Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode


__ADS_3

Eric dan Lexi berjalan beriringan ke ruangan dokter Eka, dengan perasaan yang berkecamuk. Banyak pikiran buruk yang datang menghampiri.


"Apa Dok? Anak saya harus menjalani transplantasi hati." Eric yang mendengar penjelasan dari dokter Eka pun terkejut. Wajahnya langsung berubah jadi pucat.


"Apa tidak ada cara lain Dok? Bukanya kemarin Anda bilang masih ada kemungkinan oper untuk memotong bagian organ hati yang rusak saja, dan Anda yang bilang kalau hati bisa menyesuaikan meskipun hanya sebagaian organ yang berfungsi, dan ada kemungkinan hati yang telah dipotong bisa tumbuh sampai enam puluh persen?" Lexi pun tidak kalah kaget, dengan penjelasan doker Eka yang dinilai berubah-ubah.


"Memang bisa, tetapi tingkat kerusakan hati dilihat juga untuk melakukan operasi Lex, Elin harus ada cangkok hati, karena tingkat kerusakanya sudah di atas batas normal. Itu sebabnya saya kemarin mengatakan akan ada kemungkinan lain."


"Lalu syarat bagi pendonor apa ajah Dok? Apakah saya bisa melakukanya?" Eric menatap dengan iba. "Apa pun akan saya lakukan untuk putri saya Dok, demi kesembuhan putri saya akan saya lakukan."


".Yang pasti pendonor melakukannya tanpa paksaan dari pihak. Sudah mengetahui kemungkinan efek samping pasca prosedur, efek sampingnya macam-macam dan bisa juga beresiko gagal hati. Berusia dewasa sampai masa produktif. Memiliki fungsi dan kesehatan organ hati yang baik. Bisa dilihat secara fisik dan pastinya secara mental.


Tidak memiliki riwayat penyakit kronis, seperti kanker, diabetes, sakit jantung dan sakit ginjal. Tidak memiliki riwayat penyakit menular seksual, seperti hiv/aids. Berat tubuh juga menjadi pertimbangan. Memiliki golongan darah dan tipe jaringan yang sama.


Bersih dari rokok dan alkohol dalam waktu yang sudah ditentukan.Tapi, kalau dilihat dari umurnya untuk Anda sebaiknya jangan, karena justru bisa saja Anda nanti juga mengalami gagal hati. Cari yang lebih memungkinkan saja. Kalau ada sodara bisa, sodara dari Elin yang melakukanya, karena  kemungkinan memiliki golongan darah dan tipe jaringan yang sama, itu akan makin mudah melalukan tranplatasi, dan kemungkinan berhasil jauh lebih bagus."


Lexi dan Eric langsung saling tatap.


"Saya akan hubungi Lucas, mungkin hanya dia yang bisa bantu," ujar Lexi akan berdiri. "Tapi Lucas justru pengonsumsi alkohol, meskipun dia anti rokok." Lexi kembali duduk dengan lesu, harapanya seperti pupus kembali. Sama halnya dengan Eric, wajahnya yang kembali muram, ketika tahu Lucas kecil kemungkinan bisa membantu Elin.

__ADS_1


"Kalau memang organya masih bagus, dan dalam jangka waktu yang saat ini dia bersih dari alkohol masih ada kemungkinan kok Lex. Apa Elin ada sodara yang bisa membantu?"


Eric mengangguk dengan kuat. "Dia memiliki sodara kembar," jawab Eric dengan sangat yakin.


"Kalau begitu itu kabar yang lebih bagus, kalau kembar jaringan malah lebih besar kemungkinan sama. Coba saja sodara kembar Elin melakukan check up untuk mengetahui kesehatan hatinya. Kalau memang bagus ini adalah kabar gembira untuk kesembuhan Elin." Dokter Eka mengembangkan senyumnya, ketika dua laki-laki dihadapanya justru sedang bimbingan.


"Kalian jangan terlalu takut, pasti Elin sembuh, meskipun dia harus banyak berjuang." Dokter Eka kembali memberikan semangat untuk Lexi dan Eric.


