti apa, Papah juga cemas dengan kondisi kamu yang seperti sekarang, itu karena kamu terlalu kefikiran, tapi kalau Papah boleh meminta tetaplah di samping Papah. Kamu adalah sumber kehidupan Papah, kalau kamu pergi Papah akan sangat sedih, tapi kalau Papah ikut bersama kamu Papah juga tidak bisa Kakek kamu di sini juga membutuhkan Papah dan Mamah."


Elin hanya menunduk dengan wajah sendu, tetapi beberapa menit kemudian ia mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya.


"Tidak apa-apa Elin mengerti dan Elin akan mencoba menata hati ini." Bibir memang tersenyum, tetapi air mata mengalir, bisa kalian bayangkan betapa sakitnya di posisi itu, kita tidak bisa melawan takdir. Menangis tetapi dipaksa kuat.


Eric berdiri dan memeluk putrinya di mana Elin masih duduk, dan dirangkulnya tubuh kurusnya. Yah, sejak bertubi-tubi ia mendapatkan fakta dengan kehidupanya, Elin hanya bisa pasrah, nafsu makanya hilang, jam tidur yang berantakan, mungkin ini penyebabnya ia mudah terserang virus yang menyerang hatinya.


Pasah dengan keadaan, karena melawan pun ia akan tetap kebali pada keadaan awal. Hanya menambah lelah di tubuhnya.


"Papah akan terus ada di samping kamu, apapun yang kamu rasakan Papah juga merasakanya. Papah tidak akan membiarkan kamu sedih seorang diri, kalau kamu sedih, Papah juga sedih. Kamu dari dulu hingga sekarang adalah sumber kehidupan Papah, kita hadapi bersama-sama apa yang akan terjadi ke depan."


Elin mengangguk dengan lemah. Dan mencoba yakin dengan apa yang diucapkan oleh papahnya. Selama ini memang papah adalah orang yang paling bisa diandalkan dan Elin tahu betul Eric tidak akan meninggalkannya dengan masalah ini.


Cup... Eric mencium pucuk kepala putrinya.


"Kamu adalah anugerah Tuhan, tanpa ada kamu Papah tidak yakin akan sekuat sekarang. Kamu inspirasi Papah."

__ADS_1


Elin tersenyum dari balik pelukan Eric. "Kalau Papah saja bisa bertahan dalam ujian yang berat ini kenapa aku justru berkali-kali ingin menyerah?"


...****************...


__ADS_2