"Saya yakin putri saya pasti sembuh, tetapi saya hanya sedih, kenapa dia harus mengalami banyak sekali cobaan terutama dari fisiknya, banyak sekali yang di telah Elin lewati sampai detik ini. Kadang saya bertanya kapan putri saya akan benar-benar bahagia? Kapan dia benar-benar merasakan ketenangan dalam hiudupnya. Andai bisa di tukar, saya akan menukar bahagia untuk putri saya."


Eric menangis tersedu, membayangkan dalam hidup Elin yang pasti paska menjalani operasi dia juga tidak akan langsung sembuh, rasa sakit yang dia rasakan pasti tidak bisa di gantikan dan kapan anaknya akan bebas dari rasa sakit yang menyerangnya.


Untuk membayangkan selama ini Elin mengalami sakit seorang diri saja Eric sangat sesak. Hari-harinya yang dirasakan pasti sakit sekali, tetapi masih berusaha untuk melukiskan senyum, sangat sesak hati Eric membayangkan itu semua.


Eric mengangguk. "Tpai kamu jangan berbicara dengan ceroboh yah, jangan sampai Darya dan yang lain tahu dulu, om tidak mau mereka cemas semua. Katakan yang bahagia pada mereka mengenai cucu mereka, agar mereka tidak terlalu cemas."


Lexi pun mengangguk, dalam tenggorokanya sangat sakit, ketika ia melihat seorang ayah yang sangat luar biasa selalu mencoba memikirkan kebahagia demi anak-anaknya.


Lexi pun langsung meninggalkan ruangan dokter Arya dan dia berencana ke penjara, karena Lexi belum tahu kalau Lucas sudah pulang.

__ADS_1


"Dok, apa yang Anda katakan itu benar adanya. Kalau Elin masih besar kemungkinan untuk sembuh? Dan tidak lagi merasakan sakit? Dia sudah sangat menderita selama ini, saya hanya ingin dia sembuh untuk selamanya tanpa sakit-sakit yang lain," Eric melihat wajah seorang dokter paruh baya yang masih terlihat cukup tenang, dan besar harapan Eric dari raut wajahnya itu kalau Elin memang baik-baik saja.


"Seperti yang saya katakan kalau sakit Elin ini masih bisa disembuhkan dengan transplantasi hati, untuk tingkat kesembuhanya dari kecocokan organ apabila memang memiliki jaringan yang sama di atas enam puluh persen, maka pembentukan organ hati yang baru akan semakin besar, dan tidak membutuhkan waktu lama, jadi saya rasa kalau memang Elin memiliki sodara kembar lebh dari tujuh puluh persen akan berhasil transplantasinya, jadi Elin akan bisa hidup normal, tentunya pengaruh makanan untuk penderita sakit hati cukup berhati-hati, nanti akan ada ahli gizi yang mendampingi Elin untuk mendapatkan makanan yang bisa dia konsumsi, tidak ada lagi makan sembarangan. Itu pengaruh juga untuk kesembuhanya." Dokter Eka pun memberikan wejangan yang cukup membuat Eric tenang.


Eric cukup senang dan lega karena itu tandanya dia bisa melihat kesembuhan untuk Elin. "Kalau begitu saya pamit dulu Dok, ingin melihat kondisi Elin."


"Baiklah, tapi jangan tunjukan wajah sedih yah Pak, karena Elin butuh pemikiran yang bahagia, dan sekarang sudah sadar hanya masih kondisinya lemah."


Eric mengangguk dengan kuat dan senyum samar sebagai tanda bahwa ia paham dengan apa yang Dokter Eka katakan.


Dengan perasaan bergemuruh Eric masuk ke ruangan di mana Elin di rawat.


"Maaf Ndok baru masuk, Papah habis lihat anak kamu, malah keasikan bermain dengan cucu sampai lupa kamu sudah sadar."


Sesuai yang dikatakan oleh dokter Eka, bahwa Eric tidak disarankan untuk menunjukkan wajah sedihnya.


Elin sendiri langsung menolak ke arah Eric, dan pasti tersenyum samar. "Apa anak Elin baik-baik saja?"


Eric membalas dengan senyuman terbaik, berjalan menghampiri Elin dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Tentu dia anak kamu, sudah jelas kuat seperti kamu. Terima kasih, sudah bertahan sampai detik ini."

__ADS_1


Cup... Eric memberikan ciuman di pucuk kepala Elin.


...****************...


__ADS_2